
.
.
.
"tentu saja Papa". jawab Nana tiba-tiba sudah melingkarkan tangannya dipinggang Yardan.
"kamu memang putriku..! kamu mengerjai papa selama ini nak? ". Yardan merasakan ikatan batin dengan gadis yang tengah ia peluk kini
Nana tersenyum lebar, "Nana hanya menikmati alur takdir Papa seperti air mengalir".
Yardan mengelus rambut panjang Nana, ia mengecup sayang puncak kepala Nana.
"baiklah..! papa akan mengikuti caramu yang tenang tapi menghanyutkan nak". Yardan
Yardan dan Nana melepaskan pelukan mereka lalu Yardan mengeluarkan sesuatu dari dalam dompetnya dan itu membuat Nana tersenyum.
"ini untukmu nak". Yardan memberikan blackcard ke Nana.
Nana tersenyum cerah dan menyimpan kartu itu ke dalam tasnya. "terimakasih Papa".
Yardan mengangguk mengelus pipi Nana, "kamu mirip sekali dengan Nenek pertama Papa".
"dimana nenek pertama Papa? ". tanya Nana
Yardan menceritakan bahwa Nyonya Shinta meninggal saat Yardan masih kecil dan tak lama setelah itu Kakek pertamanya pun meninggal karna tidak sanggup ditinggal Istrinya padahal masih terbilang muda.
"jika Kakek pertama bisa bertahan pasti dia yang paling terharu melihatmu sayang, Papa yakin kamu akan menjadi obat baginya". Yardan
Nana tersenyum, "maafkan Nana yang terlambat hadir ke dunia ini Papa".
Yardan terkekeh, "bagaimana kehidupanmu Nana? apa Hp Papa memang kamu yang retas? ".
"iya pa". jawab Nana sambil tersenyum lebar.
Yardan ingin berbicara lagi tapi tiba-tiba Arka datang, "kenapa lama sekali? banyak orang yang menanyakan kalian". tanya Arka.
Yardan pun mengelus puncak kepala Nana lalu meninggalkan Nana bersama Arka karna ia percaya pada Arka, jika Yardan langsung mengumumkan pada orang-orang Nana adalah Putrinya itu bisa berbahaya.
"bagaimana Nana? ". tanya Arka
Nana tersenyum cerah menepuk tas cantiknya, "aku sudah punya ATM tanpa batas".
Arka tertawa memeluk Nana dengan mesra,
"sudah.. sudah.. kenapa kamu suka sekali memelukku Arka". gerutu Nana melepaskan pelukannya dari Arka.
"lama-lama aku lupa namaku sendiri adalah Devano". kekeh Arka
Nana tersenyum kecil, "Arkatama sangat cantik itu sebabnya aku memanggilmu Arka"
"tapi aku lebih tua darimu Sayang, kenapa tidak panggil abang? hmm? ". gemas Arka
__ADS_1
"siapa suruh kamu meninggalkan kesan buruk padaku, aku sudah terbiasa memanggilmu Arka". jawab Nana melenggang pergi
Arka mengerutkan keningnya lalu berlari mengejar Nana, "apa maksudmu Nana? kapan aku meninggalkan kesan buruk padamu hmm? ".
"saat kamu tidak mengucapkan terimakasih padaku, saat kamu menepis kasar tanganku, sudah aku bilang aku ini orangnya pendendam". gerutu Nana
Arka menggeleng kepalanya pelan tapi bibirnya tersenyum, menurutnya bukan masalah besar dengan panggilan Nana karna dipanggil Arka saja sudah membuat Arka bahagia apalagi dipanggil Abang atau Mas, bisa berbahaya hati Arka nanti.
.
.
di tengah acara pesta.
"Papa bicara apa sama perempuan itu? apa dia mau meninggalkan Tuan Vano? ". tanya Celinne penasaran ke Papanya.
"bukan..! Aku hanya bicara bisnis". jawab Yardan
Celinne terdiam, matanya mulai berembun karna Yardan seperti menambah jarak diantara mereka.
"apa bagusnya bicara bisnis dengannya? ". tanya Celinne
"apa bagusnya? dia sangat pintar memberi masukan". jawab Yardan
Celinne hanya bisa pergi dari Yardan karna ia juga tidak mungkin mengatakan pada Yardan dirinya berteriak bahwa dia adalah Putri Yardan karna Yardan maupun Celinne sudah tau Celinne bukanlah Putri Kandung Yardan.
Celinne berjalan ke arah Nana yang tengah berbicara dengan rekan bisnis Devano, sepertinya Vano sengaja memberi tau orang-orang bahwa Anna si kekasih sempurna itu hanya milik Tuan Muda Arkatama Group.
Celinne tiba-tiba menarik kasar lengan Nana lalu Nana dengan gerakan cepat menangkap tangan Celinne yang hendak menamparnya.
semua orang terdiam, Celinne mengedarkan pandangannya semua menatapnya dengan tatapan kasihan dan ada yang penasaran, ada yang merendahkan juga sebab mereka menebak Celinne tidak terima Tunangannya gagal karna sosok Anna yang merebut hati Devano Darendra Arkatama.
"lepaskan tanganku! ". desis Celinne berusaha melepaskan tangan nya dari cengkraman Nana.
"kalian lihat kan? aku tidak melakukan apapun tapi tiba-tiba dia menarik lenganku dan ingin menamparku, bukan salahku kan jika aku membalasnya? kulitku putih bersih seperti salju jadi saat Nona Wijaya menarik dan mencengkram tanganku tentu saja terlihat jelas". Nana
Yardan datang dan meminta maaf pada Nana, Nana pun melepaskan Celinne.
"bagaimana bisa Papamu yang meminta maaf padaku? padahal kau lah yang bertingkah, bagaimana nasib Perusahaan Wijaya jika jatuh pada tangan kasarmu ini? ". kata Nana dengan santai nya namun begitu elegan lalu putar badan kembali berbicara dengan rekan bisnis Vano.
Yardan menarik pergelangan tangan Celinne dan memberikannya pada Emma, Emma yang sedang minum pun hampir saja menumpahkan semua minumannya.
"aku benar-benar tidak habis pikir dengan tingkah anakmu ini..! kenapa dia bikin malu nama Keluarga Wijaya didepan para tamu hah? kau yang menyuruhnya hah? ". desis Yardan dengan tatapan nyalang.
Emma memegang tangan Celinne,
"jangan buat malu lagi atau aku akan menghukummu..! jaga anakmu baik-baik Emma..! ". Yardan meninggalkan sepasang ibu dan anak itu.
"ada apa Celinne? ". tanya Emma khawatir
"wanita jal*ng itu ma..! ". geram Celinne melirikkan matanya dengan tajam ke arah Nana.
Emma berdecak pelan, "kenapa kamu tidak sabar hmm? nanti dia akan terkena balasan dari mama, tenanglah".
__ADS_1
"aku tidak tahan ma..! sejak tadi dia menjadi pusat perhatian, Celinne udah pakai baju ketat begini tapi dia hanya memakai gaun seperti itu saja sudah membuat orang begitu memuja menatapnya, seharusnya semua perhatian itu hanya untuk Celinne ma".
Emma menghela nafas panjang, mereka sibuk dengan perdebatan kecil itu sedangkan Arka berlari ke arah Nana sebab ia tadi ke Toilet dan mendengar dari Endra yang mengamati Nana dari jauh di sakiti oleh Celinne.
"sayang? mana yang sakit? ". tanya Arka khawatir memegang bahu Nana.
Nana tersenyum lalu menunjukkan lengan kanannya.
"hanya merah sedikit saja". jawab Nana
"ayo kita obati! ". ajak Arka
Nana hendak protes tapi pinggangnya sudah ditarik oleh Arka, rekan bisnis Arka hanya berdecak kagum akan keberuntungan Arka yang bisa mendapatkan gadis sempurna seperti Nana yang mereka kenal Anna.
diam-diam Yardan juga khawatir tapi melihat Emma yang terus menatapnya dengan tajam pun menahan diri, Yardan tidak ingin Emma curiga bahwa perhatian Yardan jatuh pada Nana. jika Yardan melakukannya bukan hanya mencari perkara Emma tapi juga ditegur Nana yang tidak ingin rencananya hancur.
.
.
Nana diam saja di obati oleh Arka, ia menatap ke arah lain sedangkan Arka tengah serius mengoleskan salep padanya.
"itu bukan salep anus kan? ". tanya Nana tiba-tiba
Arka menggeleng kepalanya, "bukan".
"sudahlah Arka..! jangan marah ya? kan aku baik-baik saja? lagian nama Celinne sudah semakin tercemar memang itu tujuanku kan? ". Nana
"aku tidak suka dia melukaimu..! aku akan datangi dia". Arka hendak bangkit
"jangaaann! ". Nana menahan lengan Arka.
"dia mainanku". jawab Nana
"sebelum aku bisa membuat namanya begitu tercemar hingga jatuh ke jurang penderitaan dan tidak tertolong lagi saat itulah aku muncul sebagai Putri Penguasa yang Tersembunyi". jelas Nana lagi.
.
.
.
Celinne memakai gaun super seksi yang membentuk tubuhnya juga memperlihatkan belahan dadanya, (Bayangkan sendiri ya?)
sedangkan Nana yang menjadi Anna:
Contoh gaun Nana yang simpel namun bisa membuat mata Pria dan wanita meleleh hanya menatapnya saja.
.
.
__ADS_1
.