
.
.
.
di Apartemen
Nana meminta Ara untuk mendapatkan Rekaman CCTV saat ia berada di Restaurant, Alasan Nana hanya ingin melihat kembali wajah wanita yang mencoba merayu Arka.
tapi setelah mendapatkan satu rekaman itu, Nana berhasil menghack segala rekaman CCTV yang ada di Restaurant itu ternyata pelakunya cukup hati-hati bisa menghindari CCTV,
"woow...! ini lumayan juga". gumam Nana melihat semua CCTV bahwa di jam yang sama ada Hema dan Wanita itu jalan namun berbeda arah alias berbeda CCTV.
Nana tentu tau karna dia bukan gadis bodoh, di jam itu tidak ada orang lain yang pergi ke Ruangan tanpa CCTV itu tapi hanya Hema dan Wanita itu saja yang ada walau beda arah tapi Nana yakin mereka bekerja sama.
"abang angkat Arka ini tidak berubah, bahkan Arka berbaik hati tidak membunuhnya bukannya berubah dia malah semakin menjadi".
"aku memang tidak akan membunuhmu tapi melawanku bersiaplah menanggung malu, aku akan membuatmu jatuh sejatuh-jatuhnya jika kau berani mengusikku". Nana menyeringai.
Nana sengaja tidak memberitau Arka karna sudah yakin Arka akan marah dan mendatangi langsung Hema lalu memukulnya, itu tidak baik untuk citra Perusahaan Arkatama jika Presdir utamanya menghajar orang apalagi abang angkatnya.
Arka tidak bisa menahan emosinya jika Hema berani mendekati Nana, berbeda jika Hema membunuhnya itu hanya menyakiti fisik Arka saja tapi jika menyakiti batinnya jangan harap Arka bisa tenang, Nana tau betapa posesif dan cemburuannya pacarnya itu.
malam hari
Arka datang ke Apartemennya sesuai permintaan Nana, apapun permintaan Nana akan Arka kabulkan bahkan permintaan Nana kali ini membuatnya dengan senang hati datang ke Apartemen Nana.
"sayang. ?". Arka merentangkan tangannya langsung memeluk Nana
Nana menghela nafas, Arka memang seperti ini bahagianya jika sudah disuruh datang ke Apartemennya.
"Arka..? kenapa setiap kali aku memintamu datang kesini udah kayak orang mabuk aja hmm?". gerutu Nana
Arka menciumi wajah Nana yang pasrah saja dicium oleh Arka lalu Nana mendorong tubuh Arka pelan,
"udah..? aku mau bicara hal penting". kata Nana
Arka tersenyum lalu menutup pintu Apartemennya, walaupun Apartemen ini milik Arka tapi Arka tidak pernah mengungkitnya.
__ADS_1
di sofa
"Arka aku mau tanya kenapa kamu tidak membunuh Hema padahal dia sudah mencoba membunuhmu?". tanya Nana serius
Nana merasa jika masalah Arka dan Hema bukan hal biasa, membuat Arka seperti mayat saat itu sudah sangat keterlaluan dan harus dibumi hanguskan.
Arka tersenyum, "jika aku tidak terluka parah saat itu aku tidak akan bertemu denganmu, jadi aku tidak pernah membalasnya karna dia membuatku bertemu denganmu sayang". jawab Arka
Nana mengerutkan keningnya, "hanya itu? ". tanya Nana
"iya sayang hanya itu, aku tidak menganggapnya musibah malah menganggapnya hadiah yang tak ternilai harganya". jawab Arka dengan tulus.
Nana tersenyum, "kenapa saat itu kamu begitu sombong, angkuh dan tidak tau terimakasih hmm? sekarang kemana sifatmu itu?".
Arka menggaruk kepalanya yang tidak gatal, "a..aku hanya tidak terbiasa bersama perempuan selain mommyku".
Nana pura-pura kaget mendengarnya, "hah? berarti aku perempuan pertama bagimu? ". tanya Nana tak percaya
"iya sayang..! sejak Papaku tidak ada aku selalu berpikir semua orang yang mendekatiku hanya memanfaatkan saja, termasuk perempuan jadi aku membatasi diri dari namanya perempuan". Arka
Nana tak percaya penjelasan Arka, ia tau Arka tidak suka perempuan tapi alasannya karna takut dimanfaatkan, pantas saja sih Arka berpikir seperti itu secara Arka kan seorang Pengusaha hebat Arkatama Group.
Arka tersenyum membalas pelukan Nana dan menggeleng kepalanya pelan, "aku tidak merasa dimanfaatkan begitu olehmu sayang, aku yang sengaja menawarkan diri menjadi jembatanmu saat mencapai tujuanmu karna kamu telah menyelamatkan hidupku".
Nana melepaskan pelukannya dan saling bertatapan dengan Arka, pelan-pelan wajah Arka mendekat dan Nana memejamkan matanya saat hembusan nafas Arka menerpa wajahnya.
Arka tersenyum melihat mata Nana memejamkan mata seolah sudah siap, Arka tentu tidak menyia-nyiakan kesempatan itu karna dirinya memang sangat tergila-gila pada Nana.
Arka ******* bibir Nana dengan lembut dan Nana terbuai memegang lengan Arka yang menangkup pipinya.
"manis sekali". gumam Arka menyeka bibir Nana yang tersenyum menatapnya.
memang cium*n itu bukan yang pertama bagi Nana dan Arka, tapi Arka lebih sering menahan diri jika mencium Nana karna takut Nana merasa bosan pada Arka.
cinta Nana memang sudah tumbuh dengan sendirinya karna perlakuan Arka yang begitu lembut memperlakukannya, Arka sangat tampan tapi tidak pernah membuat Nana ilfil hanya terkadang menyebalkan saja karna Arka selalu bertingkah seperti bayi besar padanya.
"kenapa? kenapa menatapku seperti itu? ". tanya Nana
Arka tersenyum lalu mengangkat tubuh Nana hingga berbaring di sofa bersamanya, Nana menghela nafas pasrah saat Arka kembali menjadi bayi dan merengek minta kepalanya dibelai sampai tertidur.
__ADS_1
"Arka..! kamu mungkin bisa memaafkannya karna kamu menganggap hal itu hadiah, tapi aku tidak bisa memaafkannya karna dia telah berani mengusikku Arka! kita lihat nanti apa tujuannya, apa hanya ingin menyakitimu atau tidak". batin Nana
ke esokan harinya.
Nana sudah tidak ada di Apartemennya, Arka celingukan mencari Nana yang tidak ada disekitarnya.
"sayang? ". Arka mencari-cari Nana tapi tidak ada hingga hidungnya mencium aroma masakan Nana.
mata Arka seakan berbinar berlari ke arah dapur, masakan Nana memang kampungan tapi malah sangat pas dilidahnya berbeda dengan Nana yang malah sangat menyukai roti kukus buatan Arka.
.
.
Nana sedang menyamar dengan motor matic nya, ia datang ke Rumah keluarga Hemachandra,
"aku seorang pekerja panggilan untuk memperbaiki kran air". kata Nana membenarkan kacamata besarnya.
Nana mengikat rambutnya menjadi 2 bagian namun tinggi lalu dikepang sampai bawah, tak lupa ia memasang gigi palsu besar yang membuat orang jijik menatapnya.
Nana diantarkan ke Kamar yang krannya rusak, setelah pekerjaannya selesai Nana hendak mencari Ruangan Hema tapi saat diRuangan tamu tak sengaja mendengar pembicaraan Hema dengan seorang Pria yang Nana yakini adalah Ayah kandung Hema.
"hah?? berani sekali kau menargetkanku..! kalian ingin membuatku salah faham dengan Arka ya? ciih... jika aku memang salah faham dengan Arka aku tidak akan menerimamu, dasar menjijikkan..! ". batin Nana
Nana mengedarkan pandangannya lalu berlari kecil kembali ke Ruangan yang ia perbaiki tadi, Pelayan datang mengantarkan Nana minuman.
"terimakasih atuh..! ". ucap Nana dengan gaya culunnya
si pelayan hanya menarik sebelah sudut bibirnya, ingin sekali mengusir si tukang sok cantik dan sok akrab ini, sebenarnya Nana sengaja berakting seperti itu supaya tidak ada yang curiga dirinya mata-mata jadi harus keliatan bodoh tapi hebat dalam hal memperbaiki.
"cepat selesaikan terus pergi..! ". usir pelayan itu
"iya.. iya.. ini sedang dikunci mati..! nah.. udah bisa". Nana tersenyum lebar melihat pekerjaannya telah selesai padahal sebenarnya sejak tadi sudah selesai.
tadi Nana sengaja menyiapkannya lebih cepat sambil mencari Ruangan Hema, nanti Nana bisa beralasan pada si Pelayan dirinya mencari dapur karna sudah tidak tahan begitu haus.
.
.
__ADS_1
.