Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Pertemuan sahabat


__ADS_3

Brukkk


"Aduh!"


Keduanya terjatuh karena bertabrakan dengan kencang.


"Punya mata gak sih!" Ucap keduanya berbarengan sambil mendongakkan wajah dengan tatapan tajam.


Tak lama kemudian, mereka saling menatap dan ...


"Avril!" "Prita!" "Ini beneran kamu?" Ucapnya lagi berbarengan.


Keduanya berdiri dan saling pandang, yang kemudian saling berpelukkan.


"Aku gak nyangka lho ketemu kamu disini!" Avril tersenyum senang


"Iya. Aku juga gak nyangka ketemu kamu disini!" Wajah Prita juga terlihat senang. "Um, kapan kamu balik dari thailand?" Tanya Prita kemudian.


"Udah lama kok. Cuma aku pulang ke Yogyakarta waktu itu, dan kemarin baru sampai ibukota." Jawab Avril. "Eh ngomong-ngomong, apa yang kamu lakukan di sini? Apa kamu sakit?" Lanjut Avril bertanya.


Prita seperti enggan berbicara, namun dia tetap menjawab. "Pacarku kemarin mengalami kecelakaan dan dia meninggal. Dokter memintaku datang untuk mengambil barang-barangnya." Jawabnya.


Walaupun memang benar dengan jawaban Prita, ada sedikit kebohongan juga yang dia ucapkan.


Avril menatapnya dengan rasa simpati. Prita memang sahabatnya waktu sekolah menengah dulu, tapi mereka terpisah waktu kuliah. Prita pergi melanjutkan study-nya di Amsterdam dan Avril di dalam negri.


Keduanya tak pernah bertemu secara langsung, hanya via sosial media saja.


"Pacar kamu yang kapten polisi itu bukan?" Prita mengangguk dengan pertanyaan sahabatnya itu. "Umm, maaf ya Ta! Aku tak bermaksud ...!"


"Ah, gak apa-apa kok. santai saja!" Kata Prita sambil tersenyum. "Oh iya, kamu sendiri sedang apa di sini?" Tanya Prita balik.


"Kemarin aku dapat berita kalau dia kecelakaan dan belum sadarkan diri, katanya kondisinya parah. Jadi, aku ingin menjenguknya."


"Bukankah kalian sudah putus? Ataukah, kalian bersatu lagi?" Tanya Prita terkekeh.


Avril hanya tersenyum menanggapi perkataan sahabatnya tersebut. "Kita sudah putus, dan dia pun sudah menikah dengan gadis lain. Tapi aku gak perduli, karena aku sayang sama dia dan gak akan bisa melepaskannya begitu saja!"


Prita terkesiap dengan jawaban sahabatnya. Dia merasa sahabatnya ini seperti dirinya yang tak mau mengalah untuk mendapatkan cinta pria yang sudah berkeluarga. Walaupun, dia berhubungan dengan pria lain, tapi hatinya tetap memikirkan seseorang yang selalu membuat dia penasaran.


"Kita ngobrol di cafe sebrang sambil makan, yuk! Aku ingin tahu, siapa lelaki bodoh yang mengabaikanmu demi gadis lain?"


Tangan Prita langsung menggandeng tangan Avril dan membawanya keluar dari rumah sakit.



__ADS_1


"Jadi, siapa lelaki itu hehh? Aku sering mendengar kamu bercerita tentang dia, tapi belum tahu namanya dan belum pernah bertemu dengannya juga."


Wajah Avril tersipu saat mengingat seseorang yang di cintainya selama ini. Dia sampai terus melamun sambil tersenyum sendiri.


Prita yang melihat ekspresi wajah sahabatnya itu langsung menyenggol tangan yang menyangga dagu di depannya tersebut.


"Hei. Aku bertanya dan kau hanya tersenyum sendiri. Ayolah, baby. Kasih tahu aku supaya aku tak penasaran terus! Selama bertahun-tahun aku hanya mendengarkan ceritamu dan kamu tak pernah menyebutkan namanya?"


"Hehehe ... aku jadi selalu membayangkan wajah tampannya terus waktu terakhir kita bertemu. Saat itu, dia menjemputku di bandara. Tapi, dia tak tahu jika yang di jemput itu adalah aku. Kamu bisa bayangkan, wajah terkejutnya saat melihatku berdiri didepannya bukan! Haaa, ingin ku peluk dia dan ku cium dia. Tapi kamu tahu kan, dia itu sangat dingin."


Lelaki dingin yang ku kenal cuma satu, yaitu Zidane Prasetyo. Haish, andaikan dia belum menikah dengan gadis jal*ng itu, mungkin dia akan menjadi milikku.


Kini malah Prita yang melamun dan tak mendengarkan ocehan sahabatnya yang dengan antusiasnya menceritakan kisah percintaannya.


"Hei baby, kenapa sekarang kamu yang melamun?" Seketika Prita tersadar dengan teguran Avril.


"Ah iya, kenapa?"


"Apa kamu memikirkan pacarmu itu? Wajar sih jika kamu sangat merindukannya. Do'akan saja supaya dia tenang di alam sana. Kamu ini cantik dan masih muda. Carilah lelaki yang lain!" Tutur Avril memberi nasihat.


"Sok-sokan kamu kasih nasihat sama aku. Kamu sendiri tidak bisa melupakan pria yang sudah menikah?" Kata Prita dengan terkekeh.


"Beda dong, sayang. Pacar kamu sudah meninggal, itu berarti dia gak akan kembali lagi. Sedangkan dia masih hidup, walaupun sudah menikah. Aku bisa membuat mereka berpisah dan dia kembali bersamaku lagi!" Ucap Avril dengan percaya diri.


"Wah, nona Avril. Kamu sangat percaya diri sekali ya. Tapi, aku belum tahu nama pria pujaanmu itu. Siapa sih dia?" Tanya Prita yang penasaran.


Senyum Avril kembali mengembang sebelum dia menyebutkan nama pria pujaannya.


Prita tertegun dengan ucapan sahabatnya.


Sama seperti dia.


"Namanya ...!" Avril menggantungkan ucapannya membuat Prita tak sabar karena penasaran. Sampai dia menjatuhkan sendok di tangannya sesaat setelah mendengar nama pria yang disebutkan sahabatnya. "Zidane Prasetyo!"


Klontrang


Avril menatap heran dengan ekspresi wajah tegang dan terkejut dari sahabatnya. Dia sampai menyentuh tangan sahabatnya dengan khawatir.


"Ada apa? Apa kamu baik-baik saja?"


"Ti-tidak apa-apa kok, baby. Sendoknya licin dan tak sengaja terjatuh. Aku ambil dulu ya!"


Zidane ... kenapa kamu yang di incar oleh Avril juga? Apa yang harus aku perbuat jika sahabatku juga mencintaimu?


Prita sangat gugup dengan pertanyaan Avril. Tangannya gemetaran, namun ia langsung menyembunyikannya di bawah meja dan menunduk untuk mengambil sendok yang kemudian di letakan di atas meja.


"Tidak usah di pakai lagi. Kita minta yang baru saja sama pelayannya!" Prita pun mengangguk dengan ucapan Avril.

__ADS_1


Avril yang melihat gelagat mencurigakan dari sahabatnya tak banyak bertanya. Dia memanggil pelayan dan meminta mengganti sendok yang terjatuh dengan yang baru.


Mata Avril terus melirik dan memperhatikan mimik wajah sahabatnya. Ada sesuatu yang menggelitik pikirannya dengan gelagat yang di tunjukkan sahabat di depannya ini.


Aku harus cari tahu alasan kenapa Prita seperti itu. Batin Avril.


Keduanya makan dengan hening. Tak ada obrolan yang menyenangkan yang membuat mereka berantusias seperti sebelumnya.


Saling canggung dan tak banyak bicara. Itulah keadaan saat ini yang tercipta di antara keduanya.


▪▪▪▪▪


Beberapa jam sebelumnya ....


Prita datang ke rumah sakit untuk melihat kondisi Zidane saat ini, karena dokter mengatakan bahwa Zidane akan lumpuh dan Sherly keguguran.


Dia ingin memastikan semua kabar yang dia dengarnya itu benar atau salah. Walaupun dia sedih karena Zidane akan lumpuh, namun dibalik itu juga dia senang karena Sherly keguguran.


Akhirnya, berkurang satu penghalang cintanya untuk Zidane. Dengan tidak hadirnya anak diantara mereka, otomatis perhatian Zidane kepada istrinya akan berkurang.


Prita berharap Zidane dan Sherly akan bercerai karena kondisi ini. Dia memanfaatkan segala kemungkinan yang akan terjadi diantara keduanya.


Namun, apa yang di pikirkan Prita tak sejalan dengan kenyataan yang di lihatnya sekarang. Zidane dan Sherly tetap saling mencintai dan menyayangi walaupun keduanya dalam keadaan kekurangan.


Sherly menerima Zidane apa adanya walaupun kedua kaki dan tangan kiri Zidane tak berfungsi saat ini.


Hati Prita menjadi geram setelah melihat kemesraan Zidane dan Sherly. Bukannya mereka saling menjauh dan berpisah, mereka malah semakin dekat dan begitu mesra.


Amarah Prita tak terbendung. Ia bertekad untuk memisahkan keduanya dengan cara apapun. Terlebih lagi, Hendri mati karena Zidane yang menyelamatkan Sherly.


Prita yakin jika Hendri mati karena ulah Sherly dan dia tetap menyalahkannya walaupun Hendri yang memulai semuanya.


Kakinya langsung melangkah mundur dan tubuhnya bersembunyi di balik tembok saat melihat keluarga Sherly keluar dari ruang perawatan Zidane.


Mata yang menggambarkan penuh kebencian terlihat sangat menakutkan.


"Aku akan membalas semua perbuatan kalian! Jika bukan karena kalian, Hendri tak akan mati. Mungkin dia bisa membawa Sherly pergi dan Zidane pasti akan menjadi milikku selamanya." Tangannya terkepal.


"Aldriansyah, kapten Deni, Indra, Geri, dan Dika. Aku akan memulainya dari kalian. Tunggu saja!"


Aldrian sekilas melihat bayangan seseorang yang bersembunyi di balik tembok lorong rumah sakit. Namun saat ia berbalik untuk memastikannya, tak ada siapapun yang terlihat di sana ataupun yang melintas.


"Mungkin cuma perasaanku saja!"


Aldrian pun mempercepat langkah kakinya untuk menyusul sang ayah yang sudah agak jauh berjalan bersama kakek.


☆☆☆☆

__ADS_1


Dukung otor terus ya.


Terima kasih😘😘😘


__ADS_2