
.
.
.
di tepi Pantai
"di sini Nona? ". tanya Ara mengedarkan pandangannya.
"iya..! kenapa berhenti? ". Nana menatap datar Ara
"ehh..? hehe.. maaf Nona saya merasa tenang dengan pemandangan disini sampai lupa kalau belum lihat Rumah". cengir Ara
Nana menggeleng kepalanya pelan lalu Ara mengikuti petunjuk Nana hingga tiba di Vila tempat tinggal Aman dan Sarah.
"huuh...!". gumam Nana menarik nafas dalam-dalam
sebenarnya Nana ingin menaiki kuda tapi Ara tidak mengizinkan terlebih lagi Kuda Nana sedang bucin dengan Tina (kuda betina Arka), Aa lebih suka Kuda lawan jenisnya saja malah Nana dicuekin oleh Kuda nya itu.
"kenapa Nona? ". tanya Ara
"kakek dan nenekku sedang ngambek Ara". jawab Nana dengan serius ke Ara
Ara menahan tawanya seolah itu adalah masalah besar yang tidak bisa Nana atasi padahal Nona nya itu sangat cerdas, masalah yang tidak bisa diatasi oleh Orang berpendidikan tinggi malah bisa diatasi oleh Nana.
"kamu menertawakanku Ara? ". tuding Nana dengan galak ke Ara yang menutup mulutnya seketika.
Nana mendengus pun memilih keluar dari mobilnya dan berlari kecil memasuki Rumah Kakek dan Neneknya.
"Kakekk?? Nenek? ". sapa Nana dengan ceria memasuki Vila mewah Kakeknya.
Nana kaget melihat Aman dan Sarah tengah bersidakap dada duduk disofa menatap Nana dengan angkuh supaya terlihat galak bukannya takut Nana malah tertawa lepas hingga Kakek dan Neneknya itu berdiri sambil berkacak pinggang.
"bisa ketawa ya? ". Sarah mendekat sambil menunjukkan sapu.
"Nenek..? am.. ampun". ucap Nana
"sini biar Kakek beri sentilan". Aman berjalan ke arah Nana diikuti Sarah.
"aah...! ". Nana berlari menjauhi kakek dan neneknya itu.
"Nana..? sini..!". teriak Sarah
Ara sampai kaget saat melihat Nana berlari keluar dikejar-kejar Sarah dengan sapu, semakin melotot saja Ara saat Aman juga ikutan mengejar cucunya itu.
"Nona? ". Alhasil Ara juga ikutan berlari menyusul mereka semua
Nana didepan berlari dibelakang Sarah memegang sapu, dibelakangnya Sarah ada Aman lalu dibelakang Aman ada Ara.
__ADS_1
mereka berempat mengejar orang yang sama tapi tidak sadar mereka malah terlihat seperti kereta api yang gerbongnya terlepas satu persatu, malah terlihat lucu.
"ampun.. Nek..! ". pekik Nana
"kamu pikir Nenek akan mengampunimu hah? sini..! Nenek jauh-jauh kekota mencarimu tapi Cucu Nenek malah ke Jerman tanpa sepengetahuan Neneknya hah??". omel Sarah masih asik mengangkat-ngangkat sapunya mengancam Nana.
"kan ada Papa Nek..! ". bela Nana
"untuk apa kami melihat Papamu yang udah tua itu". teriak Aman dibelakang Sarah
"hah..? apa Kakek mencampakkan Papa cuma karna udah tua? lalu Kakek masih muda? ". teriak Nana
Aman dan Sarah makin gencar saja mengejar cucu mereka, sebenarnya Nana tidak berlari kencang ia hanya ingin membuat Kakek dan Neneknya berolahraga supaya semakin sehat.
"Nona..? ". teriak Ara di posisi paling belakang.
Nana tertawa puas mengerjai Kakek, Nenek dan Ara sampai mereka lelah dan terduduk di tepi pantai hingga baju mereka basah diterpa ombak pantai.
"Kakek.. Nenek..? ". Nana berlari kembali dan bersimpuh melihat keadaan Kakek dan Neneknya.
"aduuh...! ". Nana terpekik saat Sarah memukul-mukul bahunya dengan sapu tidak kuat tapi hanya Nana saja yang berlebihan supaya Neneknya senang.
"kenapa mamah memukul cucuku mah? ". Aman malah mengomeli Sarah
Nana tertawa lepas melihat Sarah dan Aman malah bertengkar mulut.
"iya juga..! Papah capek". jawab Aman pasrah di pukuli sang istri
Nana menyiram-nyirami wajah Sarah dan Aman hingga mereka memutar galak ke arah Nana, Nana tertawa terpikal-pikal.
"aaah...! curang..! kalian curang". teriak Nana saat Sarah dan Aman menyiramnya balik.
Ara sampai tertawa senang melihat Kakek dan Nenek Nana bahagia, Nana membawa kebahagiaan yang tidak pernah dirasakan oleh Sarah dan Aman selama mereka hidup.
Sarah berteriak ketakutan saat Aman menggendongnya dan Nana menyiram wajah Sarah yang mengomel-ngomel.
"ahaha...! jeritan Nenek kuat juga". pekik Nana tertawa sambil terduduk dipasir pantai terkena ombak.
kretak...?
"Kakek...? ". pekik Nana
"adooh...! ". otomatis Aman melepaskan Sarah yang terjatuh ke Pasir hingga Nana membekap mulutnya syok tak berbeda jauh dengan Ara yang memekik sambil menutup mata karna tak tega.
"Papaaaahhhh". jerit Sarah hingga semua menutup telinga dan burung-burung sampai berterbangan.
Ara merasa pemandangan sangat indah mengeluarkan ponselnya dan memotret pertengkaran mereka terlihat lucu, penderitaan yang malah lucu.
.
__ADS_1
.
"siapa suruh sok muda gendong-gendong mamah, patah deh tuh tulang rusuk". ledek Sarah
"mamah jangan berdiri aja coba duduk, itu tulang di ****** baik-baik saja kan? ". sembur Aman balik
Nana mengobati Aman hanya bisa geleng-geleng kepala, Ara menggaruk-garuk kepala melihat pertengkaran Pasutri tua itu yang tidak ingat umur tapi itulah yang membuat pasangan itu begitu langgeng sampai masa kini.
Sarah mendengus karna bok*ngnya memang sakit, tapi mereka tak pernah merasakan rasa sakit ini malah menikmati walau mulut tak henti mengomel saling menyalahkan satu sama lain, Nana lah yang membuat hidup mereka berwarna dan terasa hidup.
Nana menghabiskan waktu 3 hari bersama Kakek dan Neneknya yang tidak marah lagi pada Nana malah makin menyayangi Nana yang membuatkan mereka obat herbal yang menyehatkan juga makanan yang enak tak seperti masakan di Mansion sebelum Nana ada diantara mereka.
mereka makan enak semenjak Dewi dan Nana bergabung dengan keluarga Wijaya, rasa yang sangat pas di lidah dan membuat selera makan mereka meningkat.
"Apa..? Kakek sama Nenek juga ikut? ". tanya Nana
"iya..! bukankah sebentar lagi pernikahan Celvin dengan Intan kan? kami juga rindu sama Anna". kata Sarah
"iya..! bocah itu sangat lucu dan Papah sayang dengannya seperti cucu kita sendiri ya mah". Aman
Nana tersenyum saja lalu membantu Kakek dan Neneknya yang sudah sembuh masuk ke mobil, Ara yang menyetir.
"ehh..? ada bakpao! ". pekik Nana hingga yang lainnya kaget kecuali Ara
"Baik Nona! ". jawab Ara yang langsung menepi
"apa itu Bakpao nak? ". tanya Sarah
Nana menjelaskan dengan berbinar hingga Sarah penasaran ikutan turun dari mobil membeli jajanan namanya bakpao itu.
"ini makanan kesukaan Mama dan Nana Nek". ujar Nana dengan senang
Sarah tersenyum lebar lalu bertanya pada Nana makanan yang cocok untuknya, Nana memilihkan Bakpao isi sayuran dan ayam yang akan disukai Sarah.
sementara si penjual bakpao sampai gugup melayani Nana bersama Sarah, Nana terlihat sekali anak orang kaya raya karna kulitnya putih bersih, begitu juga Sarah yang masih terlihat cantik dan terawat padahal tidak lagi muda.
"terimakasih Pak..! ". ucap Nana
Nana merangkul Sarah yang sedang mengintip bakpao nya didalam plastik.
"N.. Nona ini teh banyak banget duitnya". teriak si penjual Bakpao.
Nana menoleh dan tersenyum saja hingga Si penjual mengerti langsung berteriak berterimakasih pada orang baik itu.
.
.
.
__ADS_1