
Episode 125 : Kenapa menyakitiku sampai sejauh ini?
***
Dua hari telah lalu setelah Kiara keluar dari kediaman Alexander Grey, tidak ada yang mencarinya, hal itu seolah mengkonfirmasi jika Alexander Grey telah benar-benar melepaskan Kiara sepenuhnya.
Kiara baru saja keluar dari kelas siang nya, dia melangkah dengan wajah yang menunduk, dia tidak perhatikan jika ibu angkatnya sedang menunggunya di depan ruangan.
“Kiara,” seru Ibunya memecahkan angan-angan Kiara.
Kiara yang melihat ibunya sedikit takut namun juga senang, Kiara mengira jika ibunya datang untuk mencari dirinya.
“Mari berbicara sebentar,” ketus Ibunya dengan wajah yang masam dan muram.
Kiara yang sadar jika ada yang tidak beres segera mengikuti ibunya, mereka akhirnya duduk di sebuah kafe dekat kampus yang sepi.
Ibunya yang sepertinya masih murka dan marah dengan hebat segera mengeluarkan sebuah berkas dari tas yang ia tenteng sedari tadi.
Kiara sadar jika sedari tadi ibunya kelihatan menahan amarahnya, jadi Kiara hanya diam saja, walau bagaimanapun dia memang baru melakukan kesalahan, jadi siapakah dia bisa melawan ibunya.
__ADS_1
“Ini ada surat pemutusan hubungan keluarga, kami tidak akan lagi menerima kamu sebagai bagian dari keluarga, kau harus tanda tangani agar kita tidak memiliki hubungan lagi, besok Bian Agler dan Bella akan melangsungkan pernikahan, kami tidak mau hanya karena mu pernikahan ini batal!”
Ibu angkatnya itu tanpa basa -basi langsung mengutarakan apa yang ia ingin katakan.
Seperti tidak nyata, mata Kiara terbelalak lalu sesaat kemudian air mata bergulir di pipinya, dia melihat bagaimana ibu angkatnya sama sekali tidak peduli, ia melihat surat perjanjian itu dengan malang.
“Aku …” Kiara akhirnya berbicara dengan suaranya yang lembut namun bergetar hebat karena menangis.
“Aku selalu melakukan yang terbaik, menurut dan tidak pernah melawan, aku tidak menyusahkan kalian untuk menghidupi aku bahkan membayar uang sekolah atau kuliahku,"
"Aku selalu mengalah dan makan sembunyi sembunyi agar aku tidak kena marah, aku selalu tersenyum jika Bella dibelikan baju baru sedangkan aku tidak,"
Kiara menunduk dan mengusap air matanya yang tidak berkesudahan dia sesenngukan jadi harus menarik nafas secara perlahan dulu.
“Aku juga rela saat kalian menjodohkan paksa kak Bian dengan Bella, padahal kalian tahu siapa Kak Bian untukku, tetapi kalian tetap membuang aku, jika kalian memang tidak menginginkan aku kenapa harus mengadopsi aku, menyakiti aku sampai sebegitunya,”
Suara yang lirih itu benar-benar akan membuat siapapun yang mendengar akan menangis, tangannya yang bergetar dan wajahnya yang sudah penuh dengan air mata segera mengambil pulpen di tasnya, dengan tangan yang penuh getaran pula ia menandatangai surat itu.
Ibu angkatnya yang melihat itu seolah tidak bergeming, dia menarik berkas itu dan lalu pergi meninggalkan seorang anak yang ia telantarkan begitu saja, anak yang terluka karena ketamakan nya.
__ADS_1
Sekarang Kiara benar-benar menjadi seorang diri dunia ini, sebatang kara dan tidak memiliki siapapun, dia menangis sampai sesenggukan di kafe sampai semua karyawan kafe melihat dirinya.
Saat ia menjadi tontona para pegawai sebuah jaket menutupi wajahnya, “Bodoh, menangis karena orang sampah seperti dia itu kau yang bodoh, kenapa kau harus menangis hanya karena manusia sampah!” suara pria itu dikenali oleh Kiara.
Pria itu adalah Alan, teman satu kampus Kiara yang jarang masuk kampus, namun beberapa kali dia mencoba datang untuk mencari Kiara tetapi baru hari ini dia ketemu tetapi malah melihat hal yang tidak ia suka.
Ya, Alan mendengar semua perbincangan itu, dia marah namun juga tidak mau ikut campur urusan sampah seperti itu, menurutnya ibu angkat Kiara tadi adalah manusia sampah yang tidak ingin ia lihat.
Kiara tidak peduli, apapun yang dibicarakan Alan yang duduk di hadapannya, dia tidak peduli, Kiara masih sakit hati, dia menangis dengan puas, dalam waktu yang lama, Alan tetap menemani Kiara, Alan akan menatap dengan tajam dan sinis setiap orang yang hendak memperhatikan Kiara yang sedang menangis.
Tanpa sepengetahuan Kiara, Alan mengusir semua orang-orang yang tadinya ingin memoto atau memperhatikan Kiara yang menangis dengan hebat.
.
.
.
.
__ADS_1