
.
.
.
Arka dan Nana pergi ke Restaurant, mereka jalan bergandengan tangan layaknya seperti sepasang kekasih sungguhan.
Nana memang memanfaatkan Arka untuk balas dendamnya tapi hati Nana tidak sejahat itu, ia tau balas budi tentu saja tidak akan melupakan kebaikan Arka padanya.
"sudah aku bilang jangan pakai rok mini". peringatan Arka
Nana membiarkan saja Arka yang tengah membungkus tubuhnya dengan jas Kebesaran Arka, Nana memang ditatap oleh Pria lain tapi Nana juga memanfaatkan tatapan mereka untuk membandingkan dirinya dengan Celinne.
Anna dikenal sebagai kekasih sempurna Devano, tentu saja perannya harus dimainkan dengan sangat baik. Nana tidak mau rencananya gagal.
"tunggu sebentar..! ". Nana mengirim pesan pada Yardan
Arka melihatnya hanya diam saja, "kamu bicara apa dengan papamu tadi Nana? ".
"yang jelas Papa tau siapa aku dan memberikan kartu itu padaku, hmm.. Papa pasti khawatir padaku jadi aku harus mengabarinya eeh.. dan ini kedepannya aku akan beli mobil dan Apartemen baru". jawab Nana memainkan kartu sakti nya.
"Apartemenku pakai saja Nana, lagian aku jarang tinggal di Apartemen bahkan hampir tidak pernah". Arka
"benarkah? ". tanya Nana
"iya.. sebenarnya aku punya banyak mobil tapi karna kamu mau beli ya terserahmu saja". Arka
"Apartemen bisa lah karna aku bisa mengembalikannya lagi tapi kalau mobil itu terlalu berlebihan Arka, aku ingin punya sendiri". jawab Nana
"iya". Arka mengelus kepala Nana.
setiap mereka berjalan berdua ada saja yang menatap mereka, iri, kagum, dan sebagainya.
di parkiran
Nana mengerutkan keningnya melihat sebuah motor tiba-tiba mendekatinya tengah memegang sesuatu, "apa tujuannya? ". gumam Nana
Nana mencari batu disekitarnya lalu mengambil batu kecil itu dan melemparnya sekuat tenaga ke tangan Pengendara motor itu hingga botol yang dipegang pengendara itu terjatuh.
"ada apa Nana? ". tanya Arka berlari mengitari mobilnya dan memegang bahu Nana.
"minggir Arka". Nana menepis tubuh Arka lalu berlari ke arah Motor itu yang secepat kilat memutar haluan melarikan diri dari Nana walau tangannya terasa ditusuk pisau, sakit sekali terkena lemparan batu kecil Nana.
sementara Nana mendekati botol yang terlempar itu dan melihat tumbuhan dan semen yang terkena cairan itu mati dan menghitam lalu Nana mengendusnya dan mengepalkan tangannya.
"oh.. mau menggunakan cairan ini untuk merusak kulitku ya? ". gumam Nana menatap lurus kedepan.
__ADS_1
"sudah aku bilang kalau aku sangat cerdas, melawan wanita licik sepertimu aku sudah banyak belajar". seringai Nana.
kali ini ia yakin mereka akan marah besar karna rencananya gagal, Nana sudah curiga saat motor itu datang ke area parkiran mobil tidak mungkin hanya lewat saja sebab jalannya buntu dan Nana menebak itu adalah bagian dari rencana Emma dan Yunus yang tak sengaja Nana lihat tadi saling melempar kode satu sama lain.
Arka berlari ke Nana dan memegang tangan Nana, "ada apa Nana? kenapa motor tadi? ". cecar Arka khawatir.
"ini Cairan perusak Arka! sepertinya pengendara motor itu orang suruhan Emma untuk membuat kulitku rusak, mungkin saja dia ingin melempar nya ke wajahku". Nana.
"kurang ajar..! aku akan datangi dia". Arka hendak pergi menyusul motor itu bukannya berbalik ke mobilnya tapi Nana mencekalnya.
"dia sudah pergi dengan motor, apa yang bisa kamu banggakan dengan kedua kakimu? ". kekeh Nana
"kamu masih bisa tersenyum sayang? ini cairan jika mengenai wajahmu tadi bagaimana? mereka benar-benar keterlaluan, aku akan membunuhnya". geram Arka
"kamu akan membunuhnya? apa kamu seorang pembunuh Arka? ". tanya Nana
Arka terdiam, "bukan..! aku hanya geram dan tidak ada salahnya aku membunuhnya kan? mereka itu hanya sampah masyarakat yang hidupnya berparasit dengan segala rencana dari otak licik mereka, mencari celah ditengah kesulitan orang lain".
Nana tersenyum, "tidak apa..! aku akan membuat mereka menderita nanti, kematian terlalu mudah untuk mereka".
Arka tak lagi berbicara, ia memejamkan matanya menekan semua amarahnya.
"sudah ya? jangan marah". bujuk Nana mengelus dada bidang Arka.
Arka menjadi lebih tenang dan memeluk Nana lalu menarik nafas lega dibahu gadis yang menguasai hatinya
"sebentar saja Anna..! aku benar-benar takut jika cairan ini benar-benar mengenaimu". lirih Arka
Nana tersenyum lembut, "aku sudah mempersiapkan mental untuk menghadapi wanita licik seperti mereka".
"sudahlah.. kan aku baik-baik saja? ayo pulang ke Rumahmu ! aku ingin bertemu mamaku". Nana
"baiklah, nanti tidur denganku ya? ". kata Arka
maksud tidur yang dikatakan Arka hanya tidur bersama dibalik selimut yang sama, tidak lebih.
Nana menyentil hidung Arka, "nakal..!".
Arka terkekeh lalu berlari mengikuti Nana yang berperan menjadi Anna sicentil yang seksi.
.
.
setibanya di Mansion.
"apa ini sayang? kenapa pakaianmu? ". Dewi memegang lengan Nana yang berpakaian seksi tapi jujur saja sangat cantik, hampir saja Dewi tidak mengenal putrinya sendiri.
__ADS_1
"lihat ma! ". Nana mengeluarkan kartu ATM tanpa batas dari Yardan
"apa ini sayang? ". tanya Dewi tidak mengerti
"ini punya Papa ma..! tadi Nana ketemu Papa dan memberikan ini sama Nana, dia juga minta maaf karna tidak menyadarinya lebih cepat". Nana
Dewi hanya bisa menghela nafas panjang, "dari mana dia bisa begitu yakin kalau kamu putri kandungnya hmm? ".
Nana mengeluarkan surat hasil tes DNA miliknya bukan milik Yardan, Nana selalu membawanya.
"dari sini". jawab Nana
Dewi membuka lipatan kertas itu dan melebarkan matanya, "dia melakukan tes DNA denganmu sayang? ".
"iya Ma..! dia benar-benar tidak ingat wajah mama tapi dia ingat tanda lahir didada serta dibawah pusat mama". goda Nana memeluk Dewi dengan sayang.
"ap.. apa? mana mungkin mama punya tanda lahir itu, bahkan mama saja tidak tau". Wajah Dewi tidak tau semerah apa lagi saat ini.
Nana melepaskan pelukannya lalu tertawa gemas melihat wajah Mamanya yang merah, "baru kali ini Nana lihat wajah Mama semerah ini".
"jangan menggoda Mama sayang, mama tidak punya tanda itu". Dewi menangkupkan wajahnya dengan kedua tangannya.
"ada ma, Nana melihatnya sendiri saat kita mandi berdua, Papa tidak melihat wajah Mama tapi ingat bentuk tubuh mama, haha.. Papa pria mesum ma". tawa Nana begitu lepas.
Dewi membulatkan matanya, wajahnya semakin merah darah.
Nana tertawa terbahak-bahak melihat Dewi bergegas pergi memasuki kamar mandinya, sudah hampir 20 tahun berlalu bagaimana bisa Yardan masih mengingat tubuhnya dewi? bahkan disaat Dewi tidak tau ada tanda lahir itu tapi mengapa Yardan tau.
tentu saja Dewi malu, sungguh malu, benar-benar malu hingga ia tidak berani bertatapan dengan putrinya sendiri.
ke esokan harinya.
Nana membantu Dewi membuat sarapan lalu makan bersama Arka dan Diah. Dewi diperlakukan dengan baik oleh Diah, mereka seperti teman.
"mama..? Nana pergi sama Arka ya? ". izin Nana ke Dewi
"iya sayang..! hati-hati ya? Mama tidak mau kamu terluka". Dewi
Diah hanya tersenyum melihat pidato panjang Dewi pada Putri nya itu, jika Diah jadi Dewi mungkin akan melakukan hal yang sama apalagi punya putri secantik Nana.
Arka didalam mobil saja, ia dengan senang hati menunggu Nana.
.
.
.
__ADS_1