Jodoh Sang Penguasa

Jodoh Sang Penguasa
Sebuah Cara


__ADS_3

Sherly terus meronta berusaha melepaskan ikatan yang mengikat tangan dan kakinya. Dia tak memperdulikan rasa sakit di pergelangan tangn atau kaki karena melihat kondisi Zidane yang seperti itu.


Geri tersadar akan pesan dari Zidane. "Jangan pernah membiarkan darah keluar setetes pun dari bagian manapun tubuh Sherly. Itu sangat berbahaya untuknya."


Geri mengingat pesan itu dan mencoba menghentikan aksi Sherly yang terus meronta menggesekkan kedua tangan dan kaki di tali yang mengikatnya. "Jangan lakuin itu, Sher. Bahaya!"


Namun Sherly tak menghiraukan teriakan Geri. Dia terus mencoba melepaskan ikatan itu walau merasakan kesakitan.


Hendri menyeringai senang melihat tangan Sherly sudah mulai mengeluarkan darah dan sebentar lagi akan menetes di lingkaran yang di buat olehnya.


Karena Sherly dengan kuat terus menggesekkan tangannya, maka pergelangan tangannya pun terluka dan sobek semakin dalam.


Tessss


Darah itu terjatuh dari pergelangan tangan Sherly dan hampir saja jatuh di lingkaran itu sebentar lagi.


Geri yang sedang memangku kepala Zidane menjadi tak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya berteriak berusaha menghentikan aksi Sherly yang menyakiti dirinya sendiri.


Hendri semakin senang melihat tetesan darah Sherly yang hampir menyentuh formasi ghaib yang di buat olehnya. "Hahaha. Saya akan menjadi manusia terkuat di dunia."


"Tidak!"


Brukkk


Indra dan Dika terjatuh di kiri dan kanan tepat di bawah meja yang terdapat Sherly dengan tangan menengadah menahan tetesan darah Sherly supaya tak terjatuh di lingkaran itu.


"Haaahhh!"


Semua yang melihat merasa lega karena Indra dan Dika datang di waktu tepat. Namun tidak untuk Hendri, dia menjadi geram dan sangat marah karena usahanya gagal.


Aldrian sedikit berlari menghampiri adik tersayangnya yang terbaring di atas meja. "Kamu gak apa-apa, dek?" Nada cemas terdengar dari pertanyaan Aldrian.


"Kakak!" Sherly tampak bingung namun juga senang dengan kehadiran kakaknya disana.


Indra langsung membuka kaos yang di kenakannya yang kemudian di pakai untuk mengelap darah yang keluar dari pergelangan Sherly.


"Elu jangan gegabah, Sher! Bisa bahaya kalau darah lu netes di lingkaran itu."


Sherly menatap heran kepada sahabatnya atas ucapan barusan. "Maksud lu?"


"Zidane bilang kalau darah kamu menetes disana, itu sangat menguntungkan bagi Hendri namun membahayakan untuk kita." Aldrian yang menjawab pertanyaan adiknya tersebut.


"Apa maksudnya itu, kak?" Bukan Sherly yang bertanya, melainkan Dika.


"Astaga Dika. Bukannya hantu wanita itu sudah menjelaskannya!" Dika hanya nyengir sambil menggaruk kepalanya.


"Eh, iya. Aku lupa kak. Hehehe!"


"Nyengir aja lu, kaya kuda yang kagak gosok gigi." Cibir Indra kesal.


Dika hanya bisa melotot tanpa menggeplak kepala Indra seperti yang biasa dilakukannya karena melihat tatapan tajam kak Aldrian.


"Gimana buka ini ikatannya, ya?" Mereka tampak berpikir.


Suara Hendri membuat mereka sadar jika si penjahat utama masih disana.


"Kalian tidak akan bisa melakukannya. Saya sudah membuat ikatan itu tak bisa terlepas tanpa seizin dari saya." Ucapnya sombong.

__ADS_1


Kak Al menjadi sangat geram dengan penuturan Hendri.


"Kurang ajar kau, Hendri. Lepaskan adikku sekarang juga!" Teriak Aldrian.


Hendri tergelak menanggapi amarah Aldrian. "Hahaha ... Aldriansyah Grisheld Prayoga. Kau pebisnis ulung yang sangat pintar menjalankan perusahaan besar. Tapi untuk melepaskan tali pengikat adikmu saja, kau malah gak bisa melakukannya." Ledek Hendri.


"Itu karena kau melakukan cara licik kepada kami, Hendri. Kau memberikan mantra pengikat supaya adikku tak bisa lepas darimu. Kau curang!" Teriak Aldrian lagi.


"Kalian pun curang, datang kemari bersama-sama dan ingin mengeroyok saya." Mereka saling pandang atas ucapan Hendri. "Tapi, apa lah jika kalian ingin seperti itu. Saya juga akan meminta bantuan teman-teman yang lain."


Hendri memejamkan mata dengan mulut bergumam. Sedangkan mereka hanya saling pandang tak mengerti.


"Apa yang dilakukannya? Dia terlihat seperti akan ...!"


Ucapan Aldrian di potong Nania. "Meminta bantuan para arwah gentayangan."


"Apa??" Serempak mereka terkejut karena ucapan Nania.


"Lalu, apa yang harus kita lakukan?"


"Seharusnya aku bisa mengatasi itu kak. Tapi sekarang, aku gak bisa melakukannya. Aku malah terikat dengan tali sialan ini." Sherly sangat sedih karena tak bisa membantu.


"Gak apa-apa, dek. Kita akan cari cara untuk melepaskanmu dari sini setelah membereskan si Hendri itu. Kami gak akan membiarkan dia menang begitu saja."


Aldrian dan Deni saling pandang dan mengangguk satu sama lain.


"Seharusnya, Zidane bisa melakukan ini. Tapi, dia sekarang terluka dan belum sadarkan diri." Tutur Nania.


Penuturan Nania menyadarkan mereka akan Zidane. Mereka segera menghampiri Geri yang sedang memangku kepala Zidane yang sedikit mengeluarkan darah.


"Ya tuhan, apa yang terjadi kepadanya, Ger? Zidane ... Zidane bangun! Kamu harus kuat, dek." Kak Al terus menggoyangkan tubuh adik iparnya.


"Kok bisa?"


"Hendri curang kak. Dia membuat ilusi dengan mendatangkan sosok orang tuanya dan membuat Zidane lengah. Saat itulah dia memukul kepalanya dengan keras." Jelas Geri.


"Kurang ajar dia. Mentang-mentang dia punya kekuatan, dengan seenaknya saja mempermainkan perasaan seseorang. Pasti Zidane sangat merindukan kedua orang tuanya sampai dia menjadi lemah seperti ini."


Aldrian mengepalkan tangan karena geram terhadap ulah Hendri yang mempermainkan perasaan seorang anak yatim piatu seperti Zidane. Terlebih, Zidane itu adalah keponakannya sendiri.


Hati mereka yang mendengar menjadi panas. Rasanya ingin sekali segera menghabisi manusia jahat di hadapannya.


Kapten Deni dan Aldrian langsung bergerak menghampiri Hendri dan melayangkan beberapa pukulan. Dengan gesitnya, Hendri menangkis pukulan dari rekan kerjanya dan juga Aldrian.


Bak ... buk ... srettt ... bugh


Ketiganya dengan sengit bergerak saling menyerang.


Blugh


Hendri terjatuh terkena tendangan Aldrian yang sedang emosi. Dia berusaha berdiri sambil melanjutkan membacakan sesuatu.


Tanpa memberi ampun, Deni menyerang kembali saat Hendri sedang berusaha bangkit. Namun, sesuatu terjadi saat itu juga. Angin bertiup kencang dan melayangkan semua benda yang ada di ruangan tersebut.


Wuuuuussshhhhhh


"Apa yang terjadi?" Mereka berteriak karena suara gemuruh angin menyamarkan suara mereka.

__ADS_1


Tiba-tiba, dari balik angin itu terlihat sesuatu yang bergerak mendekati mereka. Seperti mayat hidup yang kelaparan.


"Aaaa-apa itu?" Tunjuk Indra dan Dika ke arah sekeliling mereka.


"Itu arwah gentayangan. Mereka datang karena mendengar panggilan dari seseorang." Jelas Nania.


"Jadi, Hendri memanggil para arwah gentayangan itu?" Nania mengangguk dengan pertanyaan Deni.


"Ya tuhan. Apa yang harus kita lakukan?"


Mereka sangat bingung dan juga ketakutan melihat arwah gentayangan itu semakin mendekat dan terlihat sangat jelas karena angin yang berhembus tadi sudah menghilang menampakkan wujud dari para arwah gentayangan.


Mereka saling merapatkan diri karena ketakutan dengan arwah yang sosoknya berbeda-beda dan juga sangat mengerikan.


Nania berusaha melawan mereka dengan berkelahi. Sedangkan yang lain malah ketakutan melihat penampakan mereka yang menyeramkan.


Aldrian dan Deni ikut melawan dan memukul para arwah yang sejatinya tak bisa terkena pukulan mereka. Karena selalu menembus jika di pukul. Namun, para arwah itu bisa memukul mereka balik. Aneh sekali.


"Zidane ... bangunlah! Hantu itu mendekati kita. Apa yang harus gue lakuin?" Geri sangat ketakutan karena beberapa arwah mendekat ke arahnya.


Nania berteriak kepada Geri untuk melindungi dirinya dan Zidane dengan menggunakan senjata milik Zidane. Nania sadar jika darah di kepala Zidane pun akan sangat berbahaya kalau digunakan oleh Hendri untuk kepentingannya.


"Geri, gunakan senjata milik Zidane. Lindungi dia dari arwah gentayangan ini. Cepat!"


Di sela-sela pertarungannya, Nania sempat berpikir seperti itu dan menyuruh Geri melindungi Zidane.


Geri berteriak memanggil Indra dan dia langsung berdiri setelah Indra menghampirinya. Dengan berani Geri mengacugkan senjata milik Zidane ke arah hantu-hantu itu.


Para arwah gentayangan itu ketakutan melihat senjata milik Zidane yang di pegang Geri. Mereka mundur saat Geri mengarahkan kepada mereka.


Hendri yang melihat itu tak tinggal diam. Dia berusaha merebut senjata yang di pegang Geri supaya mereka tak kalah. Namun, beruntunglah karena Deni melihat pergerakan Hendri dan menghentikan langkahnya yang akan mendekati Geri.


Deni dan Hendri saling melayangkan pukulan. Sementara Aldrian dan Dika melindungi Sherly yang masih berada di atas meja. Nania berusaha menghalau arwah gentayangan itu sendirian, dan Geri berusaha melindungi Indra yang sedang memangku Zidane yang terluka.


Mereka sangat berhati-hati karena para arwah gentayangan yang bukan cuma satu itu, semakin bertambah jumlahnya seperti sengaja di panggil terus.


"Haaah ... hah ... hah. Apa yang harus kita lakukan lagi?" Nania terengah karena kelelahan menghadang arwah yang terus berdatangan.


Mereka mundur dan memutar di sekeliling meja tempat Sherly berbaring.


"Andai aku tidak terikat seperti ini dan Zidane tidak terluka, mungkin kami bisa membantu kalian." Sherly sangat sedih.


"Tidak apa-apa, dek. Tujuan kami kemari kan memang menyelamatkanmu. Kalau kamu yang melawan mereka, bukan usaha penyelamatanmu dong." Aldrian sedikit bercanda supaya adiknya tak sedih.


Para arwah gentayangan itu semakin mendekat membuat mereka terpojok karena mantra Hendri sangat kuat. Bisa terus membangkitkan mereka walau sudah kalah. Kecuali, mereka hancur lebur dan menghilang jika tertusuk senjata milik Zidane.


Namun, Geri tak pandai menggunakannya. Dia hanya mengacung-acungkan senjata itu ke arah mereka supaya tak bisa mendekat. Toh, hanya seperti itu saja mereka ketakutan. Pikir Geri.


Sherly diam sejenak mengingat sesuatu yang pernah terjadi saat di masa lalu. Saat dia bersama Zidane.


"Aku tahu caranya kak." Mereka menoleh kepada Sherly dengan tatapan penuh harap.


"Apa itu?" Mereka penasaran dengan cara yang Sherly sebutkan.


"Caranya adalah ...!"


**Dukung author dengan like, komen, dan vote ya gengs.

__ADS_1


Salam manis dari otor termanis se NT


Terima kasih.😘😘😘**


__ADS_2