
.
.
.
Leonard berbicara dengan Yardan sedangkan Anna tengah berlari riang main kejar-kejaran dengan seluruh pengawalnya, karna sejak dulu itu adalah impian Anna kecil.
Nana sudah pergi ke Apartemennya demi mempersiapkan diri untuk menghadap publik, Diah dan Dewi membawa banyak makanan di ikuti oleh banyak pelayan.
"sayang..? minum susunya? biar kakinya makin kuat". pinta Dewi
"sini sayang..! atau Mommy tidak akan mengizinkanmu main ke luar hmm? ". ancam Diah juga.
Anna kembali ceria berlari mendekati Diah dan Dewi, sementara para pelayan membagikan minuman dan kue untuk para Pengawal Leonard.
"ada apa Tuan Leonard? ". tanya Yardan
"cucuku..! aku tidak pernah menyangka kalau selama ini putrimu mencoba menyembuhkan Cucuku, dulu dia selalu murung dan sedih sekarang dia begitu ceria sama seperti saat Orangtuanya masih hidup". Leonard
Yardan tersenyum tipis, "anakku sangat hebat Tuan tapi Cucumu juga hebat, aku tidak pernah melihat Nana tumbuh besar tapi melihat Anna membuatku bahagia, aku seperti melihat Nana saat kecil".
"terimakasih..! aku pikir anakmu sangat kejam dengan menyandera cucuku, aku sungguh tidak tau kalau dia malah menyembuhkan nya bahkan memberi kehidupan yang aku tidak bisa berikan walau aku banyak uang". Leonard tersenyum kecut.
Yardan terkekeh, "anakku memang sedikit kasar tapi dia hanya bertindak kejam pada orang yang kejam saja, dia tidak terima ditindas Tuan".
"dia balas dendam atas namamu?". Leonard
"aku yakin kamu bangga terhadapnya, dia bisa mengalahkanku dan mengatakan padaku uangku tidak akan bisa membuatku menang, dimana anakmu kuliah? aku akan menyekolahkan cucuku disana". Leonard
Yardan tersenyum, "anakku tidak sekolah Tuan, tapi otaknya memang sudah pintar".
Leonard berdecak tak percaya, "tutur katanya seperti gadis berpendidikan sangat tinggi".
Yardan pun bercerita banyak hal pada Leonard, ia sama sekali tidak dendam pada Leonard yang membuatnya minum-minum saat itu hingga bisa memiliki Nana yang sangat menakjubkan, Yardan sangat berterimakasih pada Leonard jika bukan karnanya mungkin Nana tidak ada jika insiden itu tidak terjadi.
.
Nana begitu sibuk mengurusi Perusahaannya di Apartemen hingga Arka pun terabaikan olehnya, mereka hanya bertemu di Mansion saja itu pun tidak bisa berpelukan karna ada Yardan yang seperti burung hantu mengawasinya.
"siapa Nona? ". tanya Ara begitu penasaran hingga membuat Nana berdecak melihat layar ponsel
"siapa lagi? Arka". jawab Nana kesal
Ara pun tersenyum lebar, "Nona bertemulah dengan Tuan Vano".
__ADS_1
"biarkan saja..! nanti juga dia bakal kesini". jawab Nana
benar saja dalam hitungan menit, Devano memang datang ke Apartemen Nana dan memeluk Nana dari belakang.
"Arka? ada Ara". kesal Nana
Ara pun memilih pergi dan meninggalkan Nana yang memanggilnya, Nana berdecak menyalahkan Arka yang sudah membuat Ara pergi.
"aku merindukanmu sayang..! kapan kita menikah hmmm? ". tanya Arka mencium bahu Nana menghirup wangi tubuh kekasihnya.
Nana memutar bola matanya dengan jengah, "nanti saja kita bahas Arka..! aku masih berumur 20 tahun ok? aku tidak mau menikah terlalu muda, Perusahaanku bagaimana? ".
"aku bisa meminta Abi dan Ara untuk menggantikanmu, sudah aku pastikan kamu hanya menikmati hasilnya saja". gemas Arka
Nana menjauhkan tubuhnya dari Arka, "jangan terlalu mengekangku Arka..! kamu mau aku pergi? "
"tidak". jawab Arka serius dan tak senang.
"untuk itu jangan terlalu terburu-buru, kenapa harus menikah cepat-cepat? jangan bilang aku tidak tau otak mesummu itu". Nana
Arka menyeringai lebar dan memuji Nana habis-habisan, Nana hanya cuek saja sebab dirinya tidak merasa hebat menolak Arka yang beberapa kali mengajaknya menikah.
.
di Mal
"bawa aku kemana sih Arka? dari tadi diajak bicara diam meluluk? ". cecar Nana
bruuggh...
Nana terkejut saat ada orang yang menunduk memakai topi tidak melihat jalan hingga menabraknya,
"sayang? kamu tidak apa-apa? ". tanya Arka khawatir.
"hmm". jawab Nana yang merasa dirinya baik-baik saja.
orang itu buru-buru menyusun perlengkapannya, dan hendak pergi tapi Arka menarik topi orang itu hingga wajahnya terlihat.
"hei...? kau menabrak pacarku seharusnya minta maaf". Arka
"Celin? ". Nana melihat wajah bintik-bintik Celinne
Arka pun juga sempat terkejut namun hanya sekilas saja, Celinne mengambil topi nya dan berlari menjauhi mereka berdua.
"kenapa Celinne Arka? ". tanya Nana ke Arka
__ADS_1
"mana aku tau, biarkan saja". ajak Arka menarik pinggang Nana.
Nana berjalan tapi kepalanya berputar melihat Celinne, "apa yang dia lakukan disini? alat-alat tadi?? apa dia sakit? ". gumam Nana penasaran.
Celinne tiba di luar gerbang Mal, ia menangis terisak-isak karna saat ini dirinya hanya seorang diri, Yunus juga meninggal dunia beberapa bulan yang lalu karna kecelakaan menolong Celinne yang gegabah ingin balas dendam pada Nana.
Celinne tidak sabar hingga perbuatannya yang terburu-buru itu membuatnya kehilangan sosok ayahnya, ia menangis pilu meratapi nasibnya.
"ini mungkin karmaku..! hiks.. hiks.. ". Celinne berjalan memeluk tasnya.
Rumah sebelumnya di jual oleh Celinne pada orang misterius yang menginginkan lahan luas untuk membangun Istana, walaupun Rumah itu terpojok tapi sangat luas beberapa puluh hektar, itu sebabnya Celinne bisa pergi ke Mal membeli kebutuhannya.
"aku harus kemana?? wajahku jadi jelek..! bintik-bintik ini bagaimana caraku menghilangkannya". Celinne terus menangis menyesali semua perbuatannya dulu.
kini Celinne tidak punya siapa-siapa lagi, kakeknya (Pihak Emma) tidak peduli padanya karna dirinya perempuan sedangkan Yardan? Celinne tidak punya muka bertemu dengan Yardan lagi.
setelah kehilangan semuanya baru Celinne menyadari kesalahannya, dulu saat punya segalanya ia tidak pernah sadar.
.
"ada apa sayang? kenapa sejak tadi kamu gelisah hmm? ". tanya Arka mengelus rambut Nana dan menangkup pipi Nana dengan tatapan lembut.
"aku melihat Celinne Arka, dia pasti sedang sakit". Nana
"jangan memikirkannya sayang..? aku mohon..! hmm..? aku tidak terima jika kamu baik padanya, biarkan dia hidup itu sudah kebaikan terbesarmu jangan membiarkan dia mendekatimu". Arka berbicara dengan serius.
Nana menghela nafas mendengar penjelasan Arka, ia pun tidak bisa mengelak karna Celinne memang jahat, tapi situasi Celinne tadi sungguh menyedihkan, Nana yakin Celinne sudah berubah karna tidak pernah menunduk pada siapapun tadi malah menunduk ke Nana seolah mengucapkan maaf lewat gerakan tubuh saja.
"bukankah beberapa hari lagi kamu akan muncul di publik hmm? sosok Nona Presdir yang dibicarakan oleh banyak orang akan muncul iya kan? lalu kenapa masih gugup hmm? ". Arka
"iya.. iya.. ayo kita cari baju bagus". Nana pun tersenyum manis.
Nana banyak membeli baju formal bahkan sesekali ia membeli banyak gaun anak berumur 14 tahun untuk Anna kecil.
"kenapa menatapku begitu? ". tanya Nana ke Arka
"kamu tidak tau kalau Anna sangat memujamu Sayang". kata Arka serius
Nana tersenyum, "yaah..! dia adikku".
Arka terkekeh dan membayar semua tagihan Nana, sementara Nana hanya menghela nafas pasrah tagihannya dibayar oleh Arka.
.
.
__ADS_1
.