Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Sedikit kemesraan


__ADS_3

Dirumah kediaman Grishled


Semua orang sedang bingung mencari keberadaan putri bungsunya.Tiba-tiba, sebuah pesan bergambar masuk ke nomor ponsel tuan Hadi dan tuan Hutama.



"Tolong maafkan segalanya"


Pesan singkat yang dikirim dari ponsel Zidane masuk ke nomor mereka.


"Apa-apaan ini bocah, berani sekali dia menculik anak gadis orang dan menikahinya secara tersembunyi?" Bukan tuan Hadi yang marah, melainkan kakek dari si king ice, yaitu tuan Hutama.


Semua orang menoleh kearahnya yang sedang mengepalkan tangan."Siapa yang di maksud tuan Hutama?"


Tuan Hadi berdiri dan menghampiri kakek.


"Apa ini yang membuat anda marah, pak?" Tanya daddy dengan sopan dan memperlihatkan ponselnya.


Tuan Hutama melirik ponsel tuan Hadi dengan cepat."Anak itu, ckk.Maafkan aku, nak Hadi.Hari ini sepertinya cucuku sangat mempermalukan kita!"Tutur kakek.


"Mungkin, karena dia kurang didikan orang tua."Lanjutnya.


Daddy menggelengkan kepalanya."Mungkin dia punya alasan tersendiri, pak.Jadi, biarkan lah mereka menuntaskannya.Setelah mereka kembali, kita tanya alasan di balik ini semua."Jelas tuan Hadi.


"Dia memang beruntung mendapatkan kasih sayang kalian!"Kata kakek.


Tuan Hadi tersenyum."Justru kami yang beruntung karena putri kami kedepannya akan di jaga oleh cucumu, pak!"


Mereka yang mendengarkan obrolan kedua orang tua yang sedang asyik tersenyum menjadi tak mengerti.Sebenarnya apa yang mereka bicarakan?


🍁🍁🍁🍁


Malam ini natal belum berakhir, mereka masih merayakannya sampai esok hari.


Hiasan sepanjang jalan yang membuat malam menjadi indah. Ditemani pohon natal dimana-mana dengan cantik tersusun rapi.


"King ice, kita mau kemana sih?"Sherly berjalan dengan tergesa-gesa mengikuti tarikan tangan Zidane dan keluar dari gereja.


"Pokoknya kamu gak boleh banyak bertanya. Tunggu disini sebentar dan jangan kemana-mana!"Peringatan Zidane harus ia patuhi.


Tanpa banyak bertanya, Sherly pun mengangguk cepat."Oke!"


Dia pun duduk di bangku pinggir jalan dengan termenung sambil menatap kepergian Zidane sampai tak terlihat.



Sherly mengingat kejadian sebelumnya saat dirinya diculik dan dinikahi olehnya.


Memang, kejadian hari ini membuat dirinya terkejut namun bahagia.


Kado spesial yang diberikan Zidane membuat ia selalu tersenyum.Pertama, surprise ulang tahun dan kedua pernikahan dadakan.Aaah, itu sangat manis.Tapi, Sherly juga sangat sedih karena keluarganya tidak mengetahui bahwa putrinya sudah menikah.


"Penculik tampan."Ia terkekeh mengingat sosok Zidane.


Saat sedang tersenyum mengingat itu, bahu Sherly di tepuk seorang anak."Kak, ini dari suamimu"


Sebuah kertas tulisan tangan Zidane di berikan oleh seorang anak kepadanya.


"Kemarilah sayang, aku menunggumu di sebrang jalan utama dekat cafe"


Sherly cemberut dan menggerutu kesal."Tadi nyuruh tunggu disini, sekarang nyuruh pergi kesana.Huuh, dasar king ice"


"Terima kasih ya dek, ini buat kamu!"Di berikannya coklat yang ia beli kepada anak itu.


Sherly pun berjalan mengikuti petunjuk Zidane.


Sebuah pohon natal berhiaskan lampu dan hiasan lainya juga banyak kado tersusun di bawahnya.


Zidane berdiri di depan pohon natal sambil memawa beberapa kado yang dia masukan ke sarung yang disangkutkan di pinggangnya.


"Merry christmas, Machan.Maafkan aku karena belum memberikan kado apapun untukmu! "Ucapnya dengan tulus.



Sherly terharu dan tak bisa berkata-kata.Ia langsung berlari dengan cepat dan memeluk lelaki di hadapannya yang sekarang jadi suaminya.


"Kamu sudah banyak memberiku hadiah, king ice.Terima kasih!"Air matanya sampai tak terbendung lagi.


"Hei sayang, kenapa kamu menangis, hemh?" Zidane mendongakkan wajah cantik Sherly.


"Aku bahagia, king ice."Kata Sherly.


"Kalau bahagia, kenapa menangis?"Tanya Zidane.


Sherly mengusap air matanya."Ini tangisan kebahagiaan, tahu!"


Zidane terkekeh."Baiklah, terserah kamu saja.tapi, kedepannya aku gak mau melihatmu menangis lagi, oke!"


Sherly mengangguk cepat."Lalu, bagaimana dengan kado sebanyak ini?aku gak mungkin menerima atau membawa semua ini!"Tanya Sherly.


Dielusnya kepala Sherly dengan lembut."Aku sudah mempersiapkan penerima hadiah yang tepat, sayang.tuh lihat!"Tunjuk Zidane ke arah rombongan anak yang datang menghampiri keduanya.


"Mereka anak yatim piatu seperti ku, sayang. Berikanlah mereka sedikit kebahagiaan di hari spesialmu"Kata Zidane.


Sherly lagi-lagi harus melihat semua sifat baik dari seorang king ice.Zidane yang dingin, kaku, dan datar, ternyata mempunyai sifat yang hangat untuk orang lain.


Sherly tersenyum."Ini semua buat kalian"


Di bagikannya satu persatu kado yang di berikan Zidane untuknya di malam itu.


Sementara Zidane tersenyum dengan tingkah istrinya yang mau memberikan semua hadiah yang ia berikan untuknya tanpa sisa.


"Terima kasih nyonya Zidane Prasetyo!"Ucap mereka semua membuat Sherly melongo dan menoleh ke arah Zidane.


"Semoga kalian bahagia selalu"


"Semoga Allah Swt membalas semua kebaikan anda"


"Semoga kalian mendapatkan momongan"


"Semoga apa yang diinginkan tercapai"


"Aamiiinn"


Zidane mengerti tatapan istrinya.Ia merangkul bahu istrinya dan mencium pucuk kepalanya dengan lembut.


"Mereka mengucapkan terima kasih, sayang. Apa kamu gak mau mengatakan sesuatu?" Bisik Zidane.

__ADS_1


Sherly langsung menoleh ke arah anak-anak itu."Ah iya, sama-sama semuanya"Senyuman manis terukir di bibir Sherly."Terima kasih juga untuk semua do'anya"


"Terima kasih nyonya Zidane, semoga tuhan membalas semua kebaikan anda!"Ibu asuh mereka mengucapkannya dengan tulus.


Sherly menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Ia bingung harus berkata apa.Sedangkan yang menyiapkan semua ini kan suaminya.


"Sama-sama bu.Semoga jadi berkah untuk kita semua.Amiin!"Zidane mewakili ucapan Sherly karena melihat dirinya yang kebingungan.


Mereka pun berpamitan dan membubarkan diri dari tempat itu.


"Aku gak tahu harus ngomong apa?kamu yang menyiapkan ini semua, tapi aku yang mendapatkan pujian!"Ia tertunduk lesu.


"Hei, mereka mendo'akan kita.Apa tadi kamu gak denger ucapan dari anak-anak itu?" Tanya Zidane.


"Hemh, yang mana?"Sherly mengingat-ingat ucapan anak-anak tadi.


"Semoga kita mendapatkan momongan, sayang" Bisikkan Zidane membuat Sherly membelalakan mata.


Zidane tersenyum melihat ekspresi istrinya.


"Apa kamu gak mau mempunyai anak dariku, hehh?"


Sherly bingung dengan pertanyaan Zidane. "Gue...eh, aku..."


"Ya sudah kalau kamu gak mau!"Ia melangkah pergi meninggalkan istrinya yang termenung di sana.


Melihat Zidane yang pergi begitu saja, Sherly menjadi tak enak.


Mereka memang sudah sah menjadi pasangan suami istri.Apa salahnya Zidane mengatakan itu.Ia pun berlari dan mensejajarkan langkahnya dengan Zidane.


"Hei king ice, kamu marah ya?"Bertanya sambil menoleh ke arah wajah tampan itu.


Zidane pura-pura cuek.Ia terus berjalan tanpa menghiraukan pertanyaan istrinya.


"Ish, jangan marah dong.Aku kan kaget tadi" Ucapnya lagi namun Zidane tetap tak mau perduli.


"Huft, ya sudah kalo kamu gak...Aaahh,"


Deblugh


Perkataan Sherly tak tersampaikan karena kakinta keseleo dan ia terjatuh di jalan. Sherly berjalan dengan miring sambil menatap Zidane dan tak memperhatikan jalanan.


Zidane menoleh ke arah istrinya yang sedang terduduk sambil memegang kakinya.


"Kamu gak apa-apa?"Dia sangat cemas melihat wajah Sherly yang sedang menahan kesakitan.


"sakit tahu, pake nanya lagi!"Berkata sambil memijat kakinya sendiri.


"Aku bantu!"Uluran tangan Zidane di tepis olehnya.


"Minggir, aku mau berdiri sendiri"Ketusnya.


"Sayang"Zidane berusaha membantu Sherly namun selalu di tepis olehnya.


Tanpa mengatakan sesuatu, Zidane langsung menggendong tubuh istrinya dan membawanya menuju parkiran."Kamu selalu ngeyel!"


"Hei, turunin aku"Sherly meronta dengan menggerakkan badannya.


Zidane langsung berhenti dan menatap wajah cantik istrinya."Kalau kau tak mau diam, aku akan memakanmu malam ini!"


Ancaman Zidane membuat Sherly diam tak bergerak.Ia memilih mengalungkan tangannya di leher Zidane dan menyandarkan kepalanya di dada suaminya.


Sherly cuma diam tak mengatakan apapun.


Zidane langsung menancap gas menuju rumah pribadinya yang tak di ketahui siapapun dan Sherly sendiri baru tahu rumah itu.


Setelah sampai ke tujuan, mereka turun dan berjalan memasuki rumah dengan Sherly yang di gendong Zidane karena kakinya keseleo.


"Buka pintunya!"Zidane berkata pada istrinya.


"Kuncinya?"Tangannya menengadah ke arah Zidane.


"Ambil di kantong jaketku!"Kata Zidane.


Sherly meraba kantong jaket Zidane dan menemukan kunci dengan cepat.


Setelah membukanya, mereka pun masuk kedalam rumah.


"Ini rumah siapa?"Diedarkan pandangannya keseluruh ruangan.


"Ini rumah kita, sayang"Jawab Zidane lembut.


Tubuh Sherly di turunkan perlahan di sofa. "Sini jaketmu, aku akan menaruhnya." Lanjutnya.


Sherly membuka jaketnya dan memberikannya pada Zidane.


Di langkahkan kakinya menuju pantry dan mengambil minuman dan makanan untuk mereka serta membawa minyak urut.


"Kok, kita kesini?"Tanya Sherly heran


"Kenapa, kamu gak suka?"Zidane menatap istrinya setelah ia kembali dari pantry.


Sherly menggelengkan kepalanya."Bukan itu maksudku, kenapa kita kesini.Tapi, bukankah di sana ada kakek dan adik sepupumu?"


Zidane tersenyum jahil."Justru karena ada mereka disana, jadi aku gak bisa leluasa untuk menggodamu, sayang"


"Cih, dasar."Sherly memalingkan wajahnya ke samping.


"Kenapa, kamu gak suka?"Tanya Zidane lagi.


"Gak ada pertanyaan lain selain itu, apa?"


"Gak ada.Karena aku takut kamu gak suka aja.Aku merasa kalau kamu tak mau bersamaku"Tutur Zidane sedih.


Sherly langsung menggeser duduknya dan merapat."Aku suka kok!"Ucapnya singkat.


Zidane menoleh kearah istrinya yang tersenyum manis.Di ciumnya kening dan pipi Sherly dengan mesra."Terima kasih!"


"Apa kaki kamu masih sakit?"Di liriknya kaki Sherly yang sedikit merah.


"Sedikit"Jawabnya singkat.


Zidane menunduk dan mengangkat kaki Sherly ke pangkuannya."Aku pijitin, ya?"


Sedangkan Sherly terkejut dengan sikap Zidane."Gak usah kaya gini.Biar di bawah saja"


Zidane mengerti dengan maksud istrinya.

__ADS_1


"Aku ini suamimu, kenapa kamu harus merasa canggung?"Di pijatnya kaki Sherly dengan pelan supaya ia tak merasa kesakitan.


Sherly menatap suaminya yang sedang memijat kakinya dengan perlahan.Rasa sakit itu perlahan menghilang dari kakinya yang keseleo.


Jika di lihat lebih dekat, Zidane sangat tampan seperti ini.Membuat Sherly tersenyum sendiri.


"Apa suamimu ini tampan sehingga kamu tak bisa berpaling?"Zidane bertanya tanpa menoleh ke arahnya.


Sherly menjadi gelagapan karena ketahuan sedang memperhatikannya.Ia pun memalingkan wajahnya ke samping.


Zidane menjadi terkekeh karena tingkah Sherly yang malu."Apa masih sakit?"Tanya nya setelah selesai.


Di turunkannya pelan kakinya yang keseleo dan mencoba berdiri."Eh, udah sembuh"Ia langsung melompat-lompat kegirangan.


"Jangan kaya gitu, nanti kakimu sakit lagi" Zidane menarik tangan Sherly sampai tubuh kecil itu jatuh di pangkuannya.


"Hei"Sherly tersentak saat tubuhnya jatuh di pangkuan Zidane.


Wajah mereka sangat dekat membuat jantung keduanya berpacu dengan cepat.


Sherly mencoba menetralkan rasa canggungnya dengan berdehem."Ekhem... A...aku hmmp...!"Bibirnya di bungkam seketika oleh bibir Zidane.


Zidane menarik tengkuk istrinya dan memperdalam ciumannya dengan menggigit bibir bawah istrinya.Lidahnya masuk menerobos dan berkeliaran di dalam rongga mulut kecil istrinya itu.


Sherly mengalungkan tangannya dan mengusap kepala Zidane saat wajah suaminya menyusup di lehernya.


Ciuman Zidane turun ke leher jenjang Sherly dan membuat Sherly sedikit mendesah.


"Emmhh..."Desahan kecil dari bibir yang basah itu memancing gairah suaminya.


Dengan sedikit menghisa*, Zidane meninggalkan jejak merah di bagian itu dan Sherly menggigit bibir bawahnya saat merasakan sensasi yang aneh menurutnya.


"Aku sudah tidak tahan, sayang."Bisik Zidane yang masih menempelkan wajah di leher Sherly dengan suara yang serak dan lirih.


Dengan perasaannya saat ini.Sherly tak bisa mengatakan apapun.Ia memilih memejamkan mata saat tangan Zidane menyusup kebalik kaos putihnya.


Tangan Zidane menyentuh gundukan di bagian dada istrinya dan sedikit merem*s membuat Sherly meregangkan tubuhnya.


Zidane tersenyum melihat ekspresi istrinya yang tersentak saat di sentuh olehnya.


Syukurlah karena kamu belum di sentuh siapapun.


Tangan Zidane menarik kaos istrinya ke atas dan terpampanglah pemandangan indah yang selalu tersembunyi.


"Cantik"Singkat Zidane dengan senyum yang mengembang.


Sherly sangat malu dengan penampilannya saat ini.Ia menyilangkan kedua tangan di bagian dadanya yang cuma terbalut dengan bra warna hitam.


"Kenapa ditutupi, aku ini suamimu?" Tangannya terulur dan memegang tangan yang menyilang itu.


"Aku malu"Wajah yang sudah merah merona dan memilih untuk menunduk.


Zidane mendongakkan wajah pemalu itu. "Aku ingin melihat semuanya."Suaranya masih serak dan lirih.


"Ta...tapi aku,"Ia bingung harus mengatakan apa.


"Kenapa?"Tanya Zidane dengan mengelus wajah cantik istrinya.


Namun pandangan Sherly langsung tertuju pada cahaya putih di kening Zidane yang sedikit menyala membentuk bulan sabit.


"Apa ini?"Ia menyentuh tanda bulan itu.


"Seperti punyamu!"Jawab Zidane singkat.


Sherly menjadi bingung dengan jawaban suaminya."Apa maksudmu?"


Zidane menarik tubuh Sherly dan menyentuh bagian punggung atas Sherly."Ini juga menyala"Ucapnya.


Sherly langsung menoleh."Kenapa kamu tahu kalau aku punya ini?"


"Terlihat di pantulan kaca lemari, sayang" Tunjuk Zidane ke belakang Sherly yang ternyata lemari kaca.


Sherly pun menoleh ke belakang."Astaga, kok bisa gini ya?"


"Kita memang ditakdirkan bersama, sayang. Apa lagi kalau kita menyatu, mungkin bisa menjauhkan kita dari hal buruk."


Penuturan Zidane membuat Sherly tak mengerti.Ia memilih diam dan tak bertanya apapun.


"Jadi, apa kita sudah bisa bersatu?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut Zidane dengan nada menggoda.


Sedangkan Sherly cuma mengangguk tak mengerti.


"Benarkah?"Wajah Zidane terlihat sangat senang."Jadi, kita bisa melakukannya sekarang?"Ulangnya dengan membuka baju atasnya.


"Eh, kamu mau ngapain?"Sherly menjadi gugup saat dada bidang Zidane terekspos.


"Bukankah tadi kamu sudah setuju untuk bersatu?"Zidane semakin menggoda istrinya.


"Maksudnya?"Ia tak mengerti dengan yang di maksud suaminya tentang bersatu.


Zidane mendekatkan wajahnya dan membisikkan sesuatu di telinga istrinya.


"Menyatukan cinta kita, sayang.Seperti yang dilakukan oleh pasangan suami istri lainnya"


Sherly langsung membelalakkan mata saat mendengar penjelasan suaminya.


"King ice!"Teriakan Sherly cuma disambut tawa oleh Zidane.


"Hahaha...!"


**Bersambung gaess...


πŸƒπŸƒπŸƒπŸƒ


Otor baru pulang nih gaess.So, masih kecapean untuk menulis.


Zidane:Thor, kok aku belum bisa olahraga malam sih?


Author:Sabar babang, otor masih belum rela untuk melepas keperjakaanmu.


Sherly:Gak apa-apa thor, gue belum siap.


Zidane:Kok kamu gitu sih, Machan. Melayani suami itu sudah menjadi kewajiban kamu dan mendapatkan pahala lho!


Sherly:Owh gitu ya?ya udah, yuk capcus!


Otor menangis di pojokan sambil ngemut permen loli pop...Hikss...Hikss...

__ADS_1


Sungguh teganya dirimu...togenya...togenya... hoooo...pada diriku**.


__ADS_2