
.
hehe.. yang minta bonus moga-moga aja Nae Khilaf bisa nambah Up...!! wkwk..
Happy Reading...!!!
.
.
.
"dasar tidak berguna..! kenapa aku tidak tau Pria itu adalah iblis bertopeng ramah, lama-lama dia semakin menunjukkan wajah aslinya yang kasar dan suka berteriak seperti orang gila". geram Nita
"dia lebih hina dibanding Tuan Vano yang kejam padahal hatinya lembut, sama Nona Presdir itu saja aku bisa melihat betapa baik dan sabarnya Tuan Vano". cerocos Nita berbalik masuk ke kamarnya.
Nita masuk menarik pintunya supaya tertutup dan terus berjalan ke arah kamar mandi tanpa menyadari Nana telah menahan pintu itu dengan tangannya.
Nana masuk ke Kamar Nita lalu berjalan dengan sangat hati-hati memasuki kamar itu, ia mendengar suara gemericik air.
"woww... !! aku sangat beruntung". gumam Nana tersenyum miring.
Nana mengirim pesan pada Ara, Ara yang memang menunggu pesan Nana pun segera menyeret Abi yang datang ke lantai 10 mendatangi kamar yang Nana maksud,
.
"apa yang kau lakukan? ". tanya Ara yang dengan cepat memegang tangan Abi yang hendak menekan bel Kamar Hotel.
"aku mau tekan bel". jawab Abi tidak mengerti
"dasar dungu...! bagaimana bisa Tuan Yardan punya asisten bodoh sepertimu". geram Ara menurunkan tangan Abi dengan sedikit kasar.
"hei..! aku sungguh penasaran, sebenarnya kau punya dendam apa padaku hah? kenapa kau galak sekali padaku? apa aku pernah berbuat salah padamu?? ". tanya Abi dengan heran
beruntung Abi orangnya penyabar tidak pernah memukul perempuan walau punya mulut badas seperti Ara.
"salahkan otakmu yang dungu itu". jawab Ara ketus sambil mengirim pesan pada Nana.
Nana membuka kamar itu lalu meminta mereka masuk secara hati-hati, Abi dan Ara bertugas membawa Arka pergi namun saat melihat Arka nyatanya Arka tidak pakai baju tapi memakai celana.
"Arka?? Arka? ". bisik Nana menampar-nampar pelan pipi Arka
__ADS_1
Abi ingin bertanya tapi Ara membekap mulut Abi dengan mata melotot dan mengkode Abi bahwa ada seseorang yang tengah mandi, Ara mendengar suara air, Abi pun semakin sadar saat mendengar senandung wanita di dalam kamar mandi itu terdengar senang sekali.
"mengerti? ". bisik Ara dan Abi membalas dengan anggukan lalu Ara melepaskan tangannya dari mulut Abi.
"Sayang..? Arka? bersabarlah". bisik Nana dengan khawatir memegang rahang Arka
"bedeb*h sinting itu benar-benar sudah tidak waras..! Arka bisa saja memaafkannya karna Arka berpikir itu adalah keberuntungannya bertemu denganku tapi aku tidak akan bisa memaafkannya Arka, kamu membuatnya gila aku akan membuatnya masuk penjara dan membuatnya bisa menikmati kejamnya dunia Penjara". batin Nana.
Nana menghapus air matanya yang menetes lalu meminta Abi dan Ara membawa Arka ke Kamar sebelah tak lupa juga Nana memberikan kartu kamarnya pada Ara.
"ba.. bajunya Tuan bagaimana Nona? ". tanya Ara berbisik dengan nada cukup hati-hati
"aah.. iya juga, maaf aku terlalu khawatir dan melakukan kesalahan". ucap Nana mengedarkan pandangannya mencari kemeja Arka.
Ara hanya diam saling melirik satu sama lain dengan Abi, mereka mengira cinta Arka yang begitu besar pada Nana tanpa diduga Nana juga mencintai Arka padahal Nana terlihat biasa saja memperlakukan Arka tidak begitu berlebihan.
kini mereka mengerti bahwa Nana juga sangat mencintai Arka hanya saja masih mementingkan egonya, Nana seolah tidak ingin Arka tau cintanya juga begitu besar pada Arka,
bagaimana Nana tidak jatuh cinta pada Arka yang memperlakukannya begitu lembut dan penuh kasih, begitu sabar bahkan selalu meminta maaf pada Nana walau terkadang Nana lah yang bersalah, jujur saja Arka adalah Pria yang egois dan mementingkan diri sendiri tapi berbeda jika bersama Nana.
"kalian bawa Arka pergi..! aku atasi sisanya". pinta Nana serius
"baik Nona". jawab Ara dan Abi serentak
"hati-hati Nona". ucap Abi serius
"Nona? ". Ara memanggil
"iya.. iya.. aku akan hati-hati, aku tidak akan bisa memaafkan Pria itu, dia ingin membuat adegan tidak sengaja antara wanita ini dengan Arka tapi aku akan membuatnya masuk ke perangkapnya sendiri". geram Nana mengepalkan tangannya dan tatapannya terlihat dingin, bibirnya tersenyum misterius.
.
.
Nana menunggu dibalik tembok menunggu Nita keluar dari kamar mandi,
"hmm.. hm.. hm.. ??". Nita bersenandung hingga tiba-tiba kepalanya terasa berat saat ada yang memukul tengkuknya.
Nita ingin berbalik melihat pelakunya tapi Nana sudah menahan kepala Nita hingga jatuh sendiri ke lantai.
Nana menyeret Nita hingga naik ke atas ranjang, lalu mengambil kartu Hotel yang tertancap didalam kamar itu dan keluar dari kamar itu tak lama Nana kembali namun menyeret seorang Pria yang tak asing,
__ADS_1
"pak iblis ini sangat berat..! dosanya banyak sekali". racau Nana yang bersusah payah menyeret Pria itu dari ruang tangga darurat.
"huuh...! berhasil..! ". Nana lega melihat Pria itu telah berbaring di ranjang yang sama dengan Nita.
"kalian sama-sama bukan manusia, aku tidak akan berdosa begitu besar menjebak kalian". Nana
Nana memiringkan kepalanya melihat adegan itu tidak romantis sama sekali, ia pun mengatur adegan intim diantara Pria itu dengan Nita hingga ia puas lalu pergi membiarkan Hema hancur dengan rencananya sendiri.
.
Nana memasuki Kamar sebelah dan meminta Ara mengambilkan perlengkapan alat kuno nya untuk menyembuhkan Arka yaitu jarum akupunturnya.
"kalian pergilah..! saksikan situasi di acara pesta dan kalian harus mengatakan pada semua orang kalau aku dan Arka sudah pulang". pinta Nana setelah mendapatkan jarum akupunturnya dari Ara
"baik Nona !!". jawab Abi dan Ara serentak
Abi dan Ara tidak menghubungi Dokter karna Nana sangat hebat dalam menyembuhkan orang, Peluru di tubuh Arka bisa dikeluarkan oleh tangan Kuno Nana padahal tidak memiliki sertifikat kemampuan operasi tapi Nana bisa membuat Arka sembuh, Anna juga bisa sembuh karna tangan Nana.
Nana membuka baju Arka lalu menahan tangis melihat Arka yang kian memucat, Nana tak henti-henti meminta maaf pada Arka yang terbaring, Nana tidak tau bahwa cairan yang akan disuntikkan ke tubuh Arka adalah pelumpuh gajah.
Nana hanya tau rencana Abang angkat Arka tidak tau hal lainnya, sebab situasinya saat itu tidak memungkinkan bagi Nana harus menguping terlalu lama.
.
Arka perlahan membuka matanya, wajahnya masih pucat tapi tidak lagi sepucat sebelum diobati oleh Nana.
Arka merasa perutnya dan lengannya dihimpit sesuatu lalu Arka mencoba melihatnya, Arka tersenyum lega melihat Nana lah yang menyelamatkan Arka.
"syukurlah tidak terjadi apapun, setelah ini aku akan habisi wanita itu". batin Arka mengangkat tangannya yang banyak tertancap jarum-jarum aneh.
Arka tau Nana menyembuhkannya dengan jarum-jarum emasnya itu, Arka mengelus kepala Nana hingga Nana terbangun dan mengerjab mengucek-ngucek matanya.
"Arka? kamu sadar? ". tanya Nana tersenyum cerah seketika dan memeluk Arka tanpa ingat bahwa ada sesuatu ditubuh Arka.
"aahh.. aah.. sakit sayang.. jarum didadaku bagaimana?? apa melukaimu? ". Arka terlihat kesakitan saat jarum yang tertancap didadanya semakin masuk ke tubuhnya.
Arka bukan marah pada Nana hanya merengek kesakitan bahkan takut jarum didada bidangnya melukai Nana.
Nana melepaskan pelukannya, buru-buru ia mencabut jarum-jarum itu dan tak henti-henti meminta maaf, Nana tidak tau bahwa Arka tengah menatapnya.
.
__ADS_1
.
.