
Malam jum'at katanya adalah malam yang angker dan malam buat para makhluk halus untuk berkeliaran dengan bebas.
Begitu juga dengan Sherly si hantu sementara.Ia duduk di kursi balkon di kamarnya yang kosong.
Gadis itu sangat merindukan rumahnya, terutama ayah, ibu, kakak-kakaknya, ponakan yang lucunya minta di cium, para sahabat koplaknya dan yang paling penting si tampan King ice.Dia merindukan semuanya.
Namun apa lah daya, takdir harus membuatnya merelakan dirinya menjalani ujian kehidupan yang menurutnya berat untuk di jalani.
Jauh dari keluarga ataupun sahabatnya itu sangat menyedihkan.Apa lagi dia harus berkeliaran tanpa saling berpandangan atau bersentuhan dengan orang-orang yang ia sayangi.
Sedih tahu, hiks..otor aja kalau gitu gak kuat.
Dia memandangi langit malam yang bertabur bintang dan di terangi cahaya bulan.
Entah apa yang ia pikirkan sampai ia berdiri di atas pagar besi balkon.Pikirannya muncul untuk melompat ke bawah dengan cara terjun bebas.Mungkin dia sudah putus asa.
Kedua tangan di rentangkan ke samping dan ia memejamkan matanya.Saat ia akan menghempaskan dirinya untuk jatuh ke bawah, sebuah tangan menariknya membuat ia mengapung di udara.
Sherly terkejut karena dirinya masih di atas."Hahh, kok gue kagak jatoh sih?"Bingung juga karena dirinya malah mengambang di udara.
"Kenapa kamu mau melakukan itu?apa kamu sudah bosan hidup di dunia ini?"Suara seorang wanita menegurnya.
"Eh, siapa yang ngomong?"Dia pun menengok kiri dan kanannya.
"Aku ada di atas kamu, gadis muda"Suara itu sangat jelas terdengar.
"Ooh, kamu yang menarik gue supaya gak jatuh ya?"Tanya Sherly kepadanya.
"Iya, aku yang menyelamatkanmu!"Di turunkannya tubuh Sherly sampai menapak di teras rumah.
"Menyelamatkan apa, orang kalau gue jatoh juga gak bakal kenapa-napa kale.Sekarang gue jadi gentayangan."Sherly bersidakep di kursi depan rumahnya.
"Kamu sudah mati kah?tapi, aku tidak mencium hawa kematian dari dirimu"Wanita itu mengendus tubuh Sherly seperti seekor kucing.
Sherly yang di endus pun merasa risih.Ia beranjak dari tempat duduknya dan berdiri seketika.
"Ish, apaan sih lo?" Ia tak terima dengan perlakuan wanita itu.
"Kamu masih hidup, cuma roh kamu saja yang keluar dari ragamu karena luka dalam di tubuhmu, kan?"Tebak wanita itu dengan tepat sasaran.
Sherly melongo dengan penuturan sosok wanita di hadapannya."Kok elu tahu sih?"
"Aku ini sudah lama jadi hantu, jadi aku tahu mana hantu beneran dan hantu belum sah!"Kata sosok itu.
"Waduh, hantu aja ada yang sah dan belum sah segala.Ngeri gue kalau tuh orang yang belum mati tapi jadi hantu sah.Hiiiiyy"Ia bergidik memeluk dirinya sendiri.
"Hantu yang gak sah itu kaya kamu, raganya hidup tapi rohnya keluyuran mulu.Kagak capek apa ya?"Ledek sosok wanita itu.
"Huuhh, dia malah ngeledekin gue lagi.Gue kagak mau lah kaya gini terus.Gak bebas tahu"Menatap dengan serius.
"Elu bisa gak nolongin gue supaya roh gue masuk ke dalam raga lagi.please, bantuin ya.. ya..ya!"Ia bersikap manja sambil menggoyangkan tangan wanita itu.
"Cih, manjanya.kamu pasti nona muda rumah ini ya?"Ia melirik rumah megah di depannya.
"Iya, gue putri bungsu di rumah ini.Kenalin, nama gue Sherly Grisheld Prayoga. Kalau lu siapa?"Tangannya terulur ke depan dan di sambut wanita itu.
"Hai, namaku Alea Azahra.usia kamu berapa tahun sih?aku penasaran sama tingkah kamu yang manja itu."Tutur Alea.
"Dua puluh empat tahun bulan ini, dan elu sendiri?"Dia balik bertanya karena penasaran.
"Aku sudah tiga puluh delapan tahun, adik kecil" Ia tersenyum dan mengelus kepala Sherly.
"Astaga, kok penampilannya kaya anak abege gitu ya?"Sherly terheran dengan hantu wanita cantik di depannya.
"Masa sih?padahal aku sudah punya anak lho..hihiihihiiiiii"Di keluarkannya bayi dari perutnya dan langsung di gendong serta di perlihatkan kepada Sherly.
"Waduh, ja..jadi elu itu miss kuntik?"Tanya Sherly.
"Miss kuntik..apa itu?"Ia tak mengerti dengan kata-kata gadis di depannya.
"Nona kuntilanak cantik." Singkatnya Sherly.
"Hahh, kamu ada-ada saja."Alea terkekeh dengan penjelasan Sherly.
"Terserah kamu lah mau panggil apa, yang penting kamu senang!"Lanjutnya.
"Gue emang selalu happy, tapi kali ini gue sangat sedih.huaaaa"Ia menangis dengan kencang.
Alea pun kesal dengan gadis berisik itu.
"Hei, kamu cengeng banget sih melebihi bayiku" Dimasukkannya lagi bayi itu kedalam perutnya.
Waduh, otor gak bisa bayangin yang itu.
"Ada satu cara biar kamu masuk ke ragamu lagi.tapi, harus dengan bantuan orang lain yang bisa melihatmu selain makhluk halus." Kata Alea.
"Apa itu?ayo, katakan.gue pengen dengar" Antusian sekali dia.
"Emh, gimana ya?"Dia bingung harus mengatakan apa.
__ADS_1
"Apa kamu sudah punya pacar?"Tanya Alea sedikit ragu.
"Pacar?kagak..eh belum kale...eh, tahu lah." Dia bingung dengan hubungannya sama si king ice, soalnya belum ada yang saling jujur satu sama lain.
"Kalau kamu punya pacar, kamu coba deh masuk dalam mimpinya dan minta dia buat nyium kamu."Perkataan Alea membuat mata Sherly membulat dengan sempurna.
"What??Dikira gue putri salju kali ya, di cium pangeran langsung bangun.Ogah ah, gengsi dong gue harus minta si king ice buat nyium gue"Ia cemberut dan bersidekap sambil memalingkan wajah cantiknya.
"Itu juga kalau kamu mau bangun cepet-cepet.Kalau enggak sih ya gak apa-apa juga kali.Aku cuma ngasih saran doang.Itu pengalaman pribadi soalnya"Alea bersikap cuek dan berpaling darinya.
"Cih, kalau sama si king ice sih gak usah masuk lewat mimpi juga kali, dia kan bisa lihatin gue seutuhnya walaupun cuma jadi roh." Gumaman Sherly di dengar oleh Alea.
Hemh, pemuda itu kayaknya yang bisa nolongin dia.Hehehee...
Alea menyeringai mendengar gumaman Sherly.
"Oh iya dek, kenalin aku dong sama teman-teman kamu biar aku gak kesepian!"Wajah Alea sengaja di buat semelas mungkin supaya Sherly mengalah padanya.
"Tapi gue..."
"Please, aku kesepian"Ia terus memelas pada gadis itu.
"Haish, ya sudah.yuk, gue kenalin!"Ajak Sherly dan mereka pun menghilang menuju tempat yang diinginkan Sherly.
Setibanya di tempat tujuan, ia terlihat bingung dengan tempat itu.Tidak seperti biasanya, rumah yang selalu sepi karena cuma di tinggali Zidane dan dua orang pelayan di tambah Nania, kini menjadi ramai seperti di pasar.
"Ada acara apa di rumah si king ice.kok rame banget?"Ia menyusuri halaman rumah Zidane dengan bingung.
"Semua orang yang gak pernah gue lihat sebelumnya."Ia terus memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang di sana.
Halaman rumah dan seluruh ruangan di dekor sedemikian indah.Meja-meja di susun berjejer dengan kursinya seperti di sediakan khusus tamu undangan.
Sepertinya akan di adakan pesta.
"Ini rumahnya pacar kamu?"Tanya Alea.
"Belum kali...eh, bukan!"Gadis itu jadi salah tingkah.
"Ow..ow..owww, kamu ternyata berharap dia jadi pacar kamu ya?"Ledek Alea.
"Siapa yang berharap?kagak kali.Gue mah orangnya gak seneng pacaran.lebih baik temenan dari pada pacaran"Ucapnya.
"Tapi aku melihat sinar matamu mengatakan ada cinta untuk lelaki yang kamu sebut tadi. Buktinya, nama panggilan pun lain dari yang lain"Alea terus meledek Sherly.
"Apaan lu miss kuntik, jangan sok tahu ah." Ia menghindar dari percakapannya.
Sherly senang dengan menatap Zidane dari kejauhan.Senyum nya terukir indah saat memandang wajah tampan si dingin itu.
Namun seketika senyum itu lenyap saat Sherly melihat sesuatu terjadi.
Zidane terlihat seperti sedang memeluk gadis itu dari belakang dan gadis itu pun tersenyum dengan memalingkan wajahnya.
Seluruh tubuh Sherly gemetaran seketika dengan jantung dag dig dug tak karuan. Rasanya kaki ini sulit untuk di gerakkan.
Ia tersenyum kecut melihat ekspresi bahagia Zidane saat bersama gadis itu.
Tanpa berkata-kata, Sherly pun melangkah mundur kemudian berbalik dan pergi.Namun sebuah tangan menghentikan langkahnya.
"Hei galak, mau kemana?"Nania menggandeng tangan Sherly dan menghentikan langkahnya.
Sherly pun berbalik dan menatap Nania dengan lekat."Gue mau balik!"Ucapnya singkat.
"Balik, oh gue tahu.kamu mau masuk ke tubuhmu lagi kan?"Nania jadi antusias dengan perkataan singkat dari Sherly.
Sherly tersenyum pelik."Kalau gue bisa."
"Eh, siapa ini?"Nania melirik wanita di samping Sherly.
"Hai, aku Alea.teman barunya si gadis berisik" Uluran tangannya di sambut Nania.
"Gadis berisik?hahaha...kok sama sih panggilannya kaya si ganteng kalau manggil dia gitu, si gadis berisik!"Nania malah menertawakannya.
"Oh ya, hemmm, berarti memang benar dong dia gadis berisik"Ledek Alea.
"Memang, Hahaaaa"Mereka tertawa terbahak sampai mengundang lirikan Zidane ke arah mereka.
Si Machan pulang
Zidane tersenyum ke arahnya namun Sherly terlihat kesal dan memalingkan wajahnya.
Tangan Zidane melambai di udara namun langsung di pegang oleh gadis di samping nya yang mengira jika tangan Zidane pegal.
Ia pun menyentuh tangan itu dan sedikit memijatnya membuat Sherly membelalakkan mata.
Zidane tersenyum ke arah gadis itu dan ia melirik ketiga sosok yang ada di bawah.
"Kamu cemburu ya?"Alea menyenggol lengan Sherly sedikit.
"Apaan sih lu, sorry ya gue gak cembokur" Ketus Sherly sambil memalingkan wajah namun melirik terus ke arah Zidane.
__ADS_1
"Oh iya Genit, tumben rumah si king ice rame bener.Apa bakalan ada acara?"Tanya nya kepada Nania.
"Emang, dua hari lagi bakalan ada acara." Perkataan Nania menarik perhatiannya.
"Hemh, acara apa itu?"Ia pun penasaran.
"Kakeknya si Ganteng kan udah dateng kesini. Beliau mau mengadakan acara pertunangan buat si Ganteng"Nania berkata dengan santai.Ia menunjukkan ibu jarinya ke arah Zidane.
Zidane tersenyum ke arah mereka namun wajahnya di sentuh oleh gadis itu dan memalingkan ke arahnya.
Sherly yang belum mencerna perkataan Nania karena ia fokus memandang kemesraan Zidane dan gadis itu sampai tak sadar dengan apa yang di katakan Nania.
"Dia mau tunangan!"Alea sedikit mengeraskan suaranya di telinga Sherly membuat gadis itu tersadar.
"Oh, dia mau tunangan..eh, apa??"Sherly terkejut dengan perkataan Alea dan ia pun melirik Nania.
"Iya, dia mau tunangan!"Jelas Nania.
"Sa..sama siapa?"Suaranya bergetar lirih dan ia terlihat syok.
Jadi, dia sudah punya gadis lain yang akan di ganggunya tiap hari?
"Kamu gak tau?"Nania sedikit bingung dengan gadis galak ini.Kok dia sampai gak tahu sih?Pikir Nania.
"Jangan bercanda kamu, bukannya dia sudah ngomong sama kamu waktu itu!"
"Kapan?"Suaranya makin lirih.
"Waktu di rumah sakit.Dia sendiri malahan yang ngomong sama kamu dan minta persetujuanmu!"Ucap Nania lagi.
Dia minta persetujuan dari gue?berasa jadi istri yang di duain aja deh ih.di madu, bok.
"Ja..jadi dia ngelakuin ini semua atas persetujuan dari gue?"
"Kok kamu kayak gak tahu apa-apa sih?" Nania heran dengan sikap Sherly.
Bukannya seneng tapi malah terlihat sedih.
"Hei, bukannya kamu sendiri yang bilang kalau kamu ingin bebas seperti dulu lagi?" Nania menggoyangkan badan Sherly.
Gue memang pengen bebas, tapi gue udah terbiasa di gangguin dia.huaaa...gimana ini.
"I..iya sih.gue seneng banget kalau bisa bebas seperti dulu lagi."Sherly terlihat sangat sedih.
"Kalau kamu seneng banget, kenapa gak tersenyum.bukankah ini yang kamu mau?" Tangan Nania menyentuh bahu Sherly.
Bukan, bukan ini yang gue mau.
Sherly tersenyum kecut.Ia tak bisa menahan perasaannya lagi.Rasanya dunia ini runtuh jika dirinya harus melihat Zidane memakaikan cincin di tangan gadis lain.
Tapi untuk menyatakan cinta pada pemuda dingin itu, egonya terlalu tinggi sampai ia tak mau mengungkapkannya.
Bisakah gue melihat dia bahagia bersanding dengan gadis lain di depan mata gue.
Nania dan Alea melirik Sherly yang terlihat sedih.mereka pun saling pandang dengan pikirannya masing-masing.
Pasti ini sangat sulit baginya.Batin Alea.
Kenapa dia sangat sedih?bukannya dia sendiri yang menginginkannya?Nania terheran dengan ekspresi Sherly.
"Gue balik dulu deh!"Ia tak bersemangat seperti biasanya.seperti bukan dirinya.
Zidane yang terus bercengkrama dengan gadis itu pun tak tenang saat melihat Sherly melangkah pergi.
Ia spontan berteriak."Stop!"Semua orang berhenti melakukan aktifitasnya karena teriakan Zidane dan mereka menatap ke arahnya termasuk ketiga sosok itu.
Zidane pun jadi salah tingkah dan melirik sana sini gak jelas.
Gadis itu menyentuh lengan Zidane dan sedikit mengelusnya.terlihat ia seperti bicara padanya dan Zidane pun tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Hati Sherly semakin tak karuan melihat interaksi dari kedua manusia yang sedang di mabuk cinta.
Sakit sekali sih melihat mereka tersenyum bahagia seperti itu.tapi, apa hubungannya dengan gue.sebaiknya gue tak memperdulikan itu kan?
Ia melanjutkan langkahnya dan berlalu pergi dari rumah kediaman Zidane.
Zidane melirik Sherly yang pergi begitu saja.
Kenapa dia gak mau nemuin aku, apa dia masih marah dengan perkataanku kemarin?
Namun Zidane tersenyum saat mendengar Sherly berteriak sebelum dia menghilang dari tempatnya.
Zidane...i love you so much.
"Seenggaknya itu yang bisa gue ucapin untuk terakhir kalinya"Ia sangat lega setelah mengatakannya.
Mungkin kata itu sudah terlambat untuk di ungkapkan.Tapi, ia sudah cukup puas mengutarakannya walaupun tak di dengarkan oleh si king ice.
Sherly pun benar-benar menghilang dari rumah Zidane dan pergi entah kemana.
__ADS_1