
Episode 120 : Pagi hari yang mengejutkan.
***
Alexander Grey melihat wajah Kiara, memejamkan mata tetapi terlihat damai, terlintas di hatinya bahwa dia ingin melihat wajah ini selama sisa hidupnya.
“Kenapa pernikahan sangat penting pada seorang wanita? aku ingin tahu sebenarnya sepenting apa itu! aku rasa bersamamu saja sudah cukup, aku tidak akan menginginkan hal lain lagi,” bisik Alexander Grey pelan, dia semakin bingung mengapa Kiara selalu membahas pernikahan.
Menurutnya pernikahan hanyalah sebuah perjanjian penuh kebohongan, tidak penting dan hanya memberikan rasa sakit dan luka.
Tetapi tidak bisa ia pungkiri entah mengapa dia merasa akan sangat baik jika memang saat ia harus menikah maka istrinya adalah Kiara bukan orang lain.
Entah mengapa sejak sedari kapan tetapi dia merasa Kiara adalah yang tepat yang telah ia cari selama ini.
“Kau tetap di sisiku saja, aku akan memberikan kamu segalanya, yang kau inginkan dan butuhkan, tetap seperti ini saja, aku merasa nyaman begini,” Alexander berbicara pelan sembari memejamkan matanya dan memeluk Kiara dengan erat sekali.
Kiara masih mendengar semua ucapan Alexander, benaknya sedang bertentangan, dia ingin kabur tetapi tidak bisa.
Mungkin Alexander Grey tidak mengerti seberapa penting pernikahan bagi seorang wanita biasa seperti Kiara.
Pernikahan adalah sebuah perjanjian sakral yang sangat ia inginkan, bukan berarti Kiara ingin menikahi Alexander Grey, tetapi Kiara tetap tidak memungkiri jika suatu saat nanti dia harus menikah dan menjadi seorang ibu.
Malam yang lelah dan panas akhirnya semakin dalam, Alexander yang sudah memastikan Kiara tertidur beranjak turun dari ranjang, dia pergi ke balkon kamar pribadinya dan menghisap rokok.
Dia hanya mengenakan piyama tidurnya seperti biasa, memandangi langit gelap sembari menghembuskan asap rokoknya ke luar.
Asap rokok itu cepat hilang dibawa angin, bintang tidak terlihat terlalu jelas tetapi hati Alexander yang sebenarnya sedang kacau seolah berteriak lagi, bagaimanapun hari ini adalah hari peringatan kematian orang paling berharga dalam hidupnya.
“Kakek, apakah kau sudah bahagia disana, kau tahu aku tidak bisa melupakanmu, di dunia ini hanya kau yang selalu ada untukku, tetapi kenapa hanya kau yang pergi, aku merindukanmu,”
Alexander akhirnya menunjukkan perasaannya yang sebenarnya, dia sebenarnya sangat merindukan kakeknya, samai sekarang dia masih belum bisa melepaskan kepergian kakeknya itu.
“Tring … Tring … Tring!”
__ADS_1
Sesaat kemudian dia menghubungi Yuza, dia sudah meninggalkan misi penting hanya untuk menghabiskan hari dengan Kiara, dia tetap harus tahu dan menyelesaikan misinya itu.
“Yuza, bagaimana apakah sudah ada perkembangan?”
“Kami sudah melakukan seperti yang Bos perintahkan, aku juga sudah mengarsip semua transaksi transaksi yang mencurigakan dari pihak Serge jadi kemungkinan tim Sin dan Fin sudah menemukan sesuatu di lokasi transaksi, kemungkinan akan kita ketahui beberapa jam lagi, Bos jangan khawatir, Bos lakukan saja yang ingin Bos lakukan hari ini, kami akan memberikan laporan besok pagi,”
Yuza mengerti bagimana perasaan bosnya hari ini, sebenarnya biasa disaat hari kematian kakeknya merupakan hari paling suram bagi Alexander Grey.
Walau seharusnya hari itu adalah hari paling bahagia karena merupakan hari ulangtahunnya tetapi tidak bagi Alexander.
Biasanya Alexander akan meyendiri dan menghilang selama satu hari, tetapi entah mengapa hari ini berbeda, seolah Kiara telah merubah sesuatu di diri Bos nya, tawa dan rasa tenang yang ada di wajah Bos nya saat bersama gadis kecil bernama Kiara itu belum pernah dilihat oleh Yuza sebelumnya.
Jadi Yuza merasa gadis kecil itu merupakan seseorang yang datang memberikan sedikit rasa tenang dan hangat pada Bos nya yang selama ini menanggung rasa sakitnya sendiri.
***
Mendengar ucapan dari Yuza, Alexander Grey bisa tenang sejenak, dia mematikan ponselnya, mematikan rokok yang ada di tangannya, lalu dia memandang sejenak kerah langit gelap dimana bulat sabit sedang mengintip.
Alexander Grey segera memasuki kamarnya, dia melihat kekasihnya telah tidur lelap sekali, senyuman itu tergambar lagi di wajahnya.
Dia mengangkat selimut dan masuk mendekat kedalam pelukan Kiara
“Hehe, aku senang kau tidak mengenakan apapun seperti ini, aku bisa memeluk si kembar kesukaan ku ini,” Alexander kegirangan memeluk Kiara tepat di dadanya.
Dia merasa nyaman dan bahagia sekali, sudah tidak ada yang ia inginkan sekarang, pikirannya kosong dan damai dia sungguh bisa melupakan pikiran pikiran berat yang selalu membuatnya susah tidur.
“Sepertinya aku harus membelikan baju terbuka padanya jika ingin tidur, ini sangat nyaman, aku suka,”
Alexander Grey sudah membayangkan hal hal nakal di kepalanya, dia menyeringai dan sudah bersemangat hanya dengan membayangkan Kiara memakai baju tidur tipis dan terbuka yang nanti akan ia belikan langsung untuk kekasihnya itu.
***
Di sisi lain,
__ADS_1
Layla yang masih tidak bisa tidur masih mengharapkan jika Alexander akan segera datang, dia sudah merencanakan sesuatu dan besok kabar ini akan segera sampai ke telinga Alexander Grey.
“Aku yakin kau akan datang padaku Alexander, hanya aku yang mencintaimu seperti ini, aku yakin suatu saat nanti kau akan memahami perasaanku,” Layla masih merasakan sakit hati bagaimana selama ini Alexander menghindarinya tanpa alasan yang jelas padahal hatinya sangat kuat untuk lelaki itu sejak dahulu.
***
Di kediaman Alexander Grey,
Malam akhirnya berakhir, Kiara merasa ada yang berat di tubuhnya tepatnya di bagian dadanya seperti ada yang menimpa, terasa sedikit hangat dan geli.
“Apa ini apakah aku bermimpi? Kenapa tubuhku terasa berat?” Kiara masih memejamkan matanya, tetapi sinar matahari yang sudah mengintip dari balik gorden sudah membuat matanya menyipit.
Kiara merentangan tangannya dan meregangkan tubuhnya, dia lelah sekali semalaman karena ulah nakal Alexander yang terlalu kuat dan tidak bosan-bosan melakukan hal itu.
Namun saat matanya terbuka, dia bisa melihat bagaimana Alexander Grey tidur dengan nyaman sembari wajahnya menempel di dadanya, rasa geli dan hangat yang ia rasaan ternyata berasal dari nafas Alexander yang berada di dadanya itu.
“Glek!”
Kiara menelan salivanya dan tidak ingin mempercayai hal ini adalah kenyataan.
“Tidak tidak! Aku pasti bermimpi, jika ini nyata maka aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku malu sekali, tidak mungkin, mari kita buka mata lagi dan pastikan,” teriak Kiara dengan panik dan memejamkan matanya sesaat ....
Kiara mempersiapkan hatinya dan membuka matanya lagi tetapi pemandangannya tetap sama, malah sekarang Alex memeluk dirinya semakin erat dan membuat Kirana ingin pingsan tapi tidak bisa.
“Aaaaa!”Kiara segera berteriak dan mencoba sekuat tenaga melepaskan dekapan Alexander, tetapi percuma, semakin ia mencoba melepaskan maka semakin erat dan kuat Alexander mencengkeram Kiara.
“Sayang, diamlah jangan bergerak, jika kau bergerak terlalu banyak maka kau akan mebangunkan sesuatu yang akan kau sesali nanti, biarkan begini sebentar,” seru Alexander masih memejamkan matanya, wajahnya tetap menempel ke dadanya seperti nya dia sangat gemas.
.
.
.
__ADS_1
.