
.
.
.
"kenapa sayang? ". tanya Arka melepaskan ciumannya dari Nana melihat mata Nana tengah tertuju ke arah lain.
"Kamu ingat orang yang melempar sepatu di bioskop waktu itu Arka? ". tanya Nana
"hmm?". Arka tampak mengingat tapi memang tidak mengingatnya sama sekali.
"kenapa?? kamu tidak ingat Arka? ". tanya Nana terlihat kesal
"sayang..? tidak penting bagiku mengingat orang lain". jawab Arka menoel-noel hidung Nana sama seperti Nana suka menoel-noel hidungnya.
Nana menekuk alisnya, "kalau orang yang mencekal kaki ku saat di Bioskop? ". tanya Nana
"aku ingat bedeb*h itu". jawab Arka cepat
"nah itu dia orangnya Arka". kesal Nana
Arka menaikkan sebelah alisnya, "lalu? apa hubungannya sayang?".
"dia tadi menatapmu bahkan matanya hampir keluar melihatmu Arka". adu Nana dengan geram
"Hmmfftt...?? ". Arka menahan tawanya.
"Arka? ". bentak Nana dengan mata melotot.
"kamu cemburu sayang? imutnya". kata Arka menusuk-nusuk kedua pipi Nana.
Nana menepis tangan Arka dan berdiri hendak pergi tapi Arka menarik tangannya hingga terduduk dipangkuan Arka, Nana mengayun kakinya.
"apa yang mau kamu lakukan padanya Arka? ". tanya Nana melirik Sari.
"bukankah itu urusanmu sayang, kamu yang mengajariku kalau perempuan itu lawanmu tapi kalau laki-laki barulah lawanku". Arka menyandarkan dagunya di lengan Nana dan menatap lembut Nana.
Nana tersenyum manis, "baiklah, dengan senang hati aku akan mengatasinya". jawab Nana dengan serius dan terkesan misterius.
"basmi semua tikus yang hendak masuk ke Rumah kita sayang". kata Arka
"Rumah Kita? ". beo Nana tidak mengerti.
"maksudnya hubungan kita itu seperti Rumah yang tidak boleh goyah ataupun di masuki hewan asing yang mencoba mengacaukan Rumah kita". jawab Arka
__ADS_1
Nana tertawa kecil lalu mengelus kepala Arka, "kekasihku pintar sekali bahkan tingkahnya tidak lagi seperti bayi ya?". puji Nana
"sayang.. aku hanya tidak bisa jauh darimu maka nya aku seperti itu". jelas Arka
"iya.. iya". jawab Nana terkekeh
acara terus berlangsung dengan meriah dan sangatlah lancar sementara Nana dan Arka sibuk dengan dunia mereka, entah apa yang dibicarakan Arka dan Nana tapi sudah membuat orang-orang yang melihatnya begitu iri kemesraan sepasang kekasih itu.
Sari mendatangi Lala yaitu temannya,
"kamu lihat apa La?? ". tanya Sari memukul lengan Lala yang kaget melihat ke arah Sari.
"apa yang kamu lihat? ". tanya Sari sekali lagi
"aku melihat sepasang kekasih sempurna, banyak yang memotret mereka". jawab Lala
Sari mengepalkan tangannya, "kenapa kau melihat mereka? apa kau juga iri pada mereka?? ".
"siapa yang tidak iri pada mereka, sama-sama seorang pembisnis, sama-sama sempurna dari segi manapun, juga sama-sama Presdir Utama 2 Perusahaan besar, terutama W Group sudah mulai merajai pasar mancanegara". ricau Lala
Lala melihat ke arah Sari yang tengah menatapnya dengan tajam dan penuh kebencian,
"ada apa Sari? ". tanya Lala kebingungan
"hah? kenapa Tuan Devano Sari? bukannya Tuan Celvin? ". tanya Lala kebingungan sampai terbatuk-batuk.
"Kenapa Celvin? aku hanya pantas dengan Tuan Devano, dia sangat tampan". kata Sari dengan pekikan kecilnya yang gemas.
Lala menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "apa dia tidak berkaca?? walaupun aku iri dengan Nona Nana tapi aku juga tau diri kalau aku tidak sepadan dengan Nona Nana". batin Lala.
Pesta sedang berdansa
Nana berdansa dengan Arka, mereka seperti seorang Pangeran dan Putri dari Negara seberang malam ini, Intan tidak iri malah ikut bahagia tanpa ragu memotret pasangan itu.
"kamu menyukai Nana Sayang? ". tanya Celvin ke Intan
"hmmm.. jika saja aku laki-laki aku akan bersaing dengan Tuan Devano dan menikahi Nana". jawab Intan dengan bangga
Celvin tersenyum, "kamu tidak marah kalau aku jujur pernah jatuh cinta padanya".
Intan melihat Celvin seketika lalu tersenyum lembut, "menurut aku hanya Pria bodoh yang tidak jatuh cinta padanya".
"jadi aku Pria. .. ?". tanya Celvin tersenyum
"Pria pintar". jawab Intan tersenyum lebar.
__ADS_1
"hmm.. aku bersyukur kamu perempuan sayang". ujar Celvin lalu tertawa lepas membuat Intan menatap kesal padanya.
terkadang Intan merasa heran mengapa ia bisa suka pada Celvin yang tidak ada apa-apanya dibanding Devano.
mereka sibuk dengan perdebatan kecil sejak kejadian malam itu namun pertengkaran mereka sangat manis dilihat orang, kemesraan Celvin dengan Intan juga memiliki daya tariknya sendiri hingga ada juga yang gemas melihat mereka.
Lala hanya bisa menahan senyum dan menahan pekikan nya melihat dansa Nana dan Arka yang sangat romantis seperti Guru Dansa saja.
"sepertinya harus aku beri pelajaran". gumam Sari mengedarkan pandangannya.
Sari menyeringai lalu berbalik pergi dari Aula pesta dan membakar tisu di toilet dan keluar dari sana dan kembali ke Aula pesta tak lama kemudian terdengar alarm kebakaran.
Sari tersenyum senang melihat kepanikan orang lain,
"Kebakaran...! Kebakaran...! ". teriak orang berlari lalu lalang membubarkan diri dari acara itu.
Nana dan Arka saling melihat satu sama lain tapi mereka bukannya lari malah fokus dengan dansa hingga tiba-tiba keluarlah air dari langit-langit Aula seperti sedang diguyur hujan.
Intan berteriak meminta mereka pergi tapi Nana dan Arka terlihat menikmati saat tubuh mereka basah disiram air darurat.
Ara mengatakan lewat mic tidak ada kebakaran sama sekali hanya ada orang iseng yang kurang kerjaan membakar tisu di tong sampah menyebabkan asap dan alarm kebakaran sampai berbunyi.
Abi tanpa ragu mengatakan bahwa pelakunya perempuan yang iri dengan pernikahan Intan dengan Celvin, layar monitor di hidupkan dengan bantuan payung hingga perbuatan Sari terlihat jelas disana.
"aaah...! dasar orang sinting...!! ". teriak semua tamu yang ada didalam ruangan sampai Ruangan itu tak lagi diterpa hujan darurat.
"apa-apaan dia..? apa dia pikir nyawa kita lelucon? ". maki salah satu dari mereka syok
sebagian besar sudah melarikan diri sementara yang lainnya masih di dalam Ruangan acara, Sari merasa tidak aman segera melarikan diri.
tidak ada yang mengejar Sari karna tidak melihat Sari tapi kebusukan Sari sudah diketahui oleh banyak orang hingga sampai ke Orangtua Sari dan tersebar di seluruh media.
.
"bapak pikir saya mau menerima ini? anda tau sendiri bagaimana perangai anak anda terhadap teman dekat saya". kata Nana dengan tenang menatap Pria paruh baya didepannya adalah Papa kandung Sari yaitu Pak Basir.
"maafkan saya Nona..! tapi apa yang dilakukan Putri saya sudah membuat saham Perusahaan saya menurun drastis, saya mohon untuk pertimbangan dan meminta kebaikan hati Nona". kata Pak Basir dengan sopan dan gemetar.
Nana hanya bisa menghela nafas, sebenarnya Pak Basir tidak bersalah hanya saja Putrinya itu yang jahat tidak ada pendidikan moralnya sama sekali, Nana sudah menyelidikinya sendiri dengan bantuan Ara.
.
.
.
__ADS_1