
Episode 80 : Kau sangat cantik.
***
Di kamar pribadi Alexander Grey,
Alexander memang sudah berpengalaman dalam hubungan ranjang, jadi dia tahu bagaimana cara membuat wanita lupa diri dan tenggelam dan berfokus terhadap dirinya saja.
Bibirnya mengecup bibir Kiara dengan sangat lembut, tidak ada tekanan dan dominasi, hanya ciuman lembut yang membuat darah Kiara mendidih.
“Haahh!”
Nafas Kiara mulai terdengar berat, bagaimanapun ini adalah saat pertamanya, dia belum tahu bagaimana caranya dan apa yang harus ia lakukan, tetapi lelaki ini membuatnya lupa diri dan merasakan suhu panas di tubuhnya semakin tinggi.
Disaat ciuman itu sedang berlangsung dengan hebat, tangan Alexander tentunya melakukan pekerjaan yang lain.
Dengan lihai dan berpengalaman, tangannya sudah berhasil melucuti semua pakaian Kiara, Kiara yang sudah lupa diri hanya bisa mengikuti ritme permaianan yang di dominasi oleh Alexander.
Alexander melihat tubuh Kiara dan tersenyum nakal, “Kau sangat cantik,” bisik Alexander sudah tidak bisa menahan gairahnya lagi.
Dia akan melakukannya sekarang juga.
'Ah, tubuhku panas sekali, aku lupa diri lagi, aku sangat malu tetapi tidak apa, aku sudah lelah melawan,' Kiara merasa pandangan matanya mulai remang-remang dan tubuhnya semakin panas, dia masih bisa merasakan saat jemari Alexander mulai meraba tubuhnya.
Nafas Alexander yang terasa panas menyentuh Kiara membuat Kiara seperti sedang mabuk, “Perasaan apa ini? Kepalaku pusing,” seru Kiara pelan sampai akhirnya tanpa sadar dia malah tertidur karena merasa terlalu panas dan ada gejolak dalam dirinya yang membuatnya berdebar terus menerus.
Tetapi karena ia baru saja dehidrasi membuat tubuhnya tidak mampu menampung gairah yang bergejolak dalam dirinya dan malah tertidur.
Sedangkan Alexander yang sudah tidak sabar hendak memulai permainan mereka, “Sayang, aku akan mulai, aku harap kau tidak menyesal,” bisik Alexander dengan nafasnya yang sudah berat.
Dia hendak menyatukan dirinya dengan Kiara, tetapi Kiara hanya terdiam saja, sampai saat terdengar suara dengkuran dari bibir Kiara.
__ADS_1
“Sa … sayang?"
"Kiara!"
"KIARA!”
Alexander mencoba memanggil Kiara tetapi Alexander sadar ditengah gairah memuncak yang sudah membara malam itu, Kiara tertidur, sungguh aneh tapi nyata.
“Jangan bilang gadis bodoh ini tidur? Ditengah-tengah adegan seperti ini bisa-bisanya dia tidur? Wah wah, aku kehabisan kata-kata!” gerutu Alexander menggeram dan marah sekali, tetapi dia tidak bisa melakukan hal itu, dia melihat wajah lelah Kiara yang sedang tidur begitu nyenyak.
Baru pertama kalinya Alexander dihadapkan dengan situasi ini, ditengah dia menunjukkan kegagahannya, wanita yang ingin ia tiduri malah terlelap ditengah-tengah pemanasan yang ia lancarkan.
“Sialan! Untuk kesekian kalinya gagal melakukan hal itu, awas saja kau saat sudah bangun, akan ku habisi kau!” geram Alexander menjitak dahi Kiara.
“Glek!”
Dia menelan salivanya saat melihat jika Kiara sudah tidak mengenakan sehelai benangpun di bawah tubuhnya.
Nafasnya memburu dengan sangat cepat, dia sangat ingin melakukannya, jiwa monster dalam dirinya ingin menghabisi Kiara bahkan saat tidur sekalipun, bagaimanapun gairahnya sudah memuncak dan akan sulit diredam.
Dia kemudian melempar selimut keatas tubuh Kiara, dan beranjak mengenakan piyamanya lagi, dia melangkah menuju kamar mandi kamarnya.
“Sialan! Seseorang sepertiku melakukan hal seperti ini, apa boleh buat adik kecilku harus ditenangkan sebentar,” gerutu Alexander sembari melangkah dengan berat kedalam kamar mandi.
Dia harus melakukan ritual di dalam kamar mandi, untuk melepas sesuatu yang sudah berada di puncak itu, dia tahu jika tidak dilepas maka semalaman dia akan terus berteriak berdiri.
***
Disaat yang sama dikediaman Layla,
Layla sedang melihat foto saat dia masih dalam hubungan yang baik dengan Alexander Grey, dia tersenyum melihat foto yang membuatnya merasakan nostalgia, dia mengusap foto itu seolah itu adalah sesuatu yang berharga.
__ADS_1
“Alexander, apakah kau tahu kenapa aku sangat ingin menikahimu dengan cepat? Tidak bisakah kau kembali kepadaku dengan cepat, aku terlalu kesepian, waktu ku juga tidak banyak, tidak bisakah kau datang kepadaku seperti dulu?” Layla berbicara sendiri dengan foto yang ia peluk, dia sampai meneteskan matanya.
Dia hanya meninggalkan Alexander selama satu tahun saat lalu tetapi saat ia pulang, Alexander berubah menjadi orang asing dan acuh tidak acuh padanya, rasanya sangat menyakitkan, Layla hanya mencintai dan hanya setia pada cinta pertamanya yaitu Alexander, tetapi dia belum mengerti mengapa Alexander tiba-tiba memberi jarak dan menyakitinya terus menerus.
“Tok … Tok … Tok!”
Terdengar ketukan pintu dari luar kamar Layla.
“Nyonya Layla, anda harus segera meminum obat anda,” kepala pelayan yang setia melayani Layla setiap saat memberikan begitu banyak obat yang harus di konsumsi oleh Layla.
Layla melihat obat yang ada diatas nampan yang dibawa oleh kepala pelayannya, “Besok, penerabanganku siang kan? Tolong panggilkan perias yang sering merias wajahku untuk datang pagi-pagi, sebelum aku pergi ke luar negeri aku ingin bertemu dengan Alexander sebentar, aku tidak ingin menujukkan wajah pucat dan tidak cantik ini,”
Air matanya mengalir di pipinya, tangannya bergetar mengambil obat itu satu persatu.
Kepala pelayan itu tentunya sangat sedih melihat keadaan Layla, “Nyonya, tidakkah Tuan Alexander harus tahu hal ini? Jika begini terus Nyonya tidak akan memiliki waktu lebih lama lagi,” dengan sedih kepala pelayannya itu memberikan saran pada Layla yang dia kenal sangat lembut dan mudah terluka itu.
Layla meminum obat yang disediakan, dia masih belum terbiasa dengan obat-obatan yang begitu banyak yang harus ia konsumsi setiap hari, tetapi demi waktu yang lebih banyak dia akan melakukan apapun.
Layla meletakkan obatnya diatas nampan lagi, dia mengambil foto-foto antara dirinya dan Alexander dan melihat senyuman Alexander di foto itu.
“Saat kita mencintai seseorang, kebahagiaan kita bukan lagi yang utama, kebodohan akan memenuhi kepala, kita akan melakukan segalanya untuk tidak menyakitinya walau pada akhirnya akan menyakiti diri sendiri, aku ….” Layla terdiam sebentar dan mengusap air matanya yang terus mengalir.
“Aku, hanya ingin dia bahagia, tetapi keegoisanku, rasa cintaku terlalu besar, aku ingin dia datang padaku dan melamar ku, mengatakan untuk menghabiskan hari-hari bersamaku, pergi ke tempat sunyi dan melepaskan gelar kekayaan yang merepotkan, bisnis keluarga yang membuat sakit kepala, selagi waktu masih memberi kesempatan, aku masih menunggunya,”
Layla berbicara dengan sangat pilu, siapapun yang mendengarnya akan merasakan sakit hati, bagaimana ia tulus mencintai Alexander Grey.
Sepertinya, Layla juga memiliki cerita dan rahasia sendiri makanya dia selalu mengejar Alexander.
Perasaan nya yang begitu kuat, dan hatinya yang begitu lembut, dia selalu tersakiti sendirian, sepertinya kali ini pun penantiannya tidak akan membuahkan hasil.
.
__ADS_1
.
.