
.
.
.
"apa ini?". tanya Yardan
"ini...? makanan spesial yang aku buat khusus untukmu, anggap saja sebagai permintaan maaf karna putriku telah mempermalukanmu". Emma tersenyum.
Yardan memutar bola matanya dengan malas, "kau bawa saja itu pergi..! aku tidak akan memakan makanan itu".
"kenapa? bukankah sebelumnya kau memakannya?". tanya Emma heran.
Yardan teringat kata-kata Nana untuk tidak memakan-makanan pemberian Emma, atau lebih tepatnya jangan makan di satu atap yang sama dengan Emma, sebelumnya Yardan selalu membuang makanannya jadi ia hanya makan roti dari laci meja kerjanya.
"aku lagi tidak mau makan..! kalau kau makananmu itu dimakan berikan saja pada anakmu yang tidak tau malu itu". kata Yardan.
Emma mengepalkan tangannya, "anakku alergi udang".
"kau pikir bisa membodohiku? aku melihatnya sendiri dia makan udang didepanku". ucap tajam Yardan.
Emma tersenyum dan mengatakan dirinya bisa saja salah padahal hatinya sangatlah dongkol.
"atau kau bisa memakannya sendiri..! ". lanjut Yardan lagi.
"makanlah Yardan..! jika kau tidak mau nanti dimakannya juga tidak masalah". Emma mendekati Yardan dan dengan marah Yardan merampas piring itu lalu melemparnya ke tong sampah.
Emma membelalakkan matanya.
"kan aku sudah bilang kalau aku tidak mau makan! ". bentak Yardan.
Emma pun segera pergi dengan wajah yang sungguh merah menahan amarah.
"jal*ng...! tutup pintu nya..! ". teriak Yardan
Emma menutup kasar pintu Ruangan Yardan, "benar-benar ingin ku habisi dia...! aku sudah muak, aku akan adukan lagi dia pada orangtuanya".
di dalam kamar Emma.
"mah..?? hikss. hiks. hiks.. Yardan mah..! aku buat masakan untuknya sebagai permintaan maafku karna tidak bisa membesarkan anakku dengan baik, ta..pi.. tapi.. dia malah marah-marah dan membanting semua nya, ak.. aku takut mah..! ak.. aku mau pisah saja dengan Yardan dan membawa pergi Celinne dari sini". isak tangis Emma begitu meyakinkan.
"ya sudah..! mamah tidak sanggup lagi berbicara dengan anak itu..! selesaikan masalah kalian sendiri, mamah udah lelah". jawaban Sarah membuat mata Emma membulat besar.
"apa.. mamah yakin? aku akan membawa Putri Penguasa Wijaya bersamaku mah? mamah tidak marah? lalu bagaimana penerus Wijaya Mah? ". cecar Emma sesegukan.
__ADS_1
"kau tidak perlu memikirkan itu nak..! jika mamah jadi kamu mamah tidak akan memikirkan harta itu, apa kamu tahan dengan tingkah Yardan? dia sangat dingin pada kalian seolah kalian itu musuhnya, mamah sudah bilang padanya sampai mulut mama berbuih, lalu apa balasannya??". Emma
"Emma..! selesaikan masalah kalian berdua, jangan libatkan kami yang sudah malas berpikir ini, kami sudah tidak sanggup mengatasi suamimu itu, kalau perlu kamu emang harus pergi jauh darinya supaya dia sadar akan kehilanganmu, dia akan merana tidak punya keturunan". Aman yang menyahut.
Emma mengepalkan tangannya dan wajahnya terlihat tidak baik, niat hati ingin membuat Aman dan Sarah kembali karna ia mengancam akan pergi membawa Celinne tapi mertua nya ini malah mendukung Keputusannya bukannya membujuk atau menghalanginya supaya tidak pergi.
tut.. tut.. tut..
"aaahhhhhh". Emma membanting ponselnya ke ranjangnya, tidak rusak hanya memental beberapa kali saja,itu pun diranjang saja.
"kenapa ini? apa yang berbeda?? kenapa orangtua itu bisa berubah?? kenapa malah mendukung ancamanku? apa mereka tidak takut kalau aku pergi membawa cucu nya? ". marah Emma.
Emma semakin frustasi, ia akan menghabisi Yardan dengan cara lain.
sedangkan di tempat Aman dan Sarah.
"kenapa mah? ". tanya Aman
"tidak ada pah, Mamah kangen sama Nana". jawab Sarah
"sungguh..! ikatan batin antara nenek dan cucu itu juga kuat ya mah? papah juga merindukannya". Aman
"apalagi wajahnya mirip dengan alm. Ibuku". senyum tulus Aman
Sarah tersenyum lembut, "apa perlu kita ke kota Pah? mamah kangen sekali padanya".
"aah... iya..! papah tau saat Yardan cerita cucu kita mau balas dendam mamah ingat Ibu, Ibu kan pendendam". kekeh Sarah merasa senang ingat masa lalu.
Aman tertawa, "iya mah..! Ibu sangat baik tapi jika hati orang tersayangnya telah sakit hati, ibu akan berubah jadi Singa betina".
"iya pah..! tapi Nana lebih cerdas Pah". Sarah
"iya.. cucu kita". Aman
mereka pun tersenyum lalu menghubungi Yardan dan ternyata tidak bisa, segala bujuk rayu Sarah pun dilakukan hingga Yardan pasrah mengizinkan Sarah dan Aman kekota demi bertemu dengan Nana.
Nana sibuk pulang pergi ke setiap Hotel mencari cara untuk menembus CCTV yang ada disetiap hotel, ia mencarinya selama 1 harian penuh.
kini Nana sudah ada di Apartemennya dan mengecek semua CCTV yang ada disetiap hotel, Nana seolah tidak lelah bahkan ia makan roti sambil mengerjakan hal itu.
"aku tidak akan kalah padamu wanita licik". seringai Nana
Nana menemukan rekaman CCTV Emma ada di parkiran Hotel, dan tak lama setelah itu Yunus datang mereka berpelukan.
"nah.. di hotel ini pasti ada". senyum lebar Nana
__ADS_1
"aaah.. iya..! gila.. Hotel ini menyimpan kamera tersembunyi disetiap kamarnya, haha.. ini sangat hebat". Nana tertawa senang seolah keberuntungan berpihak padanya.
"siapa suruh mereka masuk hotel ini, pemiliknya psikopat mesum". kekeh Nana yang datang ke Hotel itu ditatap tak baik oleh orang itu, bahkan Nana sampai menendang bagian bawah pria itu hanya Karna Nana benci tonjolan yang merusak matanya itu saat pria itu berjalan ke arahnya.
Nana bersenandung mencari CCTV tersembunyi di setiap kamar yang ada di hotel itu, tak lelah dan tak menyerah bahkan lebih semangat hingga panggilan telfon mengalihkan perhatiannya.
Nana memberhentikan komputernya lalu mengangkat panggilan itu yang tertera Papa.
"halo Pa? ". sapa Nana
"nak..! Datang ke Mansion Vano ya? Kakek dan Nenekmu kesana". Yardan
"hah?". Nana
Yardan menjelaskan pada Nana bahwa kedua orangtua nya sudah tau Nana cucu mereka hanya dengan sekali melihat wajah Nana saja, dan ternyata semua itu benar apalagi mereka semakin bahagia saat Yardan memberitau kedua orangtua nya hasil tes DNA nya sama.
Yardan belum memberitau kedua orangtuanya Celinne adalah anak Yunus, Aman bisa marah besar dan bisa saja mencekik mati Yunus dan rencana putri kesayangannya gagal.
Nana melihat layar komputernya, "tidak apa..! besok masih bisa dilanjutkan". kata Nana lalu berganti pakaian dan meninggalkan Apartemennya.
Nana tiba di Mansion keluarga Arkatama.
"sayang? ". Arka telah menunggunya dan melebarkan tangannya.
Nana malah melenggang pergi hingga Arka menarik tangan Nana dan memeluknya mesra.
"Arka? ". panggil Nana
"aku hanya memelukmu sebentar, hampir seharian aku tidak melihatmu". keluh Arka
"sampai kapan kamu memelukku? kakek dan nenekku dimana? ". tanya Nana
"aah.. iya..! ayo masuk..! Kakek dan Nenekmu sedang berbicara dengan Mamamu". jawab Arka merangkul pinggang Nana.
Nana diam saja dirangkul mesra oleh Arka,
"Nana? ". panggil Mommy Diah melihat Nana pun tersenyum lebar.
Yardan berlari dengan langkah lebar dan menepis tangan Arka yang merangkul pinggang Putrinya, Yardan memeluk Nana dengan penuh kasih.
Arka hanya mengelus tangannya dengan pasrah, yah.. saat ini Nana adalah milik Yardan dan keluarganya, Arka bahkan bukan siapa-siapa hanya Pria yang tergila-gila pada Nana.
Dewi terharu, Aman dan Sarah pun berdiri berjalan cepat ke arah Nana.
.
__ADS_1
.
.