Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
melahirkan


__ADS_3

.


.


.


Brankar di dorong, Arka menyelimuti Nana dengan jaketnya ia menggenggam tangan Nana yang meremas tangan Arka dengan kuat.


Arka seakan merasakan rasa sakit Nana dilihat bagaimana caranya Nana meremas kuat genggaman tangannya tapi Arka tidak marah, ia akan berjuang bersama Istrinya walaupun dirinya hanya dijadikan tempat amukan sang Istri menyalurkan rasa sakitnya ke Arka.


beberapa pengawal bayangan Arka langsung bergerak mengamankan orang-orang yang takutnya menghalangi pekerjaan dr. Heny.


"kemana?? ". tanya Arka ke Dr. Heny


"Kiri Tuan! ". jawab Dr. Heny


Brankar didorong sebelah Kiri sampai masuk ke Ruang Persalinan.


"Nyonya saya mohon tidak boleh masuk! ". Suster menghentikan Diah


Diah mengangguk dan berdiri diluar ruang persalinan menunggu kabar, pintu tertutup dan Diah menangkupkan tangannya seakan berdoa pada yang maha kuasa untuk memudahkan kelahiran menantu kesayangannya.


di Ruang Persalinan, semua suster sibuk membantu Dr. Heny sedangkan Nana masih terlihat kesakitan tapi tidak memaki atau berteriak hanya mengatur nafasnya dengan keringat bercucuran.


"sayang..? marahlah padaku, lakukan apapun padaku sayang". kata Arka ke Nana sambil mengelap wajah Nana.


Nana berusaha untuk tersenyum, "aku menantikan anak-anak kita say. ang.. ti dak mung kin ak.. ku marah".


Arka menggeleng kepalanya, "jangan berbicara ya? simpan tenagamu sayang".


Nana mengangguk,, "aaahhhh".


Arka mencium pelipis Nana, ia berkali-kali memberi kecupan pada Nana seolah menyalurkan kekuatan lewat kecupannya itu.


"kita tunggu 1 jam lagi Tuan, sepertinya Nona Nana bisa melahirkan normal". kata dr. Heny


"apa tidak bisa sekarang dok? kasihan istriku kesakitan". sahut Arka


"tidak bisa Tuan, jalannya belum ada masih buka 8". jawab dr Heny tegas.


Arka pun tak lagi berkutik hanya tetap setia menemani Nana, Dr. Heny meminta Suster mengambilkan kantong darah untuk Nana supaya tidak kekurangan Darah, Arka tau golongan darah istrinya langka dan dirinya sudah menyiapkan kantong darah untuk istrinya jauh-jauh hari walau harus disetiap sudut rumah sakit yang ada di negara Indonesia.


Arka menghargai 1 kantong darah seharga 50 juta, tentu saja bagi Masyarakat yang memiliki golongan darah yang sama dengan Nana mau mendonorkan darahnya apalagi jumlah uang yang ditawarkan untuk si pendonor, dalam 10.000 orang mungkin hanya 1 yang memiliki golongan darah yang sama dengan Nana, itu sebabnya Arka menghargai mahal harga 1 kantong darah itu.


Arka adalah Suami idaman yang sudah mempersiapkan segalanya demi Nana dan buah hatinya,


"sayang?". Arka terlihat menahan tangis melihat keadaan Nana.

__ADS_1


Nana berusaha untuk tersenyum dan tangannya gemetar memegang rahang Arka, Arka menggenggam tangan Nana lalu memberi kecupan-kecupan cintanya disana.


"ahhhh..! sayang..? kuku ku cepat potongkan". pinta Nana ke Arka.


Arka menggeleng kepalanya, "biarkan saja".


Nana takut melukai suaminya tapi Arka malah tidak mau melepaskan tangan Nana walau hanya sedetik, 1 jam menunggu tibalah saatnya Dr. Heny melakukan tugasnya.


"kita sudah bisa melakukan prosesnya". kata Heny dengan serius mengganti sarung tangannya.


"siapkan semuanya! ". titah Heny ke para suster yang membantunya.


"iya dok". sahut semua Suster serentak.


"tarik nafas dalam-dalam Nona". pinta Heny


Nana menarik nafas dalam-dalam lalu menerima intruksi Heny yang menjelaskan dengan serius, lalu bertanya apakah Nana bisa melakukannya dan mendengar perkataannya tentu dibalas anggukan oleh Nana.


"tarik nafas Nona jika saya bilang dorong.. maka dorong tapi kalau saya bilang berhenti harus berhenti". kata Heny sekali lagi pada Nana


Nana mengangguk-anggukkan kepalanya, tangan Nana sudah meremas kuat tangan Arka.


"dorong...!! ". pinta Heny


"aaaah..... hmmmm....?? ". Nana mendorong dengan segala kekuatannya.


"berhenti Nona". teriak Heny


Arka menghapus air matanya, perjuangan Nana melahirkan buah hatinya membuat Arka menangis, ia bersumpah setelah ini tidak akan menyusahkan Istrinya, Arka akan mengurus anaknya sampai Nana pulih.


"dorong..! ". Heny


"aaahhhhhccchhhhh". Nana mendorong lagi dan terdengarlah suara bayi yang mengisi ruangan persalinan.


Arka menoleh ke arah Heny, ia memalingkan wajahnya sebab ia tidak sanggup Arka kembali melihat ke Nana sebab bayinya penuh dengan darah, darah wanita yang sangat ia cintai membuat hati Arka ter iris.


"sayang? ". Arka menatap istrinya mencium kening Nana berkali-kali.


Arka jadi teringat Mommy Diah pasti merasakan kesulitan melahirkan Arka saat bayi, membayangkannya saja membuatnya menyesal ingin sekali bersujud pada Diah yang telah melahirkannya ke dunia ini.


"bersihkan! ". pinta Heny ke Suster yang siaga


"baik dokter". jawab Suster itu menerima bayi laki-laki yang diberikan Heny pada nya.


"aaah... ". terpekik kali ini meremas dan menjambak rambut Arka.


Arka tetap memegang tangan Nana sambil menangis bukan karna sakit dijambak Nana tapi merasakan rasa sakit Istrinya saat melahirkan.

__ADS_1


"Arkaaaa....!!! ini semua karnamu...! ". jerit Nana


"aaah.. tidaak.. sakiiit... " jerit pilu Nana.


"aaah...! ". pekik Nana menggeleng-geleng kuat kepalanya.


Arka menangis seperti anak kecil.


"Nona tahan..! kumpulkan tenaga". teriak Heny


Nana masih menjambak rambut Arka dan menarik nafas dalam-dalam lalu mendengar Heny memintanya untuk mendorong tentu Nana lakukan, kali ini Nana seperti wanita bar-bar menjambak dan menyakiti suaminya.


suara bayi akhirnya terdengar oleh semua suster sampai keluar ruangan, jambakan Nana dikepala Arka pun melemah, Nana melepaskan tangannya dikepala Arka tanpa Nana sadari Nana sudah mengambil beberapa helai rambut suaminya.


Para suster ada yang ingin tertawa melihat perbedaan Nana saat melahirkan kedua bayinya, bisa-bisanya melahirkan bayi keduanya malah menyakiti Arka padahal saat melahirkan anak pertama nya (laki-laki) tidak seheboh itu juga.


"sesuai hasil USG Nona.. Tuan.. Bayi kedua perempuan". kata Heny lalu memberikan bayi itu ke Suster yang menunggunya.


"tolong jangan biarkan Nona Nana tertidur Tuan". pinta Heny ke Arka.


Arka tidak menjawab tapi langsung mengajak Nana berbicara.


"sayang..? anak kita sudah lahir". kata Arka terharu menciumi seluruh wajah Istrinya.


Nana tersenyum dengan wajah pucatnya.


"lebihnya biar aku yang lakukan sayang, biar aku yang membesarkannya kamu bisa bekerja setelah pulih sayang". Arka berkata dengan nada bergetar


Nana tersenyum lembut, tangannya yang gemetar mengelus rahang Arka.


Arka adalah Pria yang baik dan Nana semakin mencintai Suaminya, Arka tidak akan merepotkan Nana saking terharunya Arka melihat perjuangan Nana melahirkan anak-anaknya.


"kita besarkan bersama sayang". jawab Nana dengan lemah.


Arka mengangguk-ngangguk mencium punggung tangan Nana, seketika Nana tertegun melihat banyak luka di lengan dan tangan Arka belum lagi kening dan telinga Arka berdarah.


"sayang? aku menyakitimu". Nana merasa bersalah telah menyakiti Surganya.


Arka menggeleng kepalanya, "luka ini tidak seberapa sayang".


"tapi kamu berdarah sayang". kata Nana khawatir


"darah ini hanya setetes dibandingkan darahmu yang habis melahirkan anak-anakku". Arka berkaca-kaca mengatakannya.


betapa beruntungnya Nana memiliki Arka bahkan para suster yang mendengarnya pun senyam-senyum termasuk Dr. Heny.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2