Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
lain


__ADS_3

.


.


.


Arka menekan bel Apartemen nomor 1101, tak berapa lama kemudian muncullah Roni.


"siapa? ". tanya Pria itu dengan mata terpejam,


Roni terlihat berantakan seolah baru saja bangun tidur, keliatan sekali dari penampilannya bahkan lupa memakai topeng wajahnya.


"Om Roni? ". Arka terbelalak kaget melihat Pria itu.


"siapa yang kamu maksud Roni? saya Robert". sahut Roni memegang wajahnya alhasil ia tersadar.


"haiisshhh". maki Roni segera menutup pintu tapi Nana sudah menahan dengan heelsnya.


berulang kali Roni memaksa untuk menutup pintu tapi Arka yang tersadar mendorong dengan keras hingga pintu terbuka lebar dan Roni terjengkang.


Roni berusaha untuk berdiri namun Nana dan Arka langsung masuk ke kamar itu seolah kamar yang diinjak mereka sekarang adalah kamarnya saja.


"ma.. mau apa kalian? ". Roni melangkah mundur dengan cara ngesot kebelakang.


Nana menutup pintu dengan keras hingga Roni terlonjak kaget.


"nah..? bagaimana?? ". seringai Arka


"sebenarnya apa mau om? apa om benar-benar jatuh cinta pada istriku hah? ". tanya Arka dengan nada meninggi.


Nana memainkan kuku-kukunya persis seperti dirinya saat menjadi Anna, Roni menggeleng-geleng kepalanya.


"itu tidak benar Devano..! aku.. aku.. aku ehh.. Om hanya sekedar mengidolakannya saja, tidak lebih". bela Roni dengan keringat yang terus membanjiri pelipisnya.


"mengidolakannya tapi membayar para preman untuk membawa istriku?? apa om pikir aku anak yang bodoh?? ". bentak Arka.


"bedeb*h...!! aku masih mengingat perkataanmu sehari setelah Papaku tiada kau meminta Mamaku untuk menjadikan kau Papaku kan?? aku masih mengingatnya dengan jelas". kata Arka dengan wajah dingin tak bersahabat.


glek..!!


"s.. saat itu Om hanya bercanda". bela Roni

__ADS_1


Nana melihat gelagat Roni seperti sedang mencari sesuatu dan mata Nana menangkap sesuatu di meja tepat didekat ranjang, ia berjalan santai dan mengambil topeng plastik yang ia lihat.


"ini dia..? wajah pria bernama Robert? ". tebak Nana dengan senyuman tipisnya.


"ja.. jangan..! a.. aku..Om membelinya seharga ratusan juta, itu sangat mahal dan didesain khusus hanya untuk Om, jangan dirusak ya? ". pekik Roni kaget lalu melunak dan mencicit takut Nana tersinggung.


Nana tersenyum miring lalu menatap sekeliling hingga matanya menemukan tong sampah, tak lupa Nana mengambil korek api yang tak jauh dari topeng wajah itu sebab Roni seorang perokok berat.


"jangan... jangaaannn! ". teriak Roni bangkit berlari ke arah Nana.


Arka memukul leher Roni hingga terjatuh kembali sambil memegang leher Roni yang terasa mau putus di pukul oleh Arka.


"berani om meneriaki Istriku, aku bahkan tidak pernah berteriak padanya". kata Arka dengan tatapan dingin dan bencinya.


Nana membakar topeng plastik itu karna terbuat dari plastik tentu mudah terbakar saat terkena api, Roni berteriak histeris memegang lehernya seolah hal itu adalah harta berharganya.


Roni berdiri, "dasar sialaaaannn...! berani kau merusak harta berhargakuu". jerit Roni dengan frustasi.


"Oupsss...!! sorry, aku tidak sengaja, sebenarnya aku cukup kesal dengan benda itu aku cukup sulit menemukan om". kata Nana.


Roni berteriak hendak menyerang Nana tapi Arka sudah memukul dan memukul Roni,


"itu semua belum seberapa dengan semua yang sudah om lakukan padaku, pertama ingin menjadi Papaku? penggantinya?? lalu kau pergi namun saat kembali kau mengincar istriku? apa kau tidak bisa berkaca hah?? apa masalahmu padaku?? ". maki Arka.


Arka terdiam, "apa maksudmu bicara begitu ha?? ".


Roni melihat Arka yang sedang melemah segera mendorong Arka hingga terkena dinding tapi Nana yang tak terima melihat itu melepas heelsnya


brakhhh!!


dan ternyata Nana melempar heelsnya sekuat tenaga ke arah Roni hingga Pria paruh baya itu jatuh pingsan, dengan kening berdarah.


Nana tidak merasa bersalah sama sekali, padahal dirinya seorang dokter bisa-bisanya Nana menyakiti orang, Nana malah berlari membantu Arka yang terdiam.


"sayang?? kamu tidak apa-apa? ". tanya Nana


Arka beralih menatap Nana dengan dalam, "apa maksud perkataan Om Roni sayang? apa maksudnya Papa dibunuh?". tanya Arka dengan suara lirih dan gemetar.


Nana tidak tau mau bicara apa, Nana tidak bisa menghibur Arka yang terlihat langsung down saat mendengar perkataan Roni.


"sayang..? bisakah kita urus masalahmu nanti? kita apakan Pria ini? ". tanya Nana

__ADS_1


"buang ke laut lepas". jawab Arka


Nana kaget mendengarnya, "maksudmu sayang? kenapa dibuang ke laut lepas? kamu mau membunuhnya? ".


"iya..! siapapun Pria yang menginginkan istriku harus mati". kata Arka memejamkan matanya.


Nana sampai tertegun, "kamu bicara apa sayang? kenapa perkataanmu seperti seorang Psikopat? ".


"benarkah? lalu menurutmu aku bisa memaafkannya sayang? dia menyewa para preman untuk membawamu, entah apa tujuannya aku tidak bisa memaafkannya, apapun yang menyangkut dirimu aku tidak bisa berbesar hati". kata Arka dengan serius.


Nana mengerjabkan matanya berkali-kali, ia tidak tau mengapa Arka begitu kejam? padahal sebelumnya Arka tidak pernah sejahat ini? apa segitu frustasinya Arka mendengar perkataan Roni tadi? apa Roni menjadi pelampiasan?


Arka mengeluarkan ponselnya dan meminta seseorang menjemput Roni, tidak butuh waktu lama sudah ada Pria berpakaian rapi seperti seorang dokter dan perawat membawa pergi Roni dari hotel.


Nana tidak bisa berkata-kata lidahnya terasa kelu, ia menatap Arka yang kini meringkik di sudut ruangan, sejak tadi Arka menghubungi Endra meminta Asistennya itu mencari tau kebenaran hari kematian Papanya bahkan meminta Endra mendatangi RS dahulu dan melihat hasil pemeriksaan Papanya.


"sayang..? bisakah kita pulang dulu?? anak kita sedang menunggu kita pulang". Nana memelas ke Arka.


Arka terpaku lalu matanya menatap Nana yang tersenyum lembut,


setibanya di Apartemen Arka,


Arka meminta Nana untuk membawanya ke Apartemen, sebab Arka tidak mau pulang memperlihatkan betapa tidak berdaya nya Arka saat ini pada anak-anaknya yang memujinya Keren.


bagaimana bisa Arka tidak menyadarinya? Arka adalah Pria yang pintar, ia tidak pernah berpikir bahwa kematian Papanya itu disengaja.


Nana tidak bisa memaksa Arka yang terlihat terpukul, ia meminta Arka harus makan sebelum Nana pulang melihat keadaan anak-anaknya.


"kamu tenang saja sayang..! anak-anak kita akan mengerti mengapa Papanya tidak pulang, aku akan katakan pada mereka kamu lembur bekerja, bertahanlah ". kata Nana mengelus rahang Arka.


Arka mengangguk lemah, Nana baru pertama kali melihat sisi lemah Arka seperti ini, apa segitu merasa bersalahnya Arka? apa yang Arka pikirkan hingga dirinya bisa terpukul dengan menghukum diri sendiri.


.


Nana tiba di Mansion Arkatama, ia ternyata melihat anak-anaknya tengah berbahagia bercerita dengan Kakek, Neneknya yang baru satu hari sekolah.


"dari mana Om Roni tau Papanya Arka itu...? sebenarnya apa maksud perkataannya? huuh... mendengar perkatannya saja sudah membuatku marah, pantas saja Arka begitu marah tadi, Arka seperti punya kepribadian lain jika menyangkut Papanya". batin Nana.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2