
.
.
.
Ara kembali fokus bekerja karna beban hati yang paling berat dihidupnya telah terangkat, alasan utama Ara bekerja di Perusahaan W Group karna Abi, walau alasan utamanya karna Abi tapi bertemu dengan Nana adalah hal yang paling Ara syukuri.
telepon Ara berdering, ia mengangkatnya
"halo..? dengan Sekretaris Pribadi Nona Presdir W Group, ada yang bisa saya bantu? ". Ara berbicara dengan bahasa sopan dan lugas.
"datang ke Ruanganku! ". suara itu membuat Ara terkejut ia melihat ke arah dinding dimata tepat dibalik tembok itu adalah ruangan Abi.
Ara menutup teleponnya lalu langsung bergerak keluar Ruangannya pergi ke Ruangan Abi mengetuknya terlebih dahulu.
"apa?? ". tanya Ara to the point.
"datang nanti ke Apartemenku!". titah Abi dengan serius.
Ara menautkan kedua alisnya, "kenapa aku harus datang ke Apartemenmu? ". tanya Ara
"bukankah kau menjadi budakku? jadi Budakku selama 1 tahun, di Apartemenku tidak ada Asisten karna aku tidak sempat mencari ART, lumayan aku punya ART tidak dibayar". jawab Abi menyeringai ke Ara.
Ara menghela nafas, "berikan alamat dan sandinya". pinta Ara.
Abi mengirimnya langsung lewat chat, Ara membukanya di ponselnya.
"sudahkan?". tanya Ara
"hmmm". sahut Abi lalu Ara pergi dari Ruangan Abi.
Abi tertawa cekikikan, "kenapa tidak dari kemarin-kemarin aku tau kalau dia siculun itu? ck. ck.. dasar aneh..! tapi kenapa dia terlihat imut saat begitu patuh dan penurut? ".
Abi menggeleng-geleng kepalanya, "lumayan punya asisten yang tidak perlu dibayar".
sore harinya, Ara mendatangi Apartemen Abi yang bersebrangan dengan Apartemennya bersama Nana, tapi sejak Nana hamil Nona Presdirnya itu tinggal di Mansion Mertua nya.
"disini ya? ". gumam Ara melihat lagi alamat tempat tinggal Abi.
Ara mendatangi Satpam dan menjelaskan tujuannya, Satpam melihat tanda pengenal Ara lalu mengizinkan Ara masuk sebab Abi sudah memberitau kalau akan kedatangan Asisten Rumah Tangga.
awalnya mereka ragu karna Ara terlihat seperti perempuan karir yang punya pekerjaan bagus tidak mungkin seorang ART tapi saat dilihat kartu tanda penduduknya ternyata memang Ara yang dimaksud Abi.
__ADS_1
"lantai 24?". Ara menekan lantai 24 saat di dalam lift.
setibanya di lantai 24, Ara mencari apartemen Abi sampai tiba di salah satu Apartemen dan menekan sandinya tapi tidak bisa.
"salah ya? yang mana Apartemennya? ". gumam Ara mengedarkan pandangannya.
Ara mencari Apartemen lain tak sadar Apartemen yang Ara masukkan sandinya salah tadi terbuka hingga keluarlah Pria tampan dengan jubah mandi serta rambutnya yang masih basah.
"ada yang menekan Sandi Apartemenku? siapa ya?". gumam Pria itu mengedarkan pandangannya.
terlihatlah oleh Pria itu Ara tengah kebingungan mencari sesuatu, alisnya mengkerut melihat gadis menawan itu apalagi bentuk tubuh Ara begitu proposional dengan pakaian Formalnya itu.
"imut". gumam Pria itu tersenyum miring.
Ara menemukan Apartemen didekatnya dan terpekik melihat seorang Pria keluar dari Apartemen yang ditekan oleh Ara.
"maaf.. maaf..? saya salah tempat". ucap Ara merasa bersalah lalu berlari dengan cepat dari Apartemen tadi.
"hheeei...? salah tempat dimana? sini masuklah". teriak Pria tua itu melihat Ara yang sudah melarikan diri.
Ara tidak menyadari Pria yang mengenakan jubah mandi itu tengah memperhatikannya, Ara masih sibuk mencari Apartemen milik Abi.
"dasar Pria itu menyebalkan sekali, apa dia sengaja tidak memberi tau nomor Apartemennya? dia mau aku kebingungan seperti ini? ". gerutu Ara melintas melewati Pria tampan itu yang memejamkan mata mencium aroma tubuh Ara.
"dimana Apartemenmu? aku lelah mencarinya". tanya Ara terdengar lemas.
"aahh.. maaf aku tidak memberitaumu nomor Apartemenku ya? nomor 1, kamu terus saja berjalan ke arah kiri nanti dipaling ujung ada Apartemen". sahut Abi
"apa ada Apartemen sebelah kiri? aku lihat jalannya sangat sempit aku pikir itu hanya jalan menuju tangga darurat". keluh Ara mengelap keringat di dahinya.
"disana apartemenku, tempat paling luas jangan remehkan jalannya yang kecil". balas Abi.
"hmm..!". Ara mematikan panggilannya lalu melepaskan heelsnya, ia menentengnya berjalan lemas ke arah jalan yang diberitau Abi.
Ara melirik sekilas Pria yang memakai jubah mandi itu, ia mengabaikannya dan terus berjalan dengan situasi menyedihkan itu seolah tidak malu pada Pria tampan itu.
jika wanita lain pasti langsung berlagak anggun dan berkelas demi mencari perhatiannya tapi Ara malah cuek dan tak peduli seolah buta tidak bisa melihat betapa tampan dan seksi nya Pria itu.
"menarik sekali". gumam Pria itu tersenyum tampan.
.
"akhirnya tiba juga". Ara menemukan Apartemen Abi dan menekan sandinya ternyata benar.
__ADS_1
"jalan sesempit ini juga ada apartemen? tempat apa ini? ". gerutu Ara namun saat tiba di dalam Apartemen Abi tak bisa dipungkiri Ara cukup terkesima dengan tempat tinggalnya Abi itu.
"waah..? luasnya? apa dia yang punya Apartemen ini?". gumam Ara tak percaya tempat tinggal Abi sangat megah tak berbeda jauh dengan Apartemen orang kaya raya padahal Abi hanya seorang Asisten.
"istirahat sebentar lah? capek". gumam Ara langsung merebahkan tubuhnya di karpet dan meletakkan semua barang-barangnya.
1 jam kemudian Ara sudah bangun dan energinya pun full lagi, Ara langsung membersihkan Apartemen Abi yang berantakan bahkan sangat berantakan.
"uuh.. gerahnya". gumam Ara mengipasi tubuhnya yang sudah bau keringat.
"ini Apartemen kenapa harus terlalu besar sih? kalau tidak bisa mengurusnya untuk apa? percuma saja". oceh Ara
Ara masuk ke Ruang Tamu lalu membersihkan diri disana, Ara tanpa ragu mengambil pakaian Abi yang disimpan dilemari bawah (tidak muat lagi untuk Abi).
Ara tau baju lama yang tidak terpakai lagi oleh Abi karna semua Ara bersihkan, bahkan lemari baju Abi pun berantakan.
"sudah..! aku bisa pulang". Ara pun pergi dari Apartemen Abi dan kembali ke Apartemennya yang tinggal menyebrang jalan saja tapi Ara membawa mobil jadi harus cari bundaran memutar arah.
malam harinya,
Abi tiba di Apartemennya dan melongoh melihat Apartemennya mengkilap jernih, tangan Abi meraba lemari didekatnya yang bersih dari debu.
"woww...! kerjanya bagus juga anak itu". gumam Abi tersenyum tipis.
Abi mencari minuman dingin ternyata air dinginnya banyak, Ara mengisi botol-botol Abi yang kosong dengan air minum hingga semua botol-botol kosong itu berisi.
"lumayan". senyum Abi
Abi berdecak kagum dengan hasil kerja Ara, ia mengumpat mengapa tidak sejak dulu tau kebenaran itu dan bisa membuat Ara tunduk padanya.
"dasar gadis bodoh..! kau sangat hebat bekerja menjadi Asisten Nona Presdir tapi ternyata otakmu dangkal juga". gumam Abi lalu tertawa pelan.
tempat tidur Abi juga wangi, mungkin Ara mengganti seprai dan selimutnya sampai Abi merasa tenang dan tertidur pulas karna semua sudah bersih dan rapi.
di Apartemen Ara,
Ara langsung tidur telungkup di ranjangnya, masalah Apartemen sudah dibersihkan oleh Ara saat berangkat kerja.
siksaan Ara dimulai dari sekarang tapi ia tidak mengeluh, ia merasa hukuman yang Abi berikan terlalu mudah dan tak akan mengeluh sedikitpun, Ara berpikir Abi akan meminta keluar dari pekerjaannya dan juga mematahkan kakinya ternyata hanya menjadi seorang ART, Ara bisa melakukannya.
.
.
__ADS_1
.