
.
.
.
"Arka...! kau mengancamku? ". bentak Nana
Arka terkekeh, "kamu mengerjaiku sayang..! anggap saja itu hukumanmu bagaimana? ".
"Arka?? jangan lakukan itu ya? ". bujuk Nana
"hei..! hanya ciuman tidak akan membuatmu hamil sayang, yang membuatmu hamil jika melakukan hubungan bad*n". kekeh Arka
"kenapa kamu begitu suci hmm? padahal kamu dari LA". gemas Arka mengelus pipi Nana.
"kamu boleh mencium pipiku lalu aku tidak boleh mencium pipimu hmm? apa aku terlihat seperti pria murahan bagimu sayang? ". tanya Arka
Nana terdiam, ia akhirnya mengakui kesalahannya tapi tidak mengatakannya pada Arka. wajar saja Nana marah karna ia memang gadis desa yang tidak pernah disentuh, Nana begitu mahal.
"maaf". cicit Nana
Arka tersenyum lembut dan mengangkat dagu Nana hingga Nana bersitatap dengan mata Arka.
"aku terima maafmu sayang". jawab Arka mendekat dan mengecup lama kening Nana yang mengerjab seperti biasa.
"aku tidak bisa marah padamu sayang". Arka memeluk Nana begitu erat dan memejamkan mata di bahu Nana.
Nana diam saja, ia tidak menyangka Pria ini tidak melakukan apa-apa padanya? padahal Nana sudah keterlaluan. jika ada yang bertanya apa masalah mereka? Nana harus jawab apa? tidak mungkin jawab marah karna Arka mencium pipinya.
identitas Nana bisa terbongkar, dan Dewi bisa dalam bahaya jika semua orang tau Nana bukanlah Anna.
"ayo makan! ". ajak Arka setelah puas memeluk Nana pun mengajak Nana makan.
"aku suka tiramisu karna sangat manis sepertimu". Arka memberikan 1 roti ke Nana
Nana pun hanya balas dengan mengangguk, Arka juga berdiri membuatkan susu untuk Nana.
Nana seperti anak kecil yang masih minum susu, sebenarnya Nana seperti itu karna sejak kecil tidak pernah minum susu beda dengan ASI. jadi saat Nana tinggal di Kota Nana suka minum susu.
Nana menggigit roti buatan Arka, "hmm? ". Nana pun tersenyum lebar dengan senang ia menggigit dan menggigit rotinya lagi sampai mulutnya penuh.
Arka berbalik dan tertawa gemas melihat pipi Nana sangat penuh, ia duduk dan makan seperti biasa setelah memberikan susu yang ia buat untuk Nana, sesekali matanya melihat ke Nana.
diam-diam Arka senang karna hanya pada dirinya saja Nana bersikap normal tanpa berpura-pura, jika didepan orang banyak maka Nana akan berubah menjadi sosok Anna.
setelah sarapan bersama, "jadi kamu mencarinya sampai pagi Arka? ".
__ADS_1
"tentu saja". jawab Arka tersenyum mengelus pipi Nana
"aku tidak menyangka kau sebodoh ini". kata Nana tapi dengan nada merasa bersalah
Arka tertawa, "yah..! hanya kamu yang bisa membuatku terlihat bodoh sayang, aku lupa kalau kamu itu Queen Adena yang jahil bukan Anna yang centil dan ramah".
Nana memberikan kunci mobilnya ke Arka dan berkata, "sekarang katakan saja apa hukumanku? aku keterlaluan padamu".
"benarkah? ". Arka bersemangat mendengar Nana yang pasrah dihukum olehnya.
Nana mengangguk pelan dan pasrah, Arka mendekat dan Nana memejamkan matanya karna mengira Arka akan menyakitinya.
seorang Pria berkuasa seperti Arka sangat tegas, saat dipermainkan tentu Arka akan sangat marah dan pasti membalas orang itu dengan lebih menyakitkan.
Nana tau Arka mencintainya pasti hanya memukul saja tidak akan melakukan hal lain, namun Nana membelalak saat merasa benda kenyal menempel mesra di pipinya.
cup...!
"itu hukumanmu". kata Arka dengan seringainya.
Nana menatap Arka tak percaya, "hanya itu? ".
"yahh.. hanya itu, lalu kamu mau dibibir? ". Arka hendak menempelkan bibirnya di bibir Nana tapi Nana sudah menutupi bibir Arka.
"haha...! iya.. iya.. aku terima hukumanmu tadi". Nana tertawa garing hingga Arka gemas dan mencium telapak tangan Nana.
kini Arka diantar oleh Nana ke Perusahaannya, semua Karyawan Arka terlihat penasaran apa masalah Arka dengan Nana hingga Nana menghukum Arka seperti itu.
Nana tertegun saat Arka menjelaskan bahwa Anna marah karna Arka menolong wanita yang tidak tau diri, wanita itu memeluknya hingga Anna salah faham dan menghukumnya.
"dia membelaku segitunya?". batin Nana
Arka pun disalahkan karna terlalu baik, seharusnya Arka tidak boleh menolong perempuan lain padahal sebenarnya seorang Arka tidak akan menolong perempuan walaupun tersungkur tepat didepannya. tapi demi Nana tentu saja dengan senang hati ia mampu berbohong.
di dalam Ruangan Arka.
Nana diam-diam melihat Arka yang serius sedang bekerja, "dia sangat tampan, baik, sabar, dan kaya.. tidak.. tidak.. aku juga kaya, tapi kepribadiannya sangat baik, dia menolongku". batin Nana
"apa aku bisa mencintainya? aku yakin suatu saat nanti aku juga akan mencintainya, bohong jika aku tidak suka padanya". batin Nana
Nana tidak Cinta Arka tapi Suka karna wajah Arka sangat tampan, sebelumnya Nana tidak suka Arka karna Pria itu begitu sombong, angkuh dan tidak tau terimakasih tapi sejak Nana datang ke Kota semua sifat menyebalkan itu seolah tidak ada didiri Arka.
.
"Arka? ". panggil Nana
"iya". sahut Arka meletakkan berkas yang sedang dibacanya
__ADS_1
"aku mau pulang ke Mansionmu". kata Nana serius
"baiklah..! ayo kita pulang". Arka
"lalu pekerjaanmu bagaimana? ". tanya Nana tidak percaya Arka akan meninggalkan pekerjaannya.
"lihatlah pakaianku sayang". Arka
Nana pun tersadar karna saat ini Arka berpakaian santai, tidak ada juga yang berani menghukum bos karna tidak memakai pakaian Formal kan? jadi ya suka-suka Arka mau pakai baju apa ke Kantor.
Nana pun mengangguk dan Arka mendekatinya lalu tanpa ragu merangkul pinggang Nana, Nana melirik tangan Arka.
"kenapa? tidak nyaman? baiklah..! aku pegang tangan aja". Arka yang seolah tau pun melepaskan rangkulannya dan beralih menggenggam tangan Nana.
Arka berjalan duluan menarik tangan Nana, Nana melihat tangan mereka yang bertautan, kenapa Sekarang Nana bisa merasa aneh? sebelumnya Nana tidak pernah mempermasalahkan sentuhan Arka selagi masih batas wajar.
"kenapa Nana? bukankah ini sangat wajar? ". batin Nana heran.
setibanya di Mansion
Nana memeluk Dewi dengan penuh kerinduan.
"Mama? Nana kangen". rengek Nana
Dewi tertawa, "apa kamu ada masalah sayang? ".
"apa maksud Mama? Nana tidak punya masalah". Nana
Dewi tersenyum lembut, "mama sangat mengenal anak Mama sendiri, jika sudah bertingkah seperti ini pasti ada masalah".
Nana heran dari mana tingkah anehnya karna menurutnya biasa-biasa saja, Dewi tidak menjelaskannya sebab batinnya mengatakan Nana ada masalah itu saja.
"sebenarnya...? ". Nana mengedarkan pandangannya mencari orang yang takutnya mendengar pembicaraannya.
Dewi menahan senyum saat Nana membawa kabur dirinya masuk ke Kamar, dan Nana mendudukkan Dewi di Ranjang lalu Nana menarik nafas dalam-dalam.
"Nana merasa aneh sekarang ma". curhat Nana
"aneh? ". beo Dewi mengerutkan keningnya.
"iya ma..! Nana tidak pernah protes dengan sentuhan Arka karna sebelumnya Nana tidak merasa aneh, tapi sekarang Nana malah merasa aneh". cerita Nana dengan sangat serius hingga Dewi tak kuasa menahan tawanya.
"mamaaa?? Nana serius". rengek Nana
.
.
__ADS_1
.