
.
.
.
Nana bekerja seperti biasa tidak melarang Putra-putrinya ada di Kantornya, mau bagaimana lagi? anak-anak Nana pasti tidak suka dikurung walau disangkar emas sekalipun, tapi Nana tidak tau harus berbuat apa lagi? Nana tidak bisa melarang walau ia khawatir.
"aku dan Papa sudah mengutus seseorang untuk mengkawal anak kita sayang, kamu tau kan kami ahli memiliki pengawal bayangan? ". bisik Arka.
Nana mengangguk, "dulu saat aku dikampung sangat bebas sayang tidak pernah ada rasa takut seperti sekarang".
Arka menatap sedih istrinya, "maafkan aku ya?".
"kenapa sayang minta maaf? ". tanya Nana heran ke suaminya.
"aku pikir dengan uang bisa membahagiakan anak kita tapi nyatanya aku malah membuatmu gelisah dan takut". cicit Arka seperti anak kecil yang merasa bersalah telah menyusahkan Nana.
Nana tersenyum lembut mengelus rahang Arka, "maafkan aku ya? gara-gara aku sayang jadi khawatir dan berpikir aku menyesal menikahimu? kamu dengar sayang, aku mencintaimu apapun yang ada tentangmu tidak akan aku sesali, hidup itu tidak sealu enak sayang".
Arka mengangguk membenarkan,
"lihatlah Anna? dia memiliki harta yang berlimpah apa menurutmu dia bahagia? tidakkan? dia selalu ditimpa masalah karna keluarga-keluarga jauhnya yang menginginkan Perusahaannya". Nana
Arka mendelik, "itu karna dia manja sayang".
"kamu selalu mengejeknya manja, aku tidak mengerti dengan pemikiranmu suamiku, apa menurutmu perempuan manja hidupnya enak?". decak Nana.
Arka tersenyum kikuk, "maafkan aku sayang, dia seperti itu karna kakeknya sakit".
"itu sebabnya aku khawatir dengannya sayang, dia ingin menjadi dokter tapi karna dia Cucu tunggal Kakek Leonard harus berdiri sendiri menjalankan Perusahaan Asia Group". keluh Nana.
"sayang, bukankah apa yang dia lakukan sama sepertimu hmm? dia bisa belajar bisnis tapi kemampuan otaknya di ilmu kedokteran juga di acungi jempol kan? dia bisa menyelamatkan orang walau dia menjadi seorang pembisnis". kata Arka.
"aku berharap akan ada Pria yang mencintainya dengan tulus lalu rela mengorbankan segalanya melawan penjajahan keluarganya yang rumit". gumam Nana.
"bukankah diam-diam kamu membantunya sayang?". gemas Arka.
"kapan aku membantunya?". Nana mendelik menatap arah lain tanpa berani menatap mata suaminya.
__ADS_1
Arka terkekeh, "kamu hanya tidak ingin adikmu tau kalau kamu tidak mempercayainya kan? dia adalah cerminan dirimu, percayalah dia akan bangkit dengan sendirinya walau masuk ke lubang terpuruk sekalipun".
Nana menghela nafas, "aku takut anak-anakku akan seperti Anna sayang".
"ssstth....! pikirkan saja om Roni ya? aku sudah mencari tau keberadaannya di Afrika, sepertinya dia Operasi Plastik, orang-orangku sulit menemukannya". Arka
Nana melihat ke arah Arka, "benarkah? tapi identitasnya masih sama".
"itulah yang membuatku tidak mengerti sayang". keluh Arka.
Nana menatap lurus kedepan, entah apa rencana Roni itu nanti.
Nana segera bangkit dan berlari ke meja kerjanya, Arka yang melihatnya juga ikut berlari ke arah Nana, ia melihat layar komputer Nana dimana tangan Nana begitu cekatan mengotak-ngatik komputernya.
"bagaimana sayang? ". tanya Arka
"tunggu...! aku sedang melacak nomor sebelumnya". jawab Nana
Arka melihat jemari tangan Nana yang sangat terlihat seksi saat bermain dan menari di keyboard komputer itu, Arka terpana hingga melamun menatap istrinya begitu lekat.
"sayang...! dia sudah ada di Jakarta !!". pekik Nana sampai berdiri dari duduknya.
Arka tersentak sedangkan sikembar masih asik dengan mainannya seolah tidak mendengar perkataan Nana dan Arka.
"sayang..! lihat titik ini". pinta Nana menunjuk dengan serius.
"baiklah..! aku cari tau sayang". Arka buru-buru mengeluarkan ponselnya menghubungi kepala pengawal bayangannya.
"cari tau semua para penumpang pesawat 1 minggu terakhir ini dari Afrika". titah Arka.
tut.. tut..
Arka mematikan panggilannya secara sepihak namun alisnya mengkerut melihat Nana masih asik mengotak-ngatik komputernya dengan raut wajah serius.
"bedeb*h...!! tidak ada yang bisa lari dari seorang Nana". gumam Nana dengan tatapan sinis.
"kenapa istriku persis seperti seorang Ratu Mafia? ". batin Arka.
"aku ragu dia tidak pernah membunuh orang, tatapannya lebih mengerikan dari seorang pembunuh malah seperti seorang pemburu yang mencari mangsanya walau bersembunyi kelubang semutpun". batin Arka menelan salivanya.
__ADS_1
Nana seperti seekor Singa lapar yang mencari targetnya seekor kelinci, kelinci itu seperti sedang bersembunyi di lubang tikus tapi Singa lapar ini tidak mau pergi malah tetap menargetkan kelinci yang sama walau harus mengais-ngais tanah sampai kukunya copot sekalipun.
brak...!!
"dapat kau.. !!". seringai Nana mendapatkan tiket penerbangan Chevroni yang membuat tanda pengenal Afrika yaitu Robert.
"sayang? apa yang dapat? ". tanya Arka semakin mendekat melihat layar komputernya.
Nana menyeringai tipis, ia tak gencar mengotak-ngatik komputernya mengalahkan kecepatan jarum detik di dinding, betapa hebatnya Nana seiring bertambahnya waktu tangannya malah semakin lihai bukannya melemah.
"dia menyamar sayang..! tapi aku yakin wajahnya berbeda, entah bagaimana cara dia mengelabui kalian..! dia tiba di bandara Indonesia hari Rabu kemarin pukul 15.19 WIB, ku mohon kamu cari sisanya". pinta Nana
"iya sayang..! jangan ragu meminta bantuanku, kita hadapi semua bersama". kata Arka serius.
Nana menatap buah hatinya sedang bermain di sofa.
"apapun rencana Pria itu tidak akan aku biarkan, selama Nana masih hidup tidak ada yang bisa menyentil ujung kuku kelingking anakku". gumam Nana.
"aku juga penasaran apa maksudnya sayang, kenapa dia bisa jatuh cinta padamu, aku ingin menarik mulutnya dan mendengar penjelasannya langsung tapi Om Roni pengecut". geram Arka.
"tidak apa sayang..! aku yakin dia ada di setiap hotel yang ada di Jakarta, kita cari bersama, dia menggunakan identitas Robert". jelas Nana.
.
Nana dan Arka mendekati Sikembar lalu menggendong kedua anak-anaknya membawa pulang ke Mansion.
Nana penasaran mengapa Roni bisa menyamar dengan penampilan tertutup seolah sudah tau akan tertangkap kamera CCTV, entah apa yang dipikirkan Pria itu.
setibanya di Mansion Arkatama, Ren dan Rose diambil alih oleh keluarga Arka dan Nana, mereka meminta cucu menggemaskan itu menuruti permintaan mereka karna sudah mengizinkan sikembar pergi ke kantor Papa dan Mama nya.
"baik Nenek.. Eyang! ". jawab Sikembar dengan patuh.
betapa sayangnya keluarga Nana pada kedua bocah kembar itu, selain pintar Nana mengajarkan anak-anaknya menepati janji seperti orang hebat dan bertanggung jawab saja padahal Nana hanya ingin anaknya belajar bertanggung jawab dari kecil terutama dalam mengucapkan janji.
alhasil Nana dan Arka tidur di kamar hanya berdua, ternyata janji yang diinginkan Keluarganya adalah Sikembar harus mau tidur dengan mereka bergantian, sebab sejak kecil Ren dan Rose tidak mau tidur dengan siapapun kecuali orangtuanya tapi kalau bermain dan ditinggal tidak masalah bukan bersama orang tua.
manja? wajar saja Ren dan Rose manja karna Nana maupun Arka sangat memanjakan sikembar, Nana hanya ingin anaknya tumbuh sehat dan normal tanpa Nana ketahui rahasia kepintaran dan ketidak normalan otak anaknya itu diketahui oleh Arka.
.
__ADS_1
.
.