Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Arka Grey dan Layla.


__ADS_3

Episode 171 : Arka Grey dan Layla.


***


Sedangkan Layla yang sudah gugup sekali hanya bisa berjalan mondar-mandir di ruangannya, dia tidak tahu lagi apa yang harus ia lakukan.


"Layla, kenapa kau menjadi wanita nakal hanya dalam satu malam!"


"Apa yang harus aku lakukan? pasti Kak Arka akan menganggap aku sebagai wanita tidak baik!"


"Dasar takdir jahat, kau sengaja kan membuat aku kehilangan diriku agar aku tidak bersama Alexander!"


Layla marah-marah sendiri.


Dia menyalahkan takdir atas hak memalukan yang ia rasakan hari itu.


"Tring ... Tring ... Tring!"


Tiba-tiba saja telepon genggamnya berbunyi membuat Layla terperanjat.


Lalu saat ia melihat jika Arka tengah menghubungi dirinya, secara spontan Layla melempar ponselnya ke atas ranjang.


"Ah ... tidak ... tidak, aku belum siap, secepat itu dia menghubungi aku, aaaaa! tolong buat aku pingsan kali ini, tolong!"


Layla melempar tubuhnya keatas ranjang dan berguling-guling disana.


Jika ada seseorang yang melihat sikap asli Layla maka mungkin tidak akan ada yang percaya jika dia adalah Layla yang anggun itu.


"Tok ... Tok ... Tok!"


Kepala pelayan kediamannya segera mengetuk pintu kamar Layla.


"Hah!"


Layla menghela nafasnya berat.


"Ada apa?" serunya tanpa membuka pintu sama sekali.


"Nyonya ... Tuan Arka Grey tengah menunggu anda di ruangan tamu, katanya ada yang ingin ia bicarakan ...."


Kepala pelayan segera mengatakan pesan Seka Grey yang memang langsung datang tanpa aba-aba ke kediaman Layla.


"APA?"


Layla membeku sesaat, matanya melebar dan dia tidak tahu lagi apa yang harus aku lakukan.


"Bagaimana ini?"


Layla tentu semakin panik, dia tidak mungkin tidak menemui Arka yang sudah datang ke kediamannya.


"Hmmmm!"


Layla mengepal tangannya kuat, lalu dia menatap lurus seolah memberanikan dirinya.


"Iya, masalah ini harus segera diselesaikan, lagian aku tidak sadar malam itu, juga ... kehidupan dewasa memang terkadang akan ada kecelakaan, aku tidak salah ...."


"Aku tidak salah ...."


Ucapan itu ia katakan sendiri sembari melangkahkan menemui Arka yang memang sengaja datang secara pribadi.


Namun saat melihat Arka segera berdiri saat menyambut nya sembari tersenyum kaku, Layla sudah tidak bisa lagi menyembunyikan sikap kaku dan senyuman canggungnya.

__ADS_1


Lalu Layla segera berlari dan menundukkan kepalanya.


"Kak Arka ... maafkan aku, malam itu ... ummm ...."


Layla gugup sekali, dia berhenti sejenak saat berbicara namun segera melanjutkan ucapannya lagi.


"Malam itu aku ... aku tidak sadar dan ... ummm ... aku juga baru pertama kali melakukan itu jadi ... jangan menganggap aku sebagai wanita nakal!"


Layla takut sekali, Arka Grey yang menjadi panutan bagi nya menganggap dirinya sebagai wanita nakal.


"Pfft ..." Arka tertawa kecil saat melihat sikap spontan dan sedikit teledor Layla.


Layla tidak pernah berubah sejak dulu, dia tetap menggemaskan dan selalu berbicara spontan.


Arka mengusap rambut Layla yang masih menunduk.


"Kenapa kau kaku sekali? aku tidak berpikiran buruk tentang mu, duduklah ... mari kita bicara,"


Arka tersenyum hangat dan bersikap dewasa seperti biasa, Layla yang mendengar itu mengikuti perkataan Arka.


Layla duduk namun tetap menundukkan kepalanya, wajahnya memerah dan jantungnya rasanya mau pecah.


Bagaimanapun keduanya telah melalui malam panas berdua, walau yang mengingat hanya Arka akan tetapi tetap saja Layla merasa teramat sangat malu.


Saat Layla menyampingkan wajahnya, terlihat lah leher jenjang Layla yang dimana ada beberapa tanda biru disana.


"Deg!"


Jantung Arka serasa mau meledak, wajahnya merah sekali dan dia tiba-tiba saja menjadi gugup.


Nafasnya berat dan mereka berdua entah mengapa menjadi sama-sama diam dan wajah merak sama-sama merona.


"Layla ...." setelah beberapa saat terhanyut dalam kebisuan yang canggung, Arka dengan tegas dan wajah yang terlihat percaya diri langsung menyatakan tujuannya secara langsung.


"Aku rasa kita tidak bisa terus menutupi kejadian yang terjadi malam itu, aku tahu aku bersalah karena melakukan hal itu, padahal itu kali pertama mu,"


"Jadi ... aku ingin kita menikah, aku ingin bertanggung jawab secara penuh .... tolong pertimbangkan keinginan ku ini!"


Dengan sangat percaya diri dan hati yang menggebu-gebu, Arka menyatakan keinginannya untuk segera menikahi Layla.


Karena bagaimanapun mereka sudah melewati batas malam itu.


"Tes!"


Air mata Layla langsung menetes dan mengalir begitu saja.


"Kak Arka ... apakah kau kasihan padaku?"


"Apakah Kak Arka melakukan ini karena Kakak sudah tahu karena apa yang sudah terjadi diantara kita, aku sudah tidak akan mungkin bersama Alex?"


"Apakah Kakak kasihan kepadaku yang tidak diinginkan oleh Alex?"


Layla malah menangkap permintaan Arka dari sudut pandang yang salah.


Layla merasa, Arka meminta mereka agar menikah karena Arka kasihan pada Layla sebab sudah ditolak mentah-mentah oleh Alexander.


Padahal tentu saja alasannya bukan karena kasihan.


Layla kembali menunduk, dia mengepal tangannya dan air matanya tidak bisa berhenti.


"Kak ... tenang saja, aku sudah akan pergi dari hidup Alex kok setelah ini, aku akan pergi meninggalkan dia, karena aku juga sudah tidak suci dan tidak mungkin bersama dengannya lagi ..."

__ADS_1


"Kak Arka tidak perlu bertanggung jawab dan selalu saja berkorban untuk sesuatu yang merepotkan, sudah cukup selama ini aku merepotkan Kakak,"


Layla berbicara terus terang.


Selama mereka mengenal, Layla, Arka dan Alexander, Arka adalah seseorang yang selalu berkorban untuk Layla dan mengalah begitu saja.


Layla menganggap hal itu sebagai rasa kasihan, dan tidak mungkin Arka memiliki perasaan terhadapnya, mengingat saat perjodohan yang harusnya antara dirinya dan Arka diturunkan ke adiknya, Alex.


Arka sama sekali tidak keberatan dan dengan senang hati menerima itu, padahal jika Arka menyukai Layla harusnya Arka menolak dengan keras.


Arka memejamkan matanya sejenak, dia mengepal tangannya dan dia merasa harus meluruskan kesalahpahaman ini.


"Kata siapa aku melakukan ini karena kasihan?"


"Aku sudah dewasa dan bisa menentukan apa yang aku mau! aku tidak akan menikah karena kasihan ...."


Arka menegaskan ucapannya, hal itu membuat Layla menjadi heran, dia mengangkat wajahnya dan melihat dengan tatapan bingung.


"Maksudnya Kak?"


Layla mencoba bertanya kembali, sebenarnya apa maksud dari ucapan Arka Grey.


"Sama seperti kau menyukai Alex sejak dulu, aku selalu ada diantara kalian dan saat itu aku sudah menyukai mu, tetapi kau tidak pernah melihat kearah ku, kau selalu saja melihat dan terpesona kepada adikku!"


"Kau benar, selama ini aku mengalah atas perasaan ku kepada mu, karena aku merasa kau akan lebih bahagia bersama Alex dibandingkan bersamaku,"


"Tetapi sekarang nyatanya tidak begitu, aku merasa tidak boleh mengalah atas perasaan ku sendiri, jadi ... aku melakukan ini karena aku benar-benar menyukai mu,"


Dengan sangat percaya diri, Arka menjelaskan secara rinci perasaannya.


"Kakak bercanda kan? Kakak hanya ingin menghibur aku saja, agar aku tidak merasa menjadi wanita paling malang di dunia, Kakak kan seperti itu, selama ini selalu memuji dan mengatakan kata hangat hanga karena kasihan atas ketidak beruntungan ku,"


Layla masih meragukan ungkapan perasaan Arka.


Layla mengenal Arka sama seperti dia mengenal Alex, Arka adalah lelaki yang sangat baik dan tutur katanya terlalu lembut dan selalu saja mengatakan kata hangat kepadanya.


Kali ini pasti Arka juga mengatakan kata itu hanya untuk menghibur dia saja.


Saat Layla melihat kearah Arka yang baru saja menyatakan perasaan nya, mata Layla langsung melebar.


"Jangan bilang itu semua benar ... selama ini Kakak ...." Mata Layla melebar dan air matanya berhenti menetes.


Arka menganggukkan kepalanya, lalu Arka segera berdiri.


"Aku tahu ini akan sangat mengejutkan, aku menunggu jawaban mu, tolong pertimbangkan permintaan ku, dan berikan aku kesempatan untuk menjadi lelaki mu,"


Arka tersenyum hangat seperti biasa, menatap lembut kearah Layla yang masih membeku dan belum bisa memproses segalanya.


"Aku pergi dulu ... jika kau sudah bisa mendinginkan perasaan mu dan menemukan jawaban atas permintaan ku, segera hubungi aku,"


Arka berlalu sembari mengusap rambut Layla seperti biasa.


Dia berlalu dan meninggalkan Layla yang masih syok.


Arka sangat dewasa, Arka memiliki perbedaan signifikan dengan Alex dalam sikap, seperti sekarang, Arka tidak memaksa, dia memberikan pilihan dan waktu untuk Layla bisa memikirkan permintaan nya.


.


.


.

__ADS_1


Jangan lupa di like dan komen yaa 🤍


__ADS_2