
.
.
.
"Anna??". Nana merentangkan tangannya.
Anna tersenyum cerah langsung berlari memeluk Nana seperti seorang anak kecil padahal tubuh mereka hampir sama tinggi sebab Anna sudah memasuki usia dewasa.
"bagaimana kampusmu sayang? ". tanya Nana mengelus lembut kepala Anna.
"tidak ada masalah kak, semua masih aman terkendali". jawab Anna dengan manja memeluk Nana lebih erat.
yang lainnya hanya tersenyum lembut termasuk Leonard tak henti-hentinya tersenyum, Anna memang sangat menyayangi Nana seolah Nana itu adalah Mama nya setiap kali Loenard bersama Anna, mulut cucunya itu tak henti-hentinya mengocehi hati malaikat Nana dan Nana hanya Nana yang ada di otak Anna.
alhasil semua keluarga Nana memilih mengalah membiarkan Nana dan Anna bersama, Dewi membawa Diah yang manyun seperti anak kecil karna Nana sangat menyayangi Anna seperti adik kandungnya sendiri.
.
"hmmm? ada yang membulimu sayang? ". tanya Nana tak senang
"iya kak..! tapi Anna mau menjadi kuat seperti Kakak maka nya Anna belajar beladiri dengan Caca, Anna bisa memelintir tangan wanita jahat itu lalu mendorongnya sampai tangannya terkilir, dia mengadukanku pada keluarganya tapi Anna tidak takut sampai Papanya datang lalu Anna panggil Kakek datang, Papanya malah berlutut sama Anna Kak..! Haha.. Anna senang sekali melihat wajah pucat wanita jahat itu". celoteh Anna
Nana tersenyum mengelus sayang kepala Anna, "baguslah..! adik kesayangan kakak ini sudah tau cara menjaga diri sendiri, kamu sudah terekspos sayang kakak harap kamu bisa menjaga dirimu sendiri karna banyak orang serakah yang menginginkan posisimu".
"posisi Anna yang mana kak? ". tanya Anna dengan polos.
Nana mengulum senyumnya lalu berkata,, "apa kamu lupa kalau kamu itu adalah Cucu Tunggal Perusahaan Asia Group yang kekayaannya dikatakan bisa membeli 1 negara". Nana menoel-noel gemas hidung Anna.
Anna mengerjabkan matanya, "apa perlu Anna belajar Bisnis juga kak?? Anna sangat ingin seperti kakak bisa Bisnis, bisa mengobati orang lain yang membutuhkan pertolongan, bisa beladiri juga sangat berbakat serba bisa hmm... Kakak multitalenta".
Nana tertawa, "itu sebabnya kamu ingin jadi dokter hmm?? ". tanya Nana menoel sayang hidung Anna.
Anna sangat bahagia hidungnya di toel oleh Nana, hanya Nana seorang yang melakukan hal itu padanya karna setiap kali Nana melakukannya hati Anna menghangat seperti disayang oleh Ibu.
"iya kak". jawab Anna semangat dan Nana tertawa lebar.
"loh.. mana Caca? ". tanya Nana
Anna memanggil Caca, lalu mereka berkumpul bertiga.
"ayo kita shooping? ". ajak Nana
__ADS_1
"besok aja kak.! Kakak masih lelah". tolak Anna memeluk Nana dengan erat lalu menduselkan sisi wajahnya dibahu Nana.
Nana tersenyum lembut mengelus kepala Anna, "kalau begitu ayo kakak ajari beladiri versi kakak.. hmm?? ".
Anna melepaskan pelukannya menatap Nana tak percaya, Nana menyeringai mengelus pipi Anna.
"adik kakak semakin dewasa dan butuh ilmu beladiri yang lebih untuk jaga diri". Kata Nana tersenyum manis.
alhasil Anna dan Caca mengikuti pelatihan Nana yang melelahkan tapi mengapa setelah itu badan mereka semakin ringan, hanya berlari di dalam hutan dimalam hari dan berbagai pelatihan lainnya hanya Nana yang tau efeknya juga pernah merasakannya karna sejak dulu Nana sudah terbiasa hidup di dalam hutan.
berhari-hari Nana melatih Anna dan Caca ternyata membuahkan hasil, hingga disuatu hari Arka meminta ikut karna penasaran kemana saja istrinya pergi bersama adik-adiknya itu ternyata ke hutan.
"kamu kesini sayang? ". tanya Arka tak percaya
"iya sayang". jawab Nana tersenyum manis lalu memasang panahnya di tali busurnya.
hari ini adalah pelatihan memanah dari Nana untuk adik-adiknya, hanya sekali saja pengarahan Nana kedua adik-adiknya itu langsung bisa mempelajarinya karna tutur kata Nana sangat jelas dan langsung ke Intinya tidak bertele-tele, apalagi langsung dipraktek-in.
Syuuuttt....!!
"aaah... meleset..! ". pekik Anna kecewa sementara Caca berhasil mendapatkan targetnya tanpa melukai.
Nana mengajarkan Anna dan Caca cara mendapatkan target yang lari tanpa harus membunuh tapi bisa menahan target sampai mereka datang.
sementara Arka hanya melihat sekeliling, ia heran mengapa setiap Nana masuk hutan tidak ada hewan buas mendekati mereka.
Anna terus berusaha hingga dipercobaan ke-5 ia berhasil dan begitu heboh hingga jingkrak-jingkrak kegirangan bahkan sampai melompat memeluk Caca.
"bagus sayang..! kalian langsung bisa coba kalian memanjat pohon dengan membawa senjata kalian ya?? kakak mau menguji ketangkasan dan kegesitan kalian". pinta Nana
Anna dan Caca dengan semangat menyimpan senjata berubah busur dibelakang punggung mereka lalu memanjat pohon, Anna cukup kesulitan hanya Caca yang berhasil memanjat dengan cepat, Anna tidak pernah memanjat jadi wajar saja ia sangat kesulitan tiba-tiba kakinya tergelincir hingga ia terjatuh
"aaah..!! Annaaa". teriak Caca
Nana pun berlari hendak mengejar Anna lalu menghela nafas lega ternyata Anna jatuh di pelukan suaminya.
tak...!!
"aduuuhh.. sakit bang! ". pekik Anna mengelus keningnya sambil mengerucutkan bibirnya turun dari gendongan Arka.
"dasar Tuan Putri". ledek Arka
"Anna bukan Tuan Putri". bentak Anna berkacak pinggang dengan mata melotot tak senang.
__ADS_1
Nana menggeleng kepalanya melihat tingkah Arka yang suka mengejek adiknya manja yaitu Tuan Putri karna tidak bisa melakukan hal-hal liar hanya tau cara bersikap anggun dan berkelas.
"Kamu tidak apa-apa Anna? ". tanya Caca khawatir
"tidak apa Caca! ". jawab Anna tersenyum lalu segera memeluk Nana dengan manja.
"kak..? Anna bukan Tuan Putri kan? ". tanya Anna ke Nana dengan manja
menurut Anna hanya Nana yang bisa membelanya.
"sayang kamu tidak lihat Anna kesini untuk berlatih kan? jangan meledek adikku manja lagi Bayi besar". balas Nana malah mengejek suaminya sendiri hingga Anna puas meledek dengan menjulurkan lidahnya ke Arka yang mendelik pasrah.
alhasil Arka dijadikan patung malah hanya ditemani nyamuk saja, sementara Nana begitu sabar mengajari adiknya memanjat pohon.
"yess...! Anna bisa kak! ". pekik Anna yang ada diatas pohon
"ayo belajar turun!". teriak Nana
Anna pun turun dengan hati-hati, itu sudah baik bagi Nana karna Anna sudah bisa memanjat sebab menjadi ahli tidak harus instan, tidak masalah hanya bisa sedikit demi sedikit hingga menjadi si ahli yang Profesional di kemudian hari.
hap...!
"terimakasih kak..! ". ucap Anna dengan senang
Nana tersenyum lembut merapikan dedaunan yang menyangkut di rambut Anna juga memegang tangan Anna hingga tiba-tiba Anna meringis.
"kakak sudah tebak ini akan terjadi sayang karna kamu memanjat hampir puluhan kali". kata Nana
Caca melihat hal itu menjadi khawatir, berapa kali Caca membujuk Anna untuk tidak usah berlatih karna itu akan menjadi tugasnya menjaga Anna tapi Anna sudah bertekat ingin menjadi kuat seperti Nana sebagai Kakak juga Idolanya.
Caca tidak bisa berkata-kata lagi jika Anna yang sudah bertekat.
Anna hanya tersenyum senang saat Nana mengobati tangannya,
"tangan ini sangat berarti sayang, kelak tangan ini sangat dibutuhkan menolong orang sakit, kamu mengerti maksud kakak kan? ". tanya Nana
"mengerti Kak..!". jawab Anna dengan senyum manisnya hingga Nana yang gemas melihat mata biru Anna berbinar-binar menoel-noel hidung Anna yang menyeringai senang.
Caca tersenyum melihat Anna yang diperlakukan begitu baik oleh Nana, walau terkadang Nana tegas tapi Nana mengajarkan pada Anna dan Caca bahwa terluka karna pelatihan itu wajar tapi terluka saat berada di medan perang itu baru berbahaya, itu pun tergantung terkena luka nya dimana jika kita pandai dan gesit saat mengelak serangan musuh.
.
.
__ADS_1
.