
Episode 108 : Kesucian yang direnggut!
***
Di dalam kamar pribadi Alexander Grey,
Kiara mencoba memberontak, ia menggerakkan kakinya tetapi langsung ditahan oleh kaki Alexander yang sekarang sudah ada diatas tubuh Kiara.
Apalagi sekarang tangan dan kakinya diikat membuat gerakannya tidak bebas dan tidak bisa menolak sedikitpun.
“Aku minta ma ….” Suara penuh getaran dan ekspresi wajah penuh ketakutan, kemarahan Alexander telah melahap sisa keberanian yang dimiliki oleh Kiara.
“Sstt! Aku bilang diam! Jangan mengatakan apapun sampai aku puas bermain denganmu, wanita tidak tahu diuntung!”
Geram Alexander menekan bahu Kiara dengan sangat kuat.
Alexander melihat wajah Kiara dengan lekat, wajah yang menunjukkan rasa takut dan rasa sakit dari tekanan yang ia berikan.
“Apakah dia sudah menciummu?” bisik Alexander kemudian mencium bibir Kiara dengan menuntut.
“Disini?” lanjutnya lagi kemudian melanjutkan ciuman panas yang memburu.
“Hmm, a ... aku, minta maaf, aku salah, tolong lepaskan aku,” dengan menggerakkan tangannya yang diikat, Kiara mencoba berontak sekali lagi.
Hal itu semakin membuat Alexander murka, dia menarik baju yang tersisa ditubuh Kiara, sampai semuanya robek, ia melempar baju itu dan kembali menyerang Kiara.
“Apakah dia juga sudah menyentuhmu seperti ini?” geram Alexander lagi menyentuh tubuh Kiara tetapi dengan kasar.
Kiara hanya bisa geleng-geleng, dia meringis kesakitan, “Sakit, tolong Alexander, aku mohon, tidak ada yang terjadi antara aku dan dia, percayalah padaku,”
Dengan rasa kesakitan dan rasa malu karena dia tidak mengenakan busana dihadapan Alexander, Kiara mencoba menjelaskan pada Alexander Grey.
“Pembohong, kau menyuruhku percaya padamu? Setelah kau kabur dengan lelaki lain dari kediaman ku sendiri?"
"Cepat katakan bagaimana dia menyentuhmu tadi malam? Apa yang kalian lakukan?"
"Apa dia juga menggigitmu seperti ini?” ketus Alexander sekarang menggigit bahu Kiara, lalu setelah itu wajahnya turun kebawah.
__ADS_1
“Apakah dia juga bermain-main denganmu disini? menekanmu disini ...." Alexander berbicara menekan semangat menggenggam buah dada Kiara.
Lalu Alexander melanjutkan ucapannya,
"Dan kau menikmatinya?” pertanyaan bertubi-tubi diikuti aksi yang membuat Kiara meringis kesakitan.
Kemarahan Alexander begitu terasa, Kiara bisa merasakannya dari tenaganya yang menekan dan meremas tubuhnya, nafasnya yang panas yang menyentuh kulitnya.
“Sa … sakit sekali, tolong, aku mohon padamu, tolong Alexander,” dengan memalingkan wajahnya, Kiara meringis menangis kesakitan, Alexander sedang menekan tubuhnya, menggigit dan menekan dengan kuat.
Tanda biru disana-sini sudah mulai muncul dari tindakan Alexander Grey.
“Apakah kau juga berpura-pura sakit seperti ini padanya tadi malam? Apakah kau juga menunjukkan ekspresi wajahmu ini padanya?"
"Murahan! masih sok merasa sakit tetapi kau menikmatinya dengan dia, berhenti bersandiwara dan tunjukkan wajah aslimu!” bisik Alexander sudah membuka piyamanya, dia akan melakukannya dan tanpa ampun lagi.
“Sakit, aku bilang sakit, kau melarangku berbicara tetapi bertanya terus padaku, aku menjawab pertanyaanmu tetapi kau juga tidak percaya, kau mau melenyapkan aku kan?"
"Maka cepatlah, lakukan dengan cepat dan akhiri semuanya, aku juga sudah muak diperlakukan tidak adil, aku muak!"
Kiara sudah tahu konsekuensinya sedari awal, dia menyetujui pergi bersama Bian Agler, dia juga sudah tahu pelarian mereka hanya sementara, tetapi dia memilih mengikuti kata hatinya, daripada tidak melakukan apapun lebih baik dia melewati garis dan bersama dengan Bian walau hanya sementara.
Ada harga yang harus ia bayar untuk mendapatkan sesuatu, dan karena kali ini dia menghabiskan malam terakhir dengan Bian, maka tentu saja harganya sangat mahal, dia harus kehilangan segalanya.
“Hei, berhenti berpura-pura, aku tahu kau menikmatinya tadi malam dengan dia, aku kira kau berbeda, karena itulah aku bersikap padamu dengan cara yang berbeda, tetapi ternyata kau sama saja dengan gadis yang melempar dirinya padaku, murahan!”
Alexander kemudian menekan tubuh Kiara lagi.
Setelah mengatakan kata hinaan seperti itu, Alexander menjatuhkan dirinya diatas tubuh Kiara, mencium disana sini, dan memberikan tandanya di daerah sensitif Kiara.
'Sakit sekali, rasanya sangat sakit dan memalukan, aku lebih baik mati di rumah kosong itu daripada diperlakukan seperti ini, rasa sakit ini berbeda, ini sangat sakit!' keluh Kiara sudah tidak berbicara lagi, dia menangis pilu tetapi sudah tidak ada ucapan yang keluar dari mulutnya lagi.
Malam ini, Kiara merasakan rasa sakit yang baru, entah kenapa hatinya sangat sakit saat Alexander menghinanya dengan kata-kata murahan, menyamakan dirinya dengan wanita-wanita yang menjual dirinya pada Alexander.
Walau Alexander memiliki tempramental yang buruk dan sering menuntutnya, tetapi Alexander selalu bersikap lembut dan perhatian, tidak pernah memaksa jika Kiara tidak mau.
Tetapi sekarang bukan hanya hinaan yang menyakiti hati, tetapi juga tubuhnya sudah dilukai, ditekan disana sini, digigit dan dicium dengan buas.
__ADS_1
Alexander tidak berlaku lembut sedikitpun, padahal ini adalah kali pertama untuk Kiara, Kiara tidak tahu jika rasanya akan sesakit dan memalukan seperti ini.
“Baiklah sayang, aku akan membuatmu melupakan rasa lelaki bajingan itu, aku akan membuatmu melupakan nya dan berfokus padaku!"
"Kau harus bersyukur, setelah mengkhianatiku, yang kau dapatkan bukan kematian, melainkan kenikmatan,”
Alexander berbisik dekat sekali di telinga Kiara, nafasnya panas dan berat, keringat bahkan sudah membasahi tubuhnya bahkan sebelum penyatuan itu terjadi.
“Ha ... ah!”
Mata Kiara membelalak, tubuhnya bergetar hebat, nafasnya tertahan sebentar, rasa sakit yang bertumpu di satu daerah tubuhnya membuatnya merasakan perih yang teramat sangat.
Ada sedikit bercak darah yang keluar, Alexander sendiri tentunya bisa merasakan jika dia telah menembus sesuatu, dia pastinya langsung menyadari jika sesungguhnya kesucian wanita ini masih utuh.
Tetapi sekarang sudah tidak lagi, karena sudah ia renggut.
“Sa … sakit sekali,” keluh Kiara seperti tengah menahan nafasnya.
Setelah merasakan rasa perih yang hebat, air matanya mulai membanjiri pipinya, tubuhnya menjadi lemas, keringat mereka yang menyatu serasa lengket.
Menyadari hal itu, tubuh Alexander mulai mengikuti respon tubuh Kiara, dia sudah tidak tergesa-gesa, tetapi dia juga tidak menghentikan aksinya.
Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Alexander sekarang, dia membisu, kemarahan yang tadi memenuhi kepalanya seolah menjadi kabur.
Kewarasannya menghilang, dia tidak bisa berhenti setelah melakukannya, matanya tidak lepas menatap Kiara yang sudah tidak mampu melihat kearahnya.
Kiara hanya bisa meringis dan nafasnya yang tersenggal-senggal membuat tubuhnya bergetar hebat.
Wajahnya ia palingkan, dia menggigit bibirnya untuk menahan rasa sakit yang anehnya berangsur membaik, rasanya menjadi aneh sekarang, tetapi Kiara tidak mau melihat ke arah wajah Alexander yang merebut sesuatu yang berharga baginya.
.
.
.
.
__ADS_1