
.
.
.
jika Devano dan Nana berbahagia maka di tempat lain seperti biasa Celinne mengamuk dan mengancam meminum racun jika Yunus dan Emma tidak juga bertindak cepat.
"iya.. nak.. iya..! kami sedang mencari orang yang bisa disuruh untuk membunuh Anna tapi bayaran mereka sangat tinggi, maaf ya sayang..! Mama sedang berusaha". Emma
"pakai cara apapun ma...! aku sudah tidak tahan lagi mendengar orang-orang begitu memujanya". jerit Celinne.
"tenang sayang...! Papa juga sudah mengundang beberapa mafia dari kota lain, tapi mereka butuh waktu kesini sayang, mereka tidak butuh uang karna mereka juga menginginkan Anna". Yunus
"benarkah Pa? ". tanya Celinne
"iya sayang. ! iya..! biarkan dia diperko*a banyak lelaki lalu hamil dan Devano akan meninggalkan nya kan? dia hanya akan menjadi jal*ng yang ayahnya tidak tau siapa". Emma mengambil racun yang ada ditangan Celinne.
Celinne menyeringai, "benar juga ma".
"kapan orang itu datang Pa? ". tanya Celinne
"mereka akan datang beberapa hari lagi". jawab Yunus
"kalau perlu tidur* dia mampus pa dan sampai rob*k biar dia cepat bunting". jawab Celinne dengan penuh dendam.
"iya iya". jawab Yunus dan Emma bersamaan.
"setelah itu hancurkan wajahnya ma.. buat wajah Anna menjadi rusak". Celinne
"itu pasti nak..! wajahnya adalah permasalahannya, banyak yang bilang perempuan yang terlahir cantik umurnya sangat pendek, itu karna kecantikan mereka terlalu berbahaya dibiarkan hidup berlama-lama". Emma
"mama benar". Celinne
mereka akhirnya lega karna Celinne tak jadi meminum racun, Celinne semakin tidak sabar akan kehancuran Anna.
beberapa hari kemudian
.
orang-orang yang rela tidak dibayar untuk menyakiti Anna pun datang, Celinne memberi alamat tempat tinggal Anna di Apartemen Bintang. mereka dengan bangga pergi kesana beramai-ramai bahkan sudah tidak sabar menidur* Anna bergiliran.
tubuh Anna terlalu cantik dan seksi, bagi Pria mata keranjang sangat jeli dengan bentuk tubuh alami perempuan, tidak terlalu memperlihatkan keseksiannya Anna tapi mereka sangat-sangat sudah tau betapa seksinya Anna.
"pergilah! ". usir Celinne.
__ADS_1
mereka pun bergerak dan bersorak menaiki mobil bersama-sama seperti mau berunjuk rasa padahal hanya ingin mendatangi Nana.
"Emmaaaa? ". teriak Yunus
Celinne terlonjak kaget dan berbalik lalu berlari memasuki Rumahnya, "Papa?? ". teriak Celinne
Celinne mencari Emma dan Yunus hingga menemukan mereka di taman belakang, Yunus berusaha menggendong Emma.
"Papa..?? kenapa mama?? ". pekik Celinne dengan panik.
"tidak tau tiba-tiba saja dada nya sesak dan sakit, ayo cepat kita antar ke Rumah Sakit". Yunus
Celinne pun berlari mengikuti Yunus, seorang wanita yang tengah bersembunyi pun keluar dari tempatnya.
"sudah berhasil Tuan". kata wanita itu sambil meletakkan ponselnya di telinga nya.
"bagus...! pergilah ke Thailand, keluargamu disana". sahut Yardan.
"baik Tuan". jawab Wanita itu segera pergi tanpa membawa apa-apa karna memang datang ke tempat ini, bekerja di tempat ini tidak bawa apa-apa.
Yunus membawa Emma ke Rumah Sakit, Celinne pun menangis tak henti-henti hingga brankar di dorong bersama-sama dan ternyata Emma sudah tidak tertolong.
Celinne sampai membeku cukup lama dan Yunus terduduk lemas tak menyangka Emma sudah tiada,
"tidak mungkin dokter...! mama saya tidak pernah punya penyakit tapi kenapa tiba-tiba dia bisa meninggal? tidak mungkin dokter..! tadi Papa saya bilang dada mama saya sesak dan sakit dok..? kenapa langsung meninggal? ". pekik Celinne mencengkram leher jas si dokter dengan marah
"ada pemberhentian saluran pernafasan hingga dadanya sesak dan kalian semua terlambat mengantarnya, maafkan kami yang tidak bisa berbuat apa-apa". kata dokter memberi hormat
"tidaaakkkk...! kalian tidak boleh pergi..! selamatkan Mamaku..! ". jerit Celinne.
Suster yang lain melepaskan Celinne dari jas dokter yang ditarik oleh Celinne hingga Celinne terjatuh di lantai dan Yunus yang baru saja tersadar pun membantu Celinne.
"tidak mungkin Pa..? ini tidak mungkin, Mama tidak punya penyakit apapun kenapa bisa meninggal? ". isak tangis Celinne
Yunus memeluk Celinne dan ikut meneteskan air matanya, ia tidak menyangka Emma akan pergi secepat ini dalam situasi yang tidak disangka-sangka.
keluarga kecil Yunus pun berduka, Celinne lah yang paling menderita.
pemakaman Emma pun dilakukan hari itu juga, kini Celinne dan Yunus ada di pemakaman, Yunus mengelus punggung Celinne sambil mengelap air matanya yang juga jatuh.
Celinne terisak-isak di atas tempat peristirahatan Mamanya, ia tak menyangka Mamanya akan pergi secepat ini.
di dalam perjalanan pulang, "Papa? apa jangan-jangan Mama diracuni? ". tanya Celinne tiba-tiba
mata Celinne sudah bengkak karna menangis dari pagi sampai sore
__ADS_1
"diracuni? maksudmu nak? siapa yang berani meracuni Emma? bukankah di Rumah hanya ada kita-kita saja?". tanya Yunus
"pembantu itu Pa". tebak Celinne.
"kurang ajar..! kita habisi dia". Yunus segera memijak gas mobilnya supaya cepat sampai di Rumah.
setibanya di Rumah Celinne semakin yakin kalau mama nya diracuni bahkan Yunus pun berteriak memaki pembantu itu yang sudah menghilang entah kemana.
"pasti ibu dari Nona Presdir itu yang melakukannya Pa.. pasti dia.. hiks.. hiks.. dia pasti balas dendam pada Mama yang dulu membunuhnya". isak Celinne dengan mata yang kembali memerah dan menangis.
"apa kamu ingat mamamu pernah memberi foto wanita itu sayang? ". tanya Yunus
"tidak Pa..! aku tidak tau wajah wanita itu bahkan anaknya saja aku tidak tau". jawab Celinne
sejak kepergian Emma, hidup mereka berubah total. mereka cukup tertekan akan kepergian Emma apalagi Celinne yang terus saja menangis dan bersumpah akan membalas kematian Emma pada wanita yang merebut posisi mamanya padahal sebenarnya terbalik.
di tempat lain.
Anna merasa yakin tengah diawasi, "apalagi ini? apa utusan si licik juga? ". gerutu Nana.
Nana sangat peka terhadap hal itu, karna hidup didesa membuat instingnya begitu kuat, wajarlah karna untuk bertahan hidup harus seperti itu.
"lebih baik aku disini saja". jawab Nana dengan enggan keluar Apartemen.
Nana pun memilih berenang, Ara yaitu asisten Nana pun masuk ke Apartemen Nana membawa beberapa berkas penting, tidak ada yang mengira mereka adalah bos dan bawahan malah menebak hanya teman yang saling berbagi ilmu bisnis.
"Nona? ". panggil Ara mengedarkan pandangannya.
Ara terus mencari Nana hingga sampai di Kolam berenang dan menghela nafas lega.
"Nona? anda disini". keluh Ara memilih meletakkan berkasnya supaya aman tidak terkena cipratan air lalu melepaskan heelsnya dan duduk sambil memasukkan kedua kakinya ke dalam kolam.
walaupun berkasnya tidak akan basah tapi namanya berkas penting harus dijaga dengan baik.
"ada apa Ara?". tanya Nana yang kini sudah menepi.
"biasa Nona". jawab Ara tersenyum melihat berkas yang terletak lumayan jauh darinya.
"baiklah..! biarkan aku berenang ya?". Nana
Ara pun tersenyum dan mengangguk, Arsyarah dengan sabar menunggu Nana selesai berenang, saat Nana keluar dari kolam berenang selalu saja Ara berdecak kagum padahal bukan pertama kalinya ia melihat tubuh Nana.
.
.
__ADS_1
.