
.
.
.
pagi-pagi
Keluarga Nana kembali ke Mansion untuk membersihkan diri setelah itu akan kembali lagi ke Rumah Sakit, Arka tetap di Rumah Sakit menemani Nana
Pelayan Arkatama (Noni) sudah membawakan baju-baju ganti untuk Nana dan Arka, ia melakukannya dengan senang hati sebagai balas budi pada Nana yang sudah menyembuhkan Ibu kandungnya.
di siang harinya.
Ara dan Abi datang menjenguk Nana yang baru saja melahirkan, Endra datang tapi hanya sebentar sekalian minta tanda tangan Arka, Intan juga datang menggendong El hendak ke Perusahaan Celvin mampir ke Rumah Sakit padahal tujuannya mengantarkan makan siang untuk suaminya.
"maafkan aku datang terlambat ya? ". Intan duduk disamping Nana sambil memangku El.
Nana tersenyum, "nanti saat acara keluarga di Rumah nanti kalian harus datang dan bawa amplop yang tebal".
Intan tertawa lalu berpamitan pada Nana dan Arka bahwa ia harus pergi ke Perusahaan Celvin untuk antar makan siang.
"baiklah.. hati-hati ya? dadah El? ". sapa Nana ke Elvin yang menyeringai lebar malu-malu memeluk ibunya.
Intan tertawa karna sangat tau pemikiran putranya yang suka dengan wajah Nana yang menawan walau tidak berdandan, walau El sudah besar tapi masih manja pada Ibu kandungnya.
Intan pun membawa El pergi dan berjanji akan datang diacara penyambutan keturunan keluarga Wijaya dan Arkatama.
"Nona maafkan saya baru bisa datang sekarang! ". ucap Ara ke Nana.
"kalian sangat sibuk mengurusi Perusahaanku yang aku tinggalkan berbulan-bulan". Nana sangat tau kesibukan Ara dan Abi.
Abi menunduk sopan ke Nana dan mengatakan hal yang sama.
"bertahanlah sampai aku pulih setelah ini aku akan memberi kalian waktu liburan". kata Nana
Abi dan Ara tersenyum saja karna tau Nana tidak bekerja bukan karna malas tapi memang wanita itu istimewa, Nana adalah Pemimpin Perusahaan satu-satunya berjenis kelamin perempuan yang ditakuti saingan bisnisnya.
"apa Nona punya Asisten lain? ". tanya Abi hati-hati.
"hmm... aku akan memperkerjakan 1 Pria yang kamu rekomendasikan padaku Abi, kinerja dia sangat baik dan aku suka dengan hasil pekerjaannya". jawab Nana
Abi menautkan kedua alisnya, "yang saya rekomendasikan hanya salah satu pekerja swasta Nona". jawab Abi bingung lalu tersadar seketika.
"pekerja swasta? ". beo Ara dan Arka menatap Istrinya dengan tanda tanya.
"aku ingin menghancurkan salah satu pejabat penting yang suka menghancurkan kehidupan orang demi menutupi kebusukannya". jawab Nana dengan enteng.
__ADS_1
Hening...!!
diam-diam Nana menyeringai, ia akan balaskan dendam Rezantara Hindiro yang dipecat dari Perusahaan Keamanan Data Negara, Nana sudah lama menahan diri karna takut anak-anaknya terkena efek akan kekejamannya.
Arka yang menghabisi Sari saja sudah membuat Nana khawatir entah bagaimana kehidupan Ren dan Rose nanti.
"kamu mau menghabisi Pejabat mana sayang? ". tanya Arka lembut.
"kalian tenang saja". senyum manis Nana berubah sebagai perempuan ramah yang berhati baik.
Arka menggaruk kepalanya.
Ara dan Abi sontak saja terkejut mendengar tangis Bayi, alhasil Arka mengusir kedua pekerja Nana untuk kembali bekerja dan akan mengundang mereka nanti saat ada acara di Rumah atas penyambutan anak-anaknya.
Nana menggeleng kepalanya melihat keposesifan suaminya, padahal Ara perempuan melihat pay*dar* Nana tidak akan bermasalah tapi namanya saja punya suami cemburuan harus diterima Nana walau pada perempuan sekalipun.
"sudah sayang". jawab Arka menutup tirai disekeliling Nana.
Nana mengeluarkan salah satu buk*t kembarnya dan memberikan put*ngnya ke mulut Ren yang begitu rakus seperti kelaparan begitu juga Rose, Arka sampai takjub melihat cara makan anak-anaknya walau ia juga mau tapi harus bisa menahan diri karna hanya itu nutrisi untuk anak-anaknya tumbuh besar dan sehat.
"kenapa sayang? ". tanya Arka
Nana tersenyum, Arka membantu Nana memegang Rose yang tidak menangis malah begitu tenang saat digendong Arka, Nana fokus menyusu* Ren yang lebih rakus dari Rose.
"sayang..! Putri Papa kok bisa wangi sih? hmm?". Arka menimang-nimang Rose yang mulutnya sedikit terbuka sedang tertidur.
"anak Mama kenapa rakus sekali ya? apa belum makan selama berhari-hari hm?? ". gemas Nana ke Ren
Arka dan Nana saling pandang lalu tertawa bersama, setelah puas menyus* putranya Nana meletakkan Ren disisi kanannya lalu mengambil alih Rose dari Arka dan menyus* Rose.
Arka menonton cara Rose makan, Nana tertawa kecil melihat suaminya beberapa kali menelan salivanya.
"sayang? jangan cemburu pada anak-anakmu ya? ". kata Nana
"tidak sayang.. tidak.. aku bisa menahannya". jawab Arka nyengir.
Nana merapikan rambut Arka yang berantakan, "kamu mandi sayang!".
Arka mengendus tubuhnya hal itu membuat Nana tertawa lebar.
setelah menginap beberapa hari di Rumah Sakit Nana di izinkan pulang ke Rumah, Arka mendorong Kursi Roda Nana sementara bayi-bayi Nana berada di gendongan Diah dan Sarah.
"waah..? ini kamar anak kita sayang? ". tanya Nana melihat cantiknya kamar bayinya.
"itu hiasan Papa dan yang lainnya sayang, aku tidak sempat melakukannya untukmu". kata Arka
Nana tertawa, "kamu bersamaku hampir 24 jam sayang tentu saja kamu tidak punya waktu membuat hal seperti ini".
__ADS_1
"sudah.. sudah... kalian istirahatlah nak..! biar Mommy yang mengurus bayi kalian". Diah
"iya.. bukankah asi yang kamu berikan di botol-botol itu banyak nak? biar Nenek yang urus ya? kalian istirahat saja". sahut Sarah.
Arka dan Nana tidak bisa melawan perintah Kedua Nyonya itu, Nana dibawa ke kamar mereka yang tepat disebelah Kamar bayi-bayi Arka dan Nana.
"jangan bangkit sayang..! ". pinta Arka
Arka menggendong Nana lalu meletakkan Nana dengan hati-hati diatas ranjang, lalu menyelimuti Nana.
"kita istirahat sehari ini saja ya? besok kamu harus punya banyak tenaga karna hari selamatan anak-anak kita...". Arka
"besok? ". potong Nana dengan senyuman dan Arka balas dengan senyuman juga.
"aku akan istirahat yang puas". sambung Nana lagi.
Arka mencium kening Nana dengan penuh Cinta, Arka menemani Nana tidur setelah itu ia membersihkan diri dan tidur disofa.
.
di kamar Ren dan Rose.
"ya ampun.. ini Rose kok bisa wangi ya Diah? ". gemas Sarah ke Diah.
"iya mah..! aku juga nggak tau kenapa Rose bisa wangi? kok bisa ya?". sahut Diah
"ini wanginya Ren juga beda wangi apa ya? ". Sarah mengendus sayang kening Ren.
"apa Nana pernah ngidam makan bunga mawar Diah? ". tanya Sarah
"tidak ada". jawab Diah
"ada apa sih? ". tanya Dewi yang tiba-tiba datang.
Diah dan Sarah menceritakan rasa kagum dan takjub mereka pada kedua bayi mungil itu,
"iya sih.. Rose memang sangat wangi". sahut Dewi mengakui.
"mereka ini berbahaya.. aku yakin banyak lawan jenis yang tergila-gila pada mereka". gemas Diah menciumi wajah Rose dan melihat Ren digendong Sarah.
mereka tertawa satu sama lain
.
.
.
__ADS_1