
.
.
.
Nana terdiam menatap ke arah Balkon, pikirannya penuh dengan rasa penasaran mengapa Sari tiba-tiba meninggal? Kecelakaan?
Nana mengedarkan pandangannya, "apa Papa? ". gumam Nana menebak.
Nana sampai tidak sadar akan kedatangan suaminya, Arka memeluk Nana dari belakang dan itu membuat Nana kaget.
Nana kebanyakan berpikir dan melamun sampai tidak mendengar suara langkah kaki Arka padahal sejak hamil semua Indera Nana semakin menajam tapi semua itu buyar karna Nana melamun, intinya semua itu berfungsi Jika Nana sedang fokus atau serius mengerjakan sesuatu.
"sayang? kapan aku bisa keluar? ". tanya Nana
"keluar kemana? ". tanya Arka
"aku mau keluar Kamar saja seperti ke taman belakang, berenang, memasak atau setidaknya mengacau di Ruangan kerjamu". keluh Nana.
Arka tersenyum mencium mesra bahu Nana, "kamu bebas sayang asalkan disekitar Mansion saja kalau keluar harus aku temani". kata Arka
Nana menautkan kedua alisnya, "secepat ini? ".
"kenapa? bukankah kamu tidak tahan dikurung hmm?? aku melakukannya dengan cepat". sahut Arka.
Nana membalik tubuhnya menghadap Arka, ia memicingkan mata menatap suaminya.
"kenapa hmm? ". tanya Arka merapikan rambut Nana dan menyibaknya kebalik daun telinganya.
"apa kamu yang membunuhnya sayang? ". tanya Nana serius.
"hmm". jawab Arka
Nana membelalak lalu memukul bahu Arka, "kenapa malah membunuh orang Arka? kamu tau aku sedang hamil nanti anak kita akan haus darah". pekik Nana.
Arka menggeleng kepalanya, "aku tidak peduli anak kita jadi psikopat nanti sayang yang penting aku bisa menyingkirkan orang yang mencoba membunuh mu dan anakku".
Nana memijit pelipisnya seketika, Nana tak habis fikir suaminya malah membinasakan nyawa orang terlebih lagi saat Nana dalam keadaan hamil, bagi Orang desa saat Nana tinggal didesa itu tidak boleh.
membunuh Ular, mancing Ikan dan banyak pantangan lain jika istri sedang mengandung tapi Arka malah menghabisi nyawa orang, memang orang itu pantas mati tapi tidak harus Arka yang menghabisinya bisa saja Arka meminta bantuan pada Papa dan Kakeknya. padahal intinya tidak boleh, asalkan jangan Arka saja.
Arka memeluk Nana dengan mesra lalu menghirup aroma tubuh Nana dalam-dalam.
__ADS_1
"aku sudah cukup gila melihat kejadian saat itu sayang, aku tidak akan membiarkannya begitu saja". ujar Arka pelan dan nada bergetar.
Nana menghela nafas lalu membalas pelukan Arka, "aku tidak mempermasalahkan itu sayang tapi kamu itu seorang Ayah dan ada anak didalam kandunganku yang harus kamu jaga. sekarang aku tidak tau bagaimana nasib anak kita, aku yakin kelak dewasa nanti pasti menjadi orang yang haus darah". gerutu Nana.
"dia hanya akan haus darah pada manusia bejat sayang, aku yakin itu apalagi mamanya sangat baik hati". sahut Arka.
Nana tak lagi berkomentar, percuma juga menyesali semuanya karna semua itu sudah terjadi.
ditempat lain Yardan dan Aman melongoh melihat kecelakaan Sari, mereka berdua saling pandang sebab baru saja tau pelaku yang sebenarnya adalah Sari tapi saat ingin bertindak Sari sudah tiada.
"siapa yang melakukannya? ". tanya Yardan
"apa mamah ya? ". tebak Aman
"tidak mungkin Pah..! Mamah memang ingin membunuhnya tapi kita baru saja dapat informasinya dan belum beritau Mamah, tidak mungkin Mamah pelakunya". jawab Yardan.
Aman dan Yardan saling pandang, "Arka?? ". tebak mereka serentak.
"ayo kita temui! ". ajak Aman.
Aman dan Yardan mengatakan yang sebenarnya pada Sarah serta Dewi, Dewi membekap mulutnya syok.
"Ya Tuhan..! itu tidak baik Mas.. Pah..! kalau sampai itu memang benar anak mereka nanti bisa haus darah". pekik Dewi.
"hah? ". cengo Yardan, Aman dan Sarah yang memang tidak tau pantangan orang Desa itu.
"hidup di dunia ini memang harus kejam sayang, tidak apa Cucuku nanti jadi kejam". cengir Yardan
"iya bagus malahan". sahut Sarah
"mau jadi Psikopat Wijaya pun tidak apa". kekeh Aman.
Dewi menepuk jidatnya, orang kaya memang suka-suka saja tidak takut keturunan mereka jadi Psikopat, sementara Dewi yang khawatir.
kedua orangtua Nana juga Kakek, Nenek Nana tiba di Mansion Arkatama tapi nyatanya Nana sedang tidak ada di Mansion, Arka baru saja membawa Nana pergi ke Mal untuk membeli baju daster yang nyaman dipakai oleh Nana didalam Rumah.
keluarga Nana menceritakan pantangan itu hingga Diah terkekeh, Dewi sampai pusing sendiri dengan tingkah Keluarganya malah tidak takut keturunan mereka jadi kejam, beringas dan haus akan darah.
Orangtua mana yang mau anaknya jadi seorang Psikopat? Dewi yang baik hati pun punya sisi kejamnya tapi tidak sampai menghabisi nyawa melainkan di masukkan ke Penjara.
.
di Mal.
__ADS_1
Nana dirangkul mesra oleh Arka yang berwajah datar, Nana malah tersenyum cerah menikmati kebebasannya walaupun di ekorin oleh sang Suami yang posesif.
"sayang disana! ". tunjuk Nana
Arka mengangguk sambil merangkul Nana lebih erat membawa Istrinya masuk ke Toko yang sepi bukan karna tidak laku tapi hanya orang-orang kaya saja yang masuk ke sana sebab harganya sangat mahal walau hanya sebuah daster.
"selamat datang Tuan, Nona". hormat para Pelayan berjajar rapi menyambut tamu dadakan yang sangat istimewa.
"hmm". sahut Arka sedangkan Nana tersenyum manis memandang banyaknya baju yang menarik dimatanya.
"sayang keranjang untuk baju-bajunya mana? ". tanya Nana
Arka menoleh ke pelayan disampingnya dengan sopan menunduk lalu mengambilkan Troly untuk Nana, Arka tidak mau lepas dari Nana walau hanya sedetik.
biarlah Arka dibilang posesif dan terlalu berlebihan, kejadian saat itu sudah membuatnya hampir gila, biarkan Arka tenang dan menyesuaikan diri sampai bayi mereka lahir.
"sayang lepasin dulu tanganmu". rengek Nana dengan manja ke Arka.
Arka mengecup lama kening Nana, "jangan jauh-jauh ya? jangan melompat kalau tidak sampai tinggal kasih tau aku aja hmm? ".
"iya". jawab Nana patuh.
Arka melepaskan rangkulannya dari pinggang Nana hingga Wanita menawan itu begitu bahagia, ia meminta Arka mengikutinya sambil mendorong Trolynya.
"sayang itu batiknya cantik". tunjuk Nana
Arka mengambilnya, apapun yang Nana inginkan tanpa ragu Arka mengambilkannya untuk Istri tercintanya yang tengah berbahagia.
Nana di kurung hanya 1 harian tapi rasanya Nana seperti sudah dikurung bertahun-tahun saja lamanya, bayangkan saja Nana yang suka kebebasan dikurung hampir 24 jam.
setelah transaksi dilakukan, para Pelayan memberi hormat pada Nana dan Arka sebagai ucapan terimakasih Nana berbelanja sangat banyak mencapai ratusan juta, diberi hadiah berupa sepasang baju Formal berwarna Pink salam (sangat manis).
harga 1 daster ada juga yang mencapai belasan juta tapi tak diragukan lagi kualitas pakaiannya,
"gimana barang-barangnya sayang? apa perlu kamu pergi antar dulu ke Mobil hmm? ". tanya Nana
Arka mengangkat tangannya dan Nana membelalak melihat 6 orang Pria berbadan besar berlari ke arah mereka bahkan menunduk hormat pada Nana dan Arka lalu mengambil barang-barang belanjaan Nana.
"pantas saja aku merasa di ikuti ternyata benar". batin Nana.
Arka menjadi jauh lebih berbahaya sekarang, bukan karna kejam tapi penjagaan yang Arka berikan untuknya semakin kuat seperti Nana sedang mengandung calon bayi yang akan menjadi Putra Mahkota.
.
__ADS_1
.
.