
Mobil taksi yang Sherly naiki sudah berhenti tepat di alamat yang diminta. Dia pun turun setelah membayar ongkos sesuai tarif argo.
Sherly termenung depan rumah yang cukup besar itu. Ia menatap heran dengan keadaan sekitar.
"Ini rumah barunya si Entong. Tapi, kenapa gue ngerasa ada yang aneh disini ya?" Gumam Sherly.
Dia pun melangkah ke teras rumah dan menekan bel rumahnya.
Ting tong
Di tekannya berulang namun tak ada satupun yang membukakan pintu sampai Sherly kesal.
"Woi, nih rumah ada orangnya gak sih?" Teriak Sherly dengan menggedor pintunya.
Dari dalam terdengar langkah berlari menghampiri pintu dan dengan buru-buru ia membukakan pintu untuk tamunya.
"Ah beib, sorry ya. Tadi Rani nangis terus. Yuk masuk!" Ajak Dika kepada Sherly.
"Nangis mulu kenapa sih?" Sherly jadi penasaran.
"Gak tahu nih. Coba lu lihat deh!" Sherly mengikuti langkah Dika menuju kamarnya.
Pintu kamar terbuka lebar oleh Dika, dan Sherly dengan jelas bisa melihat keadaan di dalam kamarnya Dika.
Terlihat sosok nenek yang menyeramkan sedang mendekati Rani. Tangan keriput itu terulur ke arah balita cantik itu namun Rani selalu menghindar dengan berpaling ke arah lain.
Sedang apa tuh nenek tua ngedeketin ponakan gue? Dasar nenek lampir.
Sherly menatap tajam ke arah nenek tua yang menyeramkan itu.
"Ren, kemarilah!" Sherly melambaikan tangannya ke arah Iren.
Wajah Iren mendongak dan menatap sahabatnya. Begitu juga si nenek tua yang menoleh ke arah Sherly.
"Sherly. Elu dateng juga." Senyum manis di bibir Iren yang kemudian berganti dengan wajah sedihnya.
"Anak gue nangis mulu nih. Gue gak tahu kenapa?" Ucapnya dengan sedih.
"Kenapa gak di bawa kedokter?" Sherly berbasa basi.
Padahal dia tahu jika balita mungil ini tidak sakit, melainkan ketakutan.
"Sudah, Sher. Tapi kata dokter dia gak kenapa-kenapa."
Jelas gak bakal terlihat lah, orang dia gak sakit. Tapi di ganggu setan tua ini.
"Emm, kalian percaya sama gue gak?" Tanya Sherly hati-hati.
Dika dan Iren saling pandang. "Percaya lah." Jawab mereka singkat.
"Gimana kalau gue bilang kalian harus pindah sekarang juga!"
"Apa??" Keduanya terkejut dengan ucapan sahabatnya.
"Maksud lu pindah?" Tanya mereka berbarengan.
"Apa kalian tidak melakukan syukuran rumah dulu setelah menempati rumah ini?" Sherly balik bertanya lagi.
"Rencananya kami mau melakukan syukuran besok pas hari minggu. Soalnya enyak sama bunda masih sibuk gitu." Jelas Dika.
"Tapi, lebih baik jual lagi aja nih rumah. Mending kalian pindah saja." Dika dan Iren semakin tak mengerti dengan perkataan sahabatnya itu.
"Kenapa sih?" Keduanya semakin penasaran.
"Disini ada penunggunya." Perkataan Sherly sontak membuat keduanya bergidik.
"Pe-penunggunya?" Sherly mengangguk.
"Terus, be-berarti dari tadi hawa dingin yang gue rasain itu ...!" Iren langsung mendekat ke arah suaminya.
__ADS_1
Dika langsung memeluk istri dan anaknya.
"Be-berapa, Sher?" Tanya Dika gugup.
"Apanya?" Bukan Sherly yang bertanya, melainkan Iren yang menatap wajah suaminya.
"Hantunya, sayang. Hantunya." Bisik Dika dan Iren cuma mengangguk sambil membulatkan bibirnya.
"Baru satu yang terlihat. Gak tahu deh! Tapi, gue merasa ini bukan tempat yang baik buat kalian. Yuk buruan keluar!" Sherly menarik tangan Iren yang langsung diikutinya dan Dika.
Namun, tangan Sherly di tarik nenek tua yang menyeramkan itu.
"Hei anak manis. Jangan pernah mengganggu urusan nenek!" Peringat nenek seram kepada Sherly.
Sherly menatap tangan yang mencengkram pergelangan tangannya yang terlihat kuku panjang dan hitam.
Dengan cepat ia menghempaskan tangan yang berjari kuku panjang dan hitam itu.
Tanpa menghiraukan peringatan si nenek, Sherly dengan cepat membawa pasangan suami istri sahabatnya beserta putri kecil mereka keluar dari rumah angker ini.
Dika dan Iren hanya mengikuti tarikan Sherly yang dengan cepat berjalan keluar.
"Tangan lu berdarah Sher. Bukankah tadi lu baik-baik saja!" Iren menghentikan langkahnya.
Sherly menoleh ke arah pergelangan tangannya. Bekas garisan sebuah kuku lima jari mengeluarkan darah segar.
"Iya beib, tangan lu berdarah." Dika menyentuh luka itu.
"Gak apa lah. yuk buruan!" Ajak Sherly lagi.
Keduanya saling pandang dan mengangguk mengerti. Tanpa harus bertanya lagi, mereka sudah tahu ada yang tidak beres dengan rumah ini. Makanya Sherly bersikap seperti itu.
Mereka berjalan dengan cepat ke arah pintu luar. Namun, tiba-tiba saja Sherly terseret masuk ke dalam dan terjatuh di sofa.
"Sherly!" Pekik kedua pasutri itu.
Mereka bergegas menghampiri, namun angin kencang menghempaskan mereka dan
Keduanya menabrak pintu dengan sangat keras. Untung saja Iren mendekap putri kecilnya dengan erat sehingga balita cantik itu tak terlepas dari tangannya.
"Aww!" Ringisan kecil keluar dari mulut keduanya.
"Oweeeee ... oweeee!" Rani kecil menangis dengan kencang membuat ketiganya panik.
"Sayang. Cup cup cup, jangan nangis lagi ya." Iren berusaha menenangkan putrinya.
Dika berdiri dan membantu istrinya untuk berdiri, setelah itu ia menghampiri Sherly dan membantunya untuk berdiri.
"Sher, ayo gue bantu!" Tangan Dika terulur ke arah Sherly.
Sebelum tangan Sherly menyambut uluran tangan Dika, mereka di kejutkan dengan suara benda jatuh tepat di samping Sherly dan Dika.
Prang
Lampu nakas terjatuh dan menghentikan keduanya.
Sherly melihat si nenek tua yang menyeramkan tadi membawa sosok lain dan mendekat ke arahnya.
"Apa yang kau lakuin?" Sherly mundur saat tangan si nenek tua terulur ke arah perutnya.
Nenek tua itu menyeringai menampakan gigi yang tinggal dua dan sudah menghitam.
"Lu kenapa beib?" Dika bingung karena Sherly terus mundur.
"Di-dia mau ngapain, Dik?" Sherly melihat sosok itu membawa pisau bedah di tangannya.
Dika celingukan ke kanan dan kiri untuk melihat apa yang di takuti Sherly. "Gak ada apa-apa, beib."
"Dibelakang lu, Dika." Tunjuk Sherly.
__ADS_1
Dika langsung menoleh ke belakang namun tetap tak melihat apapun.
Gak ada apa-apa di belakang gue. Tapi melihat Sherly ketakutan, gue yakin ada makhluk halus disini.
Di halanginya jalan makhluk halus itu oleh tubuh Dika dan ia menyuruh Sherly pergi.
"Lari!" Teriak Dika.
Tapi dia gak ingat kalau hantu bisa menembus semuanya termasuk tubuhnya.
Tanpa di minta dua kali, Sherly berdiri kemudian berlari mengajak Iren dan Rani keluar rumah.
Saat mereka sudah berlari keluar, tiba-tiba ...
Braaakkk ... Arrrggghhh
Dika menjerit kesakitan karena punggungnya terkena pecahan lemari kaca yang terjatuh karena di dorong sengaja oleh kedua makhluk halus di dalam.
"Dika!" Keduanya berbalik dan akan masuk lagi kedalam rumah.
Namun, mereka ingat akan bahaya sekali jika masuk kembali lagi ke dalam sana dengan si mungil Rani di gendongannya.
"Gue yang masuk. Tolong jaga Rani untuk kami." Iren menyerahkan putrinya ke tangan Sherly.
Sherly menolak permintaan sahabatnya. "Tidak, Ren. Elu harus jagain anak kalian. Gue yang akan nolongin Dika dari makhluk itu."
Sherly berlari masuk ke dalam rumah itu untuk menyelamatkan Dika. Namun langkahnya harus terhenti karena sosok besar sudah berdiri di hadapannya.
"Hai gadis bintang, kita berjumpa lagi. Huahahaaa!" Sosok besar hitam itu tertawa terbahak setelah melihat Sherly.
Dia. Ini dia peliharaan Hendri. Jangan-jangan ini semua ulahnya.
Sherly langsung menoleh ke belakang dan menatap Iren yang sedang menggendong Rani kecil. Dia harus di buat terkejut karena Iren dan putrinya berubah menjadi kuntilanak dan bayi setan.
"Astaga!" Sherly terpundur melihat kejadian di depannya ini.
"Ya tuhan, kenapa gue bisa seceroboh ini?"
Sherly baru sadar kalau rumah besar itu berubah jadi rumah yang sudah tak terpakai dan terbengkalai.
Semua rumah di area ini berubah jadi deretan rumah yang sudah rusak dan keadaannya pun sepi tak berpenghuni.
Sherly semakin terperanjat saat semua makhluk halus di sana keluar menampakkan diri di hadapannya dan mengepung dirinya yang hanya seorang diri.
Semua makhluk itu menyeringai tersenyum senang karena bisa mendekati Sherly.
Sherly tak tahu kenapa saat ini dia merasa tak bisa melakukan yang biasa dia lakukan. Seperti ada sesuatu dalam dirinya yang menghalangi gerakannya.
Kenapa gue gak seperti biasanya. Banyak ketakutan dalam diri gue ini. Gue takut kalau tubuh gue terluka akan ada yang terluka juga. Tapi apa itu, gue juga gak tahu.
Sherly masih belum tahu kalau dirinya kini berbadan dua. Perasaannya menjadi lebih sensitif dari biasanya. Namun, gejala seperti yang biasa dirasakan ibu hamil yang sering muntah atau apapun itu tak ia rasakan. Sehingga dirinya tidak tahu kalau ada janin yang hidup di rahimnya.
Geri pun lupa mengatakan kepadanya ataupun Zidane kalau Sherly sedang hamil.
Satu nama yang dipikirkan Sherly saat ini.
"King ice." Teriaknya dengan kencang saat semua makhluk itu mendekat.
♧♧♧♧
**Gimana nasibnya Sherly ya? Hemh, penasaran aku.🤔🤔
Terus pantengin ceritaku ya.
Oh ya, aku mau minta maaf kepada semuanya untuk keterlambatan updatenya.
Saat ini aku masih belum vit. Dokter menyarankan untuk istirahat total, tapi aku tak bisa mengabaikan para pembaca yang setia menanti.
Aku minta maaf yang sebesar-besarnya jika tulisanku ini kurang membuat kalian puas. Aku usahain setelah sembuh akan update seperti biasa lagi.
__ADS_1
Yang belum ke feedback atau komentarnya gak ke balas, maaf banget ya.
Terima kasih semua😘😘😘**