
.
.
.
"setidaknya tidak perlu 100 juta pun tidak masalah kan yah?". kata si ibu memanggil Ayah
"iya bu..! hanya 20 juta tidak apa kan? kita bisa cicil hutang". sahut si Ayah memanggil Ibu
"kita bahkan bersusah payah mendapatkan pelaku itu saking tidak mau ada yang tau, takutnya kita di manfaatkan saja oleh orang lain nanti mengaku-ngaku yang menemukan orang itu terlebih dahulu". si Ibu
"Ayah juga sengaja tidak memberitau warga, takutnya uang yang dijanjikan tidak benar, iya kalau kita dapat 100 juta bisa bagi-bagi kalau cuma 20 Juta?? kita harus bayar hutang kan? ". sahut si Ayah
mereka terus saja bercerita satu sama lain tanpa menyadari Nana, Ara dan Allion sudah ada didekat mereka, Allion ingin memberi kode kedatangan mereka tapi Nana mengangkat tangannya seolah jangan memberi tau keberadaannya.
"kalian akan mendapatkan uangnya..! ". kata Nana tiba-tiba
sepasang suami istri itu dengan cepat berdiri dan berbalik melihat Nana yang tengah tersenyum ramah,
sementara Allio bertanya-tanya dalam hati dimana sosok Nana yang kejam tadi? mengapa jadi begitu ramah dan baik? sungguh Nona Presdir yang pantas dicintai dan begitu dikasihi oleh Yardan.
Nana mendekati Pasutri itu lalu anak kecil yang berlari tadi langsung memucat, ia berdiri ditempat menautkan jemari kecil tangannya sambil menunduk.
"perkenalkan saya Queen Adena Sasikirana Arundati, saya yang akan menjamin uang 100 juta itu sampai ke tangan kalian". kata Nana dengan serius sambil mengulurkan tangannya.
Si Ayah dan Si Ibu pun berjabat tangan dengan Nana setelah memastikan tangan mereka bersih sebab Nana memiliki kulit yang sangat bagus takutnya mereka membuat kulit Nana rusak dan ganti rugi.
"kalian sangat berhati-hati pada saya ya? tenang saja bu.. Pak.. saya tidak sejahat itu". kata Nana
Ara mendekati anak itu dan membawanya ke pelukan Orangtuanya, anak laki-laki itu terlihat takut dan bersembunyi dibelakang punggung Ibunya.
Nana tersenyum, "Ara..! kemarikan uangnya". titah Nana
"baik Nona! ". jawab Ara langsung mengeluarkan sesuatu dari tas jinjing Ara sejak tadi.
Ara ternyata mengeluarkan plastik berwarna hitam, Nana mengambilnya lalu memberikan uang itu pada si anak yang tadi sembunyi-sembunyi.
"ayo ambil uangmu dek..! bukankah kamu yang menemukannya? kamu bisa berikan sendiri pada Ibu dan Ayahmu". bujuk Nana
Si Ayah dan Si Ibu sampai menahan tangis mendapat rezeki tak terduga itu, sebenarnya Anak mereka baru saja beli ponsel baru yang muatannya kecil dan murah alias seken, uang untuk beli ponsel itu pun pinjam-pinjam dan ditambah tabungan si Anak mereka.
tak disangka, anak itu melihat layar ponselnya ada Foto buronan kebetulan ia sedang melihat Buronan itu berlari memasuki hutan belakang rumah mereka.
__ADS_1
"te.. terimakasih Kakak". ucap Anak itu menerima plastik hitam itu dengan kedua tangannya dari Nana.
Nana mengelus kepala anak laki-laki itu, "kamu pintar sekali..! belajar yang rajin ya? ".
"i.. iya Nona". jawab Anak itu masih terlihat takut.
"kalian boleh memeriksanya, kalau perlu dihitung sekarang juga tidak masalah siapa tau ada kesalahan asisten kedua saya menghitung jumlah uangnya". Nana
"t. tidak perlu Nona". jawab Ayah dan Ibu anak laki-laki itu.
"kalau begitu boleh saya pergi? saya harus kembali ke Jakarta". tanya Nana sopan
Nana yang sopan pun membuat hati sepasang suami istri itu menghangat, Nana sangat ramah dan baik sesuai perkataan orang banyak tentang sosok Anna yang tak berbeda jauh dengan sifat asli Queen Nana.
di dalam mobil menuju Bandara
"Papa? ". gumam Nana mengerutkan keningnya.
Nana mengangkat panggilan Yardan.
"Halo Pa? ". sapa Nana
"kamu menakjubkan nak..! Papa bangga". puji Yardan
Yardan bukannya bertanya bagaimana keadaan Nana? sehatkah? tapi nyatanya Yardan hanya memuji Nana, Nana tentu tidak suka karna mengira Papanya hanya peduli dengan kehebatannya saja.
Yardan pun meminta maaf pada Putri kesayangannya, Nana mendengar suara Dewi dan suara Leonard yang juga memujinya.
pembicaraan mereka pun terus berlanjut sampai tiba di Bandara, Nana pun mengakhirinya.
"kenapa senyum-senyum Ara?". tanya Nana memicingkan matanya melihat sang asisten terus saja tersenyum
"tidak ada Nona". jawab Ara berubah serius
Nana memutar bola matanya dengan malas, "aku bukan anak kecil".
Ara tetap diam hingga Nana memilih mengabaikannya saja, terkadang Ara memang sedikit gila suka senyam-senyum sendiri padahal Nana tidak tau yang membuat Ara tersenyum seperti itu adalah Nana sendiri.
.
Bandara di Ibu Kota Indonesia (Jakarta).
"hah? Arka? kamu ngapain disini? ". tanya Nana melihat Arka tiba-tiba sudah ada di hadapannya.
__ADS_1
"kenapa tidak bilang-bilang kamu ke palembang hmm? ". tanya Arka
Nana memutar bola matanya,, "aku hanya pergi sebentar Arka, lagian aku kesana bukan bermain tapi bekerja".
"iya..! maafkan aku..! ayo pulang! ". ajak Arka merangkul pinggang Nana
Nana menepisnya pelan, "pulang kemana? aku harus ke Perusahaan".
Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "baiklah.. aku juga ikut kamu ke Perusahaanmu sayang".
"Arka..? apa kamu tidak bekerja hmm? ". tanya Nana dengan heran sambil berjalan meninggalkan Arka.
Arka berlari mengikuti Nana, "aku sudah memundurkan jam kerjaku jadi hari ini aku libur dan ingin menyusulmu, tadi aku mau beli tiket". kata Arka
Nana mengomel-ngomeli Arka yang jadi pengangguran hingga Arka cengar-cengir meminta maaf pada Nana.
di dalam mobil Nana hanya ada Supir, Ara, Nana dan Arka sementara supir Arka mengikuti mereka dari belakang, Arka mah bos jadi suka-suka saja.
"ada apa dengan abang angkatmu Arka?, aku rasa pernah dengar bahwa kamu akan menghabisinya kan? aku ingin mempermalukannya di malam Acara Peresmian kerjasama Perusahaanku dengan Asia Group..! tapi ternyata dia sudah membuat kekacauan sendiri di Perusahaanku". gerutu Nana
"dia seperti itu karna efek ramuan yang aku berikan padanya sayang". jawab Arka
"hmm?? benarkah?? itu sebabnya dia tidak bisa mengontrol diri? ". cecar Nana
"iya..! saat aku melihat Celinne di Rumah Sakit Jiwa aku mengubah rencana dan akan membuatnya gila, itu lebih mengagumkan". kata Arka tersenyum lebar.
Nana pun tersenyum, "ya sudah..! tapi malam itu nanti harus tetap berjalan lancar..! ".
Nana tidak memberi tau Arka bahwa malam itu Hema akan melancarkan aksinya untuk menjebak Arka, sayangnya Nana sudah tau rencana Hema dan akan membuat serangan balik pada Hema.
"hmm". jawab Arka tersenyum tampan.
Nana menyandarkan kepalanya dibahu Arka, Arka yang melihat itu malah tersenyum lebar, ia sangat bahagia menjadi tempat sandaran Nana.
"aku mengantuk Arka! ". bisik Nana
"tidurlah sayang..! aku akan menggendongmu nanti". bisik Arka juga lembut mencium puncak kepala Nana dengan sayang.
.
.
.
__ADS_1