Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
kikuk


__ADS_3

.


.


.


"Papa lembul ma? kok tumben? biasanya papa lembul di lumah". tanya Rose penasaran.


Ren menautkan kedua alisnya, ia bingung dengan penjelasan Nana. jika anak normal mungkin saja mengerti tapi sikembar bukan anak normal yang mudah percaya dengan penjelasan Nana.


"kalian boboknya sama Mama aja ya? besok Papa akan pulang". lanjut Nana mengelus pipi Ren dan Rose.


"kalian berbaringlah terlebih dahulu ya? mama bersihkan tubuh mama yang terasa lengket". Nana menggandeng tangan Sikembar lalu yang masuk ke ranjang lalu Nana menyelimuti mereka.


Nana adalah ratu drama, ia bisa menutupi emosi dan masalahnya jika itu demi kebaikan anak dan suaminya sendiri tapi Ren dan Rose terlalu mengenal Papanya jadi saat Nana menjelaskan dengan alasan yang masuk akal pun tidak bisa dipercaya begitu saja oleh sikembar.


"tkakak? apa belpikilan yang sama dengan los? ". tanya Rose menoleh ke Ren.


Ren mengangguk, "Papa pasti dalam masalah dan ingin menyedili". tebak Ren.


"kenapa olang dewasa selalu saja suka menyendili kalau lagi ada masalah? apa tidak bisa dihadapi saja? bukankah mereka sudah dewasa? ". oceh Rose dengan kesal.


"kalna olang dewasa punya pikilan yang lumit adek". jawab Ren seakan sangat tau watak orang dewasa padahal umurnya masih anak-anak.


"belalti papa punya pikilan yang lumit kak? ". tanya Rose.


"tidak tau tapi kakak lasa iya, kamu tau sendili kan papa tidak bisa tidul tanpa mama dan kamu? ". Ren


Rose mengangguk, "bahkan kalau papa lembul selalu meninggalkan pekeljaannya kalau los udah datang ke luangan kelja papa".


"sebaiknya kita tidul saja sama mama, kita tanyakan sama papa kalau udah balik kesini". putus Ren


"iya kak". jawab Rose.


alhasil sikembar berpura-pura menjadi anak normal dan patuh pada Nana, mereka curiga tapi tidak bisa bertanya bahkan sekedar menatap bingung saja dengan penjelasan yang masuk akal Nana mereka sudah berada diluar batas anak-anak normal pada umumnya.


tengah malam,


Rose menggeliat merasa terganggu seakan dipeluk dan dicium oleh seseorang, hidung mungilnya kembang kempis mencium aroma yang sangat ia kenali adalah aroma tubuh papanya.


"papa?? ". panggil Rose dengan suara serak khas bangun tidurnya.

__ADS_1


"maafkan papa membangunkanmu sayang". bisik Arka dengan lembut.


Rose mengucek matanya dan memutar tubuhnya menghadap Arka lalu melihat Arka yang matanya terlihat bengkak seperti habis menangis,


"papa ngantuk? ". tanya Rose


"Hmm". jawab Arka


Rose melebarkan tangan kecilnya lalu memeluk Arka, "papa tidul aja ya? semua akan baik-baik saja, kami sayang papa".


Arka membalas pelukan putri kecilnya, diam-diam Nana membuka matanya dan lega melihat Arka kembali ke Mansion.


walau sesulit apapun itu derita Arka, Nana tau kalau Arka tidak akan bisa jauh dari mereka terutama Rose, Nana tau betapa Cintanya Arka pada Putri kecilnya bahkan mungkin bisa Nana tebak mengalahkan rasa cinta Arka ke Nana tapi tidak membuat Nana iri malah senang.


Nana saja manja pada Yardan walau sudah punya suami dan anak, tidak heran baginya jika Putrinya manja pada Arka.


.


.


pagi-pagi


Ren dan Rose yang tau sesuatu pun memilih bermanja pada Neneknya, meminta Diah mengantarkan mereka sekolah dengan senang hati Diah menurutinya.


di kamar,


"sayang? apa kamu baik-baik saja? ". tanya Nana mengelus rahang Arka.


Arka tersenyum lembut mengecup sayang telapak tangan Nana, "maafkan aku yang terlalu lemah sayang, kamu pasti kecewa padaku kan? ".


Nana menggeleng kepalanya pelan, "tidak, sama sekali tidak".


"sayang..? kita ini manusia pasti punya kelemahan dan bisa lemah, apa aku bisa menertawai orang lain dan mengejek orang itu lemah padahal aku sendiri punya banyak kelemahan". Nana


Arka memeluk Nana dengan erat lalu mencurahkan isi hatinya yang terasa sesak saat tau Papa nya meninggal bukan karna sakit biasa, semua sedang diselidiki dan Nana juga meminta Reza dan Abi mencari tau kebenaran itu.


"aku terlalu lemah..! aku tidak tau apa-apa padahal selama ini aku sangat bangga dengan diriku sendiri yang pintar, Papa Yardan sering mengajariku mengurus Perusahaan dan aku bisa pelajari dengan mudah, tapi kenapa aku tidak pernah bisa berpikir kematian Papaku tidak biasa sayang? hiks.. hiks".


Nana mengelus punggung Arka, "sebenarnya saat itu kamu terlalu terluka sayang, luka hati itu lebih berbahaya dari pada kejeniusan seseorang, sehebat apapun kamu jika terluka terlalu dalam tidak bisa membuat orang jenius mampu berpikir jernih, percayalah kamu tidak lemah sayang hanya saja umurmu saat itu terlalu muda".


Arka menangis dipelukan Nana yang tiada henti membujuk Arka, sekian tahun lamanya mengapa Arka baru menyadarinya? jika Roni tidak membahasnya tentu saja tidak akan Arka ketahui, sebenarnya saat Roni mengatakan kematian Papanya bukan unsur kesengajaan membuat Arka berpikir kalau Roni lah pelakunya

__ADS_1


itu sebabnya Arka langsung meminta orang-orang membuangnya ke laut lepas biar mati dalam penderitaan sekalian, hanya 1 orang yang tidak tau malu meminta Arka menjadikan orang itu Papanya yaitu Roni, hal itu yang membuat Arka bisa berbuat begitu kejam.


"aku bisa memaafkan orang jika orang itu menyakitiku sayang, aku terima apapun itu tapi aku paling benci jika orang terkasihku disinggung, ku harap kamu tidak terlalu takut padaku sayang". bisik Arka.


"tidak akan..! kamu suamiku yang terbaik, sekalipun kamu Pembunuh berdarah dingin, tidak akan mengurangi perasaan cintaku padamu". jawab Nana dengan tegas.


Arka terkekeh, "pembunuh berdarah dingin? yah.. aku bisa dikatakan seperti itu sayang".


Nana mengangguk seolah mengerti, perjuangan cinta Arka saat Nana mengandung sikembar sudah membuktikan betapa berharganya Arka bagi Nana, Arka yang selalu ada bagi Nana walaupun Nana adalah wanita yang kejam saat berbisnis tapi Nana juga perempuan yang takdirnya punya hati yang lembut mudah luluh dengan ketulusan hati seseorang.


.


"bagaimana? ". tanya Arka dengan serius meletakkan ponselnya di telinganya.


"Tuan..! saya sedang mencarinya Tuan, data-data belasan tahun yang lalu memang cukup sulit dicari Tuan, apa Tuan ingat tanggal kematian Alm. Tuan Besar? ". tanya Endra.


Arka menjawabnya karna ia sangat ingat jelas hari kehancurannya itu,


"baik Tuan..! saya bertemu dengan Abi dan Pak Reza Tuan, kami mencari kasus yang sama". kata Endra


Arka menautkan kedua alisnya, "apa maksudmu?".


"aah.. Maaf Tuan..! Pak Reza menemukan sesuatu, saya tutup". sahut Endra mematikan panggilan Arka


Arka tertegun menurunkan ponselnya, "Apa Nana yang memerintahkan mereka?".


"apa sayang? ". tanya Nana tiba-tiba muncul


"sayang kamu tidak bekerja? ". tanya Arka


"bagaimana aku bisa bekerja sementara suamiku sedang mengalami masa sulit". jawab Nana


"apa kamu menyelidiki kematian Papaku sayang? ". tanya Arka serius.


Nana tersentak sesaat lalu dengan kikuk menjelaskan semua ke Arka, Nana takut Arka salah faham kalau dirinya ikut campur padahal Nana berhak ikut campur kan? tapi watak Arka yang keras mirip Ren terlalu sulit dimengerti, itu sebabnya Nana mencoba menjelaskannya.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2