
Episode 109 : Tidak terima kau kabur dariku!
***
Setelah melakukan olahraga panas yang membuat Alexander kebingungan dengan dirinya sendiri, dia menemukan jika Kiara dalam keadaan yang sangat menyedihkan.
Dia baru saja sadar dengan apa yang sudah ia lakukan, entah itu karena kemarahan yang besar atau karena rasa cemburu yang berlebihan.
Alexander mengusap rambutnya dengan sangat kuat, dia melepaskan ikatan tangan dan kaki Kiara.
“Kenapa aku bisa sangat marah? Tidak pernah aku melakukan ini kepada gadis manapun! Membayangkan kau dengan lelaki yang lain benar-benar bisa membuatku lupa diri dan melakukan hal gila!” geram Alexander Grey menggenggam pergelangan tangan Kiara yang terbilang kecil jika dibandingkan dengan tangannya.
Dia melihat jika tangan gadis ini sudah memerah karena sedari tadi berusaha memberontak dan melepaskan diri, Alexander kemudian mengambil obat p3k dan membalut pergelangan tangan dan kaki Kiara.
“Arrghh! seandainya kau adalah gadis yang lain, aku sudah melemparmu ke laut dan menjadi makanan ikan kau tahu?” Alexander kembali menyadari betapa cepatnya hatinya melembek jika melihat keadaan menyedihkan Kiara.
Hati dan tindakannya menjadi tidak konsisten, dia ingin marah dan melimpahkan kemarahannya pada Kiara, dia ingin menunjukkan pada Kiara jika dia bukanlah seseorang yang bisa dipermainkan, bukan seseorang yang bisa dikhianati.
Tetapi semuanya berubah, wajah menyedihkan dan lemah Kiara selalu saja membuat hatinya goyah, seseorang yang kejam dan selalu melakukan apa yang ia suka seperti menunjukkan kelemahannya hanya karena seorang gadis.
“Cih!”
Dia sekarang sudah memakai piyama tidurnya, dia melihat jika tubuh lemah Kiara sudah berkeringat karena ulah nakalnya.
“Kenapa aku mengambil air hangat?” teriaknya karena melihat dirinya mengambil air hangat ke wadah dengan sendirinya.
“Kenapa aku mengambil handuk bersih?” teriaknya lagi saat tangannya mengambil handuk bersih beserta wadah berisikan air hangat.
“Ada apa denganku?” ketusnya menghentakkan kaki dengan kuat, ia berjalan dengan aura menyeramkan kearah Kiara yang sedang terbaring.
Namun wajah kejam dan menyeramkan yang baru saja ia pertahankan langsung runtuh lagi, sekarang matanya sudah melemas dan ekspresinya menjadi seperti seekor anak kucing yang merasa kasihan.
Dia melihat wajah Kiara lagi, sekarang dia duduk tepat di sisi Kiara dan mulai membersihkan keringat yang membasahi tubuh gadis itu.
“Glek!”
__ADS_1
Alexander menelan salivanya karena harus membersihkan seluruh tubuh Kiara, Kiara harus mengenakan pakaian dengan tubuh yang bersih agar tidak sakit.
“Ais, sejak kapan juga aku menjadi seperti ini? aku harus menutup mataku jika aku melihatnya aku akan melakukan sesuatu yang tidak bisa kukendalikan!” ketus Alexander dengan cepat membersihkan tubuh Kiara dengan cara meraba-rabanya.
Getaran jantung Alexander sudah terlalu cepat, wajahnya merah sekali, setiap kali ia menyentuh sesuatu, jantungnya akan berdegup semakin cepat.
“Tidak Alexander! tahan! kau tidak boleh melakukannya lagi, dia sudah lelah dan tidur!” geram Alexander mencoba sekuat tenaga untuk menahan dirinya sendiri.
Setelah dia membersihkan tubuh Kiara, Alexander memakaikan piyama tidur untuk Kiara, “Aku belum memaafkanmu, aku bisa terima kau belum mencintaiku, tapi aku tidak terima kau kabur dariku, dasar gadis nakal yang tidak bisa diatur!” ketus Alexander masih kesal dan marah.
Dia berbaring diatas kasur dan mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh Kiara, dia menarik tubuh Kiara kedalam dekapannya, mengusap pundaknya dan rambutnya dengan lembut.
Matanya masih menyala karena berbagai pikiran memenuhi kepalanya, Alexander menyadari jika Kiara sama sekali tidak memiliki keamanan, juga bagaimana ternyata ada berbagai pihak yang ingin melenyapkan Kiara.
“Siput lemah sepertimu, kenapa banyak orang yang ingin sekali menyingkirkanmu? Padahal kau sangat lemah, mungkin takdir membawamu kepadaku agar aku bisa menyelamatkanmu, jadi kau harus menurut padaku, hanya akulah penyelamatmu kau tahu?!” masih menunjukkan ketidak-relaan karena Kiara terus saja menentangnya dan tidak menurut.
Bahkan ditengah rasa kantuknya, dia masih saja mengomel mengatakan bahwa di dunia ini hanya dia yang bisa melindungi Kiara.
Kemudian dia mengeratkan dekapannya, semakin lama entah kenapa dia semakin jelas dengan apa yang ia rasakan.
***
Disisi lain,
“Bagaimana? apakah kau sudah melenyapkan dia?” seseorang yang menyuruh suruhan untuk melenyapkan Kiara menelepon ketua suruhannya itu.
“Maaf Pak, tadi putra kedua dari keluarga Grey datang menyelamatkan Nona Kiara, semua anggota kita ditangkap dan sedang ditahan,” suruhan itu yang memang tidak ikut dalam penyergapan Kiara, hanya mematai-matai mengabarkan hal itu pada atasannya.
“APA?” dia sangat terkejut sampai ia berdiri dari tempat ia duduk.
“Jadi bagaimana?” teriaknya lagi mengepal tangannya, tubuhnya menjadi gemetaran, dia menjadi takut.
“Jangan khawatir Pak, tidak akan ada yang membocorkan dalangnya, mereka akan saya bereskan sebelum itu semua terjadi,” seru bawahannya kemudian.
Panggilan itu akhirnya berakhir, dia menjadi sangat risau, dia mengira semuanya akan lancar sesuai dengan apa yang ia inginkan, apalagi Kiara sendirilah yang kabur dari Alexander Grey.
__ADS_1
Dia mengira Alexander tidak akan mencari Kiara karena Kiara sendirilah yang kabur darinya, dan semua orang tahu bagaimana Alexander bersikap terhadap seseorang yang mengkhianati dirinya.
Dia tidak pernah mengira Alexander sampai repot segala mencari gadis biasa seperti Kiara.
***
Sedangkan di markas Alexander Grey,
Semua anggota inti, Sin, Fin dan Yuza tetap melakukan sesuai dengan rencana yang diberikan oleh Alexander, tetapi mereka sedikit bingung dengan Alexander, sampai rela berhenti dari misi sebentar hanya untuk seorang gadis.
Mereka merasa jika Alexander telah jatuh hati pada gadis bernama Kiara itu, dan itu sangat tidak baik.
Bagi kelompok mafia apalagi bagi ketuanya, mencintai seorang gadis berarti menunjukkan kelemahan fatal, yang artinya, jika Alexander benar-benar telah mencintai Kiara, maka Alexander sudah memiliki kelemahan fatal yang akan menggoyahkan perkumpulan mereka.
***
Setelah beberapa saat ....
Pagi hari telah menyingsing, malam penuh rahasia dan berbagai perasaan telah lewat, saatnya menghadapi hari baru.
Kiara merasa ngilu di seluruh tubuhnya terbangung, tubuhnya hangat dan dia sudah bersih mengenakan piyama, dia otomatis menutup tubuhnya dengan kedua tangannya.
Dia menyadari jika dia sudah tidak suci lagi, kesucian yang ia jaga akhirnya runtuh juga, dia menunduk sejenak lalu mengangkat wajahnya lagi.
“Kau kan memang sudah berjanji memberikannya pada monster labil itu? bisa-bisanya kau menyerah dengan hidupmu beberap hari ini Kiara! dimana semangat hidupmu itu! sekarang kau sudah kotor jadi tidak ada lagi yang harus ditakutkan!” geram Kiara merasa beberapa hari ini entah kenapa keinginan untuk hidupnya sedikit demi sedikit menghilang.
Dia lupa misinya adalah untuk bertahan hidup, entah kenapa hal itu tertanam dikepalanya, seolah dialam bawah sadarnya ada seseorang yang sangat penting menyuruh Kiara untuk tidak menyerah dan untuk tetap bertahan hidup.
.
.
.
.
__ADS_1