Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa

Gadis Tersembunyi Itu Putri Penguasa
seperti anak kecil


__ADS_3

.


.


.


"Ara? kamu juga datang? ". teriak Nana ke Ara yang sibuk mengangkat-ngangkat ponselnya seolah mencari jaringan.


"Eeh..? Iya Nona". jawab Ara juga menyimpan ponselnya segera kembali ke Nana yang mandi hujan.


"ada masalah apa di Perusahaan? ". tanya Nana


"hanya tanda tangan saja Nona". jawab Ara


"maaf ya? gara-gara aku ingin tinggal didesa kamu jadi kesulitan menemuiku". ucap Nana merasa bersalah


"tidak masalah Nona, saya tidak kesulitan hanya saja kenapa jaringan disini susah Nona? ". tanya Ara dengan serius


Nana tergelak, "aku tidak bermaksud merendahkan kartumu Ara tapi jujur Kartumu disini tidak ada jaringan Ara, kecuali Telk*msel".


Ara menggaruk kepalanya yang tak gatal, Kartu diponsel Ara memang bukan itu.


"sampai kiamatpun jaringan Ponselmu tidak akan ada kecuali kamu membangun towernya". kata Nana lagi.


"Kakaaak? ". Anna datang langsung memeluk Nana.


"hei.. Tuan Putri istriku jadi basah karnamu". ledek Arka


Anna pun melepaskan pelukannya dari Nana sambil mengerucutkan bibirnya,


"sayang kenapa kamu selalu memarahi adikku? ". tanya Nana dengan heran.


"biar dia mengerti sayang kalau kamu bukan hanya miliknya, dia harus faham aku melakukan hal ini demi anak kita". jelas Arka.


Nana menghela nafas lalu menangkup pipi Anna, "maafkan kakak ya sayang? nanti kalau adek bayi udah lahir kita bisa mandi hujan sayang ya? ". bujuk Nana.


"iya kak..! Anna mengerti". jawab Anna tersenyum lebar lalu kembali bermain dengan Caca dan Sekar.


Sekar tadi ingin melukis tapi karna cuaca tidak memungkinkan membuatnya harus mengikuti Anna bermain.


di tempat Dewi, Diah dan Sarah sudah bisa berbaur dengan ibu-ibu kampung malah terasa menggelitik bergosip hal baik dengan mereka semua disaat hujan deras seperti saat ini.


sementara Leonard, Yardan dan Aman masih berdiam diri ditempat berteduh mereka bertiga.


"apa mereka tidak kedinginan? ". tanya Aman

__ADS_1


"apa seru mandi hujan? ". sambung Yardan


"mereka tidak takut sakit kah? ". sahut Leonard


walau penasaran mereka tidak mengikuti semua keluarga yang mandi hujan, malah menonton seperti anak kecil yang di kurung oleh ibu mereka tidak boleh mandi hujan.


.


.


malam-malam.


"bagaimana keadaanmu sayang? ". tanya Arka memegang kening Nana


walaupun Arka berusaha memayungi Nana tapi tetap saja tubuh Nana ada yang basah terkena air hujan, entah bagaimana kesehatan Nana saat ini. Arka takut Nana sakit apalagi istrinya itu tengah mengandung anak kembarnya.


"aku baik-baik aja sayang, bagaimana taman bermain yang sayang janjikan? ". tanya Nana merangkul lengan Arka lalu merebahkan kepalanya di bahu Arka.


"aku sudah beritau Endra untuk datang, dia sedang mengumpulkan orang-orang yang bisa diandalkan dan dipercaya membangun taman bermain yang indah tentu gratis sampai kapanpun itu". jawab Arka


Nana tersenyum lebar, "kamu tau sayang? aku ingin sekali membangun taman bermain disini tapi aku bukan orang kaya jadi hanya bisa bermain ke Kali dan mainan yang harus dibuat dengan tangan sendiri".


"benarkah? ". tanya Arka terdengar penasaran.


kebersamaan mereka semakin erat dan lengket saat tinggal didesa, hidup mereka berubah total bahkan Leonard pun ingin berlama-lama tinggal didesa sebagai orang biasa bukan seorang Pembisnis besar, ia bosan juga hidup sebagai orang kaya yang kesepian berbeda dengan warga kampung yang sederhana tapi kaya akan kasih sayang selalu ramai dan bahagia.


pagi-pagi


"disini tidak ada intrik perebutan tahta kan? ". gumam Leonard pelan tak ada siapapun didekatnya tiba-tiba Nana menyahut membuat Pria tua itu kaget namun hanya sesaat saja.


"tidak ada Kek..! hidup didesa ini memang sederhana tapi kami sibuk mencari uang tanpa memikirkan yang namanya tahta, disini tahta tertinggi hanya kepala desa". Nana


"dimana Arka Nana? apa dia mengizinkanmu keliaran sendiri? ". kekeh Leonard


Nana tersenyum manis, "dia masih tidur Kek".


"Kakek tidak menyesal ke sini? ". tanya Nana penasaran


"tidak..! malah kakek menyesali jika tidak datang kesini untuk itu kakek ingin membangun Rumah Sederhana juga disini". jawab Leonard.


Nana menggeleng pelan kepalanya tapi bibirnya tersenyum, di dunia ini uang memang segalanya jika sudah suka apapun bisa dilakukan seperti yang Leonard pikirkan pasti akan terjadi.


benar saja Rombongan Leonard dan Para Pekerja utusan Endra pun datang secara bersamaan, desa itu benar-benar luas untuk parkir mobil walau nanti akan berjemur di terik mata hari tapi banyak pohon disekitar mereka sungguh asri.


Ara datang ke Nana membawa perlengkapan berkas yang harus ditandatangan Nana juga melaporkan keluhan Perusahaan, Nana menjawabnya dengan memberi solusi terbaik sambil menandatangani Berkas yang Ara butuhkan.

__ADS_1


"terimakasih Nona..! selamat bersenang-senang saya harus kembali ke Kota". ucap Ara menerima semua berkas-berkasnya yang banyaknya sampai puluhan.


"hanya ini saja Ara? kamu tidak menunggu sarapan?". tanya Nana


"Nona saya harus kembali ke Kota..! Abi bisa mengamuk pada Saya kalau masih bisa bersenang-senang Nona". jawab Ara


Nana pun tertawa, "baiklah..! jika aku sudah lahiran nanti aku akan memberi kalian waktu liburan panjang tapi gaji tetap jalan".


Ara tersenyum mendengarnya lalu menunduk sopan, tanpa menunggu aba-aba lagi Ara langsung pergi masuk ke Mobilnya membawa banyaknya berkas-berkasnya sementara Nana mengantarkan Ara saja.


"nanti kalau udah sampai di Kota beri tau aku ya? ". teriak Nana


"baik Nona". jawab Ara tersenyum lebar


"hati-hati dijalan ya? ". teriak Nana lagi.


"Nona juga". sahut Ara


Nana melambai-lambai saat mobil Ara meninggalkan nya, Ara tersenyum manis di dalam mobil sambil menggeleng-geleng kepalanya gemas.


Nana sangat baik dan seorang Atasan yang sangat bijak, mungkin diluar sana banyak yang takut dengan Nana tapi sebenarnya Nana tidaklah sejahat itu.


Nana berbalik dan DEG!!!, jantungnya berdegup kencang melihat Suaminya berdiri bersidakap dada dengan tatapan andalannya yang datar.


"sayang? kamu udah bangun?". Nana mendekat lalu memeluk Arka dengan Manja mendongakkan kepalanya ke Arka.


Nana sengaja menggunakan jurus mautnya supaya tidak kena marah suami, Arka menghela nafas berkali-kali lalu merangkul Nana membawa pergi Nana kembali ke Rumah untuk sarapan.


mau marah pun tidak bisa, Arka hanya khawatir saat bangun tidak menemukan Istrinya disekitarnya, tapi ia malah melihat Nana mengantarkan Ara yang balik ke Kota seperti seorang Istri yang baik padahal Ara hanya seorang Asisten.


"kenapa ini muka nya Arka masam begini?". tanya Diah celingak-celinguk.


"paling Nana lepas darinya diah". celutuk Dewi


Dewi sangat tau kelakuan Anaknya yang tidak bisa diam dirumah.


"kamu kemana tadi sayang? ". tanya Yardan, Aman serentak.


Nana gelagapan menjawabnya hingga Papa dan Kakeknya mengerti raut wajah masam Arka, memang Arka tidak jelek malah lucu seperti anak kecil yang ngambek ditinggal oleh ibu nya ke Pasar.


.


.


.

__ADS_1


__ADS_2