Belenggu Hasrat Sang Mafia

Belenggu Hasrat Sang Mafia
Sudah lelah bertahan hidup!


__ADS_3

Episode 75 : Sudah lelah bertahan hidup!


***


Masih di acara pertunangan Bian Agler dan Bella,


Alexander Grey sedari tadi sudah memperhatikan gerak gerik Kiara, dia mengikuti langkah Kiara yang seolah menghindari dirinya, tetapi hal itu membawanya ke sebuah tontonan yang memercikkan api amarah di hatinya.


Dia dengan jelas melihat Bian Agler dan Kiara sedang berpelukan, dia juga belum pernah melihat wajah Kiara begitu sedih dan terpukul


Saat melihat itu, rasanya dia ingin menghancurkan keduanya berkeping-keping, ini mengingatkan Alexander dengan kebenciannya pada wanita murahan yang suka berselingkuh dan berbohong, seperti ayahnya juga kebanyakan wanita yang ia ketahui.


“Ternyata dia juga sama, berpura-pura bersikap polos tetapi liar dan murahan! Kita lihat bagaimana kau akan hidup setelah mengkhianatiku!” geram Alexander sekarang sudah melangkah penuh amarah kearah Bian dan Kiara.


Ada satu hal yang akan membuat Alexander menjadi kejam dan tidak memiliki ampun, jika ada seseorang mengkhianatinya dan berbohong padanya maka hidup orang itu akan hancur seketika, tidak luput juga Kiara.


Alexander merasa Kiara telah remeh padanya karena selama ini Alexander terlalu lembut dan bersikap baik pada Kiara.


Kiara sepertinya memang tidak tahu jika Alexander Grey adalah seorang mafia yang telah banyak melakukan hal mengerikan, dia juga adalah seseorang yang berdarah dingin.


Dengan gagah dan ekspresi menyeramkan, Alexander menarik tangan Kiara dengan sangat kasar dari dekapan Bian Agler, setelah itu dia menghempaskan tangan Kiara dengan kuat sampai Kiara kesakitan dan tersungkur.


“Apa yang kau lakukan!” teriak Bian hendak meraih tangan Kiara lagi tetapi sebelum ia berhasil melakukan itu Alexander sudah terlebih dahulu mendaratkan pukulan menyakitkan di wajah Bian.


Wajah Bian sampai membiru, dan pinggiran bibirnya jadi berdarah.


“Kak Bi … Bian,” seru Kiara hendak menolong Bian yang sudah tersungkur di lantai.


“Jika kau berani bergerak dari tempatmu berdiri, aku akan membunuh kalian berdua disini sekarang juga!” seru Alexander dengan wajah yang sangat serius, matanya semakin tajam dan sekarang melangkah ke dekat Kiara yang sudah tersungkur di lantai.


Lalu ....

__ADS_1


Alexander mencengkeram dagu Kiara dengan kasar dan menghadapkan wajah Kiara ke hadapannya.


“Aku tidak tahu wanita berwajah polos sepertimu sebegitu menjijikkan dan murahan, apakah kau tidak ingin tidur denganku karena sudah ditiduri calon kakak iparmu sendiri? Cih, memikirkannya saja sudah ingin membuatku muntah!” bisik Alexander mencengkeram dagu Kiara dengan sangat kuat.


Bisikan itu saja sudah hampir membuat Kiara pingsan, lelaki yang sedang mengancamnya ini sungguh memiliki aura yang kuat dan menyeramkan.


“Tidak begitu, tolong dengar penjelasanku,” dengan bergetar ketakutan Kiara mencoba menjelaskan keadannya pada Alexander.


Tetapi ….


“DIAM! Aku tidak sudi berbicara dengan wanita murahan menjijikkan sepertimu!” geram Alexander dengan nafas yang berat, kali ini dia sungguh marah dan pasti akan memberikan hukuman yang berat untuk Kiara.


“Alexander, berhenti mengancamnya, bukan dia yang salah, tetapi akulah yang datang dan langsung memeluknya!” Bian mencoba menyelamatkan Kiara, tetapi ucapannya malah semakin memantik kemarahan Alexander Grey.


“Diam kau bajingan! Jika kau berani bergerak dan membuka mulutmu sekarang, aku akan menghanbisimu dan seluruh keluargamu!” ancam Alexander benar-benar serius.


Setelah itu Alexander melihat kearah Kiara yang sudah tertunduk dan bergetar sangat takut, Alexander menyeringai dan menyeret Kiara kembali.


***


“Brak!”


Alexander mendorong Kiara sampai terjerembab ke dalam mobilnya, dia menyuruh supirnya untuk kembali ke kediamannya, sepanjang perjalanan Alexander hanya diam, tetapi Kiara bisa mendengar nafas yang memburu dan menekan itu.


Entah apa yang akan dilakukan oleh Alexander kepada Kiara setelah ini, rasanya semakin mencekam.


Alexander menyalakan rokoknya, dia sudah tidak peduli apakah Kiara akan batuk atau tidak nyaman karena asap rokoknya itu.


Satu hal yang bisa diketahui oleh Alexander hari ini adalah, jika semua wanita itu sama, tidak ada bedanya, sama-sama murahan dan menjijikkan, tidak seharusnya dia membedakan Kiara dengan yang lainnya.


***

__ADS_1


Hanya beberapa saat dalam perjalanan, mereka sampai di kediaman Alexander Grey, lagi-lagi Alexander menyeret Kiara dengan sangat kasar, sepertinya pergelangan tangan Kiara sudah membiru karenanya.


Alexander tidak memberikan Kiara kesempatan untuk menjelaskan dan berbicara, bahkan melihat Kiara saja Alexander sudah merasa jijik.


Alexander menarik Kiara ke ruangan paling atas kediamannya, diruangan itu tidak ada penerangan sama sekali, dia melempar Kiara sampai tersungkur ke lantai.


“Ah, sakit,” keluh Kiara merasa nyeri di pinggul dan tangannya terkilir karena jatuh dan tarikan kuat dari Alexander.


“Hei gadis kecil! Apakah kau tahu apa hukuman jika berselingkuh dan mengkhianati ku?” bisik Alexander sembari mengusap tangannya dengan sapu tangan, seolah setelah menyentuh Kiara dia menjadi jijik, jadi dia harus membersihkannya dengan sapu tangan.


Kiara hanya diam saja, menunduk dan menahan sakit, dia tahu jika apapun yang dia jawab tidak akan bisa diterima oleh Alexander yang memiliki pikiran kuat dan tidak bisa dibantah.


“Hukumannya adalah mati, jadi kau akan mati disini, di ruangan gelap tanpa ada seorangpun yang tahu!” bisik Alexander menyeringai.


Hanya dalam beberapa saat hatinya menjadi keras dan dingin lagi, dia memang sebenci itu pada perselingkuhan, itu mengingatkan dirinya pada ayahnya seseorang yang sangat amat dia benci dalam hidupnya.


Tetapi tetap tidak ada jawaban dari Kiara, itu membuat Alexander terdiam sebentar lalu pergi beranjak keluar ruangan, “Diruangan ini ada cctv, aku akan memeriksanya setiap saat sampai pada saat kau sekarat, aku akan membuangmu dari sini, toh tidak ada yang menginginkanmu dan pastinya tidak akan ada yang menyadari kematianmu,”


Ucapan yang sangat dingin dan menyakitkan, Kiara bisa melihat tangan lelaki yang meraih tangannya dan memintanya untuk ikut pulang bersamanya menutup pintu ruangan itu.


Dia bisa melihat sisa cahaya yang memasuki ruangan gelap itu, seperti sebuah sisa harapan yang menjadi gelap.


Mata Kiara yang tertuju pada pintu menjadi kosong, dia tidak bisa melihat apapun kecuali kegelapan, dia takut, tubuhnya terluka dan dia hanya bisa meringkuk.


“Setelah semua harapanku hancur, untuk apa hidup lagi? Perkatannya benar, tidak akan ada yang menungguku, tidak akan ada yang akan mengetahui jika aku mati atau hidup, mungkin memang mati adalah jawabannya, ditempat gelap dan dingin ini aku akan meninggalkan segalanya, meninggalkan kekosongan dan harapan palsu yang terus berakar dihatiku,”


Air mata yang menetes itu seperti harapan terakhir Kiara, matanya yang kosong dan hatinya yang hancur membuatnya tidak ingin mencoba bertahan hidup lagi.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2