
.
.
.
"tapi aku baik-baik saja Honey". kata Nana dengan senyuman.
"jangan terlalu baik padanya Sayang! ". peringatan Arka
"aku tidak baik padanya Honey..! dia tadi memintaku untuk ikut acara yang ada disana". adu Nana
"acara apa? ". tanya Arka mengerutkan keningnya sambil memasangkan Jas nya dengan benar ditubuh Nana.
"Celinne bilang wajahku Palsu dan harus diuji dipermainan sana, aku menolak karna menurutku tidak penting tapi saat aku berbalik dia malah menjambak rambutku dan tiba-tiba menyiramku, mereka semua melihatnya..! iya kan? ". tanya Nana dengan dramatis ke orang-orang yang menontonnya.
"iya". jawab mereka semua serentak.
"Celinn.. oh Celinn...! aku bisa menurutimu tapi kenapa malah didepan umum hmm? kalau begini namamu bisa tercemar". kata Nana dengan polos mengelap wajahnya dengan tisu dan melemparnya ke Celin.
"lihatlah..! apa ditisu itu ada bedaknya? aku dianugerahkan wajah yang indah dan tidak perlu bermake up, aku bermake up kalau lagi mau saja tapi kalau fashion aku tidak mau kalah". Nana tersenyum puas melihat wajah pucat Celinne melihat tisu-tisu itu bersih hanya basah saja tidak ada setitik bedakpun diwajah Nana.
"ba.. bagaimana bisa?". cicit Celinne keheranan memilah-milah tisu-tisu itu memang tidak ada apapun.
"anak ini harus diberi pelajaran". geram Arka hendak mengambil air mineral didekatnya tapi Nana mencegahnya.
"sudahlah Honey..! ayo kita pergi..! aku sangat kedinginan dan harus beli baju ganti". rengek Nana merangkul lengan Arka.
Arka menghela nafas pasrah, "sudah aku bilang jangan terlalu baik padanya sayang..! dia bisa melunjak".
"kamu membentakku Honey? ". Nana sudah berkaca-kaca.
Arka menangkup pipi Nana dan meminta maaf, ia hanya tidak ingin ada orang yang menyakiti Nana tapi Nana bukannya melawan malah bersikap baik pada mereka.
Endra berdecak kagum akan hati Nana yang baik, orang-orang disekitarnya pun memuji Nana betapa beruntungnya Arka tapi mereka malah menatap sinis ke Celinne yang jahat.
tidak ada yang tau isi hati Nana yang tertawa puas semua orang begitu menyukainya karna baik, malah nama Celinne semakin jelek, Arka menggendong Nana yang melingkarkan tangannya dileher Arka dan menyembunyikan wajahnya di bahu Arka.
Endra membawa Troly belanjaan Nana, semua orang mencela Celinne hingga Celinne memutar kepalanya melihat Nana yang tersenyum seolah mengejeknya hingga Celinne membulatkan matanya.
"a.. a.. apa dia mempermainkanku? ". jerit Celinne dalam hati.
Celinne yang sudah kehilangan muka segera bangkit dan berlari keluar dari Mal itu secepat mungkin, ia menerima panggilan telfon dari Emma dan memintanya melihat sosmed.
Celinne mematikan panggilannya dan melihat akun media sosialnya hingga ia terpekik, orang-orang yang mendengarnya menunjuk-nunjuk Celinne entah apa yang dibahas mereka yang pasti tengah menggunjingi Celinne yang jahat seperti ibu tiri.
.
.
Nana masih bisa bersenandung memakai baju gantinya, ia tersenyum manis karna rencananya berhasil.
"sentilan kedua berhasil.. !". batin Nana begitu puas.
__ADS_1
Nana keluar dari ruangan gantinya dan Arka menggeleng keras kepalanya melihat pakaian Nana.
"udah ya Honey..! aku lelah ganti terus, kepala aku sudah sedikit pusing". keluh Nana.
Arka mengedarkan pandangannya dan mengambil jaket hingga Endra menahan tawa melihat betapa posesifnya Tuannya itu tidak ingin tubuh Nana dilihat orang lain.
setibanya di Apartemen.
"apaa? kamu mau tidur disini Arka? kenapa? ". cecar Nana tak percaya.
"sayang..! gara-gara kamu aku gagal ke Bandung dan besok aku harus kesana, disini lebih dekat dengan Bandara sayang, aku numpang tidur disini ya? ". Arka membaringkan tubuhnya di sofa.
"lalu Endra? ". tanya Nana
"saya pulang Nona". jawab Endra
"kan bisa nginap sama Endra, Arka. kenapa mesti sama aku? ". tanya Nana
"tidak bisa Nona..! " jawab Endra membuat bibir Arka melengkung puas akan jawaban Endra.
"kenapa? kenapa tidak bisa? ". tanya Nana memicingkan matanya.
"saya tinggal sendiri Nona, jika saya membawa Tuan Muda ke Rumah saya bisa berbahaya..! kami dibilang tidak normal padahal saya masih normal nona". jelas Endra
"lalu kami bagaimana? lalu kami normal? ". tanya Nana dengan kesal
"maafkan saya Nona". Endra buru-buru pamit pergi hingga Nana berdecak sebal.
"jangan coba-coba masuk ke Kamarku! ". ketus Nana
Nana pun pergi ke kamarnya, Arka melihat ponselnya dan sekali lagi tak bisa menahan senyumnya karna Nana membuat Celinne jatuh sejatuh-jatuhnya, padahal baru semalam Yunus juga jatuh sampai Yunus tidak bisa bekerja karna tak bisa fokus.
Yardan yang memberitau Arka.
.
.
Nana memainkan komputernya, ia sudah memperbaiki Data-data yang hilang hampir 20 tahun yang lalu di Hotel Bandung.
"lebih cepat dari perkiraanku". senyum lebar Nana.
kepala Nana memakai handuk, ia enggan mengeringkan rambut dengan teknologi karna malas, dan Nana sudah terbiasa mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk.
Nana menonton semua rekaman CCTV yang telah diperbaiki olehnya hingga senyumnya melengkung sempurna.
"woww..!! wanita licik ini akan binasa". senyum menawan Nana.
Nana dapat bukti kalau yang bersama Yardan bukan Emma melainkan Dewi, bahkan saat Dewi keluar dari kamar itu pun terlihat jelas, CCTV lain malah Emma salah masuk kamar yang ke esokannya Yunus lah yang keluar dari kamar itu.
Nana mencari rekaman CCTV di hotel itu lebih detail, jika Nana sudah mendapatkan 1 alamat surel maka Nana bisa dengan mudah merajai semua CCTV yang ada di tempat itu, tapi tidak menemukan apa-apa yang membuktikan Yunus dan Emma tidur bersama, alias dikasur yang sama.
Nana tersenyum lebar, ia akan mencari di Hotel yang ada di Jakarta, Nana bukan orang bodoh. Ia yakin mereka masih berhubungan sampai sekarang, itu sebabnya Nana akan mencari bukti Yunus dengan Emma.
__ADS_1
"sekarang aku tinggal menyusun rencana untuk menyentil Wanita licik ini". seringai Nana.
betapa hebatnya Nana membalas dendam, ia bermain cantik yaitu menjatuhkan harga diri lawannya, Nana akan memperlihatkan pada Dunia betapa kotornya orang-orang yang telah menyakiti Mama dan Papanya.
malam-malam
Nana mencium aroma masakan, Nana berjalan tanpa alas kaki ke arah dapur.
"Arka? ". panggil Nana
"ayo duduk..! kita makan! ". ajak Arka tersenyum lembut.
Nana tersenyum lebar dengan senang hati duduk dikursi meja makannya, Arka meletakkan hasil masakannya ke Nana.
"ini apa? ". tanya Nana
"bukankah Anna si kekasih Sempurna Devano hmm? kenapa ini saja tidak tau hmm? ". gemas Arka
"ini mie? ". tebak Nana
Arka tertawa keras hingga Nana mendelik kesal,
"Arka..? ". kesal Nana
"ohh.. iya.. Nana.. ahaha.. maaf..! itu pasta". jawab Arka menahan tawanya sekuat tenaga.
.
.
"katakan padaku..! apa tadi rencanamu hmm? ". tanya Arka
"tentu saja! ". jawab Nana tersenyum.
"kamu hebat sekali sayang! ". puji Arka
Nana hanya balas dengan senyuman lalu fokus dengan makannya,
jika Arka dan Nana bahagia dengan rencana masing-masing, maka Celinne begitu terpukul, sekali lagi ia kena marah Yardan yang selalu membuatnya malu padahal Celinne bukan anak kandungnya.
"kenapa Celinne? ". tanya Emma
"aku kena marah sama Papa ma". isak Celinne
Emma berdecak, "laki-laki itu sudah sangat keterlaluan..! aku akan tambah kapasitas racun makanan dia sekarang juga". geramnya
"Mama meracuni Papa?". tanya Celinne sesegukan.
"iya..! dia sudah makan racun setiap malam". kata Emma dengan seringai.
.
.
__ADS_1
.