
.
.
.
Nana tak menyerah mencari kehidupan pribadi nona Putri yaitu cucu tunggal Asia Group itu.
"kasihan sekali gadis bernama Anna ini? tapi tunggu..? namanya juga Anna? ". gumam Nana
"huhh.. tapi gadis ini sangat menawan bahkan matanya berwarna biru, lihatlah betapa cerahnya senyumnya saat bersama Kedua orangtuanya. sekarang Anna tidak lagi tersenyum sebahagia itu, aku bisa melihat mata birunya seperti menyimpan banyak kesedihan".
"baiklah..! sekarang aku susun rencana untuk bertemu dengan Tuan Leonard, jika dia bisa diajak bicara secara damai aku akan tawarkan kemampuanku tapi jika dia menolak akan aku ancam dia, haha... hebat sekali Nana". senyum manis Nana.
"siapa suruh Pak Leonard membuat Papaku stres". kata Nana menyeringai.
Nana tidak dendam ingin membunuh hanya saja ia ingin memberi pelajaran pada Pria Tua itu tidak semua manusia harus dinilai rendah hanya karna banyak penghianat disekitarnya.
Nana berdiri dan mendekati telepon Rumahnya lalu terhubung dengan Ara, "Ra..? bawa semua berkasnya kesini". pinta Nana
"baik Nona". jawab Ara
Nana menutup teleponnya dan matanya melihat ke arah layar komputernya yang ada pesan singkat
"apa maumu? ". pesan itu
Nana menyeringai, "lumayan juga kemampuanmu bisa menghack komputerku ya? ".
Nana berjalan ke Komputernya dan mencabut kabel-kabel yang terhubung sudah pasti orang disebrang sana mengamuk tidak akan bisa mendeteksi atau menghack Komputer Nana lagi.
Nana tersenyum manis sambil bersidakap dada menatap komputernya,
"selamat berjuang". kata Nana lalu tertawa sendiri keluar dari kamarnya mendengar suara Ara memanggilnya.
"Nona kenapa? ". tanya Ara berlari mendekati Nana dan melihat tubuh Nana seolah mencari luka saja.
Nana masih tertawa, "tidak ada..! aku hanya sedang mengurung seekor tikus kecil, dia pasti marah sekali padaku". jawab Nana
"tikus kecil? tidak mungkin ada tikus disini Nona? saya dan Abi sudah memeriksanya kemarin, kami sudah pastikan tidak ada 1 cicak pun di Apartemen Nona". jawab Ara
Nana menepuk jidatnya, "sudah lupakan saja".
"dimana Tikusnya Nona? biar saya habisi". Ara menyibakkan lengan bajunya.
Nana membujuk Ara tapi tidak mempan hingga Nana menceritakan kemampuan Hackernya membuat Ara pingsan ditempat dan Nana menghela nafas panjang, beruntung Ara sedang duduk di sofa jadi saat pingsan tidak merepotkan.
__ADS_1
Nana memilih fokus dengan Iped, Laptop, dan melihat segala berkas-berkas belasan tahun yang pernah Yardan kerjakan dan masih menyimpannya sampai sekarang.
2 jam kemudian
"sudah bangun? ". tanya Nana meregangkan sendi dilehernya hingga berbunyi.
"N.. Nona? ". Ara pun tersadar langsung celingukan dan meminta ampun pada Nana karna lalai dan tidak kuat mental.
Nana hanya terkekeh lalu meminta Ara memindahkan semua Powerpoint yang telah dikerjakannya ke sebuah Flasdisk, Ara merasa bersalah dan terus saja meminta maaf.
"sudah..! aku bosan dengan kata maafmu Ara, cepat carikan aku makanan kalau perlu minta Abi membawakanku hamburger". pinta Nana
"baik Nona". jawab Ara segera mengeluarkan ponselnya dan menghubungi Abi.
.
Nana melihat dari balik gorden balkon Apartemennya, hanya mengintip sedikit saja.
"apa mereka orang suruhan Celinne?? dasar penjahat..! Ibunya tiada masih bisa meminta orang menyakitiku, woww...! apa mereka preman bayaran? kenapa bisa sebanyak itu? banyak sekali uang mereka untuk membayar orang-orang ini". batin Nana dengan recok.
"ada apa Nona? ". tanya Ara
"mana Abi? ". tanya Nana mengalihkan.
.
.
sore harinya Nana keluar karna penasaran apa yang sedang mereka inginkan, apalagi jumlah mereka sangat banyak.
Nana memakai topi putih dan menutupi kepalanya dengan hoodienya, tak lupa juga ia mengenakan celana pendek dan sepatu olahraga.
"apa aku uji saja alat ini? ". kekeh Nana menyimpan alat sentrum dan cairan perusak mata itu.
memang tidak mematikan tapi lumayan merepotkan karna sembuhnya juga butuh waktu dan perawatan.
"tidak ada salahnya menyimpan pemberian nenek". Nana membawa kedua senjata kecilnya itu.
"huhh...! aku harus bisa menghadapi mereka, jika aku lari tidak akan membuat semuanya selesai". gumam Nana
Nana bertindak seperti tidak tau apa-apa, ia menaiki mobilnya yaitu miliknya yang dibelikan Yardan, mobil kesayangan Nana masih dibengkel dan Yardan memberikan mobil bekas Celinne tapi Nana tidak terima hingga Yardan menjual mobil Celinne dan membelikannya yang baru untuk Nana.
benar saja saat mobil Nana keluar dari pekarangan Apartemen Bintang, semua mobil-mobil bawa barang itu mengikutinya memang yang ada dimobil mereka bukan barang tapi manusia bertato yang mengawasi Nana.
"kita main balap-balapan". seringai Nana
__ADS_1
Nana melaju kencang hingga mobil-mobil yang mengikutinya begitu heboh minta si supir mereka untuk mengejar mobil Nana, wajar saja mereka ketinggalan sebab harga mobil Nana bukan murah tentu kecepatannya tidak diragukan lagi.
"woiii...? kenapa berhentii? ". teriak salah satu dari mereka yang geram saat mobil tiba-tiba berhenti.
"gadis itu menunggu kita boy...! " teriak teman nya.
mereka langsung melihat ke arah depan, betapa seksi nya Nana tengah duduk di pintu mobilnya melipat kakinya dengan anggun serta tangannya bersikadap dada melihat ke arah mereka semua.
"wuhuuuh...!! yuhuuuu".
seketika 20 Mafia abal-abal itu meloncat dengan senang karna merasa Nana malah menawarkan diri dengan berhenti ditempat sepi seperti ini.
"kalian mengawasiku? untuk apa? ". tanya Nana memiringkan kepalanya.
"gila Ketua..! cantik banget..! lebih cantik dari fotonya".
yang dipanggil ketua oleh mereka malah menyisir rambutnya dan bertanya dengan sopan ke Nana, Nana tersenyum miring saat mereka menatap lapar dirinya dan si Ketua malah meminta pada Nana untuk melayaninya sampai 7 ronde walau bicaranya terdengar sopan tapi menurut Nana itu bukanlah sopan santun malah merendahkan.
"kalian hanya berjumlah 20 orang? datang menemuiku karna bayaran Yunus? Celinne? atau Emma?". cecar Nana dengan angkuh.
"iya Nona..? hmm... tapi kalau masing-masing kami 3 ronde saja tidak apa Nona". jawab salah satu dari mereka semua.
Nana tertawa, mereka tidak sadar tawa Nana malah seram tapi bukannya takut mereka malah merasa diatas awan.
"kemarilah..! " kata Nana melambaikan tangannya.
mereka saling tarik menarik saat berebutan untuk mendekati Nana, hingga Si Ketua berseru dan tak ada yang berani meribut lagi, dengan senyum dan tatap menjijikkannya Si Ketua mendatangi Nana.
Nana menyeringai hingga saat berhadapan dengan Nana, Nana menyemprotkan cairan perusak mata ke Pria itu hingga menjerit kesakitan memegangi Mata nya, Nana juga menyentrum Pria itu hingga kejang-kejang dan terkapar di aspal.
"Oupsshh...!! aku tidak sengaja". kata Nana angkat tangan sambil memegang alat sentrumnya yang menyala-nyala hingga mereka yang melihatnya gelisah bercampur takut.
tiba-tiba ada mobil berhenti dari arah lain, Nana mengira mobil itu mau lewat karna Mobil Nana melintang jalan jadi perjalanan mobil itu tertunda dan memilih berhenti.
Nana pun akhirnya menyerang tapi bunyi tembakan membuat Nana terdiam ditempat sambil celingukan kesana-kemari, ia melihat mobil dari arah lain tadi keluar beberapa orang berseragam rapi dan memegangi senjata api.
"pergilah Nona..! biar kami yang atasi". teriak salah satu dari mereka.
"apa mereka suruhan Papa? atau Arka? tapi...?". Nana pun tersadar karna Nana hanya cerita pada Yardan dan menebak orang-orang berseragam ini adalah orang suruhan papanya.
.
.
.
__ADS_1