
.
.
.
Nana menjelaskan berita tentang Pak Toni hingga Arka buru-buru ke Meja Kerjanya dan melihat lewat Komputernya, ternyata benar.
"jadi kamu menebaknya aku sayang? ". tanya Arka
"aku pikir kamu Arka, maafkan aku telah salah menuduhmu". ucap Nana merasa bersalah
"aku tidak sekejam ini juga sayang, aku memang berniat membunuhnya tapi tidak akan separah itu". jelas Arka pun tak percaya Kematian Pak Toni sangat mengenaskan.
"apa dia banyak musuh Arka? ". tanya Nana serius
"dia penjahat tentu saja banyak musuh yang berasal dari orang-orang yang tersakiti lalu balas dendam". jawab Arka
"tapi siapa yang melakukannya sampai seperti itu? apa dia lebih senang Pak Toni mati terpisah dari pada menyiksanya?". gerutu Nana
"sudahlah sayang..! biar polisi yang mengatasinya". bujuk Arka
"aku menembak ban belakang mobilnya mungkin itu yang membuatnya juga celaka". gumam Nana.
Arka mendengarnya pun kaget, "dia mendatangimu sayang? ". tanya Arka serius juga khawatir
"iya..! dia mendatangiku dan aku membalas 3 peluru yang pernah tertancap di tubuhmu padahal aku hanya menembaknya ke ban mobilnya, itupun masih ada 1 peluru yang tersisa". Nana
Arka melihat ke arah Nana lalu berdiri dan berjalan perlahan mendekati Nana dan menggenggam tangan Nana.
"kenapa kamu harus melakukan hal itu sayang? tanpa kamu mengotori tanganmu dia akan mati walau bukan ditangan kita". kata Arka dengan lembut.
"hmm?? sebenarnya apa kejahatannya? sampai merencanakan pembunuhan sadis seperti itu? biasanya itu kerjaan psikopat kan? ". Nana
Arka mengelus kepala Nana dan memeluknya sambil mengecup puncak kepala Nana, "tidak peduli psikopat mana aku ingin berterimakasih padanya walaupun caranya tidak seru sepertimu yang main siksa saja".
Nana menghela nafas panjang, "syukurlah..!! semua masalah kita sudah selesai ku harap semua akan baik-baik saja".
"kenapa kamu bicara seperti itu sayang? ". tanya Arka
"aku masih belum percaya kita bebas Arka karna diluar sana banyak manusia serakah yang kerja nya mengganggu ketenangan orang". jawab Nana
__ADS_1
"aku akan melindungimu sayang". kata Arka dengan serius
Nana terkekeh saja mendengar Arka melindunginya padahal Nana bisa melindungi dirinya sendiri, tapi Nana menghargai kata-kata Arka terkadang Nana juga manusia biasa yang butuh bantuan orang lain terutama saat dirinya sedang kelelahan hingga tertidur pulas dan Arka lah yang sering membantunya.
.
.
di Apartemen
Nana menandatangani semua berkas-berkas yang diberikan Abi melalui Ara, Ara tengah duduk dihadapan Nana membantu Nana membuka berkas-berkas yang perlu ditanda tangani Nana.
"menurutmu itu memang tidak sengaja Ara? ". tanya Nana ke Ara
"huuh...! ". Ara membuang nafas panjang akan pertanyaan Nana yang sejak tadi sudah dilontarkan sekitar 10 kali.
"apa Nona harus membantunya? biarkan saja Nona, toh dia juga bukan siapa-siapa bagi Nona, dia orang jahat yang pantas mati, anaknya di RSJ malah ngebet nikahi anak perempuan orang yang Umurnya sudah pantas untuk menjadi menantunya". jawab Ara
Nana mengangguk, "ya.. kamu benar itu bukan kesalahanku".
"kenapa menjadi kesalahan Nona? Nona tidak tau hal itu akan terjadi kan? ". kata Ara dengan senyuman dipaksakan.
jujur saja Nana cukup menyebalkan juga, berapa kali Ara bilang itu semua bukan salah Nana. sebenarnya Nana tidak terlalu merasa bersalah hanya saja ia sangat penasaran siapa orang yang lebih kejam dan sadis darinya bisa membunuh seperti itu, Nana ingin melihat dengan rekaman CCTV di mobil itu tapi sepertinya pelakunya cukup pintar.
.
.
hari berlalu begitu cepat hingga tanpa disadari hari resepsi pernikahan Intan dan Celvin pun digelar telah tiba, Nana memakai gaun biasa disiang hari namun dimalam hari memakai gaun indah hasil karya Desaigner Qila.
Nana harus hadir disemua acara Intan karna wanita yang sudah punya anak itu adalah teman baiknya.
Qila datang menggendong putrinya yang masih berumur 2 tahun, Nana mengulurkan kedua tangannya hingga Qila merasa tidak enak tapi bukannya menolak Putrinya malah mau digendong oleh Nana.
asisten Qila pun sampai kaget karna Putri Bos nya itu tidak pernah mau digendong oleh karyawan Qila siapapun itu, maka nya pekerjaan Qila cukup kewalahan harus membawa Putrinya kemana-mana.
"sayang...? uluh.. uluh... hai.. Laura??". Nana mengangkat tinggi tubuh Laura yang menyeringai lebar.
Qila yang tersadar pun segera melakukan tugasnya tapi tidak bisa karna Laura terus mengganggunya, Nana membujuk Laura untuk mau digendong Ara hingga dengan patuh Laura mengikuti perkataan Nana.
Ara tersenyum cerah menggendong Laura, ia tidak pernah sebahagia ini sebab Laura seperti adiknya yang dulu meninggal dunia karna penyakit langka, jika masih hidup mungkin kini seumuran Laura.
__ADS_1
Qila dengan cepat mendandani Nana dengan tipis karna wajah Nana sudah bersih dan tanpa pori-pori jadi ditabur bedak luar saja wajah Nana sudah mulus.
.
"terimakasih Nona! ". ucap Qila merasa malu dipuji oleh Nana karna dandanannya sangatlah simpel.
"ini sangat simpel". senyum manis Nana
"apa perlu saya tambah pemerah bibirnya Nona? ". tanya Qila
"tidak usah Mbak..! begini aja udah bagus". tolak Nana
Qila dan Asistennya Qila membenarkan gaun Nana saat berdiri lalu menyusun perlengkapan mereka, Nana langsung bayar tunai pada Qila yang bahagia menerima gaji pertama dari Nana pelanggan pertama yang begitu puas dengan hasil pekerjaannya setelah cukup lama Qila berhenti tidak bekerja lagi.
.
penampilan Nana yang simpel tanpa ia sadari malah memikat ada daya tariknya sendiri, memang Nana yang tidak mau berdandan berlebihan karna tidak mau mengalahkan kecantikan Ratu malam ini yaitu teman baiknya.
"ya ampun Nana..? kamu cantik sekali". gemas Intan menangkup pipi Nana
Nana tersenyum, "benarkah? apa aku tidak usah datang saja? bagaimana jika aku yang dijadikan ratu nantinya? aku tidak mau mengambil kebahagiaanmu bersama Celvin, aku bisa saja menjadi Ratu dan Arka menjadi Raja".
Intan tertawa, ia tau Nana memiliki hati yang baik malah memikirkannya tidak seperti rekan-rekan Intan dulu saat di Indonesia malah datang berlomba-lomba menjadi yang tercantik dan memakai gaun mahal buatan dari butik ternama harganya mencapai ratusan juta, tapi Nana malah berpenampilan sederhana supaya tidak melebihinya.
"aku beruntung memiliki mu Nana, terimakasih". ucap Intan dengan tulus memeluk Nana
Nana tersenyum lembut mengelus punggung Intan,, "lain kali jangan rahasiakan apapun dariku, sesibuk apapun aku kamu harus memberitauku mengerti..?! "
Intan mengangguk-ngangguk, "aku berjanji".
Nana dan Intan melepaskan pelukan masing-masing lalu Nana membenarkan selendang Intan.
"Nyonya Celvin sangat cantik malam ini". puji Nana
"jangan membuatku menangis haru Nana! aku tau kamu hanya ingin membuatku senang saja". kata Intan dengan kesal hingga Nana tertawa.
"kapan aku memujimu hmm? kamu memang cantik kalau tampan pasti sudah kalah dengan pacarku". kata Nana dengan bangga hingga Intan memutar bola matanya dengan malas tapi bibirnya pun tersenyum lebar.
Tuan Muda Arkatama memang sangat tampan, itu sebabnya Nana dan Arka serasi disebut pasangan sempurna.
.
__ADS_1
.
.