
Tuan Hadi berlari di lorong rumah sakit dengan terburu-buru. Pandangannya menyapu tiap ruangan mencari keberadaan putra-putri, dan menantunya.
Beliau berhenti di depan seorang pria berjas putih yang di pastikan adalah seorang dokter.
"Sherly ... Zidane ... Aldrian! Bagaimana keadaan mereka?" Tanya tuan Hadi dengan cemas.
"Mereka baik-baik saja, om. Jangan khawatir." Jawab dokter muda tersebut. "Hanya saja ...!" Ucapannya menggantung membuat pria paruh baya itu penasaran.
"Hanya saja kenapa, dokter Rian?" Tanya tuan Hadi cepat.
"Hanya saja Zidane tak akan seperti sebelumnya. Karena, dia terluka sedikit parah." Tutur Rian.
"Ma-maksud dokter apa?"
"Menurut penjelasan Geri dan Indra, setelah Zidane terluka parah, dia masih memaksakan untuk melawan kapten Hendri sampai titik akhir." Jelas dokter Rian. "Dan juga ... Zidane mengalami patah tulang di kaki dan lengannya karena tertimbun puing reruntuhan." Lanjutnya.
Tuan Hadi sampai menutup mulutnya tak percaya. Beliau sangat terkejut dengan apa yang di dengarnya.
"Tapi, kenapa Zidane masih bisa melawan Hendri? Sedangkan, dia sudah terluka parah!"
"Entahlah, om. Menurut mereka sih, setelah Hendri mengancam akan untuk membawa Sherly dan mengatakan yang tidak-tidak kepadanya, Zidane tiba-tiba keluar dan seperti memiliki kekuatan lebih untuk melawan Hendri sampai ...!"
"Sampai mati."
Dokter Rian dan tuan Hadi langsung menoleh kebelakang mereka. Disana sudah berdiri seorang kakek di dampingi cucu perempuannya yang menggendong seorang bayi tampan.
"Tuan Hutama!"
"Kakek!"
Ucap tuan Hadi dan dokter Rian bersamaan.
"Kakek kapan datang?" Tanya Rian seraya mencium punggung tangan tuan Hutama.
"Kakek baru saja sampai dan langsung kemari setelah mendengar kabar dari Indra kalau cucuku masuk rumah sakit karena putra bungsuku." Ucap kakek sedih.
"Apa kabar, tuan? Maaf saya tidak menyambut kedatangan anda di bandara! Jika saya tahu anda akan datang, mungki saya ...!" Ucapan tuan Hadi terpotong.
"Tidak apa-apa tuan, Hadi. Saya tidak mau membuatmu sibuk atas kedatangan saya. Masalah putra-putrimu juga menantumu saja sudah membuatmu sangat khawatir." Kata kakek.
Raut wajah penyesalan terlihat di wajah keriput kakek. Beliau seperti sangat merasa bersalah dan bertanggung jawab atas semua kejadian ini.
"Justru saya disini yang harus meminta maaf kepadamu atas kesalahan yang dilakukan putra bungsuku, Hendri! Dia membuat kalian semua menderita. Maafkan atas kegagalan saya mendidik putra saya itu, tuan Hadi. Maaf!"
Kakek menyatukan kedua tangannya memohon maaf kepada tuan Hadi dengan beruraian air mata.
Semua orang yang berada disana terkejut dengan apa yang di lakukan tuan Hutama, terutama tuan Hadi. Beliau langsung menangkup tangan kakek yang terangkup dan memeluknya dengan lembut.
"Jangan seperti ini, tuan! Anda sudah seperti ayah bagiku. Anda juga adalah kakek menantuku dan juga putriku. Bagaimana pun, ini semua bukan salah anda." Kata tuan Hadi.
"Tapi, ini semua di lakukan oleh putraku."
"Sudahlah, tuan. Lupakan semua itu sekarang. Kita harus fokus kepada kesembuhan mereka dulu." Kakek mengangguk dengan ucapan tuan Hadi.
"Baiklah. Rian, apa kami bisa melihat keadaan mereka?" Tanya keduanya bersamaan.
"Umm, itu ... mereka belum sadar, kakek, om." Ucap Rian.
"Bukankah kamu bilang mereka sudah tidak apa-apa!"
"Mereka memang sudah melewati masa keritisnya. Tapi, mereka belum sadar karena pengaruh obat." Tutur Rian.
"Baiklah, kita tunggu mereka di luar saja!"
Keduanya duduk di bangku depan ruang perawatan.
"Umm, kak Rian. Keadaan suamiku bagaimana?" Andin bertanya.
"Indra baik-baik saja. Dia tidak terluka sedikitpun!" Tutur Rian.
"Lalu, dimana dia?"
"Dia dan Geri sedang menunggui Dika di ruangan sebelah sana. Sebaiknya kamu istirahat dulu, kasihan putramu. Pasti dia kelelahan karena perjalanan jauh."
"Heemh, baiklah! Aku akan tunggu di sini saja bersama kakek dan om."
"Tidak, Andin! Sebaiknya kamu pulang kerumah. Disini tak baik untuk putramu." Kata dokter Rian.
"Tapi ...!"
"Betul kata Rian. Kamu harus membawa putramu pulang kerumah untuk istirahat. Biar Rian memanggil Indra untuk membawa kalian pulang." Kata kakek sambil melirik ke arah Rian.
Rian mengerti akan lirikan kakek. Dia pun langsung melangkah menuju ruang perawatan Dika untuk memanggil Indra.
Tak lama kemudian, Indra keluar dari ruang perawatan Dika dan menghampiri mereka. "Sayang, kamu sudah sampai!"
Mengecup kening istrinya kemudian mencium pipi putra kecilnya. Indra pun tak lupa mencium pungung tangan sang kakek.
"Ndra, bawa Andin pulang ke rumah. Kasihan putra kalian jika tetap berada di rumah sakit," Kata Kakek.
Indra langsung menuruti ucapan kakek yang menyuruh untuk membawa pulang istri dan anaknya.
"Baik, kek. Umm, om Hadi. Maaf, Indra tidak ...!"
"Gak apa-apa, Ndra. Disini ada om sama Rian. Sebaiknya, tuan Hutama juga ikut pulang sekalian. Saya khawatir, jika tuan kelelahan." Kata tuan Hadi.
"Tidak! Saya akan tetap disini menunggu Zidane sadar. Apalagi, saya belum melihat jasad Hendri untuk yang terakhir kalinya. Bagaimanapun, dia putra saya!" Tolak tuan Hutama.
Tuan Hadi, Indra, Andin, dan juga dokter Rian hanya saling pandang. Ya, mereka tak bisa berkata apapun lagi kalau itu alasannya.
"Baiklah, kakek!"
"Sayang, akhirnya kamu sadar juga. Apa kamu baik-baik saja?" Aisyah mengusap kepala suaminya.
"Tentu. Aku baik-baik saja. Tapi ... bagaimana keadaan Sherly? Tidak terjadi sesuatu kan sama kandungannya?" Aldrian terlihat cemas.
"Itu ...!" Aisyah bingung harus memberikan jawaban apa kepada suaminya.
"Jangan bikin aku tambah khawatir, sayang. Bagaimana keadaan adikku dan kandungannya? Dan juga ... Zidane?"
__ADS_1
Sejenak Aisyah terdiam, kemudian dengan perlahan dia menjelaskan yang di dengarnya dari dokter.
•
•
Wajah Aldrian sangat sedih dan terlihat penuh penyesalan. Tak terasa, kristal bening meluncur di ujung manik matanya.
"Andaikan aku sekuat Zidane untuk melawan Hendri, mungkin ini semua gak akan terjadi kepada adik dan adik iparku."
Aisyah memeluk tubuh suaminya dari samping. Dia pun mengecup kepala suaminya dengan lembut.
"Jangan menyalahkan diri sendiri, suamiku! Ini semua sudah takdir yang maha kuasa. Kita ambil hikmahnya di balik kejadian ini." Ucap Aisyah lembut.
"Tapi, bagaimana dengan Rei? Putra kita sangat senang setelah tahu bahwa dia akan punya adik. Dia begitu senang saat aku bilang bahwa Sherly sedang mengandung dan dia akan menjadi seorang kakak."
"Kita berikan penjelasan dengan perlahan kepadanya. Pastinya, Rei akan mengerti." Kata Aisyah.
Aldrian tertunduk dengan mengusap wajah tampannya menggunakan telapak tangan. "Lalu, apa yang harus aku jelaskan kepada Sherly dan Zidane bahwa mereka ... bahwa aku gagal menjaganya! Aku kakak terburuk untuknya."
Aisyah langsung menempelkan jari telunjuk di bibir suaminya. "Sssstttt ... jangan katakan itu lagi, sayang. Serahkan semuanya kepada tuhan!"
"Tapi ...!"
Sebelum Al berbicara lagi, putra semata wayangnya sudah berlari masuk untuk menghampiri mereka bersama sang kakek.
"Bagaimana keadaanmu, kak?" Tanya tuan Hadi.
"Seperti yang daddy lihat! Aku baik-baik saja. Tapi Sherly ... maafin aku ya, dad!"
Saat Al ingin berbicara lagi, putranya langsung mendekat kearahnya.
Rei menggenggam tangan sang ayah dengan wajah yang cemas. "Papa, apa papa baik-baik saja?"
Aldrian tersenyum ke arah putranya yang kemudian di kecupnya kening sang anak, "Papa baik-baik saja. Rei jangan khawatir ya! Papanya Rei kan kuat. Nih lihat, otot tangan papa saja masih terlihat!" Aldrian mengangkat kedua tangannya memperlihatkan otot lengannya.
Mereka semua terkekeh dengan candaan Al, termasuk putranya. "Rei senang kalau papa masih punya otot. Jangan seperti si etoy yang belagu!"
Semua tampak mengernyitkan dahi mendengar ucapan dari anak lelaki tampan itu. "Si etoy? Siapa dia?"
"Si etoy itu temanku di sekolah. Dia anaknya nyebelin tahu. Penampilannya norak dan dia suka malakin anak lain."
Aisyah nampak bingung. Pasalnya, dia sering mengantar dan menjemput putranya di sekolah. Dia juga ingat nama-nama teman sekelas putranya walau hanya sekedar mengantar jemput saja.
"Mama gak tahu kalau kamu punya teman yang bernama si etoy!"
"Haish, mama. Mama sering lihat kan anak cewek yang rambutnya di kucir dua. Kalau dia marah, semua murid sekelas pada takut. Tapi, pas dia angkat kedua tangannya ke atas, gak ada otot sama sekali disana. Semuanya jadi tertawa karena sikap sok jagoannya." Jelas Reihan.
"Si etoy anak perempuan?" Rei mengangguk cepat.
Aisyah tersenyum setelah tahu anak yang di maksud putranya. "Itu namanya bukan etoy, Reihan!" Ayah mertua dan suaminya langsung menatap. "Namanya, Vanila Eldrown."
"Ooh, namanya Vanila. Manis dong, Rei?" Goda sang kakek.
"Boro-boro manis, opa. Dia itu tomboy abis tahu. Kalau opa tahu ya, dia di kelas suka duduk di atas meja, suka malakin anak yang bawa bekel banyak, lalu di kasihin sama anak yang gak bawa bekel."
"Baik dong dia."
__ADS_1
"Huuh, baik apanya. Rei saja suka di palakin sama dia. Padahal, Rei di kasih bekel sama papa sedikit dan itu harus di ambil sama si etoy separuhnya." Ucap Rei kesal.
"Papa kasih Rei bekel berapa?" Tanya kakeknya penasaran.
"Cuma lima puluh ribu. Sedikit, bukan!"
"Apa? Lima puluh ribu kamu bilang sedikit, Rei. Gimana kalau sepuluh ribu?" Tuan Hadi sampai menggelengkan kepala. "Nih ya, opa bilangin. Papa sama aunty kamu saja waktu sekolah SD hanya di kasih sepuluh ribu sama oma. Lah kamu, lima puluh ribu bilangnya sedikit." Lanjut tuan Hadi.
"Iya. Dasar tuh papanya yang suka manjain. Jadinya Rei kayak gitu!" Aisyah melirik tajam sama suaminya.
Aldrian hanya cengengesan menanggapi kemarahan istrinya. Dia pun mengalihkan pembicaraan dengan bertanya kepada putranya.
"Kenapa kamu memanggilnya si etoy? Bukankah namanya itu cantik. Vanila Eldrown!"
"Tapi, semua orang suka manggil dia si etoy. Itu nama belakangnya." Keukeuh Rei.
"Eldrown, Rei. Bukan etoy!"
"Iya. Etoy"
"Coba kamu ikutin papa ... Eldrown."
"Elton."
"Eldrown."
"Eldoroun."
"Eldrown, Reihan!"
"Capek ah ngomong sama papa mulu." Alih Reihan dengan beranjak pergi karena gak bisa nyebutin.
"Hei, kamu mau kemana?" Mereka menatap Rei yang membuka pintu.
"Rei mau nemuin aunty Ily."
Deg, ketiganya menjadi saling berpandangan dengan perasaan tak karuan.
Pintu ruangan tertutup sedikit keras sampai menyadarkan ketiganya.
"Jangan Reihan!" Teriakan ketiganya tak bisa di dengar putra tampan itu karena dia sudah pergi.
"Bagaimana ini?
**Bersambung gaess** ...
••••
**Apa yang terjadi kepada Sherly? Kenapa mereka melarang Rei bertemu dengannya?
Apa mungkin Sherly ....?
Lanjut besok ya gengs, jangan lupa! Pantengin terus ceritaku biar gak ketinggalan**.
***Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan ibadah puasa.
Berbukalah dengan yang manis, biar kamu semangat puasanya!
Apalagi jika ditemenin sama otor yang manis, di jamin puasanya tambah semangat😂😂😂😂 mungkin juga!😁😁
Salam manis semuanya.
__ADS_1
Lien machan***.