
Episode 150 : Teka-teki.
***
Disaat Alexander Grey dan Kiara sedang ada didalam yatch, ponsel Alexander segera berbunyi dan dia langsung mendapatkan kabar yang begitu mengejutkan.
“Bos, tawanan kita, George Serge telah ditemukan tewas di dalam kurungannya, sepertinya diantara kita ada seorang mata-mata,” seru Fin sedang menelepon Bos nya, Alexander Grey mengenai kasus ini.
Alexander yang mendengar itu tentunya langsung panik, dan dia segera menyuruh petugas Yatch untuk membawa mereka kembali ke daratan.
Kiara bisa melihat wajah Alexander yang terlihat sedikit tegang itu, Kiara sudah tahu ada sesuatu yang tidak beres disini.
“Sayang, kau pulang ke rumah ya, disana banyak penjaga yang akan menjaga mu, jangan sampai kau keluar rumah, jika kau berani keluar rumah aku akan merantai mu!"
Kiara dibuat kebingungan namun tak bisa bertanya apapun sebab dia juga tak tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi, yang dikhawatirkan oleh Kiara sekarang hanyalah luka Alexander saja.
Walau sebelumnya dia bisa seolah tak peduli sebenarnya Kiara sangat khawatir, Kiara khawatir jikalau nanti lukanya semakin parah karena urusan misterius yang tidak diketahui olehnya ini.
Alex menatap mata bulat kekasihnya sejenak, dia melangkah menjauh namun dia kembali lagi kearah Kiara.
"Aku ... aku tidak mengetahui banyak hal mengenai hubungan yang serius, tetapi berikan aku waktu ...." Dengan wajah yang ia palingkan karena sedikit malu, Alex menggenggam bahu Kiara sekarang.
Namun ia tak mampu menatap mata bulat kekasihnya.
"Aku tidak suka ditolak, jika ... jika terkadang aku marah dan tiba-tiba mengancam mu karena itu, sebenarnya aku tidak bermaksud begitu, jadi jangan kabur lagi dariku," ketus Alexander benar-benar masih jauh dari kata romantis.
Bahkan hanya untuk mengatakan maaf karena baru saja mengancam Kiara membuatnya menyusun kata-kata yang berbelit-belit.
__ADS_1
"Haah!"
Alexander menghela nafasnya berat, dia segera mendekap Kiara dalam pelukannya.
"Aku masih sangat merindukan mu, seandainya kau tahu jika aku ingin membawamu kemanapun!" Alexander memejamkan matanya sejenak.
Dia seolah ingin mengingat pelukan ini, dia sebenarnya masih begitu merindukan wanitanya ini, akan tetapi urusannya begitu genting sehingga dia harus segera kesana.
Setelah mengatakan semua itu, sebuah kata agar Kiara tidak mencoba kabur lagi Alexander Grey segera berlalu menggunakan mobil yang lain menuju markasnya hendak mengetahui situasi sekarang ini.
Kiara yang kebingungan melihat sikap Alexander hanya bisa menurut, namun saat ia memasuki mobil dia tidak mengerti bagaimana menjelaskan perasaan yang sedang menerpa nya sekarang
Rasanya jantungnya berdegup kencang sekali dan pipinya memerah.
Kiara tengah berada di mobil berbeda untuk dibawa pulang ke rumah, sedangkan Alexander Grey pergi ke markasnya.
***
Akhirnya Alexander sampai di markasnya, dia melihat disana .... Fin, Sin bahkan Yuza sudah ada di tempat dan segera datang menyambut dirinya.
Alexander Grey segera memeriksa TKP, dari cara pembunuhannya, bisa dipastikan jika penyusup ini tahu sekali titik buta letak markas mereka.
Sampai-sampai bisa melewati sistem keamanan yang sudah dibuatkan oleh Yuza, orang ini pasti mengenal betul letak markas ini dan sudah lama merencanakan aksinya.
“Sialan! Jika begini mereka sungguh berani melepaskan kartu berharga mereka, mereka sepertinya tidak mau mengambil resiko, brengsek!” geram Alexander memukul meja yang ada di hadapannya.
Tadinya dia ingin menggali informasi dari George Serge mengenai organisasi tersembunyi mereka, siapa ketua mereka dan bagaimana bentuk organisasi mengerikan itu, Alexander yakin ketua nya itu pasti berhubungan langsung dengan kematian kakeknya.
__ADS_1
Jika sudah begini maka rencana Alexander akan dimulai dari awal lagi, mencari tahu kandidat yang berpotensi memiliki bagian dari organisasi rahasia di belakang para elit itu sangat susah dan membutuhkan waktu yang banyak.
Disaat Alexander sudah marah dan mencoba menyusun ulang rencana mereka, Fin datang melaporkan jika di tangan George serge tertulis sebuah huruf atau tanda D besar digunakan menggunakan darah, sepertinya Goerge Serge menggunakan waktunya yang hampir mati menuliskan petunjuk itu.
Tetapi walau petunjuk D itu pasti mengarah ke suatu hal, tetap saja Alexander merasa misi ini masih memiliki titik buta, akan sangat sulit mengartikan tanda D yang ditemukan.
“Fin, Sin, lacak semua anggota kita dan perkirakan siapa saja yang memungkinkan untuk melakukan penghianatan, aku butuh laporannya sekarang juga,” seru Alexander membuat semua anggotanya menjadi semakin sibuk.
Disaat yang bersamaan, Alexander juga mencari tahu makna kata D yang ditinggalkan oleh George.
Alexander merasa dia juga pernah melihat tanda huruf D ini, tetapi dia tidak tahu letaknya dimana, dan Alexander belum bisa menentukan dimana ia melihatnya.
“Kenapa jadi seperti ini, aku pikir aku sudah bisa membalaskan dendam mu Kakek, tetapi kenapa saat rencanaku sudah mulai berhasil ada lagi tantangan, aku ingin segera membasmi dan memusnahkan mereka dan hidup tenang, aaa!” Alexander sungguh marah sekali dan kehilangan kendalinya.
Dia mengusap kepalanya kasar sekali, sampai pada saat ia ingat cincin yang ditinggalkan oleh kakeknya, yang saat lalu diberikan oleh Layla, dia segera mengambil cincin itu dan melihat tanda huruf D yang sama di belakang cincin.
Alexander kemudian terkejut, pasti semuanya ada hubungannya, tetapi dia harus mendinginkan kepalanya dahulu dan mencoba berpikir tenang agar segalanya bisa di selesaikan.
.
.
.
Author : Like dan komentar kalian adalah dukungan untuk author, jadi jangan lupa berikan like nya yaa 🤍
Btw semangat puasa ya bagi yang menjalankan.
__ADS_1
Aku sayang kalian... Lope you poll sekebun jeruk 🍊🤍