
.
.
.
Nana membawa Intan naik ke altar pengantin dibantu oleh Celvin yang mengulurkan tangannya, sementara El di gendong oleh Zulfikar, Kakek Zul sepertinya sangat menyayangi bayi itu yang umurnya belum cukup 1 tahun tapi sangat pintar seperti Celvin saat bayi.
"sudah kan? aku harus makan". kata Nana melambaikan tangannya
Intan tertawa melambaikan tangannya juga,
"iya Nana.. makan yang banyak percuma banyak makanan disini". sahut Celvin dibalas tatapan tajam oleh Nana dan dengan cepat Celvin bersembunyi dibelakang Intan.
Nana berbalik mengangkat gaunnya yang tidak disadarinya telah menjadi pusat perhatian, gaun Nana seperti Tuan Putri dari kerajaan yang bebas, tidak terlihat menyiksa seperti gaun yang mereka kenakan.
Nana memeluk Yardan dari belakang, Yardan berbalik dan langsung memeluk putrinya dengan penuh cinta apalagi Nana yang pada dasarnya sangat manja,
"kenapa sayang? ". tanya Yardan mengelus kepala Nana dengan lembut.
"Papa..?". panggil Nana
"iya". sahut Yardan tersenyum lebar.
"Nana lapar". jawab Nana terdengar kesal
Yardan tertawa lepas hingga semua mata melihat ke arah Yardan, bagaimana keakraban diantara Nana dan Yardan sangatlah menggemaskan, dahulu saat Yardan memiliki Celinne tidak pernah mereka semua melihat Yardan seperti seorang Ayah pada umumnya.
"Papa? ". kesal Nana memukul-mukul dada Papanya yang masih asik tertawa
"banyak laki-laki disana Papa, Nana cari Arka tidak tau kemana? sepertinya dia ke toilet". jawab Nana masih kesal
rekan kerja sekaligus teman Yardan pun menggoda Yardan yang memiliki bayi cantik, bukannya malu Nana memeluk Papanya hingga teman Yardan merasa iri pada Yardan, Nana sangat hebat dalam hal pekerjaan dan ternyata sangat manja pada Papanya seperti anak biasa pada umumnya.
Nana kan bukan perempuan munafik, jika ia suka mencari perhatian Papanya itu karna Nana mencintai Papanya ia tidak akan menutupinya sebab ia bahagia disayang oleh Yardan.
"lihatlah putrimu Dewi! ". tunjuk Diah tertawa lebar
Dewi melihat ke arah tunjuk Diah pun hanya bisa tersenyum sambil geleng-geleng kepala,,
"selama ini aku merasa bahwa aku sudah melakukan peran terbaik sebagai Mama dan Papa baginya, tapi aku sama sekali tidak menyadari bukan hanya aku yang tersiksa jauh dari Mas Yardan tapi anakku juga tersiksa karna memendam perasaan ingin seorang Papa". lirih Dewi
__ADS_1
"putrimu sangat hebat Dewi, aku sangat menyayanginya apalagi kamu yang melahirkannya aku merasa sangat terhormat jika kamu mempercayakanku sebagai Ibu Mertua masa depannya". kata Diah
Dewi tersenyum lalu mereka tertawa bersama-sama.
seorang Wanita jauh dari Nana menatap sinis keceriaan Nana itu, ia adalah Sari yang marah pada Nana dan Intan.
"pasti dia yang menjodohkan Celvin dengan wanita itu? atau dia yang sengaja menjebak Celvin dengan memperalatku, sialan...! seharusnya aku yang berada di posisi itu sekarang". gumam Sari dengan geram melihat Celvin begitu memanjakan Intan.
tawa dan senyum Intan tidak pernah Sari rasakan saat bersama dengan Celvin, Celvin seperti suami idaman bagi Intan dan Sari bisa menebaknya.
"aku perlu beri perhitungan dengan Nana terlebih dahulu". gumam Sari pelan
Yardan mengambilkan makan malam yang sehat untuk putrinya, Nana tidak sengaja melihat Sari dari pantulan cermin dengan santai ia melangkahkan kaki menjauh dari Sari yang juga mengikutinya.
Nana pergi ke Toilet dan Sari sampai kewalahan mengejar Nana karna gaun Sari seperti duyung hingga sulit berlari mengejar Nana yang melangkah bebas karna gaunnya tidak sempit.
"hosh.. hos.. hoshh..! dia manusia atau setan? kenapa jalannya cepat sekali". geram Sari menatap tajam pintu toilet.
Nana keluar dari Toilet dan memerankan aktingnya yang kaget melihat Sari.
"oh.. kau orang yang melempar sepatu pada Aya ya?? ". tanya Nana tersenyum lebar.
Nana mencuci kedua tangannya di westafel, "bukan!! kan kamu tau kalau kamulah yang melemparnya". jawab Nana
"lalu kalau bukan kau siapa hah? ". teriak Sari dengan marah
Nana membalik tubuhnya menghadap Sari, "kau fikirkan saja saat itu kemana jauhnya sepatu itu melayang? bukankah sangat dekat denganmu kan? aku duduk jauh darimu bagaimana caraku melempar sejauh itu hah? kau fikir aku punya ilmu sihir bisa mengambil sepatumu lalu melemparnya ke Aya lalu menghilang kembali ke tempat dudukku ya? begitu maumu?".
Sari kebingungan tidak bisa berkata-kata
"sepertinya kau harus periksa ke Dokter Jiwa, aku merasa otakmu terganggu!! ". kata Nana dengan kekehan gemasnya.
"aku tidak peduli yang jelas memang kau pelakunya". kata Sari dengan tegas
Nana tertawa, "kamu mencekalku aku tidak melakukan apa-apa, kau tidak tau kalau Papamu sedang meminta bantuan ke Perusahaanku hah?? sepertinya dia sedang jatuh bangkrut meminta dana dariku".
Sari membeku dengan tatapan tajam ke Nana.
"hati-hati bertingkah padaku atau nanti Perusahaan mu yang mau bangkrut itu benar-berar tenggelam". peringatan Nana
Nana meninggalkan Sari yang menjerit histeris di tempat itu sementara Nana tersenyum puas berhasil mengerjai Sari,
__ADS_1
"aku tanya Papa saja". gumam Sari segera merogoh ponselnya mencari di dalam tasnya.
"hanya seekor tikus ingin coba-coba memakan induk harimau". gerutu Nana tersenyum miring lalu kembali ke acara pernikahan Intan dan Celvin.
"dari mana saja sayang? Papa cariin dari tadi". tanya Yardan mengelus pipi Nana
Nana tersenyum manja, "toilet! ". jawab Nana
Yardan tersenyum hangat lalu merangkul bahu Nana membawanya duduk dan memberikan makan malam untuk putri kesayangannya
"mau minum apa sayang?". tanya Yardan dengan lembut memanjakan Nana.
"Arka mana Pa? minta dia saja ambilkan Nana minuman enak, dia tau apa saja yang Nana inginkan". jawab Nana
"iya..! Papa cari dia ya? ". Yardan berbicara sambil mengedar lalu melihat Nana yang mengangguk.
.
tak butuh waktu lama Arka datang membawa banyak minuman dengan nampan mendekati Nana.
"sayang..? ternyata kamu disini". kata Arka dengan senyuman merapikan rambut Nana
Sari tak sengaja melihat senyuman Arka yang sangat tampan, Nana mendongak dan melihat Sari menatap tak berkedip pada kekasihnya.
Nana tak senang pun memutar kepalanya menghadap Arka hingga mereka bertatapan cukup lama, Arka mencium bibir Nana yang memejamkan matanya.
"rasakan itu...! enak aja pacarku kau lirik..! aku akan membuatmu mengerti kalau Arka milikku". batin Nana
Arka melihat Nana tetap memejamkan mata pun menarik tengkuk Nana memperdalam cium*nnya dengan lembut, sedangkan Sari yang melihat itu mengepalkan tangannya memilih pergi dari sana.
"kalau aku bisa mendapatkan Tuan Vano aku pasti akan kaya raya, secara Tuan Vano lebih kaya dari Celvin, Perusahaan teknologi sama seperti Perusahaan kami". batin Sari dengan muka memerah.
Nana perlahan membuka matanya melihat Sari meninggalkan mereka tapi bibirnya masih membalas setiap pangut*n lembut Arka.
"kenapa dia suka sekali membuatku kesal? apa hanya karna masalah spele dia menyerangku sekarang mau apa lagi? dia mau mencoba merebut Arka dariku?". batin Nana
.
.
.
__ADS_1