
Episode 137 : Pertikaian Alexander Grey dan George Serge.
***
Mengetahui jika Alexander Grey telah mengibarkan bendera perang terhadap nya membuat George Sereh murka betul.
Dia segera mengerahkan para anggotanya, untuk dapat menumpas dan melenyapkan perkumpulan Alexander Grey.
Rencana akhirnya rampung, pihak George Serge akan menjebak Alexander dengan segala tipu muslihat yang sudah ia rancang.
***
Saat masa tenggang itulah George Serge membagi tim anggotanya untuk menyerang kediaman ayah Alexander Grey dan ibunya, pertama dia akan melemahkan Alexander Grey, dan saat mentalnya sudah hancur dan lemah saat itulah dia bisa menghancurkannya dengan mudah.
“Pastikan, kalian mengikat mereka dan mengirimkan videonya padaku!" seru George Serge benar-benar serius.
Kali ini salah satu diantara perkumpulan itu harus hancur dan tidak bersisa.
Goerge Serge segera datang ke tempat dimana Alexander Grey berada, dia sudah melacaknya, dan dengan segera menemukan dimana letak mereka.
__ADS_1
George Serge merasa sangat yakin, kali ini merekalah yang akan menjebak dan menghabisi mereka, kearoganan dan merasa sangat hebat, George mungkin dibuat lupa jika Alexander Grey adalah cucu dari seorang mafia paling ditakuti di dunia saat itu.
Mereka telah sampai di luar markas, para anggotanya sudah siap sedia hendak menyerbu, dan dalam hitungan ketiga dengan kodean tangan mereka semua masuk sembari membawa senjata api kedalam.
Sungguh sudah seperti peperangan asli, mereka terlalu banyak.
“Heh! Lihatlah anak muda, kau meremehkan aku dan kau akan mati sebentar lagi! kau itu masih terlalu muda dan naif, mana bisa melawan aku yang sudah berkecimpung lama ini!” ketus George Serge meremehkan dan menyeringai.
Suara tembakan dan mesiu di dalam gedung itu seolah menandakan jika Alexander Grey dan para anggota intinya telah mati di tempat.
“Ah, membosankan, bawakan nanti jasadnya ke rumahku, agar aku bisa mengumandangkan kemenangan ku!” serunya sembari menghisap rokok dan hendak masuk kedalam mobilnya.
Akan tetapi alangkah terkejutnya dia melihat sesuatu setelah ia menoleh ke belakang.
Ya, Alexander sudah menyadari ini, sejak ia tahu seberapa licik George Serge dia sudah bersiap untuk segala kemungkinan dan rencana paling ampuh.
“Ka … kau! sejak kapan ….”
Dengan gemetaran dan mata yang terbelalak, George hampir jatuh melihat jika semua anggotanya yang juga ada di sekitarnya sudah tergeletak di tanah, hanya ada dirinya seorang dan para anggota elit Alexander Grey.
__ADS_1
“Glek!”
Dia menelan salivanya dengan kasar, baru kali ini selama ia berkarir sebagai seorang ketua mafia, dia kalah telak dan ketakutan dengan hebat.
“Tuan George, apakah kau tidak tahu jika kepercayaan diri adalah senjata paling mematikan? Kepercayaan diri yang terlalu tinggi akan menghancurkan mu seperti debu!” seru Alexander sekarang melangkah semakin mendekat.
Senyumannya yang mengerikan, perawakannya yang dominan dan matanya yang tajam bak elang yang mau mematok mangsanya, George merasa sangat kecil sekarang.
Dia akhirnya tahu mengapa lelaki ini begitu percaya diri dan arogan, ternyata memang kemampuannya terlalu hebat hanya untuk seorang anak muda seperti dirinya.
“Tapi, aku tidak boleh mati, aku tidak mau mati!” geramnya lalu mengingat jika setengah dari suruhannya sudah ada di kediaman ayah Alex dan ibunya.
“Jangan mendekat, apakah kau tahu jika sekarang ayah dan ibumu sudah aku sekap? semua anggota ku sudah ada disana!” seru George mengumpulkan kepercayaan dirinya lagi.
Dia masih memiliki kartu untuk membalikkan keadaan, dia bermaksud agar saat Alexander lengah dia akan bisa menembakkan pistol ke kepalanya.
.
.
__ADS_1
.
.