Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
kasih tau


__ADS_3

.


.


.


waktu berlalu begitu cepat, kini usia kandungan Nana sudah genap 9 bulan tinggal menunggu waktu lahirannya tiba saja.


bukannya tetap di dalam Rumah tapi Nana semakin gencar kemana-mana sampai Arka pusing sendiri dengan mau istrinya yang tidak betah didalam kamar.


kini Nana tiba di Perusahaan W Group, betapa menggemaskannya Nana dengan perut besarnya itu datang dengan kursi roda ditemani oleh Arka yang selalu ada disisi Nana.


"kenapa kesini sayang? ". tanya Arka pada Nana.


"aku mau lihat Perusahaanku saja sayang sudah 9 bulan aku tidak pernah menginjakkan kaki kesini". jawab Nana


"aku juga sama sayang, aku tidak datang ke Perusahaan 9 bulan lamanya". Arka seolah menjelaskan pada Nana bukan hanya Nana yang tidak datang ke Perusahaan.


"iya sayang..! nanti setelah ini ke Perusahaanmu ya?". sahut Nana.


"tidak usah sayang..! kamu harus istirahat ya? ". balas Arka.


Arka menemani Nana masuk ke Ruangan kerja Nana, Ara dan Abi datang ke Ruangan Nana dan memberi tundukan sopannya pada sang atasan.


"kenapa? ". tanya Nana ke Ara dan Abi.


"hmm? ". Ara dan Abi menyahut tidak mengerti.


Arka melirik Abi dan Ara di sofa lalu kembali memainkan laptopnya melihat hasil kerja Perusahaannya secara Online.


"bagaimana Perusahaan? apa selama aku tinggal baik-baik saja? ". tanya Nana memainkan pulpennya dimeja kerjanya tapi dengan kursi rodanya bukan Kursi kebesarannya.


"baik Nona, semenjak kasus Pak Dadang tidak ada yang berani mencoba mencari masalah dengan Perusahaan kita Nona". jawab Abi


"benar Nona". sahut Ara.


"bagaimana keadaan kalian? ". tanya Nana


"baik-baik saja Nona". jawab Ara dan Abi serentak.


"kamu Ara?". tanya Nana


"saya baik-baik saja Nona". jawab Ara


"lalu kamu Abi? ". tanya Nana ke Abi


"hmm?? sa.. saya baik-baik saja Nona". jawab Abi juga.


Ara dan Abi saling melirik satu sama lain

__ADS_1


"apa kalian mau aku nikahkan? ". tanya Nana


"hah?? tidak Nona". jawab Ara dan Abi serentak dengan intonasi cukup tinggi seolah tidak terima.


Nana memainkan pulpennya.


"aku melihat tingkah kalian lewat CCTV, kalian lebih berbahaya dari perkiraanku ya? kenapa bertengkar setiap detik dan menit hm? ". seringai Nana.


Ara dan Abi menundukkan kepalanya.


"kamu Ara? ". Nana menatap Ara dan Ara mendongak pelan melihat Nana.


"kamu tidak akan beritau alasan kenapa kamu selalu mencari masalah dengannya? ". tanya Nana serius ke Ara.


Abi menoleh ke Ara, "saya juga penasaran Nona apa masalah Ara sampai memusuhi saya". Abi beralih ke Nana.


Nana menghela nafas panjang, "kamu juga tidak tau apa masalah Ara? bukankah kamu yang merekomendasikan Detektif Swasta itu padaku? suruh saja dia menyelidiki". kata Nana.


Abi terdiam dan Ara juga sama tidak berkata-kata,


"kalian tau apa keluhan para karyawanku setiap bertemu di Mal, supermarket, pasar dan Rumah Sakit hmm? ". Nana


Ara dan Abi sontak menggeleng kepala pelan.


Nana berdecak pelan, "ya karna kalian yang semakin hari pertengkaran kalian mulai tidak bisa diterima oleh Karyawan kita".


"ja.. jadi? ". tebak Ara


Arka memutar kepalanya menatap Ara dan Abi bergantian lalu kembali fokus dengan laptopnya, ia mendengar pembicaraan Nana dengan kedua asisten Nana itu tapi tidak ikut campur, Arka takut nanti kena amuk Istri tercintanya.


"Ara kamu jelaskan alasannya pada Abi". pinta Nana tegas


"dan kamu Abi? ku harap kamu bijak bersikap, bagaimana sikapmu pada orang yang pernah kamu tolong tapi dia berpikir kamu membencinya itu sebabnya dia bertingkah supaya kamu membencinya begitu juga sebaliknya". kata Nana ke Abi.


"kenapa saya harus membencinya?". Abi bertanya balik.


"kamu mau sikap orang yang pernah kamu tolong bagaimana? ". tanya Nana dan Ara perlahan melihat ke arah Abi sebab ia juga penasaran jawabannya.


"tentu saja saya mau dia bersikap baik pada saya Nona, menuruti permintaan saya". jawab Abi


"kamu tidak akan membencinya? walau kakimu pernah patah dan dipecat karnanya? ". tanya Nana.


Abi menautkan kedua alisnya, "bagaimana Nona bisa tau masalalu saya? ". tanya Abi


Nana menoleh ke Ara hingga Abi memutar kepalanya menatap Ara, ingatan saat Abi pernah menolong seorang gadis berkacamata tebal dan rambut digulung keatas terbesit di kepalanya. mata Abi membelalak menunjuk wajah Ara.


"jadi gadis berkacamata itu kamu? ". tebak Abi


Ara tidak menjawab segera menunduk pada Nana dan meninggalkan Ruangan Nana, sebenarnya Ara memang tidak punya keberanian mengatakan yang sebenarnya pada Abi, ia senang Nana mengatasi masalahnya namun hatinya belum siap menerima kemarahan Abi jika membahas masalalu nya itu.

__ADS_1


"eeh..? kau mau kemana? ". bentak Abi


"eehh?? maaf Nona". Abi berbalik ke Nana mengucapkan terimakasih karna sudah memecahkan teka-teki masalah Ara.


"iya..! dia berpikir kamu akan membencinya maka nya dia seperti itu". jawab Nana


"saya tidak habis fikir Nona, bagaimana bisa dia bersikap seperti itu pada penyelamatnya? jika dinovel-novel dan film pasti gadis nya akan jatuh cinta pada Pria yang menolongnya tapi dia malah selalu mencari masalah dengan penolongnya". gerutu Abi.


Nana terkekeh, "aku juga heran, saat aku tau kebenarannya aku ingin sekali membedah otaknya dan membenarkan sarafnya yang konslet".


"saya permisi Nona! ". izin Abi


Nana mengangguk, Abi berlari dengan langkah terburu-buru keluar dari Ruangan Nana.


Abi mengejar Ara ke Ruangan Ara,


"Ara? ". panggil Abi.


Ara tidak menjawab ia fokus dengan berkas-berkasnya.


"jadi itu masalahmu ya? kenapa malah memusuhiku? ". tanya Abi dengan kesal.


"bukankah kamu dipecat karnaku? kakimu juga tidak bisa berfungsi hampir 1 tahun kan? aku yakin kamu mengutukiku dan memakiku". kata Ara


Abi menjatuhkan rahangnya, "aku tidak membencimu bodoh...! kau mengawasiku dari jauh bukannya datang berterimakasih padaku tapi lihatlah sifatmu ini? apa begini caramu bersikap pada penolongmu? ". omel Abi.


"jadi maumu apa? ". tanya Ara memberanikan diri menatap Abi.


Abi sampai tertegun mendengar jawaban Ara.


"kamu mau aku mengundurkan diri? kamu mau mematahkan kakiku juga? ". tanya Ara


Abi mengacak rambutnya sendiri dengan frustasi, "kenapa bisa ada perempuan yang tidak ada pesona nya sama sekali sepertimu hah? ".


"katakan saja aku akan turuti". jawab Ara kembali fokus dengan berkas-berkasnya.


"jadilah budakku selama 1 tahun, aku menderita karna menolongmu sampai 1 tahun kan? kalau begitu jadilah budakku selama 1 tahun penuh". kata Abi dengan serius.


Ara menghentikan aktifitasnya lalu menoleh ke Abi yang memintanya menjadi budaknya selama 1 tahun? bukankah itu terlalu mudah.


"hanya itu? ". tanya Ara


"iya hanya itu tapi kau harus mematuhiku dan tidak boleh berbicara dengan nada tinggi padaku mengerti..?? ". Abi berkata lalu pergi dari ruangan Ara.


Ara duduk lemas di kursinya, ia hanya berpura-pura kuat dihadapan Abi saja tapi kenyataannya Abi hanya memintanya menjadi pembantunya saja alias budak.


"terimakasih Nona sudah mengangkat beban hatiku". gumam Ara tersenyum tipis.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2