
Episode 142 : Kemarilah, aku ingin memelukmu.
***
Kiara sebenarnya sedikit takut mendengar ucapan Alexander, namun ia tidak bisa berbohong jika hatinya telah mulai tergerak, Kiara mengerti apa yang dikatakan oleh Alexander adalah jika status Layla bisa melindungi Kiara dari kejahatan.
Kiara merasa menjadi orang jahat sekarang, dia tidak bisa menyembunyikan perasaan senangnya, namun dia tahu pasti Layla akan terluka karena dirinya.
“Jadi, lukamu itu terjadi karena musuh mu?” tanya Kiara pelan, dia sudah duduk mengikuti Alexander Grey.
“Ini bukan luka besar, sebentar lagi juga akan sembuh, dan kau ... kenapa kau memakai baju compang camping seperti itu? cepat ganti bajumu, jika orang lihat mereka pasti mengira aku menyiksamu!”
Alexander menunjuk-nunjuk Kiara dengan wajahnya yang angkuh namun pipinya memerah, dia meneriaki Kiara tetapi matanya berpaling karena baju compang camping itu memperlihatkan sebagian tubuh Kiara.
“Cih, kau tidak sadar jika kau menyiksaku? Di ranjang? Kau merobek bajuku, menggigit apapun yang terlihat olehmu, kau melakukan apapun yang kau mau pada tubuhku, itu penyiksaan ya,” Kiara tidak terima.
Semua ini kan ulah Alexander juga.
__ADS_1
“Pfft, sayang, itu bukan penyiksaan tetapi olah-raga kenikmatan, sudahlah diam saja, ganti pakaian mu,"
"Kau pakai baju ku saja di lemari sana, jika kau masih berpenampilan seperti itu jangan salahkan aku jika kau tidak akan tidur malam ini,” goda Alexander sekarang ekspresi wajahnya sudah berubah, dia tengah tersenyum nakal.
“Ap … apa? kau mau melakukan itu lagi? tidak tidak, akan aku ganti!” balas Kiara segera mundur dan bangkit dari ranjang.
Dia berlari dan mengambil baju Alexander yang jika ia pakai maka ukurannya akan terlalu besar untuk tubuhnya.
Kiara bisa melihat saat ia mengganti pakaian jika tubuhnya sudah banyak tanda biru dan merahnya, sungguh Alexander itu buas sekali.
“Aku sudah seperti wanita yang di cubit di seluruh tubuh, lelaki itu sangat amat buas, ckck, aku tidak sanggup meladeninya,” seru Kiara sudah selesai memakai pakaian Alexander.
“Apakah dia memang akan selamanya menjadi rumahku? Aku terlalu takut berharap, tetapi hatiku semakin tertuju kepadanya,” ucap Kiara pelan sekali sembari menatap cermin dan mengusap wajahnya.
“Sayang, kenapa lama sekali, ayo tidur, aku harus memeluk mu,” Alexander memanggilnya dari dalam kamar, membuat jantung Kiara berdetak kencang.
“Ini seperti adegan suami istri, eh tapi kan dia tidak mau menikah, ah, angan-anganku suatu saat mungkin akan membinasakan aku!” ketus Kiara lagi sedari tadi hanya berdebat dengan dirinya sendiri.
__ADS_1
Kiara segera membuka pintu ruangan pakaian, dia sudah melihat Alexander menunggunya di ranjang, dia bersandar di ujung ranjang sembari membaca sebuah buku, tubuhnya yang dibalut perban seolah menambah kesan lelaki kuat yang bisa melindunginya.
Tidak bisa dihiraukan lagi, jika Kiara terpesona.
“Kau sudah ganti, kemarilah, kita tidur,”
Alexander melihat Kiara sudah berdiri di dekat pintu, Alexander menepuk ranjang di sebelahnya dan meminta Kiara agar datang ke sisinya.
'Ah, begini tidak terlalu buruk selama dia tidak menyakiti aku, aku akan coba membiasakan hidup dengannya, mungkin aku memang harus memikirkan diriku sendiri mulai dari sekarang,' benak Kiara lagi datang dan berbaring di sisi Alexander.
Alexander yang melihat itu hanya tersenyum, dia mensejajarkan tubuhnya dengan Kiara dan memeluknya dengan hangat.
.
.
.
__ADS_1
.