Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
aku calon dokter


__ADS_3

.


.


.


setelah puas berada didesa Nana dan Keluarganya berpamitan pada teman-temannya, warga kampung.


Pak Doody yang paling sedih sebab selama tinggal di Desa dirinya yang paling senang, ia dekat dengan Pak Kepala Desa sebagai teman ngopinya di warung.


"kenapa Pak Doody sedih banget ya sayang? ". bisik Nana ke Arka.


"apa dia punya pacar disini sayang? ". tanya Nana lagi.


"entahlah sayang, aku juga tidak tau". jawab Arka yang memang tidak tau.


Kuda-kuda Arka dan Nana telah dinaikkan mobil, Doody berjanji akan bekerja keras menabung lalu membeli tapak tanah di desa membangun Rumah Sederhana didesa.


Dewi tidak mempermasalahkan Sapi miliknya, ia malah memberikannya pada Orang yang membutuhkan yang paling susah hidupnya didesa itu,


"maafkan aku ya Santo saat itu aku kabur darimu". ucap Nana ke Santo.


"tidak apa Nana..! aku dengar kamu hamil ya? ". tanya Santo


"iya..! ". Nana mengelus perutnya yang terlihat sudah berbeda.


"selamat ya? ". ucap Santo


Nana mengangguk, "jaga Yuli baik-baik ya? dia teman baikku dan aku percaya kau akan bahagia jika hanya menatap istrimu saja".


"iya". jawab Santo tersenyum


bohong jika Santo tidak terpesona dengan Nana tapi gadis impiannya kini sudah berada di langit alias sudah tinggi dari Santo, punya suami yang tampannya sekelas Aktor.


pasangan sempurna, itu semua julukan Nana saat bersama Arka.


"sayang? ". Arka berlari dan langsung merangkul pinggang Nana.


"kenapa bicaranya lama sekali dengan Pria ini? ". tanya Arka dengan posesif


Nana tersenyum ke arah Arka yang langsung mengecup kening Nana, Santo pun memilih berbalik pergi.


"siapa dia sayang? ". tanya Arka serius.


"dia orang yang mau menikahiku tapi aku kabur kesini". jawab Nana

__ADS_1


"hah? dasar sinting..! apa dia tidak sadar wajahnya". gerutu Arka


"sudahlah sayang kan aku sudah menjadi milikmu hmmm? ". gemas Nana mencubit pipi Arka.


Arka pun tersenyum membawa Nana kembali ke Warga desa, lalu semua orang tampak sedih melepaskan orang-orang baik itu.


anak-anak yang ada didesa itu pun memeluk Arka dan Nana bergantian, mereka sangat bahagia karna akan punya tempat bermain walaupun belum bisa bermain tapi taman bermain itu belum siap saja mereka sudah bahagia.


Pak Junet melihat kebahagiaan Dewi bersama Yardan pun membuatnya juga ikut tersenyum, pantas saja Dewi tidak mau menikah dengan orang lain ternyata Suami Dewi orang kaya-raya dikota.


"terimakasih pak Junet sudah baik pada Istri dan anakku". kata Yardan dengan sopan.


"tidak masalah Tuan, kami hanya menolong sesama manusia saja". jawab pak Junet.


Istri Pak Junet juga berterimakasih pada Dewi yang membuat warga desanya bahagia dalam beberapa minggu ini bersama mereka, tanpa malu Keluarga Orang Kaya itu mau belajar mengikuti kehidupan mereka alias mau hidup susah.


Nana juga berpamitan pada 5 sekawannya, tanpa ragu Nana memberi uang saku pada Butet untuk biaya persalinannya di Rumah Sakit jangan di dokter kampung, karna hanya Nana Dokter Kampung yang paling hebat jadi Nana tidak yakin dokter kampung yang lain bagus.


"terimakasih Nana". ucap Butet terharu sampai bergetar memegang uang ratusan ribu ditangannya.


Nana tertawa, teman-teman Nana sangat menyayangi Nana yang tangannya suka memberi padahal dulu mereka sama-sama hidup susah mencari uang.


perjalanan mereka ke Kota memakan waktu cukup lama tapi tidak ada masalah jika sering berhenti, setibanya di Rumah Sakit.


"kenapa kesini? ". tanya Nana


alhasil Nana tidak bisa berkutik saat Keluarganya membawanya masuk Rumah Sakit, tidak ada yang bisa melarang keluarganya bahkan Nana sendiri digendong, benar-benar posesif.


Nana tidak tau harus sedih atau bahagia dengan kasih sayang keluarganya yang terlalu berlebihan itu, hatinya bahagia tapi ia juga terkadang ada rasa kesal karna Nana yakin bahwa anaknya baik-baik saja, bukankah Nana yang mengandung? mengapa keluarganya tidak percaya analisis Nana sebagai seorang Ibu?


Anna berjalan sendiri ke Toilet dan tertegun mendengar isak tangis seseorang di balik tembok, Anna mencari-cari suara itu hingga matanya bisa melihat seorang Anak remaja seumuran dengannya tengah menangis dengan menekuk kedua lututnya.


Anna menusuk-nusuk lengan Pria gendut itu lalu Pria yang menangis itu mendongak melihat Anna yang terkejut dengan luka bakar di wajah Pria gendut itu.


"kenapa? kau juga mau mengejekku monster? ". tanya Pria itu sesegukan.


Anna menggeleng kepalanya polos lalu menunjuk wajah Pria itu, "wajahmu kenapa? ". tanya Anna seolah tidak jijik sama sekali dengan wajah Pria Gendut didepannya kini.


"kau tidak jijik padaku? ". tanya Pria itu masih sesegukan pada Anna.


"iya..! aku calon dokter tentu saja tidak boleh Jijik pada penyakit pasiennya". jawab Anna dengan nada bangga.


Pria itu pun menghapus sisa air matanya, "tapi keliatannya kamu seumuran denganku".


"berapa umurmu? ". tanya Anna juga duduk dihadapan Pria itu tanpa malu duduk di lantai padahal dirinya anak Konglomerat.

__ADS_1


"umurku 18 tahun". jawab Pria gendut itu menatap mata biru Anna yang sangat gemerlap cantik.


"kenapa menatap mataku? jangan bilang kamu mau ngejek aku aneh ya? mata aku begini". tanya Anna dengan kesal meraba matanya.


"tidak..! mata mu penuh bintang". jawab Pria gendut itu dengan jujur.


"benarkah?". tanya Anna dan Pria gendut itu mengangguk yakin.


"siapa namamu? ". tanya Anna


"namaku Aditya Pratama". jawab Adit yang seorang Pria gendut.


Anna tersenyum, "kenalkan namaku Annastassia". Anna mengulurkan tangannya.


"kau tidak jijik denganku? ". tanya Adit


Anna mengambil paksa tangan Adit dan berjabat tangan.


"sekarang kita teman ya? kenapa wajahmu? ". tanya Anna penasaran.


"Rumah kami kebakaran besar dan membuat ibuku meninggal dunia". jawab Adit kembali berkaca-kaca


Anna juga merasakan kesedihan Adit, "ternyata kamu juga tidak punya Ibu ya? aku juga tidak punya Ibu tapi kamu pasti punya kenangan dengan Ibumu kan? aku tidak".


Adit melihat Anna lalu Anna menceritakan kesedihannya sungguh memang aneh Adit mendengarkan cerita gadis menawan didepannya itu.


"aku punya ini". Anna menunjukkan kartu Sakti miliknya (Blackcard).


Adit kaget melihatnya tapi hanya sebentar lalu terlihat bingung.


"mau apa dengan kartu itu? ". tanya Adit.


"heii..! aku akan TF uang ke ATM mu untuk Operasi wajahmu lalu bangkitlah". kata Anna dengan kesal.


Adit pun melongoh mendengarnya, "kau memberi uangmu cuma-cuma kepadaku hanya untuk operasi wajahku? ".


"iya..! aku sudah bilang kalau aku calon Dokter tapi aku belum bisa menyembuhkanmu hanya bisa memberimu uang supaya dokter lain bisa menyembuhkanmu, setidaknya rasa kemanusiaanku untuk menolongmu ada". kata Anna tersenyum cerah.


Adit tak terlalu memikirkan perkataan Anna yang ia pikir hanya membual saja, tapi ternyata Anna benar-benar mengirim uang ke Rekeningnya (Milik alm. Ibu nya).


"sudah kan? ". Anna tersenyum ceria ke Adit yang masih terlihat bodoh melihat layar ponselnya.


sebenarnya Adit bukan orang miskin tapi karna Ibunya adalah Istri pertama di jebak oleh Istri kedua hingga Ayahnya membenci Ibu kandungnya, saat Rumah mereka di bakar pun Ayah Adit tidak datang untuk sekedar basa-basi.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2