Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Boncabe


__ADS_3

Seiring waktu berjalan, anak-anak tumbuh dengan cepat.


Keempat anak mereka kini sudah besar dan mereka pun berteman baik.


Tapi, Zyan tetap selalu dingin sikapnya walaupun mereka kini berteman dekat.


Rena selalu meminta bantuan Zyan untuk hal apapun membuat Zyan kesal di buatnya.


Namun, bukan Rena jika tak pernah berhasil membuat Zyan menyetujui permintaannya.


Entah apapun jalan yang di tempuh Rena, yang pasti dia akan membuat Zyan patuh kepadanya.


"Tante, aku ingin pergi ke luar kota untuk ikut audisi menyanyi. Tapi, papa sama mama gak ngizinin aku karena aku seorang gadis." Rengek manja Rena kepada Sherly.


"Benar dong kata orang tuamu. Gak baik seorang gadis pergi sendiri ke luar kota." Kata Sherly.


"Tapi, kata papa kalau ada teman boleh kok!" Lirikan mata Rena tertuju kepada pemuda yang sedang berselonjor kaki di sofa.


Sherly mengikuti lirikan mata Rena yang mengarah kepada putranya. Ia dapat menangkap jika Rena ingin putranya menemani ke luar kota.


"Emmh, sayang ...!" Belum Sherly berkata, Zyan sudah beranjak dari tempat duduknya.


"Gak bisa!" Ucapnya singkat.


Ternyata dari tadi dia menyimak perbincangan kedua wanita beda usia itu walaupun matanya fokus menatap layar datar yang menyala.


Rena langsung berdiri untuk mengejar Zyan. Dia menarik tangan pemuda tampan itu sampai Zyan berbalik menghadapnya.


"Ayolah, Zyan! Elu kan sahabat gue yang paling baik dan pengertian. Gue pengen ikut audisi menyanyi itu. Siapa tahu gue lolos dan jadi juara!" Bujuk Rena sambil menggoyangkan tangan si tampan.


"Singkirin tangan lu!" Zyan menghempaskan tangan Rena dengan kasar. Dia sempat mengibas-ngibaskan tangannya sendiri seperti gak mau di sentuh.


Melihat tingkah Zyan, Rena semakin merengek manja seperti anak kecil.


"Zyan, please! Kali ini aja anterin gue ke luar kota. Kalo gue menang, orang pertama yang gue sanjung itu elu bukan yang lain. Elu mau kan? Ya ... ya ... ya!" Rena terus membujuk.


Namun Zyan tetep keukeuh pada pendiriannya. Dia tak mau untuk mengikuti keinginan si gadis cerewet anak sahabat ibunya.


Zyan melangkahkan kaki ke lantai atas menuju kamarnya.


Tentu Rena tak mau tinggal melihat Zyan pergi begitu saja. Dia mengejar pemuda tampan yang arogan tersebut.


Sherly hanya melihat keduanya dengan menggelengkan kepalanya tak percaya. Dia jadi ingat tingkah Zidane dulu saat mereka baru kenalan.


Zidane yang dingin dan datar selalu membuat Sherly kesal. Sekarang sifat itu menurun kepada sang buah hati. Si tampan dari negri dongeng. Heheee


"Zyan, ayolah! Anterin gue pergi." Rena terus mengekor sambil merengek.


Rengekan Rena membuat Zyan kesal. "Berisik." Teriaknya dengan keras.


Dari dapur si mang Sidik tergopoh berlari melewati sang nyonya pemilik rumah.


Sherly yang melihat mang Sidik berlari tanpa menghiraukan dirinya pun menjadi heran.


"Si mamang mau kemana?" Mata Sherly menilik mengikuti kemana arah pergi tukang kebunnya itu.


Ternyata si mamang mengejar putranya yang sudah berada di lantai dua dengan Rena yang mengekor di belakang sambil menarik ujung kaosnya.


"Ada apa den Zyan?" Tanya si mamang.


Zyan langsung menoleh ke belakang. "Siapa yang panggil mamang kesini?" Tanya Zyan datar melirik Rena.


Mang Sidik malah mengangguk dengan pertanyaan yang di ajukan Zyan. "Baik, den!"

__ADS_1


Entah apa yang di tangkap oleh indra pendengaran man Sidik. Dia menarik Rena turun untuk mengikutinya.


"Hei, apa-apaan ini?" Pekik Rena yang mendapat tarikan dari mang Sidik.


Zyan membelalakan mata melihat Rena di tarik mamang untuk turun. Begitu juga Sherly.


Walaupun Zyan merasa mang Sidik itu aneh dan pendengarannya kurang jelas, namun dia juga senang karena tanpa di minta olehnya, mang Sidik mengusir si gadis cerewet yang mengganggunya terus.


"Terserah lah!" Ucap Zyan sambil berlalu ke kamar dengan tertawa kecil.


Berbeda dengan Sherly, dia menghentikan tukang kebun rumahnya dengan menghalangi langkah si mamang yang sedang menarik tangan anak sahabatnya.


"Berhenti! Kenapa mamang menarik tangan Rena?" Di hempaskan tangan mang Sidik dari tangan Rena. "Dia kesakitan, mang!" Mengelus tangan Rena yang sedikit memerah karena tarikan tersebut. "Kamu gak apa-apa kan, sayang?" Bertanya pada Rena.


Tentu Rena meringis kesakitan karena ulah si mamang.


"Sakit, tante. Lihat! Tanganku sampe merah kaya gini." Rengek Rena. "Mang sidik kenapa sih narik tangan aku gitu aja?" Ketus Rena pada mamang dengan sedikit berteriak.


"Saya cuma menjalankan perintah den Zyan!" Jawabnya langsung.


"Memangnya Zyan minta mamang untuk narik tangan Rena?" Tanya Sherly.


"Iya. Kata den Zyan, usir dia dari sini!"


Sherly dan Rena menepuk kening secara bersamaan. keduanya tak tahu harus berkata apa. Entah apa yang harus mereka salahkan.


"Zyan tadi ngomong, siapa yang manggil mamang kesini? Bukan nyuruh usir aku dari sini!" Teriak Rena dan si mamang hanya bilang, "oh!" dengan lurus tanpa ada belokan, tikungan, tanjakan, apalagi turunan. Karena si mamang tak lagi sedang ngukur jalanan.


Dengan gigi yang ompong dua di depan, si mamang cengengesan dan meminta maaf kepada Rena. "Hehehe, maafin mamang ya neng Rena. Kirain mamang teh, den Zyan nyuruh ngusir neng Rena!"


"Ckk, terlambat! Aku terlanjur di tarik mamang dan Zyan sekarang udah masuk kamar."Ketus Rena.


"Ooh, neng Rena mau makan telur dadar?Ya udah, mamang nyuruh bi Murni bikin dulu ya. Kalau mamang yang bikin, takutnya gak enak." Kata si mamang.


Sebelum mamang melangkah ke dapur, dengan cepat Rena berkata sedikit keras.


"Aku bilang Zyan udah masuk kamar, bukan minta di bikinin telur dadar, mang!" Kata Rena. "Ya tuhan, tante dapet orang kaya gini darimana? Bikin naik darah aja!" Protesnya kepada si pemilik rumah.


"Jangan tanya tante! Karena dia di bawa oleh papinya Zyan." Elak Sherly.


"Haduh, om Zidane aneh. Orang macem gini di percayakan kerja di rumah. Apa dia gak pernah salah paham terhadap perkataan si om?" Tanya Rena lagi sambil melirik si mamang yang masih setia berdiri di sana. "Kenapa masih disini? Sana pergi!" Usir Rena kepada si tukang kebun.


Mang Sidik langsung pergi setelah membungkukkan kepalanya sedikit. Dia pergi ke arah dapur dan melanjutkan pekerjaannya.


▪▪▪▪▪


Hari sudah larut malam. Seperti biasa, Zidane pulang dari kantor dalam keadaan rumah sudah sepi.


Pintu di bukakan oleh Sherly karena dia tak mau mengganggu tidur bi Murni atau mang Sidik untuk membukakan pintu buat suaminya.


Kebiasaan Sherly sangat di sukai Zidane. Dia senang karena setelah letihnya pekerjaan di kantor yang menggunung, justru pulang di sambut istri tercinta.


Kecupan mendarat di kening Sherly dari bibir manis Zidane. Tentu membuat istrinya juga senang dan bahagia.


Malam ini Zidane pulang lebih larut, karena pekerjaan yang sangat banyak di kantor. Sudah sebulan dia lembur terus dan Sherly harus terjaga menunggu kepulangan suaminya.


Walaupun seperti itu, Sherly tak pernah mengeluh. Dia tetap menunggu kepulangan suaminya dengan sabar di ruang tamu.


"Sayang, kenapa pulangnya larut banget?" Tanya Sherly dengan mengambil alih tas kerja suaminya.


"Hari terakhir lembur, sayang. Makanya aku kelarin semuanya sama Indra dan Joan. Mudah-mudahan besok tak ada masalah lagi dari pihak pemasar!"


"Amiin!" Ucap keduanya bersamaan.

__ADS_1


"Kamu mandi dulu ya, setelah itu makan. Pasti kamu lapar, bukan?" Kata Sherly seraya membuka jas suaminya.


Zidane mengangguk dan berlalu masuk ke kamar mandi.


Beberapa menit kemudian, Zidane keluar dan sudah segar karena guyuran air di tubuh lengketnya.


"Zyan tak keluyuran, kan?" Tanya Zidane sambil memeluk istrinya yang sedang menyiapkan piyama untuknya.


"Tidak, kok! Malah tadi Rena kesini untuk menemuinya." Jawab Sherly. "Ayo pakai pakaianmu biar gak masuk angin!" Kata Sherly seraya melonggarkan pelukan suaminya dan berbalik menghadap Zidane.


"Gak usah lah. Kaya gini kan enak, sayang. Gak usah ribet buka-buka, tinggal masuk aja!" Nada bicaranya genit sambil mencium bibir istrinya. "Cup."


"Hmmpph, kamu itu ya sekarang jadi tambah genit." Di cubit pinggang Zidane dengan kesal setelah melepaskan kecupan suaminya.


"Genit sama istri sendiri boleh kan! Memangnya kamu mau kalau suami tampanmu ini menggoda wanita lain?" Goda Zidane.


Seperdetik kemudian, Zidane meringis karena cubitan keras mendarat tepat di lengannya. "Aduh, aaaawww. Sakit tahu!"


"Makanya, kalau ngomong itu di pikir. Awas aja kalau kamu berani menggoda wanita lain! Tak potong itu si boboyboi."


Zidane bergidik ngeri melihat tangan Sherly yang memperlihatkan cara memites sesuatu.


"Waduh. Kalau boboyboi di potong, udah gak bisa mengeluarkan kuasa lima dong!" Tangan Zidane menelungkup miliknya yang berada di balik handuk. "Hiiiiiyyy."


"Hahahaaaa!" Tawa renyah terdengar dari mulut seseorang, tapi bukan Sherly.


Sontak keduanya menoleh ke arah sumber suara.


Terlihat sosok hantu wanita sedang nangkring di jendela kamar mereka sambil memperhatikan keduanya.


Mata si hantu wanita tak berkedip saat melihat tubuh kekar Zidane yang terpampang tanpa tertutupi kain. Hanya bagian bawah yang terlilit handuk putih.


Melihat si hantu wanita memandang terus ke arah suaminya, Sherly langsung menutupi tubuh kekar itu dari pandangan nakal si hantu.


Sherly mungkin sudah mengeluarkan kedua tanduk di atas kepalanya saat ini. Sikapnya yang manis berubah menjadi galak saat melihat wanita lain menatap tubuh suaminya dengan air liur yang menetes dari ujung bibir.


"Siapa lu? Sejak kapan lu nongkrong di jendela kamar gue?" Ketus Sherly.


"Sejak dia pulang!" Jawab si hantu dengan menunjuk Zidane.


Si hantu wanita turun dan melayang mendekat. Namun Sherly menghentikannya dengan mengulurkan tangan ke arah si hantu.


"Berhantu ... eh, berhenti maksud gue!"


"Pffttt, kamu itu lucu. Aku emang hantu. Hihihiii!" Ledek si hantu yang mendengar perkataan Sherly.


Sedangkan Zidane menepuk keningnya di balik tubuh kecil istrinya. "Aduh sayang, kenapa lagi gini kamu malah bikin dia ketawa?"


"Lidahku keseleo, sayang!" Alasan tak masuk akal.


"Haish, kamu itu ya!" Zidane kesal juga akhirnya.


Mungkin kalau saat ini dia memakai pakaian lengkap, dia akan langsung mengusir hantu wanita yang tiba-tiba nangkring di kamarnya.


Namun, dia tak bisa bergerak bebas jika ada wanita lain di kamarnya, walaupun itu sesosok hantu. Kan dia tetep wanita walaupun hantu.


"Makanya, kalau di suruh pakai baju itu ya nurut. Jangan banyak alasan!" Ucap Sherly lebih kesal.


"Kalau aku pakai baju dari tadi, dia ngeliatin dong. Kan dia udah nangkring di sana dari tadi!" Elak Zidane.


"Iya juga ya!"


Si hantu cengengesan melihat pasangan suami istri itu yang sedang berdebat kecil masalah pakai baju. "Hihihiiiii."

__ADS_1


__ADS_2