
.
.
.
di tempat lain
"bagaimana? ". tanya Devano alias Arka
"saya rutin memberinya ramuan itu Tuan, tapi mengapa Tuan Hema selalu marah-marah Tuan? ". tanya si Pelayan perempuan mata-mata Vano di Rumah Hemachandra.
Arka tersenyum miring, "aku akan membuatnya gila perlahan-lahan, sebelumnya aku ingin dia mati dengan memberikan ramuan penghenti detak jantung tapi aku pikir itu terlalu mudah, dia berani menginginkan kekasihku, tidak akan aku biarkan dia hidup tenang".
Pelayan itu pun hanya menelan ludah, tak disangka Arka begitu kejam tapi mau bagaimana lagi? Pelayan ini sangat butuh uang demi keluarganya, Arka menawarkan uang dengan jumlah yang tidak normal 1 milyar jika semua sudah berhasil.
"Hmm.. T.. Tuan? ap.. apa boleh saya terima uang 200 Juta terlebih dahulu? s.. saya sangat butuh untuk...? ".
Arka mengangkat tangannya hingga pelayan itu menundukkan kepalanya tidak berani lagi melanjutkan kata-katanya.
"aku transfer sekarang juga". kata Arka mengeluarkan ponselnya.
"sudah..! aku pergi jangan lalaikan pekerjaanmu". lanjut Arka lagi melenggang pergi.
Pelayan itu melihat ponselnya dan tangannya sampai bergetar melihat nominal itu, ia menangis haru hingga bangkit dan tak bisa berjalan kakinya seakan lemas langsung bersimpuh.
setidaknya pekerjaan ini lebih baik dari pada menjual diri bukan? beruntung saja Arka datang menyelamatkannya saat itu dan menawarkan pekerjaan itu untuknya, jujur saja Hemachandra pantas untuk di bunuh sebab rekan kerja Pelayan itu pernah dilecehk*n oleh Hema, bukannya tanggung jawab malah membunuh temannya itu.
anggap saja ia sedang balas dendam, membuatnya Gila bukanlah hal kejam tapi memang sangat pantas demi menyelamatkan banyak perempuan.
.
Arka kembali ke Perusahaannya, ia mengeluarkan ponselnya dan menyeringai melihat kelakuan Hema karna efek ramuan yang Arka berikan melalui pelayan itu pada Hema sudah bekerja.
"siapa suruh kau berani menginginkan kekasihku, Queen Nana hanya milikku". kata Arka dengan senyuman tipisnya.
"Tuan? anda dari mana saja?". tanya Endra nyelonong masuk ke Ruangan Arka.
Arka tidak heran lagi tingkah Asistennya itu, "aku keluar sebentar". jawab Arka santai.
"anda tidak lihat kabar Tuan Hema? dia marah-marah di Perusahaan W Group, saya tidak mengerti kenapa dia bisa marah-marah, saya yakin dia tipikal orang yang menjaga image baiknya didepan banyak orang". oceh Endra dengan kening mengkerut.
"ckk...! pergilah..! kau cerewet sekali". usir Arka
__ADS_1
Endra pun keluar dari Ruangan Arka sambil bergumam-gumam tingkah Hema yang tak biasa, mengapa Hema berubah jadi Pemarah? apa dia tidak lagi menjaga image nya?
.
di Mansion Arkatama
Nana mendapat kabar dari Ara bahwa Hemacandra datang ke Perusahaan membuat kekacauan tapi sudah mereka atasi, Nana pun memujinya dan tak lupa memperingati satpam untuk tidak membiarkan Hema masuk apapun alasannya.
"ada apa kak? ". tanya Anna tiba-tiba menyembulkan kepalanya dipinggang Nana.
Nana menoleh pun tertawa mengelus kepala Anna, "ada tamu yang tak diundang datang ke Perusahaan Kakak dan membuat kekacauan disana". jawab Nana membalik tubuhnya.
Anna memeluk pinggang Kakaknya dan mendongak, Anna kekurangan kasih sayang dari yang namanya keluarga, hanya Keluarga Nana yang bisa membuatnya merasa dicintai dengan tulus, itulah sebabnya ia bahagia bersama Nana.
"tamu tak diundang? ". beo Anna
"dimana Caca? ". tanya Nana mengalihkan
"Caca ambil minuman kak..! Anna tadi bilang haus dia langsung berlari mengambilkan air padahal dia teman Anna bukan pelayan Anna". gerutu Anna
"bukan pelayan tapi dia menyayangimu sayang!". ralat Nana
selama Anna disembuhkan oleh Nana, tidak ada sedikitpun Nana menjelekkan Kakeknya Anna, malah memberi tau bagaimana sayangnya Leonard pada Anna, itu sebabnya Anna tidak membenci kakeknya malah menyayanginya.
Anna tersenyum lebar, hal itu membuat Nana gemas mencium kening Anna.
"terimakasih Nona Cantik..!". puji Anna membuat Nana menggelitikinya.
"ahahaa... ampun kak! ". pekik Anna berlari kesana-kemari dikejar Nana dan digelitiki.
Caca datang membawa minuman pun melihat adegan itu, Anna yang terpekik bahagia seperti itu tidak pernah Caca lihat.
.
.
pagi-pagi
Nana mengantar Anna dan Caca sekolah layaknya anak seumuran mereka, Caca tidak sekolah seperti anak normal sebab setiap hari hanya belajar beladiri saja.
"hati-hati ya? Caca jangan gunakan kekuatanmu jika tidak terdesak ya?". peringatan Anna
"iya kak". sahut Anna dan Caca serentak.
__ADS_1
mereka berdua seperti saudara kembar berjalan memasuki gerbang Sekolah, Nana pun pergi ke Perusahannya dan mengatasi kesulitan Perusahaan Cabang yang bisa diatasi tanpa harus turun ke lapangan.
Ara dan Abi sampai dibuat kagum saat Nana mengancam akan memecat mereka yang korupsi jika tidak mengembalikan semua uang-uangnya, ternyata permasalahan setiap Perusahaan hampir korupsi, Nana juga menurunkan polisi dan pegawai bank di berbagai perusahaan cabang untuk menyita segala aset orang yang korupsi.
"selesai..? kita bubar..! besok tinggal Perusahaan yang tersisa, kalian lanjutkan pekerjaan lain". titah Nana
"baik Nona Presdir". jawab mereka semua serentak membubarkan diri secara teratur.
"bagaimana Perusahaan yang di Palembang Abi? apa belum bisa diatasi? ". tanya Nana melihat Abi
"orang yang Korupsi melarikan diri membawa uang-uang nya dalam bentuk emas batangan Nona, saya tidak tau bagaimana cara menemukannya, itu sebabnya Tuan Yardan hanya bisa menutupi kerugian Perusahaan itu supaya tidak jatuh bangkrut". jelas Abi
"kalian berdua ikut aku..! ". titah Nana
Abi dan Ara saling pandang lalu mengikuti Nana ke Ruangan kerjanya.
Ara dan Abi melotot melihat kinerja tangan Nana yang begitu cekatan mengotak-ngatik semua CCTV yang ada di Palembang, Surel Perusahaan itu Nana dapatkan dari Direktur Perusahaan cabang, karna bantuan Direktur itulah Nana bisa menghack segala CCTV yang ada di Perusahaan Cabang.
"ini pelakunya? ". tanya Nana
"....?" hening tak ada jawaban
"ini pelakunya kan? ". tanya Nana sekali lagi
Nana yang tak kunjung dapat jawaban pun memutar kepalanya ternyata Abi tengah melotot dengan mulut terbuka lebar sementara Ara hanya membelalak mengucek-ngucek matanya seolah memastikan yang dilihatnya tidaklah ilusi.
"kalian dengar aku tidak?". tanya Nana dengan kesal
"aah.. eh..? hmm..? i.. iya Nona". jawab Ara dan Abi tersadar malah serentak gelagapan.
Nana menatap datar mereka berdua yang mana Abi langsung garuk-garuk kepala karna malu, wajarlah ia tidak pernah melihat seorang Hacker yang begitu profesional dengan kedua matanya sendiri.
"ini pelakunya? aku sudah ketiga kali bertanya pada kalian". gerutu Nana
"i.. iya Nona.. saya yakin memang ini orangnya, dia kabur meninggalkan rumahnya yang harganya tidak sebanding dengan jumlah uang yang diambilnya". jawab Abi melihat seksama wajah yang tertangkap CCTV itu.
"awas saja kalian sampai pingsan!". ancam Nana
Nana memutar kembali kepalanya menghadap layar komputernya, ia mengotak-ngatik komputernya lalu menyeringai tipis.
"Nana tidak pernah kalah". kata Nana dengan senyuman tipisnya yang begitu puas mendapatkan foto pelaku begitu jelas.
.
__ADS_1
.
.