
.
.
.
Nana menelfon Dewi bahwa ia tidak bisa pulang hari ini, Dewi pun tak bisa apa-apa mendengar Nana yang tidak bisa pulang.
"baiklah sayang..! jaga dirimu baik-baik, jangan bertemu dengan papamu ya? kalau bisa menghindar darinya". peringatan Dewi.
"iya Ma, Nana akan jaga diri dengan baik, Mama juga harus sembunyi dengan baik ya? ". Nana
"iya sayang". sahut Dewi
mereka bercerita cukup lama hingga malam, Nana pun mengakhiri panggilannya.
Nana dapat pesan dari Arka bahwa identitas palsu nya telah siap, "waah... memang kekuasaan segalanya". gumam Nana tersenyum lebar.
Arka mengajak Nana keluar dan Nana setuju karna saat ini Nana memang sedang lapar.
Nana memakai celana pendek dan hoodie tak lupa sepatu dengan tinggi 5 cm terpasang dikakinya hingga Kaki Nana yang panjang terlihat makin indah.
"make up?". Nana menggeleng kepalanya.
Nana menggerai rambut panjangnya lalu menutupnya dengan penutup hoodienya.
"sempurna style malam mu Anna". senyum manis Nana.
Vano alias Arka menunggu Nana didepan Mobil, Nana berjalan tenang dan Arka melebarkan matanya melihat Nana mengenakan celana pendek.
"apa-apaan ini? ". tanya Vano menunjuk kaki Nana.
"oh..! ayolah Honey..! aku sangat lapar". Nana mengabaikan Arka dan masuk ke mobil Arka.
Arka menghela nafas panjang, ia pun masuk lalu membawa Nana ke Restaurant mewah.
"ayo Arka? eehh.. besok kamu libur kah? ". tanya Nana merangkul lengan Arka
"iya, kenapa? ". tanya Arka
"besok ajari aku bawa mobil ya? ". bujuk Nana
Arka terkekeh dan mengangguk mengusap kepala Nana dengan tangan lainnya, Nana tersenyum senang.
"apa kamu sudah berikan rambutku pada Papa? ". tanya Nana
"iya, sudah". jawab Arka
__ADS_1
"apa Papa bertanya sesuatu? ". tanya Nana
"aku hanya jawab kalau Nana sudah berganti identitas menjadi Anna". jawab Arka.
"hah? ". Nana tak percaya Arka akan memberitau Yardan.
"hei.. bukankah dia sudah melihatmu saat menjadi kekasih sempurnaku hmm? ". kekeh Arka
"aah.. Iya juga". jawab Nana tersenyum kecil.
Arka tersenyum meradu keningnya dengan kening Nana,
"Tuan Vano? ". panggil Celinne
Arka menghentikan langkah kakinya sedangkan Nana melirik ke samping dimana Celinne dibelakang mereka.
Celinne berjalan cepat ke arah Vano dan kini sudah ada dihadapannya.
"Apa ini wanita yang membuat kamu meninggalkanku Tuan? ". tanya Celinne menuding Nana.
Nana menepis pelan tangan Celinn, "aku terlalu menawan untuk diabaikan, kau hanya mantan".
Celinne mengepalkan tangannya, "mentang-mentang wajahmu cantik sedikit dariku kau sudah begitu sombong hah? ". benyak Celinne.
"cantik sedikit? ". beo Nana tertawa kecil sementara yang melihat mereka menertawai kepedean Celinne.
"Tuan..? apa begini sifat wanita yang anda banggakan ini hah? kenapa tidak ada sopan santunnya sama sekali? ". tanya Celin sengaja merendahkan Nana.
"oh.. aku tinggal lama di LA, bukan aku tidak tau sopan santun tapi aku memang punya temperamen buruk". jawab Nana dengan santai memainkan kuku-kukunya sementara Arka hanya diam mendengarkan permainan Nana yang sengaja memancing amarah Celinne.
"Tuan dengar? dia sendiri mengakui punya kepribadian buruk". Celinne seolah berusaha membuat Vano menilai buruk Nana dan pada akhirnya Vano akan meninggalkan Nana.
Celinne benar-benar benci Nana yang memang sialnya sangat cantik, bahkan dari segi manapun Nana sangat cantik.
"aku tetap menyukainya meski begitu". Arka merangkul pinggang Nana tanpa segan mengecup pelipis Nana.
Nana tersenyum tipis, "jadi sampai kapan kau menghalangiku? heii.. aku kesini untuk makan bukan untuk bermain denganmu".
Nana menurunkan tangan Arka yang merangkul pinggangnya malah menggenggam tangan Arka didepan Celinne hingga hati Celinne semakin panas.
"rasakan itu Celinne, bagaimana perasaanmu? apa yang kau rasakan sekarang itu tidak seberapa dengan apa yang mamaku alami karna mamamu". batin Nana.
Nana menarik lengan Arka sambil berjalan melewati Celinne, Celinne melebarkan kakinya tapi Nana bukannya tersandung beneran malah pura-pura tersandung, Arka dengan cepat menarik pinggang Nana hingga Arka memeluk Nana.
"apa yang kau lakukan? ". bentak Arka ke Celinne
Celinne terlonjak kaget, "aku tidak melakukan apapun hanya dia yang berlebihan Tuan".
__ADS_1
"kau fikir aku buta hah? ". bentak Arka
Celinne melihat ke arah Nana yang menyunggingkan senyum tipisnya tengah meledek dirinya, tak bisa menahan geram melihat ejekan Nana pun ia berjalan ke arah Nana lalu hendak menjambak rambut Nana tapi Nana sudah memijak kaki Celinne dengan segala kekuatannya hingga Celinne menjerit kesakitan.
"aku bukan gadis penakut..! kau tau apa julukanku di LA? Crazy Girl .! aku adalah si gila yang terkenal, jadi jangan coba-coba menindas ANNA". ujar Nana dengan senyuman sinisnya.
"aah.. sakiiit..! jal*ng sialan kau..! ". pekik Celinne.
Nana mendorong kasar tubuh Celinne yang terkena dinding, Celinne menjerit frustasi.
Nana berjalan dengan senyum penuh Kemenangannya, Arka berlari mengejar Nana dan merangkul bahu Nana.
.
.
setibanya di Mansion.
Emma berjalan mondar-mandir dan mendengar suara mobil, Emma berlari dan melihat Celinne berjalan dengan muka memerah juga tangannya terkepal.
"Celinne? ". panggil Emma
Celinne terus saja berjalan melewati Emma, Emma pun berlari mengikuti Celinne yang tetap diam, sesampainya di kamar Celinne berteriak marah sekuat tenaga hingga Emma menutup kedua telinganya.
"Celinn..? ada apa hah?? mama sudah menghabisi lalat itu, bukankah kamu yang minta habisi lelaki bernama Indra itu hah? apalagi masalahmu sekarang?? ". cecar Emma
"apa maksud Mama? apa yang mama lakukan pada Indra? ". tanya Celinne dengan deru nafas yang tak beraturan.
"ada apa dengan ekspresimu hah? apa kau tidak terima dia mama sakiti? ". tanya Emma
"bukan ma..! aku marah pada kekasihnya Tuan Vano, dia datang ma...! jal*ng itu baru kembali dari LA, dia begitu sombong bahkan mempermalukanku ma... aku benar-benar ditertawai oleh banyak orang, tadi Tuan Vano membentakku..! aku seorang Putri Penguasa... hiks.. hiks.. aku Penguasa tidak ada orang yang bisa merendahkanku".
Emma tertegun, ia tak tau hal itu jadi wajar ia terkejut saat tau keluhan Celin.
"siapa nama nya sayang? mama akan membuatnya menderita, seperti Indra yang sedang skarat di Rumah Sakit". tanya Emma mendekat dan memegang bahu Celinne.
"kenapa ma? kenapa ini semua terjadi padaku? apa salahku?? aku mencintainya tapi kenapa ada perempuan lain yang merebutnya dariku? kenapaa?? bahkan aku bukan Putri Kandung Papa, pantas saja Papa selalu marah-marah padaku.. hiks.. hiks.. ini semua karna Mama..! kenapa aku bukan anak Papa? kenapa aku malah anaknya Om Yunus?? ".
Emma menghela nafas panjang, "sebenarnya malam itu mama memang mau menjebak Papamu nak, dia sedang mabuk dan Mama memanfaatkan itu tapi tidak mama sangka malah salah masuk kamar yang ternyata dia Yunus, mereka sama-sama mabuk saat itu".
"mereka kalah dalam project penting Perusahaan hingga mereka minum-minum padahal sebelumnya tidak pernah, itu sebabnya semua kesalahan itu terjadi, Mama mencari kamar Papa mu dan melihat dia seorang diri tanpa pakai baju, disitulah Mama melakukan hal itu, mama melakukan itu demimu, entah siapa perempuan yang menghabiskan malam itu dengannya yang jelas mama telah menghabisinya".
.
.
.
__ADS_1