
Episode 40 : Sedang dibela atau sedang diancam?
***
“Cih! Lagi-lagi para parasit itu! Ingat ya! Mulai sekarang jika ada yang berani menindas mu apalagi main tangan padamu, kau harus mengadu padaku, aku tidak akan membiarkan satu orangpun menyentuhmu seujung jari pun! Paham!” teriak Alexander lagi sekarang sungguh membenci dan terganggu dengan orangtua angkat Kiara.
Kiara yang kebingungan menentukan apakah Alexander sedang membelanya atau meneriaki atau bahkan mengancamnya atau ketiganya menimbulkan tanda tanya besar di kepalanya.
“Ditahap ini, aku menyerah, aku sudah tidak tahu harus menjawab apa!” gumam Kiara menyerah dengan sikap arogan dan meledak-ledak Alexander Grey.
“Kau jangan salah sangka ya! Aku mengatakan ini karena kau terlalu bodoh! Hanya aku yang bisa menoleransi kebodohanmu, jika orang lain menyentuhmu maka mereka akan ketularan bodoh sepertimu, aku hanya ingin mengurangi populasi orang bodoh di dunia!”
“Seperti yang aku katakan, hanya aku yang boleh menyentuhmu, karena aku terlalu jenius jadi kebodohan dan IQ rendah mu tidak akan berpengaruh padaku!” ketus Alexander tiba-tiba.
“Bos, kita sudah sampai,” seru anggota Alexander yang sudah menghentikan laju mobil dan berbicara hormat pada Bosnya.
“Aku tutup teleponnya, tetapi kau harus siap siaga jika aku menelepon mu, jika kau melewatkan panggilan dariku satu detik saja, aku akan menambah hukuman mu!” seru Alexander Grey langsung mematikan panggilannya.
__ADS_1
Alexander segera menyimpan ponselnya kembali, dia memfokuskan dirinya dan turun setelah anak buahnya membuka pintu untuknya.
“Permainan akan dimulai, aku ingin cepat menyelesaikan ini dan pulang bermain dengan siput ku yang di rumah!” seru Alexander tersenyum menyeringai sembari melangkah dengan gagah.
*Siput maksudnya Kiara.
Langkahnya diikuti oleh anggota utamanya, Sin dan Fin juga anggota yang lain, sedangkan Yuza ada di tempat yang lain sedang rebahan dan hanya memonitor saja.
Mereka melangkah sungguh terlihat keren dan gagah, apalagi Alexander Grey, tidak heran jika dia menjadi ketua mafia, karisma dan aura kehadirannya benar-benar berbeda dari yang lain.
Seolah dia memang terlahir untuk mendominasi.
***
Kiara yang kebingungan seribu bahasa, dia terdiam dan masih duduk tegap.
“Jadi barusan aku sedang dibela atau sedang diancam? Apakah aku memang sebodoh itu sampai tidak bisa membedakan keduanya! Hiks, apakah disini yang aneh adalah aku?” ketusnya sungguh bingung sebenarnya jalan pikiran Alexander Grey itu seperti apa.
__ADS_1
Terkadang lembut sekali tetapi terkadang berteriak dan membentak tidak jelas.
Tetapi satu hal yang pasti, setelah Alexander Grey meneleponnya tiba-tiba membuatnya lupa dengan kedua orang yang tadi menelepon dirinya dan membuat hatinya sakit.
Dia lupa jika sebelumnya dia telah ditekan dan dihina, sifat arogan dan dominasi Alexander Grey membuatnya hanya berfokus pada apa yang dikatakan oleh Alexander.
Kiara sedang melihat layar ponselnya, memperhatikan nomor yang belum tersimpan di teleponnya itu.
Tiba-tiba ada senyuman tipis di wajahnya, dia sedang menyimpan nomor tuannya, Alexander Grey.
“Kehidupan seperti ini tidak buruk juga,” serunya tersenyum dan mengambil bantal dan memeluknya.
Disaat yang sama di kediaman Layla,
Layla sudah mencoba menghubungi Alexander Grey tetapi tidak pernah diangkat, sekarang dia akan melakukan cara terakhir, sebagai seorang wanita yang mencintai seorang pria, dia harus berjuang untuknya, kali ini Layla akan bertemu dan berbicara dengan Kiara.
Dia sudah memerintahkan suruhannya untuk menghubungi Kiara, Layla percaya jika sesama wanita berbicara dari hati ke hati maka pastinya Kiara akan mengerti dan akan pergi dari kehidupan Alexander Grey.
__ADS_1
***
Jangan lupa like dan komentar membangunnya, terimakasih.