
.
.
.
pagi-pagi
Arka mencari tentang Roni sementara Nana juga melakukan hal yang sama, kali ini Nana bekerja di Rumah saja.
seperti biasa Nana hanya bisa datang ke Perusahaan 2 kali dalam seminggu yaitu setiap hari senin dan kamis saja, ia sibuk dengan anaknya selain hari itu apalagi Ren dan Rose minta ingin sekolah.
"bagaimana sayang? apa kamu yakin mau menyekolahkan sikembar sayang? ". tanya Diah serius.
"mereka sangat pintar sayang juga aktif, sama sepertimu yang selalu aktif dan tidak bisa berdiam diri di rumah". sahut Dewi
"apapun keputusanmu akan Nenek terima sayang". sahut Sarah.
Nana menghela nafas, "Papa??". rengek Nana
Yardan melebarkan lengannya dengan cepat Nana masuk ke pelukan Yardan, "kenapa nak? kamu tidak mau? bukankah kamu mengekang mereka? bagaimana jika Papah buat identitas samaran untuk mereka hmm? ".
"tidak bisa Dan..! sikembar mirip dengan Nana dan Arka, yakinlah identitasnya tidak bisa ditutupi". sahut Aman
Semua orang pun setuju mendengarnya, diam-diam Ren dan Rose mendengar pembicaraan keluarganya di ruang tamu.
"Tuan Kecil? Nona kecil? ". bisik Noni pelayan setia Mansion Arkatama
Ren berwajah datar memutar badan ke arah Noni, sedangkan Rose cengar-cengir karna tertangkap basah.
"hehe..! panggil lose ya mbak? ". pinta Rose malu-malu.
Noni tersenyum lembut, hati Rose memang lembut seperti sutera tapi ia tau batasan tidak mau memanggil nama putri calon penguasa 2 keluarga besar yang ada dinadi gadis kecil ini.
Keluarga Arkatama dan Keluarga Wijaya tidak bisa di tutupi betapa hebatnya mereka jika sudah bersatu, tapi baik Nana maupun Arka tidak menggabungkan Perusahaan mereka seolah ada batasan diantara mereka bahwa harta masing-masing berbeda namun Arka tetap menjalankan tugasnya sebagai suami menafkahi istrinya walau tau Istrinya lebih kaya darinya.
"mbakk..? lose mau dibuatkan jus coklat". pinta Rose malu-malu menautkan jemari mungilnya seperti meminta tolong namun dengan tingkah menggemaskan.
"boleh Nona kecil?". jawab Noni tersenyum lebar.
__ADS_1
"Nona kecil mau tunggu dimana?". tanya Noni dengan sopan.
"di Kamal aja mbak". jawab Rose dengan bahasa cadelnya yang khas.
"baik Nona..! Tuan kecil mau dibuatkan apa sama Mbak Noni? ". tanya Noni sopan ke Ren.
Ren menggeleng kepalanya, "buatkan teh susu ijo saja". jawab Ren
teh susu hijau maksudnya, Susu putih dicelupkan teh hijau maka Ren sering menyebutnya Teh susu ijo.
"baik Tuan". jawab Noni
segera Noni berjalan ke dapur sementara Ren dan Rose bergandengan tangan memasuki lift lalu masuk ke kamar mereka, walau punya kamar sendiri-sendiri dan bersebelahan tapi sikembar selalu bersama tidurnya pun bersama Nana dan Arka.
"gimana tkak?". tanya Rose yang masih cadel.
"kakak juga tidak mengelti, kenapa om lobelt selalu saja mengganggu pelasaan mama, apa kita habisi saja dia dek?". tanya Ren seperti orang dewasa saja.
"tkakak angan macam-acam ya? papah nanti malah csama kita". ancam Rose menunjuk-nunjuk wajah Ren dengan tampang marah tapi malah terlihat imut.
"mau bagaimana lagi? dia celalu saja buat mama khawatil dengan kita". gerutu Ren.
"lebih baik tanyakan csama papa saja, nanti tanya mama tidak akan beles macalahnya, mama selalu khawatil dengan kita padahal kita bukan anak kecil". oceh Rose dengan otak cemerlangnya.
"ckk..! kakak jugga tau tapi papa juga sepelti bawahan mama selalu saja dengelin pelintah mama padahal Papa plia yang hebat tidak mau dipelintah oleh olang lain". kesal Ren merasa Papanya tidak punya kuasa.
Rose dengan wajah imutnya membenarkan, mereka hanya bisa bersembunyi dengan kepintaran mereka yang tidak normal, sebenarnya sikembar sudah tau abjad atau ABCD sampai akhir (Z) bahkan cara membuat nama mereka saja sudah tau tapi belum pandai membaca, otak mereka sangat cerdas hanya sekali mempelajarinya langsung mengerti.
dengan kepintaran mereka bisa saja menggunakan Guru Privat tapi mereka adalah anak Nana, darah Nana mengalir ditubuh sikembar bahkan dari sifat nya saja mirip dengan Nana yang keras kepala juga punya kepribadian yang suka kebebasan.
"tidak ada calahnya kita tanya papah tkak". putus Rose dengan serius.
sore hari saat Nana berendam di Bathup menenangkan diri, Sikembar berbisik-bisik dengan Arka di Ruangan kerja Arka.
Arka tak heran lagi otak tidak normal sikembar tapi Nana tidak tau sifat asli malaikat kecilnya sebenarnya keras kepala, jika mau sekolah apapun itu halangannya harus sekolah sebab mereka suntuk di Rumah padahal anak seumuran mereka belum memikirkan sekolah seharusnya hanya memikirkan mainan saja.
"papah janngan cemen dong! ". kesal Ren hingga Arka menjatuhkan rahanhnya.
"dasar anak nakal..! kamu belum merasakan gimana rasanya nanti jatuh cinta dan kamu akan jadi budak cintamu, kamu sendiri sangat mematuhi mamamu tapi kenapa malah menyalahkan papa hah? ". omel Arka ke Ren.
__ADS_1
Ren mencibir, "papah kan udah becal". jawabnya ketus
Arka memijit pelipisnya, anak laki-lakinya memang sangat menyebalkan tapi sebenarnya Ren adalah anak yang patuh, ia akan menyebalkan kalau kemauannya tidak terpenuhi.
"tsudah-tsudah..! selalu aja begini, belantem telus nanti lose kaduin cama mama mau? ". ancam si imut yang menggemaskan di antara mereka.
"jangan!! ". jawab Ren dan Arka dengan serentak cuma beda pengucapan, Arka menjawab dengan normal sedangkan Ren masih terbesit lidahnya yang masih cadel.
"ya udah kalau begitu, pikilkan lencana kita, tpokoknya lose mau cekolah". putus Rose dengan serius malah terlihat menggemaskan.
"coba kalian merengek sama mama kalian ya? Papa tidak bisa berbuat apa-apa". pinta Arka memelas.
"ckk..! ". Ren berdecak sambil bersidakap dada dengan tampang imutnya yang meledek Papahnya.
"sudah tkakak bilang kan dek? papa tidak akan bicsa menolong kita kalna di mansion ini yang belkuasa hanya mama". ketus Ren berlalu meninggalkan Arka yang terduduk lemas.
"ya Tuhan..! anak siapa bocah pembangkang ini?". batin Arka.
Rose menghela nafas panjang lalu duduk di paha Arka, "papah jangan dengelin tkakak ya? sebenalnya kami hanya ingin sekolah".
Arka mencium sayang pelipis Rose, "baiklah sayang..! papah akan daftarkan sekolah kalian ya? paut mau kan?".
"benalkah pah? papah tidak bohong kan? janji coba?? jali kelingking manah?? ". cecar Rose gembira.
Arka mengeluarkan jari kelingkingnya lalu bersatu dengan jari kelingking mungil Rose, tawa Rose begitu menggemaskan.
peduli amat hukuman istrinya nanti untuk Arka yang jelas ia hanya ingin Rose bahagia tidak memberengut seperti tadi.
diam-diam Ren tersenyum tipis dibalik pintu, ia tau kalau Arka akan menuruti permintaan Rose karna Rose adalah anak Arka kalau Ren itu anaknya Nana, mereka seperti tertukar tapi sebenarnya semua sama dimata Nana maupun Arka hanya saja mereka punya rasa gengsinya masing-masing.
terutama Ren yang mewarisi sifat Arka yang tak bisa diatur sejak kecil, ditambah lagi sifat keras kepala Nana dibagi pada Ren dan Rose, lihatlah bagaimana nanti sifat Ren nanti saat dewasa pasti menyebalkan sekali.
terkadang Arka bertanya-tanya anak siapa Ren itu karna sifatnya selalu suka melawannya, setiap kali Diah mengatakan kalau sifat Ren itu benar-benar mirip dengan Arka saat kecil tapi Arka yang tidak ingat tentu saja terus menyangkalnya.
.
.
.
__ADS_1