Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
hilang


__ADS_3

.


.


.


di Rumah Sakit,


"nak..? mau makan bubur ya? ". bujuk Bunga seorang guru TK ditempat sekolah Ren dan Rose.


Riyan memutar kepalanya ke arah lain membuat Bunga frustasi,


"kamu sudah semakin kurus Riyan..! sudah 3 hari kamu tidak makan sebelumnya kamu sempat koma 7 hari itu makan dan minum lewat selang bukan lewat mulut". omel Bunga berusaha sesabar mungkin.


"ibu pulang saja..! aku tidak mau sekolah dan aku tidak mau hidup lagi". jawab Riyan dengan lemah seolah tidak ada lagi harapan ingin hidup.


"kamu tidak boleh bicara seperti itu, ingat banyak orang yang menyayangimu". bujuk Bunga melembut


Riyan tertawa kecil namun bagi Bunga tawa itu mengandung rasa sakit dan putus asa, tawa seperti itu pantas diberikan pada seorang Pasien yang punya penyakit tidak bisa disembuhkan lagi.


"siapa? siapa yang menyayangiku bu? ". tanya Riyan menoleh ke Bunga.


"aku sama sekali tidak diharapkan, aku punya orangtua tapi terasa seperti tidak punya orangtua untuk apa mereka membiarkanku hidup? seharusnya mereka cekik saja aku". lirih Riyan.


"kamu bicara apa sih nak? ingat ya kamu itu masih muda jangan berpikir seperti itu". tegur Bunga.


"ibu pulang saja aku tidak akan makan". usir Riyan


Bunga menjatuhkan rahangnya, mau marah pun tidak bisa karna Riyan memang anak nakal sangat nakal selalu saja merepotkan semua guru tapi mereka seorang Guru tentu tau penyebabnya, mereka juga tidak bodoh hingga tidak memahami alasan Riyan selalu mencari masalah untuk mendapatkan perhatian Orangtua.


"sebenarnya apa sih kesibukan orangtua Riyan? apa hanya karna Perusahaan, apa tidak ada waktu sekitar 10 menit saja menjenguk anaknya di Rumah Sakit bahkan anaknya sempat koma beberapa hari saat bangun malah tidak punya semangat hidup". batin Bunga juga kesal kesibukan orangtua Riyan.


"anda boleh keluar Bu! ". kata Adre tiba-tiba


Bunga menoleh dan tersenyum ramah ke Adre dan Meila.


"akhirnya anda datang juga Tuan Nyonya". kata Bunga dengan sopan.


Melia mendekati Riyan yang masih melamun alias belum sadar kedua orangtuanya sudah datang.


"pergilah! ". usir Adre sekali lagi.


"terimakasih atas waktunya". ucap Adre dan Melia menunduk sopan sebagai tanda terimakasihnya ke Bunga.

__ADS_1


Bunga pun berpamitan pada Riyan yang terlihat tidak sadar sama sekali.


ceklek.. !


pintu di tutup, seketika wajah Adre memerah darah lalu memukul meja kecil yang ditatap lemah oleh Riyan, Riyan terlonjak kaget.


Riyan mengerjab-ngerjab ke arah Adre, "Papa? ".


Riyan melihat arah lain, "mama juga datang? ". tanya Riyan terlihat senang.


"apa kau sudah gila hah?? kenapa kau menyinggung Keluarga Arkatama? kenapaaa?? ". bentak Adre menggelegar.


Riyan tersentak,


"kenapa kamu tidak sekolah saja dengan baik Riyan? apa kamu sengaja membuat kami membuang-buang waktu hah?? tidak bisakah kamu sekolah saja? jangan mencari masalah". Meila


"dasar anak tidak berguna...! gara-gara kau aku harus berjuang mengatasi krisis ekonomi Perusahaanku, bukannya mencari cara supaya dekat dengan Anak Tuan Devano kau malah memaki nya? membuang makanannya? kau sengaja membuat Perusahaan ku bangkrut hah???". Adre menonyor-nonyor kepala Riyan.


"minta maaf sama Nona Kecil itu, kalau perlu jangan membuat ulah lagi..! kami tidak punya waktu mengurusmu karna masalah yang kamu buat saat itu sudah membahayakan Perusahaan Papamu". Meila


Riyan tidak berbicara hanya diam di marah dan dibentak oleh kedua orangtuanya, inilah masalah Riyan untuk pertama kali nya kedua orangtuanya mau datang melihatnya meninggalkan waktunya demi Riyan namun bukannya disayang karna Riyan baru saja sembuh malah di salahkan karna tidak berguna sama sekali.


"awas kau membuat ulah lagi! ". ancam Adre


"membuang waktu saja". sambung Adre


"aku ingin kasih sayang kedua orangtuaku, kalian tidak punya waktu mengurusku kan? beri tau saja siapa orangtua kandungku yang menginginkan aku ada di dunia ini". sambung Riyan.


"urus anakmu yang manja ini". tatap tajam Adre ke Meila melenggang pergi meninggalkan Riyan membuatnya muak.


Meila berdecak, "kamu udah besar Riyan, kamu jangan manja, mama sama papa sibuk jadi tolong jangan membuat Mama dan Papa repot karnamu".


Riyan melempar bantal yang ada didekatnya hingga Meila terkejut, "pergi....!!! pergiiiii!! ". teriak Riyan.


"iya.. Mama pergi, jangan membuat ulah lagi nanti bibi Iju datang mengurusmu". kata Melia tidak merasa bersalah sama sekali.


Riyan berteriak seperti orang gila, anak seumurannya masih dikatakan manja itu biasa, toh umur Riyan masih 6 tahun dalam masa pembentukan karakter.


Riyan melihat ke balkon, ia mencabut selang infusnya dan melihat kedua orangtuanya dilantai bawah sibuk menelfon dengan mobil yang berbeda.


"aku mau mati! ". gumam Riyan dengan mata berkaca-kaca dan tatapannya berubah kosong.


.

__ADS_1


.


ke esokan harinya,


"apa pellu kita melihat anak jahat itu kak? ". tanya Rose


"kenapa? kenapa kita halus melihatnya? ". tanya Ren balik dengan malas.


"bukankah kakak tidak dengal apa kata mama? liyan itu hanya kulang kasih sayang, dia mau disayang kedua olangtua nya yang sibuk". jawab Rose


"kakak tidak peduli, jangan kasih hati anak sepelti itu dek! kakak tidak suka". peringatan Ren.


Rose mengerucutkan bibirnya,


beberapa hari kemudian di sekolah Ren dan Rose.


"apa Bu?? ". pekik Nensy membelalak.


"iya..! Bu Nensy, bagaimana ini? aku sudah menghubungi kedua orangtuanya Riyan tapi seperti biasa orangtuanya selalu bilang nanti akan pulang". kesal Bunga


"ya Tuhan..! kenapa kasusnya Riyan ini rumit sekali?? padahal sebelumnya dia anak yang pintar di hari pertama diantar oleh ibu nya". geram Nensy.


"aku benci dengan kedua orangtuanya yang tidak peduli dengan mudahnya mereka bilang Riyan akan kembali karna tidak punya tempat tinggal, ck... kalau bukan orang kaya sudah aku cincang lidah mereka dan mencabik mulutnya... huuh... tenang.. tenang Bunga... Polisi sedang mencari keberadaan Riyan tapi belum ada tanda-tanda". Bunga marah-marah sendiri.


"Aduuh...! lalu kita perlu meliburkan anak-anak? aku tidak bisa konsentrasi tanpa tau kabar Riyan". Nensy


Sikembar (Ren dan Rose) mengintip Nensy dan Riyan mendengar pembicaraan mereka, Ren menarik tangan Rose sampai tiba di taman belakang berada di dekat ayunan anak-anak TK.


"kenapa mencali tau tentang anak jahat itu dek? kakak sudah bilang jangan pedulikan dia". omel Ren


"kakak..? aku takut semua yang dikatakan mama benal-benal terljadi". gerutu Rose.


"apa yang ditakutkan mama? ". tanya Ren yang memang tidak tau apa-apa.


Rose mengerucutkan bibirnya lalu mengajak kakaknya ke Kelas, benar saja Bu Nensy meminta anak-anak pulang sekolah lebih cepat dari jam biasa, bahkan Bunga sudah menghubungi semua keluarga anak-anak yang ada mengutus jemputan membawa anak-anak itu pulang.


setibanya di Mansion,


Rose melaporkan kabar Riyan yang hilang tidak ditemukan sampai sekarang pada Nana saat mereka hanya berdua saja.


"baiklah sayang..! ayo ikut mama". ajak Nana


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2