
.
.
.
ke esokan harinya,
di Rumah Sakit
Anna tersenyum kikuk saat banyak dokter bedah spesialis menggodanya, ia tidak bisa mengelak atau sekedar berkata kasar pun Anna tidak berani.
jika bukan Dokter siapapun bisa Anna lawan tapi mengapa jika lawannya berprofesi seorang dokter Anna tidak bisa melawan? apa karna pekerjaannya? Anna sendiri juga tidak tau alasannya.
"issh.. kenapa mereka harus ada di Shift ini sih? bukannya mereka kerja di Shift malam? ". batin Anna
"Anna? ". Panggil Adi
Anna berbalik lalu melihat dokter yang berkelahi memperebutkannya tengah menatap ke arah Adi,
"aah... sepertinya aku bisa membuat mereka salah faham, lagian Adi temanku dia bisa bayar hutang kan? hehe..! ". batin Anna
Anna berlari ke arah Adi, "kenapa lama sekali? ".
Adi menaikkan sebelah alisnya lalu melihat kode mata Anna membuatnya mengerti,
"ayo...! ". ajak Adi
"mau kemana?? ". tanya Anna
"tenang saja! ". jawab Aditya merangkul bahu Anna.
Aditya memperkenalkan diri dan Profesinya pada dokter-dokter itu hingga mereka melotot tak percaya, Dokter memang memiliki gaji yang besar tapi dibandingkan dengan penghasilan pembisnis sukses berbeda jauh.
Anna menjatuhkan rahangnya saat Adi bisa mengendalikan situasi, bahkan membuat mereka semua tak berkutik dengan kikuk meminta izin lalu menghilang tanpa berani menyapa Anna seperti biasa.
"kok bisa? kenapa mereka bisa ketakutan padamu Di? ". tanya Anna dengan takjub.
"seorang Pembisnis memang harus punya aura mematikan supaya lawannya takut, mereka hanya bisa mengandalkan tangan dan Otak sedangkan pembisnis lebih rumit, mental mereka tidak cocok untuk Pembisnis". kata Adi
"yah..! tapi kami bisa memegang pisau". jawab Anna merasa tersindir.
"iya..! tapi kamu bukan saingan bisnisku Anna". gemas Adi
Anna mendengus lalu menarik lengan Adi membawa Pria tampan nan manis itu ke Ruangan khusus, segala tes telah dilakukan ternyata Adi tidak punya penyakit serius seperti CIPA.
"kalau hasilnya negatif kenapa kamu tidak merasakan sakit Adi? ". tanya Anna heran
"mungkin aku sudah terbiasa dengan rasa sakit, kamu tau sendirikan Ibu Kandungku meninggal saat itu? sejak itu aku tidak lagi merasakan sakit". jawab Adi.
Anna tau meninggalnya Ibu nya Adi tapi tidak mengerti mengapa itu bisa membuat Adi tidak merasakan rasa sakit, tapi percaya saja penjelasan Adi karna ia juga sudah memeriksa keadaan Adi yang memang tidak ada kelainan saraf.
Anna memegang Dada Adi lalu tertegun saat mata mereka bersitatap begitu dekat,
"aku harus melihat luka yang aku korek tadi malam". jelas Anna yang tidak mau Adi salah faham.
"iya". Adi mengangguk
__ADS_1
Anna melepaskan dasi Adi lalu melepaskan kancing jas Adi,
"aku buka saja jasnya? ". tanya Adi
"iya". jawab Anna
Anna melihat luka lama Adi yang ternyata sudah lebih baik, Anna hanya mengganti perbannya.
"semua baik-baik saja, aku pikir kamu punya penyakit lain". kata Anna memasangkan kembali kemeja Adi.
"matamu tetap indah Anna". puji Adi
bola mata biru Anna melihat ke arah bola mata hitam Adi,
"kenapa? mentang-mentang wajahmu sudah baikan sekarang mau meledek mataku? ". tanya Anna dengan datar.
"tidak, matamu itu ciptaan Tuhan". jelas Adi
"sstt...! diamlah, kamu boleh pulang 3 hari lagi datang untuk melihat lukamu kalau ke Rumah Sakit lain juga boleh". Anna
"aku mau dokternya kamu Anna". kata Adi
"kenapa aku? aku jarang bekerja di Rumah Sakit, aku buka Praktek di Rumah". jawab Anna
.
.
"Anna? ". panggil Leonard dengan lembut.
"siapa Pria itu nak? ". tanya Leonard.
"Pria mana Kek? ". tanya Anna malah bingung.
"Pria berlesung Pipi yang bersama mu dimalam Pernikahan Ara dan Abi". jawab Leonard terkekeh pelan.
Anna mengerutkan keningnya, "Kakek ingat saat Anna memberikan uang 3 M untuk seorang Pria waktu di Rumah Sakit? ".
"hmm?? iya.. ingat". Leonard.
"nah.. itu dia orangnya Kek..! dia mau kembalikan uangnya tapi Anna tidak mau, bahkan kemarin berusaha meminta Nomor Rekening Anna supaya uangnya bisa di TF, Anna tetap tidak mau tadi, malah dia membuat ATM baru isinya 3 M, kata dia untuk Anna karna balasan uang itu dia juga bilang kalau kurang dia bisa nambah bunga nya.. ckk... dia pikir Anna memberinya pinjaman apa? Anna kan tulus". celoteh Anna.
"ohh...! tapi Kakek merasa pernah melihatnya, dimana ya? ". gumam Leonard penasaran.
"kata Sekar dia Presdir Mal baru itu Kek". jawab Anna
"Mal ANA? ". tebak Leonard.
"Iya Kek..! Kakek tau Mal itu? ". tanya Anna
"siapa yang tidak tau itu nak? Mal itu baru buka di Pusat kota saja langsung meledak karna dialah pemiliknya menjadi model Mal itu sendiri". kata Leonard.
"Apaa? kenapa Anna tidak tau Kek? ". kesal Anna
"kamu ini tau nya hanya Obat-Obat.. Obat.. dan Obat..! semua yang ada di otakmu itu Pasien, Obat dan Belajar Bisnis". gemas Leonard.
Anna mengerucutkan bibirnya, "hhuuh..! Kakek nih". rajuk Anna.
__ADS_1
"coba perhatikan lebih detail lagi, dia Aditya Pratama dan wajahnya ada dimana-mana bahkan punya Butiknya sendiri, usaha kecil dia sebelum memiliki Mal itu". Leonard.
.
di Kamar,
Anna melihat berita tentang Aditya dengan komputernya,
"woww..!! dia cukup terkenal ya? kenapa aku bisa tidak tau? ". gumam Anna tak percaya dengan kebodohannya masalah berita terpanas.
"Model, Aktor cadangan? apa maksudnya Aktor Cadangan?". gumam Anna
Anna mencari lewat ponselnya apa itu Aktor Cadangan?
"hah? ". Anna tercengang dengan semua judul Film luar negri yang pernah di perankan oleh Adi tapi bukan pemeran utama.
"hah? pernah jual Roti juga? sempat Viral? aduuuh...! aku benar-benar buta teknologi ya?". gerutu Anna.
.
sore harinya,
Anna ada di Mal ANA bersama Caca dan Sekar,
"ngapain kesini sih Anna? kamu mau beli apa? ". tanya Sekar.
"bagus deh..! aku mau beli baju kaus dan celana longgar". Caca
walaupun tau Mal itu milik Adi tapi tidak mungkin juga mereka bertiga akan bertemu di tempat ramai dengan Adi bukan?
mereka bersenang-senang seperti gadis fashion yang suka shooping,
"Anna? ". panggil Sekar
"hmm? ". sahut Anna yang sibuk memilah-milah heels baru.
"apa kepanjangan dari ANA? kenapa nama Mal ini mengingatkanku pada namamu? ANNA, kebetulan kamu kenal Tuan Adi tanyakan saja apa arti ANA". oceh Sekar.
Anna menoleh ke Sekar, "kenapa aku harus mencari tau nama Mal ini? Kalau kamu penasaran tanya aja sendiri, wlekkk! ".
Sekar mendelik, tapi mau bagaimana lagi tidak ada yang tau maksud Adi membuat nama Mal nya ANA bukan ANNA.
"kalian bicara apa sih? kenapa malah bertengkar karna nama? suka-suka pemiliknya mau ngasih nama apa ke Mal nya". Caca
"kalau ACA bagaimana? kamu tidak akan bingung Ca? ". tanya Sekar memicing
"tidak..! jelas saja ACA dan Caca berbeda". bantah Caca.
"tidak asik sama sekali". gerutu Sekar,
Anna menggeleng kepalanya mendengar ocehan kedua teman baiknya itu.
.
.
.
__ADS_1