
Dering ponsel di malam hari mengganggu tidur seseorang. Sebuah kepala tersembul dari balik selimut dengan tangan sedikit berbulu yang terulur untuk meraih sesuatu.
Dengan suara serak ciri khas orang yang baru bangun dari tidurnya. Walaupun malas, tapi ia tetap menjawab panggilan tersebut.
"Hallo!"
"Ini Zyan, kan?"
Sang pemilik nama mengerutkan dahi mendengar suara gadis yang asing baginya.
"Siapa ya?" Tanya Zyan balik.
"Jadi ini beneran Zyan? Waaah, senengnya aku ternyata gak salah nomor!" Ucapnya dengan girang.
Berbeda dengan Zyan, dia malah bingung di buatnya. "Maaf, anda siapa?" Bertanya lagi dengan nada dingin.
"Hai Zy, masih ingat sama aku gak?" Suaranya tetap bersemangat.
"Siapa ya?" Pupus sudah semangat si penelpon karena ternyata Zyan tetap bertanya.
"Zyan, aku Diana. Masa kamu lupa sih?" Ucapnya sedih.
"Diana? Sorry, Diana mana ya?" Tetap tak bergeming.
Gadis itu semakin sedih karena ternyata si pemuda melupakan namanya. Apa jangan-jangan, memang dia gak kenal? Entahlah.
"Kok kamu gitu sih, Zy. Aku selalu ingat kamu lho!" Kata si gadis dengan sedih.
Zyan semakin kesal di buatnya. "Gue gak ingat, mungkin juga gak kenal! Sorry, ini masih malam."
Jari tangannya pun menggeser warna merah di layar ponselnya.
"Menyebalkan. Malem-malem gangguin orang tidur. Huuuh, kurang kerjaan aja tuh orang!" Gerutu Zyan sambil menarik selimut dan berbaring di kasur empuknya lagi.
Namun tak lama kemudian, ponselnya kembali berdering menandakan panggilan masuk.
Zyan tak menghiraukannya. Dia pura-pura tak mendengar panggilan tersebut. Namun, ponselnya terus berdering membuatnya semakin kesal.
"Astagfirullah, berisik banget sih! Gak bisa biarin orang tidur apa." Di matikan nya ponsel tanpa melihat si penelpon.
Senyap. Setelah ponselnya di non-aktifkan, suara bising itu pun tak mengganggu dirinya lagi dan Zyan pun bisa tidur dengan nyenyak.
Namun saat matanya terpejam, Zyan di kejutkan oleh suara benda jatuh tepat di dalam kamarnya.
Brakkkk
"Astagfirullahhaladzim, apaan tuh?" Ia pun terbangun dan segera menyalakan lampu di ruangan tersebut.
Matanya melirik ke kanan dan kiri untuk meneliti sesuatu. Barang kali ada benda yang jatuh atau pecah karena tersenggol.
Kakinya melangkah mengelilingi setiap sudut kamar dengan mata yang terus mengawasi.
"Gak ada apa-apa kok!"
Zyan pun terheran karena ternyata tak ada barang atau benda yang jatuh dan rusak di dalam kamarnya. Tapi, suara yang tadi itu apa?
Di lirik sekilas jam dinding yang tergantung di tembok kamarnya. "Jam dua belas pas."
Kakinya pun melangkah menuju kamar mandi. Karena Zyan beragama sama dengan sang ayah, dia pun mengambil air wudhu untuk melaksanakan shalat tahajud.
"Bismillahirrahmanirrahim."
Saat hendak melaksanakan ibadah, ada sesuatu yang mengganggu pendengarannya.
"Zyan."
Hatinya tersentak mendengar suara lirih memanggil namanya. "Siapa itu?" Di liriknya ke kiri dan kanan namun tak ada siapapun di sana.
Zyan pun kembali bersiap untuk melaksanakan kewajibannya. Namun, lagi-lagi suara itu mengganggunya.
"Zyan."
"Astagfirullahhaladzim, Allahu Akbar!"
Zyan yakin jika itu setan yang mengganggu dirinya supaya tidak jadi melaksanakan kewajibannya. Dia pun memantapkan hati dan niatnya untuk beribadah.
Tanpa memperdulikan seruan panggilan suara lirih yang memanggil namanya, Zyan tetap khusuk beribadah.
Saat Zyan khusuk beribadah, terdengar jeritan seperti orang kesakitan dan meminta tolong.
"Aaaakkhhh, panas. Hentikan itu!"
Walaupun tak terdengar keras, namun Zyan masih bisa mendengarkan jeritan kesakitan tersebut. Dia semakin yakin kalau itu hanyalah setan yang ingin menghalanginya untuk beribadah.
Satu jam pemuda itu terduduk di atas sejadah dengan beruraian air mata. Bukan karena sedih atau merasakesakitsn. Namun ia memohon ampun kepada sang pencipta atas segala dosanya dan dosa kedua orang tuanya. Zyan pun meminta untuk selalu di lindungi dari setiap langkahnya.
Sebelum Zyan bangkit dari duduknya, sebuah tangan terulur dan mengusap kepalanya. Tentu membuat dirinya terkejut sampai langsung menoleh ke arah tangan tersebut.
"Haaah, papi. Ya Allah, bikin kaget aja!"
Senyum manis dari sang ayah terukir di bibirnya. "Anak papi ternyata udah gede ya!"
__ADS_1
Zyan segera mencium tangan ayahnya dan lekas membereskan perlengkapan shalatnya.
"Ya udah gede dong pap, masa mau anak-anak terus!" Ucapnya terkekeh.
"Alhamdulillah, papi udah tenang kalau kamu tahu kewajibanmu nak." Kata Zidane sambil mengelus kepala putranya dengan lembut. "Cepet tidur, ini udah jam satu!" Lanjutnya menepuk bahu sang putra.
Pemuda itu mengangguk dengan melangkahkan kaki menuju tempat tidur. "Iya pap!"
Selimut pun di tarik ke atas oleh sang ayah untuk menutupi tubuh putra semata wayangnya.
"Jadilah anak yang shaleh!" Di kecupnya kening putranya kemudian beranjak pergi meninggalkan si tampan untuk tidur kembali.
Sebelum ayahnya benar-benar pergi, Zyan sempat memanggil untuk bertanya perihal yang tadi.
"Mmmm, papi ...!" Zidane pun menoleh kembali
"Ada apa, nak?"
Melihat wajah sang ayah yang lelah, di urungkannya niat untuk bertanya. "Makasih, pap!" Akhirnya hanya itu yang keluar dari mulut Zyan. Zidane tersenyum sambil mengangguk.
Tangannya segera menutup pintu. Lampu kamar di matikan dan hanya meninggalkan lampu tidur saja.
Walaupun Zidane dingin dan terkesan cuek, namun perhatiannya kepada putranya tetap di tunjukkan jika mereka hanya berdua saja. Jika mereka bersama orang lain, Zidane akan bersikap tegas dan cuek kepada putranya tersebut. Dan Zyan pun tahu betul akan hal itu.
Setelah keluar dari kamar si tampan, Zidane berhenti sejenak untuk mencerna sesuatu.
"Papi tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu, nak. Tak perlu papi yang bicara, nanti kamu juga akan tahu sendiri."
Kakinya melangkah kembali menuju kamarnya. Matanya melirik istri tercinta yang sedang tidur di tutupi selimut tebal.
"Walaupun kita berbeda agama, tapi kita tetap rukun. Iya kan, sayang!" Di kecupnya kening sang istri yang sedang tertidur pulas.
Zidane ikut berbaring di samping istrinya yang kemudian ia peluk dengan erat. Karena sesuatu mengganggu tidurnya, Sherly langsung berbalik menghadap suaminya.
"Papi sudah selesai shalatnya?" Bertanya dengan suara parau.
"Sudah, bahkan putramu juga sudah selesai!" Jawab Zidane.
"Ya sudah, tidur lagi yuk! Masih malem ini." Ajak Sherly sambil membenamkan wajahnya di dada bidang Zidane dengan tangan melingkar memeluk erat.
"Mami jangan menggoda papi, ya! Ingat, kalau bobyboi udah bangun dan mengeluarkan kuasa lima, mami bakal KO!" Kata Zidane terkekeh.
"Iiih, apaan sih papi. Mami cuma ngajak tidur, bukan ngerayu papi. Dasar mesum!" Teriak Sherly dan hanya di tanggapi tawa suaminya.
"Mesum sama istri sendiri boleh dong, mam!" Ia terus menggoda.
"Kita udah tua, pap."
"Mami capek, pap!"
"Biar papi aja yang beraksi."
"Iihhh, mami ngantuk pap."
"Iya biar cepet tidurnya." Tangan nakal Zidane menelusup ke dalam baju tidur sang istri dan menyentuh area sensitifnya. Membuat Sherly berteriak.
"Papppiiiiii."
Sherly tak bisa menolaknya lagi karena Zidane sudah membungkam bibir manisnya dengan kecupan hangat. Tanpa protes, ia menikmati semua sentuhan yang di berikan Zidane yang membuatnya terbuai.
Akhirnya, keduanya tidur setelah kelelahan. Mungkin menjelang pagi.
Seorang gadis cantik berjalan masuk ke dalam rumah besar dengan gaya arogan.
"Dimana ibuku?" Bertanya kepada para penjaga.
"Nyonya di dalam ruangannya!" Jawab si penjaga sambil menunduk.
Tanpa menoleh, ia pun berjalan masuk kedalam menuju ruangan yang di maksud si penjaga.
**Tok tok tok**
"Siapa?" Tanya seseorang dari dalam.
"Momm, ini aku!"
__ADS_1
**Ceklek**
Kunci pintu langsung terbuka setelah tahu siapa yang mengetuk pintu.
Pintu pun di dorong oleh si gadis yang kemudian di tutupnya kembali dan di kunci langsung.
"Mommy memanggilku?"
"Iya."
"Ada apa?"
"Lihat ke arah Daddy, Diana!" Tunjuk sang ibu.
"Kamu mengenalnya tidak?" Tanya ayahnya.
Matanya melirik sang ayah dan terkejut dengan apa yang di lihatnya.
"Dia kan ...!"
"Dia kuliah di universitas yang sama denganmu, bukan?" Tanya keduanya.
"Iya. Dia pemuda yang selama ini ku incar, dadd, momm. Tapi, dia itu sulit di dekati." Ucapnya kesal.
Kedua orang tuanya tersenyum menyindir. "Berarti dia benar-benar keturunan Zidane dan Sherly."
"Zidane ... Sherly ... siapa?"
"Orang tua pemuda itu. Keduanya sangat sulit di dekati." Tutur sang ibu.
Diana memperhatikan raut wajah kesal ibunya. "Apa mereka berdua bermasalah dengan mommy dan Daddy?"
"Sangat ... sangat bermasalah."Diana tersentak dengan nada tinggi suara ibunya. "Taklukkan dia untuk kami!" Gadis itu menoleh ke arah ayahnya.
Diana tampak ragu. "Tapi, aku tak yakin dadd. Soalnya ...!"
"Kamu sudah di bekali ilmu yang cukup untuk menaklukan hati siapapun. Jangan takut untuk bertindak, Daddy siap membantumu!" Kata sang ayah membuat Diana senang.
"Baiklah, dadd. Aku akan berusaha!" Ucapnya semangat.
Mereka bertiga tersenyum dengan pikiran masing-masing.
"*Zidane, Sherly, tunggulah pembalasanku*!"
***Bersambung gaesss***
__ADS_1